Part 30

1050 Kata
Exelin benar-benar tidak bisa konsentrasi sama sekali dalam mengendarai mobilnya. Karena pikirannya tertuju pada keselamatan Amar. Exelin mengusap perutnya. Mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kalut saat ini. Saat di lampu merah, Exelin melihat mobil Amar yang cuma selisih tiga mobil dengan mobil yang sedang dikendarainya. "Lampu merah, cepatlah hijau! aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan suamiku," ucap Exelin dengan pelan. Exelin menaruh kepalanya di atas setir mobil. Sambil menunggu lampu berganti hijau. Tak berselang lama, lampu pun berubah menjadi hijau. Exelin mulai menjalankan mobilnya dan mengejar mobil Amar yang ada di depannya. Exelin menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya dia bisa mengejar mobil Amar. Mobil Exelin langsung menikung di depan mobil Amar dan mobil Amar pun berhenti secara tiba-tiba. Exelin mematikan mobilnya dan keluar dari mobil dengan tubuh bergetar. Amar yang melihat istrinya ada di depan mobilnya, dia sangat kaget. Banyak pertanyaan di benak nya yang ingin dia tanyakan pada sang istri. Amar keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri sang istri. "Kenapa kamu ada di sini, Sayang? Apa ada yang terjadi?" tanya Amar dengan lembut. Amar langsung merengkuh tubuh istrinya yang terlihat bergetar. Exelin memeluk tubuh Amar dengan erat. Amar semakin heran dibuatnya. Dengan perilaku sang istri yang terlihat aneh. Tiba-tiba Exelin menangis tersedu-sedu dalam pelukan Amar. Amar yang melihat istrinya menangis, dia langsung memeluk tubuh Exelin dengan erat. Tanpa disadari Amar dan Exelin, ada sebuah mobil yang sedang mengawasi mereka. Saat Exelin dan Amar sedang lengah, mobil tersebut melaju dengan kencang dan langsung menghantam tubuh Amar dan Exelin secara bersamaan. Tubuh Amar dan Exelin terpental ke jalan. Darah segar keluar dari tubuh mereka berdua. Amar yang tubuhnya sedikit menjauh dari sang istri, dia merangka ke tubuh sang istri yang juga tergeletak di jalan. Setelah tangannya bisa menggapai tangan sang istri, dia juga mulai tidak sadarkan diri. Semua orang berkerumun melihat kejadian naas yang menimpa sepasang suami istri tersebut. Yang tidak lain adalah Exelin dan Amar. "Alexander, ada apa di jalan itu. Kenapa banyak orang yang berkerumun. Seperti habis ada kecelakaan. Lebih baik kita turun dulu kita lihat siapa yang sudah kecelakaan," ucap Pradipta pada Alexander. Pradipta dan Alexander turun dari mobil melihat korban kecelakaan yang tidak jauh dari mobil mereka berhenti. Tiba-tiba Alexander merasa hatinya tidak enak saat melihat salah satu mobilnya ada di situ. Alexander berlari disusul oleh Pradipta menembus padatnya orang-orang yang sedang melihat korban kecelakaan tersebut. Hatinya sangat hancur saat melihat putri dan menantunya terbujur di jalan dengan darah yang mengucur dari tubuh Exelin dan Amar. "Cepat panggilkan ambulans, kenapa kalian cuma diam saja melihat putri dan menantuku kecelakaan. Apa kalian tidak punya hati nurani untuk menolong mereka? Jahat sekali kalian," teriak Alexander kepada orang-orang yang ada di situ. Pradipta terduduk lemas di sebelah putra dan menantunya. Air matanya tidak bisa terbendung lagi. "Sebentar lagi ambulans akan ke sini, pak. Saya tadi sudah menghubungi rumah sakit. Dan sebentar lagi ambulans akan datang,” ucap salah satu orang yang berada disitu. Benar, terdengar suara ambulans yang mendekat ke arah Alexander dan Pradipta. Para tenaga medis langsung menurunkan brankar dari atas ambulans untuk mengangkat tubuh Exelin dan Amar. “Permisi, apa ada keluarga korban di sini?” tanya salah satu perawat yang datang menghampiri. “Saya orang