Usia kehamilan Exelin sudah menginjak usia sembilan bulan. Hari dimana waktu yang ditunggu-tunggu tinggal menghitung hari. Amar semakin membatasi ruang gerak Axelina. Karena dia takut terjadi apa-apa dengan sang istri dan anaknya yang sebentar lagi lahir di dunia.
“Sayang, jangan kemana-mana. Tetap di rumah. Aku tinggal sebentar untuk meeting dengan klien,” ucap Amar penuh penekanan pada Exelin. Exelin yang mendengar perkataan sang suami cuma bisa menghela nafas. Dia benar-benar kesal pada suaminya akhir-akhir ini.
“Iya, Sayang,” ucap Exelin dengan lembut. Exelin mencoba untuk menenangkan Amar yang sedang dilanda kekhawatiran yang berlebihan pada dirinya. Amar mendekat ke arah Exelin. Menatap dalam mata istri yang sangat dia cintai dengan sepenuh hati. Entah perasaan aneh apa yang sedang dirasakan oleh Amar. Amar seperti berat untuk meninggalkan Exelin di rumah.
“Aku sangat mencintaimu melebihi nyawaku sendiri. Aku berharap kita selalu bersama sampai maut memisahkan kita. Aku ingin kisah cinta kita bisa selalu dikenang oleh anak-anak kita. Ingatlah selalu kalau kamu satu-satunya wanita yang membuat Amar gila karena wanita. Yang tunduk dengan pesona Exelin. Wanitanya yang sangat berarti untuk hidup seorang Amar,” ucap Amar dengan tulus. Tatapan mata Amar yang mengisyaratkan cinta yang sangat besar untuk Exelin. Exelin yang menatap balik mata sangat suami merasa kalau dirinya untuk saat ini tidak ingin berpisah dengan sang suami. Dia menginginkan Amar ada di sampingnya.
“Jangan pergi, Sayang,” ucap Exelin dengan mata berkaca-kaca. Exelin memeluk tubuh Amar dengan erat.
“Kenapa, Sayang? Aku cuma meeting sebentar. Setelah itu aku akan pulang lagi ke rumah,” ucap Amar dengan lembut. Amar mencium puncak kepala sang istri. Mencurahkan rasa sayangnya selama ini. Rasa sayang dan cinta yang setiap harinya selalu bertambah untuk Exelin.
“Entah kenapa sepertinya aku tidak ingin kamu tinggal bekerja,” ucap Exelin.
Amar tersenyum hangat kepada sang istri. Dia mencoba memberitahu sang istri dengan lembut kalau meetingnya kali ini benar-benar tidak bisa diwakilkan sama sekali. Kalau memang bisa diwakilkan, Amar pasti menyuruh Adam untuk mewakilinya dalam meetingnya kali ini. Tapi sayangnya meetingnya tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun. Karena sang klien cuma ingin membicarakan kontrak dengan dirinya saja. Tanpa ada yang mewakili.
“Hilangkan pikiran negatif dari kepala cantikmu itu. Percayalah padaku kalau aku pasti baik-baik saja. Aku akan pulang langsung setelah meeting,” ucap Amar meyakinkan Exelin.
Exelin dengan berat hati melepas Amar untuk pergi meeting. Dia cuma bisa berdoa pada Tuhan untuk lindungi suaminya dimana pun dia berada. Meskipun hatinya resah memikirkan Amar. Tiba-tiba ponsel Exelin bergetar.
Derrrt... Derrrtt...
Exelin menatap ponselnya heran karena ada nomor baru yang menghubunginya. Exelin mencoba untuk berpikiran positif. Kalau yang menelponnya adalah sang papa. Exelin mengangkat panggilan di ponselnya.
"Hallo." Exelin mencoba memulai pembicaraan.
"Selamat pagi Nona Exelin," ucap sang penelphone dengan suara serak. Exelin sedikit bergidik saat mendengar suara laki-laki itu.
"Siapa anda?" tanya Exelin menutupi ketakutannya.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Cukup yang kamu tahu, suamimu dalam bahaya. Karena aku sudah memasang bom di mobil suamimu. Kalau kamu tidak segera menemui suamimu, suamimu akan mati di tanganku," ucap sang penelepon dengan penuh ancaman. Exelin menutup panggilannya dengan tangan bergetar. Dia benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Amar. Exelin tanpa berpikir panjang langsung berlari sekuat tenaga menuju mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Dia yang melihat putrinya berlari, dia ikutan menyusul sang putri sambil memanggil-manggil Exelin. Tapi Exelin tidak mendengarkan panggilan sang ibu. Dia tetap masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke arah pertemuan meeting Amar. Dengan perasaan kalut dan penuh kekhawatiran pada Amar.
????
Alexander bertemu dengan Pradipta di sebuah restoran untuk membicarakan masalah Exelin dan Amar. Alexander memang sengaja tidak memberitahu siapapun tentang pertemuannya dengan sahabatnya Pradipta yang tidak lain adalah ayah dari Amar.
"Apa yang sedang membuatmu risau?" tanya Pradipta pada Alexander. Alexander menghela nafas kasar kalau teringat ancaman yang diberikan Roberto kepadanya. Alexander tidak ingin terjadi apa-apa dengan putri dan menantunya.
"Roberto mengancamku lagi, Prap," ucap Alexander pada Pradipta. Pradipta sempat kaget mendengar nama itu disebut lagi oleh Alexander. Karena Pradipta sedikit banyak tahu tentang perselisihan Alexander dengan Roberto.
"Memang dia mengancam apa, Alexander?" tanya Pradipta pada Alexander.
"Dia ingin mencelakai anak-anak kita, Prap," ucap Alexander dengan lemah.
"Maksudmu Amar dan menantuku?" tanya Pradipta memastikan perkataan Alexander. Alexander menganggukkan kepalanya. Pradipta yang melihatnya, dia tidak bisa menutupi kemarahannya pada Roberto. Terlebih lagi niatnya ingin mencelakai putra dan menantunya. Pradipta tidak bisa diam saja mendengar rencana yang mau dilakukan Roberto.
"Kamu mengetahuinya dari mana, Alexander?" tanya Pradipta ingin tahu.
"Frans memberitahuku. Dia menyuruhku hati-hati untuk menjaga putri dan menantuku. Karena yang membuat kaget juga, putri Roberto yang gila, ternyata mantan dari Amar. Roberto tidak terima kalau Amar bahagia dengan istrinya. Ditambah lagi, istri dari Amar adalah putriku. Jadi dia sekalian balas dendamnya," jelas Alexander pada Pradipta. Pradipta memegangi kepalanya yang terasa pusing mengetahui sebuah kebenaran yang barusan dia ketahui dari sahabatnya.
Tiba-tiba ponsel Alexander bergetar. Alexander langsung mengangkatnya saat mengetahui istrinya yang menelepon.
"Halo, sayang. Apa semua baik-baik saja?" tanya Alexander mencoba untuk tetap tenang. Alexander langsung khawatir saat mendengar istrinya menangis.
"Sayang, ada apa? Jangan membuatku khawatir. Ada apa sebenarnya, coba ceritakan," ucap Alexander mencoba untuk tenang.
"Exelin, putri kita, Sayang. Dia tadi berlari seperti orang yang kepanikan. Terus dia mengendarai mobil sendiri entah kemana setelah dia menerima telepon dari seseorang. Aku mengejarnya tidak bisa. Saat aku panggil-panggil, dia tidak mendengarkannya sama sekali. Aku sangat takut terjadi apa-apa dengan putri kita. Karena Entah kenapa perasaanku sangat tidak enak sekarang ini," ucap Elena pada sang suami. Alexander yang mendengar perkataan sang istri, dia benar-benar sangat marah. Karena Roberto sudah mulai beraksi. Alexander benar-benar merasa khawatir saat ini. Dia mencoba untuk tetap berpikir positif. Meskipun dia juga saat ini sangat panik. Alexander menutup panggilan sang istri dan mulai menghubungi Exelin. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Putrinya tidak mengangkat panggilan telfonnya.
“Apa semua baik-baik saja, Alexander. Kenapa mukamu setegang itu?” tanya Pradipta pada Alexander.
“Putriku dalam bahaya saat ini,” ucap Alexander sambil berdiri dari duduknya. Pikirannya sudah kalut memikirkan keselamatan sang putri yang dalam bahaya.
Pradipta ikut berdiri dari tempat duduknya saat mendengar sang menantu dalam bahaya. Dia bersumpah tidak akan melepaskan Roberto kalau sampai menantu dan calon cucunya sampai terjadi apa-apa. Pradipta mengikuti Alexander berlari menuju ke mobilnya. Diikuti oleh Pradipta di belakangnya.
“Ya Tuhan, lindungilah putriku. Jaga dia, Tuhan. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan putriku dan calon cucuku,” batin Alexander.
????