Part 27

1029 Kata
Sampai menjelang malam Alexander belum keluar dari ruang kerjanya. Elena masuk ke ruang kerja sang suami. Dia melihat Alexander sedang menatap nanar foto sang putri. "Apa semuanya baik-baik saja? Kenapa kamu memandangi foto putri kita sampai seperti itu?" tanya Elena kepada sang suami. Alexander menatap wajah cantik sang istri dengan senyum yang ia paksakan terukir di wajahnya. Alexander tidak ingin sampai sang istri kaget dan memikirkan tentang putrinya. Biarkan dirinya saja yang akan memikulnya sendiri. Menjaga keluarganya dengan sepenuh jiwanya. Alexander pun tidak ingin sampai menantunya tahu. Karena dia tahu bagaimana sifat Amar yang tidak bisa mengampuni seseorang. Rasa cinta Amar yang sudah membutakan semuanya akan berakibat fatal sampai dia mengetahui kalau nyawa istrinya sedang bahaya. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Aku sangat terharu saja. Akhirnya putri kita sudah pulang. Setelah sekian lama dia dibawah suaminya pergi tanpa ada kabar sama sekali. Tapi aku juga sangat bahagia melihat pancaran cinta di antara mereka berdua. Aku cuma berharap putri kita selalu bahagia dengan keluarga kecilnya," ucap Alexander pada sang istri. "Aku juga berharap seperti itu, Sayang. Sudah cukup putri kita menderita karena kita dulu. Sekarang sudah waktunya dia bahagia. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja kedua putra dan putri kita bisa menemukan kebahagiaannya masing-masing dengan pasangan yang mencintainya dengan setulus hati," ucap Elena pada Alexander. Alexander menatap istrinya penuh cinta. Dia sangat bersyukur Tuhan memberikan istri seperti Elena untuknya. Karena tanpa Elena di samping Alexander, Alexander bukanlah siapa-siapa. "Keluarlah! Putri kita sedang menunggumu. Jangan sampai Putri kita beranggapan yang tidak-tidak. Karena papanya tidak mau menemuinya," ucap Elena pada Alexander. Alexander menganggukkan kepalanya dan berdiri dari tempat duduknya. Alexander berjalan menghampiri sang istri dan merengkuh tubuh sang istrinya ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan membiarkan putriku salah paham lagi kepadaku," ucap Alexander dengan sungguh-sungguh. Elena tersenyum hangat pada Alexander. Elena dan Alexander berjalan berdampingan menuju ke ruang makan. Terlihat para anak-anaknya sedang berkumpul. Menunggunya untuk turun makan bersama. "Apa papa terlalu banyak pekerjaan, sampai-sampai tidak keluar dari ruang kerja?" tanya Exelin pada Alexander. Alexander tersenyum hangat pada sang putri yang sedang menatapnya. "Papa ada pekerjaan yang harus papa selesaikan, Princess. Jadi lebih baik papa selesaikan terlebih dahulu. Sebelum papa menghabiskan waktu bersamamu. Setelah sekian lama mama dan papa tidak bertemu denganmu," ucap Alexander pada sang putri. Exelin yang mendengar penjelasan sang papa, Exelin mencoba mengerti bagaimana kesibukan sang papa. "Tetap jaga kesehatan, Pa. Jangan terlalu capek untuk bekerja. Biarkanlah Rio yang mengelolahnya. Sudah waktunya Rio menggantikan papa," ucap Exelin pada sang papa. "Kakakmu sekarang juga sedang fokus dengan perusahaan barunya, Sayang. Dia kan bekerja sama dengan suamimu. Apa Amar tidak memberitahumu soal kakakmu," ucap Alexander pada Sang Putri. "Saya belum memberitahu Exelin, Pa. Karena buat saya pribadi, belum waktunya saya memberitahu Exelin. Saya akan memberitahu Exelin kalau perusahaan sudah bisa dibanggakan dan kualitas perusahaan diakui para pengamat bisnis," ucap Amar pada Alexander. "Pemikiran yang bagus, Amar. Papa sangat bangga dengan pemikiran anak muda sepertimu. Tak heran semua perusahaanmu bisa berkembang dengan pesat di mata dunia. Sampai-sampai kamu mendapat