tua kedua korban kecelakaan tersebut,” ucap Alexander dengan nada penuh dengan kesedihan. Tubuhnya terasa lemas melihat putri dan menantunya yang sudah tidak sadarkan diri. “Anda bisa ikut kami ke rumah sakit sekarang,” ucap perawat yang membawa Exelin dan Amar ke dalam mobil ambulans. Alexander dan Pradipta menemani putra dan putrinya masing-masing. Alexander dan Pradipta meninggalkan mobil mereka di tempat terjadinya kecelakaan. Mereka berdua langsung naik ke atas ambulans menemani Exelin dan Amar. Tubuh Exelin dan Amar langsung di pasang alat oleh tenaga medis yang bertugas di atas mobil ambulans. Alexander memegang tangan sang putri dengan erat. Hatinya begitu hancur melihat keadaan sang putri yang terlihat sangat lemah. “Kamu harus kuat demi papa, Princess. Kamu harus tetap hidup dan melahirkan cucu papa. Ingat janjimu, Sayang. Exelin berjanji tidak akan ninggalin papa sampai kapan pun. Bertahanlah, Sayang,” ucap Alexander dengan bibir bergetar. Hatinya begitu sakit dan hancur. ???? “Keluarga Nyonya Exelin,” ucap salah satu perawat yang keluar dari ruang operasi. “Saya orang tuanya,” ucap Alexander. Alexander menghampiri sang perawat. Sang perawat menyerahkan lembar persetujuan untuk dilakukannya operasi SC untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam tubuh Exelin. “Tolong anda tanda tangani lembar persetujuan dilakukannya operasi SC untuk mengeluarkan sang bayi,” ucap sang perawat. “Lakukan yang terbaik suster,” ucap Alexander sambil menandatangani lembar persetujuan. Setelah menerima surat persetujuan, sang perawat masuk lagi ke dalam ruang operasi. Semua keluarga berkumpul di depan ruang operasi Exelin dan Amar. Semua keluarga merasa hancur melihat keadaan Exelin dan Amar. Elena setelah mendengar kecelakaan sang putri, dia masih tetap pingsan belum sadarkan diri. Sama halnya Semua keluarga berkumpul di depan ruang operasi Exelin dan Amar. Semua keluarga merasa hancur melihat keadaan Exelin dan Amar. Elena setelah mendengar kecelakaan sang putri, dia masih tetap pingsan belum sadarkan diri. Sama halnya dengan Marisa yang berada di pelukan suaminya. Dia juga begitu hancur mendengar putra dan menantunya mengalami kecelakaan. "Kenapa hal ini bisa terjadi dengan putra dan menantu kita, Sayang. Jahat sekali yang sudah melakukan ini," ucap Marisa pada Pradipta. "Aku tidak akan melepas orang yang sudah menyelakahi putra dan menantuku itu janjiku. Aku akan mencarinya meskipun itu sampai ke ujung dunia pun. Dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya," ucap Pradipta menahan geram. Pradipta menatap sang sahabat dengan iba. Dia melihat Alexander yang bersandar di depan pintu ruang operasi dengan duduk di lantai. Tatapannya kosong dan tidak ada semangat sama sekali. Pradipta cuma bisa berharap kalau putra, menantu dan cucunya dalam keadaan baik-baik saja. Marisa yang berada di pelukan suaminya. Dia juga begitu hancur mendengar putra dan menantunya mengalami kecelakaan. "Kenapa hal ini bisa terjadi dengan putra dan menantu kita, Sayang. Jahat sekali yang sudah melakukan ini," ucap Marisa pada Pradipta. "Aku tidak akan melepas orang yang sudah menyelakahi putra dan menantuku itu janjiku. Aku akan mencarinya meskipun itu sampai ke ujung dunia pun. Dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya," ucap Pradipta menahan geram. Pradipta menatap sang sahabat dengan iba. Dia melihat Alexander yang bersandar di depan pintu ruang operasi dengan duduk di lantai. Tatapannya kosong dan tidak ada semangat sama sekali. Pradipta cuma bisa berharap kalau putra, menantu dan cucunya dalam keadaan baik-baik saja. ???? ????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN