Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Exelin masih ingin mengobrol dengan keluarganya. Terlebih lagi dia masih ingin bermanja-manjaan dengan sang mama. Exelin begitu bahagia karena melihat keluarganya yang terlihat harmonis. Exelin berharap keluarganya akan tetap seperti sekarang ini sampai kapanpun.
"Sedang melamunkan apa, Princess," ucap Alexander pada sang putri.
"Exelin begitu bahagia, Pa. Melihat keluarga kita bisa berkumpul bersama," ucap Exelin pada sang papa.
"Papa juga sangat bahagia bisa melihat putri papa lagi. Yang selama ini sangat dirindukan papa. Terlebih lagi papa akan menjadi seorang kakek sebentar lagi. Papa sudah tidak sabar menunggu cucu papa lahir," ucap Alexander pada sang putri. Exelin memeluk sang papa. Sosok pria yang selama ini dirindukan oleh Exelin. Meskipun Exelin sempat membenci sang papa karena sebuah kesalahpahaman yang tidak dilakukan sang papa. Tapi sekarang dia sangat bersyukur keluarganya sudah kembali lagi. Terlebih lagi Exelin sekarang mengetahui kebenaran kalau dia mempunyai seorang kakak laki-laki yang sangat menyayanginya.
"Papa ingin mulai sekarang kamu harus berhati-hati. Di manapun itu, mulai sekarang kalau kamu kemana-mana akan diberi pengawalan oleh papa. Papa tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak papa," ucap Alexander sungguh-sungguh pada sang putri.
"Papa terlalu berlebihan. Exelin bisa menjaga diri Exelin sendiri, Pa. Exelin juga bukan anak kecil lagi yang harus di jaga 24 jam. Terlebih lagi sekarang Exelin sudah mempunyai suami yang sangat menyayangi Exelin," ucap Exelin dengan lembut. Exelin tidak ingin papanya khawatir dengan dirinya.
"Untuk kali ini papa tidak ingin ada penawaran, Princess," ucap Alexander seperti perintah pada Exelin. Exelin merasa ada yang tidak beres dengan sang papa. Ketakutan sang papa terlihat jelas dari tatapan sang papa kepada dirinya. Exelin merasa seperti ada yang ditutup-tutupi oleh sang papa.
"Sayang sudah malam. Kamu istirahat ke kamar. Besok dilanjut lagi ngobrolnya," ucap Amar pada Exelin. Exelin mendengar suara sang suami, dia langsung menoleh dan tersenyum hangat pada sang suami.
"Aku masih belum ngantuk, Sayang," ucap Exelin dengan manja. Alexander tersenyum mendengar putrinya manja pada suaminya.
"Tidak ada penolakan, Sayang. Sekarang istirahat dulu," ucap Amar. Exelin mau tidak mau berdiri dari duduknya. Menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya barusan.
"Ayo diantar mama, Sayang. Suamimu masih mengobrol dengan kakakmu," ucap Elena pada sang putri. Exelin menganggukkan kepala dan berdiri menghampiri sang mama. Exelin menoleh ke arah suaminya yang kembali lagi mengobrol dengan sang kakak.
Setelah Exelin istirahat diantar oleh sang mama, Alexander menghampiri putra dan menantunya yang lagi serius berbicara masalah perusahaan baru mereka.
“Serius sekali kalian ngobrolnya,” ucap Alexander pada putra dan menantunya.
“Tidak juga, Pa,” ucap Amar dengan sopan. Alexander duduk bersama Amar dan Rio. Ikut dalam obrolan Amar dan Rio yang membahas masalah perusahaan baru mereka dan keinginan Amar yang ingin membuatkan perusahaan kue kering untuk Exelin. Alexander yang mendengar rencana menantunya untuk sang putri, dia tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Dia tidak menyangka kalau sang menantu sampai memikirkan sang putri sampai seperti itu.
"Rencananya perusahaan Exelin akan dibangun di mana?" tanya Alexander pada Amar.
"Amar ingin menaruhnya di Indonesia saja, Pa. Karena kalau Amar dan Exelin jadi pindah di Swiss, Amar dan Exelin punya alasan untuk sering-sering ke Indonesia untuk memantau perkembangan perusahaan. Amar ingin menyerahkan perusahaannya nanti saat anak kami lahir," ucap Amar pada Alexander. Alexander bingung dengan apa yang barusan dikatakan oleh menantunya.
"Kelahiran anak Kalian kan sebentar lagi. Paling kurang sebulan. Bagaimana mungkin mencari lokasi dan pembangunan perusahaan cuma dikasih waktu satu bulan. Itu mustahil, Amar. Tidak ada yang sanggup menyelesaikannya," ucap Alexander pada Amar. Amar yang mendengar perkataan sang mertua, dia tersenyum hangat.
"Perusahaannya sudah ada, Pa. Semuanya juga sudah beres. Cuma tinggal peresmiannya saja. Nanti saat anak kami lahir peresmiannya," ucap Amar pada Alexander. Alexander cuma bisa geleng-geleng kepala dengan apa yang sudah dilakukan sama menantunya.
"Memang sejak kapan kamu mempersiapkannya?" tanya Alexander penasaran.
"Tiga bulan yang lalu, Pa. Lahan sudah ada. Bangunan sudah ada. Tinggal ngerenovasi sedikit sesuai karakter Exelin. Dengan bantuan teman saya Rach. Arsitektur dari Singapura. Karena kedisiplinan Rach. Semua bisa dikerjakan selama 3 bulan dan sekarang sudah selesai semuanya," ucap Amar pada Alexander.
Alexander benar-benar takjub dengan menantunya. Tanpa istrinya tahu dia sudah mempersiapkan semuanya untuk memberikan kejutan manis yang sudah dia persiapkan dengan matang.
"Untuk perusahaan baru kalian. Bagaimana perkembangannya?" tanya Alexander pada anak dan menantunya.
"Semuanya berjalan lancar, Pa. Rio terbantu karena banyaknya klien Amar yang dikenalin ke perusahaan baru kita. Ditambah lagi jasa yang kita tawarkan, belum pernah ada yang menawarkan ke perusahaan lain," jelas Rio pada Alexander.
"Memang apa sebenarnya yang kalian tawarkan?" tanya Alexander penasaran.
"Pemasaran berbasis digital, Pa," ucap Amar. Alexander sedikit paham dengan marketing digital. Karena dia sempat mendengar kalau sekarang pemasaran sudah sangat canggih. Setelah mendengar penuturan anak dan menantunya, dia bisa membayangkan bagaimana majunya perusahaan itu nanti. Dengan dua kepala yang pemikirannya sama-sama maju. Dia berharap kelak dengan adanya perusahaan itu, ikatan di antara Rio dan Amar semakin terjalin dengan erat.
"Papa berharap semoga kalian sukses dengan perusahaan kalian berdua itu," ucap Alexander dengan menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Terima kasih, Pa, atas doanya. Semoga berkat doa papa perusahaan ini cepat mendapatkan tempat di jajaran perusahaan terbaik," ucap Amar.
"Pasti itu. Papa percaya akan kemampuan kalian berdua dalam mengelola perusahaan," ucap Alexander dengan penuh keyakinan pada putra dan menantunya.
????
Setelah mengobrol lama dengan mertua dan sahabatnya, Amar masuk ke dalam kamar dengan pelan-pelan. Karena dia takut kalau sampai membangunkan istrinya yang sedang istirahat. Untuk saat ini prioritas Amar adalah istri dan calon anaknya yang akan lahir di dunia ini. Meskipun dia terlihat sangat overprotektif kepada sang istri, tapi Amar mempunyai alasan sendiri untuk dia melakukan hal itu. Amar naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah tertidur pulas. Dia memandangi sang istri yang terlihat sangat cantik saat dia hamil.
"Semoga kamu selalu sehat dengan anak kita. Aku percaya kalau kamu pasti bisa melahirkan anak kita dengan selamat," batin Amar. Amar mencium kening sang istri penuh dengan rasa sayang. Hidup Amar setelah datangnya Exelin ke dalam hidupnya, semakin membuat hidup Amar berwarna. Amar tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sekarang ini dia rasakan. Amar benar-benar merasa sangat bahagia. Mempunyai istri yang cantik dan juga mencintainya. Terlebih lagi setelah ini dia akan menjadi seorang ayah. Kebahagiaan yang sudah sangat lengkap untuk Amar.