julukan sang Billionaire muda," puji Alexander pada sang menantu. Exelin merasa bangga dengan cara berpikir sang suami. Dia tidak menyangka kalau sang suami bisa memikirkan hal sekecil itu. Exelin tahu. Kalau sang suami tidak ingin dia memikirkan hal yang terlalu berat. Sampai-sampai harus mempengaruhi keadaan janinnya. "Sudah, nanti saja mengobrolnya. Sekarang kita makan terlebih dahulu," ucap Elena. Exelin menatap makanan yang disajikan sang mama dengan mata berbinar. Exelin sangat merindukan masakan sang mama. Di meja makan tersaji bermacam-macam masakan. Mulai dari dendeng daging, semur jengkol, balado telur, sayur bening dan tidak lupa adanya sambal yang terlihat menggoda. "Selamat makan," ucap Exelin setelah mengambilkan makanan untuk Amar. Exelin menyantap makanannya dengan lahap. Semua mata menatap Exelin penuh rasa sayang. "Makanya pelan-pelan, Sayang," ucap Amar pada sang istri. Exelin tersenyum manis pada Amar. "Aku sangat merindukan masakan Ibu, Sayang. Jadi wajar kalau aku makannya lahap. Tambah pingin nambah lagi sekarang," ucap Exelin dengan jujur. Amar yang melihatnya cuma geleng-geleng kepala. "Sudah biarkan saja. Mama memang sengaja memasak makanan kesukaan istrimu," ucap Elena pada sang menantu. Semua makan dengan lahap sampai makanan yang ada di meja makan habis tidak tersisa. Semua pada nambah mulai dari Exelin, Amar dan Rio. Alexander begitu bahagia melihat anak dan menantunya bisa tersenyum lepas. "Untuk sementara waktu tinggallah di sini dulu. Sampai istrimu melahirkan. Nanti setelah istrimu melahirkan. Dan anakmu sudah agak besar, kalian bisa pindah ke rumah baru kalian," ucap Alexander pada Amar. Amar setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh papa mertuanya. Dia pribadi tidak boleh egois. Dia harus memikirkan kebaikan untuk sang istri. Terlebih lagi terlihat jelas di wajah sang istri. Kalau istrinya begitu nyaman tinggal bersama kedua orangtuanya. "Baiklah, Pa. Kalau memang yang terbaik untuk Exelin seperti itu," ucap Amar pada papa mertuanya. Alexander yang mendengarnya merasa sangat bahagia. Karena sang menantu tidak menentang apa yang barusan dia ucapkan. "Oh iya, mama pingin tahu jenis kelamin cucu mama?" tanya Elena pada sang putri. Exelin menjawab dengan senyuman di wajah cantiknya. "Exelin dan Amar memang sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin anak kita, Ma," ucap Exelin pada sang mama. "Biar surprise, Ma," ucap Amar menimpali. Rio dan Alexander ikut tertawa mendengar jawaban Amar. Kehangatan sebuah keluarga yang selalu dirindukan Rio. Bisa menatap orang-orang yang dia kasihi bisa tersenyum dan merasakan sebuah kebahagiaan. Terlebih lagi saat menatap adik yang sangat dia kasihi dengan sepenuh hati bisa tertawa lepas bersama sang mama. “Selalu bahagialah. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan keluarga kita,” ucap Rio dalam hati. ???? "Apa Putri Alexander sudah sampai di Indonesia?" ucap seorang laki-laki yang berada di balik kursi kebesarannya. "Sudah, Bos," ucap sang anak buah pada laki-laki tersebut. "Baiklah kalau begitu. Kalian bisa pergi dari ruangan ku," ucap laki-laki tersebut. Para anak buah yang disuruh satu-persatu keluar dari ruangannya. "Balas dendam ku akan di mulai Alexander. Awal mula kau yang membuat masalah. Setelah itu putrimu yang membuat masalah. Karena sudah merebut laki-laki yang dicintai putriku. Sampai akhirnya putriku menjadi wanita yang tidak waras karena terobsesi dengan pria yang dicintainya. Yang tidak lain adalah menantumu. Putrimu harus mati di tanganku. Untuk membalaskan dendamku dan dendang putriku," ucap pria itu dengan marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN