Rumah kediaman keluarga Alexander terlihat begitu asri. Berbeda sekali saat Amar terakhir kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Alexander. Yang dulunya taman dibiarkan mati, sekarang terlihat indah dengan berbagai macam bunga yang tumbuh di taman itu. Amar sedikit menebak-nebak kalau perubahan itu terjadi karena kembalinya sang Nyonya Alexander yang dulu sempat pergi. Yang tidak lain adalah ibu mertuanya sendiri. Exelin pun juga seperti itu. Exelin menatap rumah yang dulu sempat ia tinggalkan bersama ibunya yang memilih menjauh dari hiruk pikuk keluarga besar Alexander. Exelin teringat bagaimana dulu saat ia meninggalkan rumah ini bersama sang ibu. Meninggalkan semua kemewahan dan memilih untuk hidup sederhana. Meninggalkan sebuah kesalahpahaman yang tidak terselesaikan antara Ibu dan sang papa. Sampai akhirnya keluarganya hancur karena hasutan orang ketiga yang tak lain adalah tantenya sendiri.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Amar kepada sang istri yang terlihat sedih.
"Iya, Sayang. Aku baik-baik saja. Aku cuma teringat dulu saat aku dan ibu meninggalkan rumah ini," ucap Exelin kepada sang suami. Amar merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya.
"Sekarang semuanya baik-baik saja. Keluarga kita akan bahagia dengan semua yang saling menyayangi," ucap Amar. Exelin menganggukkan kepala mengamini apa yang barusan dikatakan sang suami.
"Sekarang ayo kita masuk ke dalam. Pasti keluargamu sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Terlebih lagi kakakmu yang sangat overprotektif sekali padamu," ucap Amar. Exelin tersenyum mendengar apa yang barusan dikatakan Amar. Amar dan Exelin berjalan berdampingan menuju ke dalam rumah.
Exelin masuk ke dalam rumah. Dia langsung disuguhkan senyum hangat Rio dan rentangan tangan Rio pada Exelin. Exelin berjalan menghampiri Rio dan langsung memeluk tubuh sang kakak. Exelin tidak menyangka sama sekali kalau orang yang di dekatnya selama ini adalah bagian dari dirinya. Kakak kandung yang selama ini terpisah darinya.
"Apa b******n itu merawatmu dengan baik?" tanya Rio pada sang adik yang masih berada di pelukannya.
"b******n itu Ayah dari anak yang sedang aku kandung. kalau ngomong jangan sembarangan," ucap Exelin pada Rio.
"Jadi sekarang kau sudah mencintainya," goda Rio pada sang adik.
"Aku sangat mencintainya. Kalau aku tidak mencintainya, bagaimana aku bisa hamil," ucap Exelin pada Rio. Amar menatap Exelin dan Rio dalam diam.
Hati Amar menghangat saat mendengar ungkapan cinta dari sang istri. Meskipun itu tidak secara langsung dia katakan kepadanya tapi buat Amar mendengarnya saja dia sudah merasa bahagia.
"Apa kau ingin memeluk istriku terus-terusan seperti itu, Rio," ucap Amar dengan sinis. Meskipun itu cuma pura-pura Amar tidak suka melihat Rio pelukan dengan Exelin. Rio menatap Amar dengan cuek.
"Sepertinya kau tidak suka aku memeluk adikku sendiri. Dasar b******n," ucap Rio. Rio mencium puncak kepala Exelin penuh rasa sayang. Melepas pelukannya dan berjongkok ke arah perut Exelin yang sudah membesar.
"Hai keponakan Om, sehat-sehat ya di dalam perut mama. Om sudah tidak sabar ingin melihatmu. Nanti kalau kamu sudah lahir pasti kamu akan menjadi keponakan Om yang paling Om sayang. Apapun yang kamu minta pasti akan diberikan sama Om. Itu janji Om pada kamu," ucap Rio sambil mengusap perut sang adik. Exelin begitu terharu dengan apa yang barusan dilakukan sang kakak. Dia tidak menyangka kalau sang kakak juga sangat menyayangi anak yang dia kandung.
"Mama sudah menunggumu di dalam," ucap Rio pada Exelin. Rio merengkuh tubuh Exelin dan berjalan berdampingan menuju tempat sang mama yang sudah menunggu kedatangan Exelin dari tadi. Amar berjalan mengikuti Rio dan Exelin dari belakang. Exelin langsung tidak bisa membendung air matanya saat menatap sang mama yang tersenyum hangat padanya. Air mata Exelin menetes deras di wajah cantiknya.
"Mama," ucap Exelin berjalan mendekat dan langsung memeluk sang mama. Elena langsung memeluk tubuh sang putri yang sangat dia rindukan. Elena mencium puncak kepala Exelin penuh rasa rindu dan sayang. Sudah hampir satu tahun dia tidak bertemu dengan sang putri.
"Mama sangat merindukanmu, Sayang," ucap Elena kepada sang putri.
"Exelin juga sangat merindukan mama," ucap Exelin di pelukan sang mama.
"Putri mama sebentar lagi akan menjadi ibu. Mama sangat bahagia melihat putri Mama juga bahagia," ucap Elena pada sang putri. Exelin begitu bersyukur melihat perkembangan kesehatan sang mama yang semakin baik.
“Bagaimana keadaan mama sekarang?” tanya Exelin pada sang mama.
“Seperti yang kamu lihat sekarang, Sayang. Mama semakin baik. Berkat operasi dan terapi yang di berikan suamimu, mama bisa sehat seperti sekarang ini. Meskipun ada campur tangan papamu dan kakak laku-lakimu,” ucap Elena pada sang putri.
"Exelin begitu bahagia, Ma. Saat Exelin mendengar keadaan Mama yang semakin membaik. Exelin berharap mama bisa sembuh dari penyakit mama. Dan mama bisa melihat cucu mama," ucap Exelin penuh harap. Exelin menatap wajah sang mama yang sekarang terlihat segar dan cantik. Tidak seperti dulu yang sering murung dan menangis dalam diam. Mungkin alasan kebahagiaan Mama adalah papa untuk saat ini. Bisa bersama dengan laki-laki yang sangat dicintai mama. Meskipun dulunya mereka berpisah karena kesalahpahaman yang tidak terselesaikan. Tapi Exelin sangat bersyukur untuk saat ini. Karena keluarganya sudah kembali utuh dan saling menyayangi. Dia berharap selamanya akan seperti ini.
"Ma, Exelin ingin memperkenalkan menantu mama," ucap Exelin pada sang mama.
"Mama sudah mengenal menantu Mama, Lin," ucap sang mama tersenyum hangat.
"Bagaimana mungkin mama mengenal Amar, Ma. Amar belum pernah bertemu dengan mama. Mama pun juga begitu belum pernah bertemu dengan Amar sama sekali. Karena saat Mama dioperasi, Exelin langsung menikah dengan Amar dan langsung meninggalkan Indonesia," ucap Exelin.
"Apa harus, menantu mama bertemu dengan mama dengan janji terlebih dahulu? Menantu mama sering menghubungi mama, Lin. Dan saat pengobatan mama di Inggris pun, menantu mama mengunjungi mama di sana," jelas Elena pada sang putri. Exelin menatap sang suami yang dibalas Amar dengan senyuman di wajah tampannya.
????
Setelah menjemput putri dan menantunya di Bandara, Alexander langsung memasuki ruang kerjanya. Ancaman dari salah satu musuh besarnya, tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Alexander. Terlebih lagi jika menyangkut hidup sang putri. Alexander tidak ingin terjadi apa-apa pada sang putri. Karena buat Alexander, putrinya adalah nafas dan jantungnya. Dia akan berusaha menjaga dan melindungi Exelin dengan sepenuh jiwanya. Alexander tidak ingin sampai Amar tahu tentang ancaman dari musuhnya untuk Exelin. Satu-satunya orang yang akan di ajak berbicara oleh Alexander adalah Pradipta. Sahabat sekaligus ayah dari Amar. Alexander mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Pradipta. Tak berselang lama panggilan pun terhubung.
"Tumben kau menelponku, Alexander. Sepertinya ada yang tidak beres kali ini. Sampai-sampai kau menghubungiku lebih dulu," ucap Pradipta pada Alexander.
"Tepat sekali, Prap. Besok aku akan menemuimu di tempat kita biasa bertemu," ucap Alexander pada Pradipta.
"Baiklah kalau begitu," ucap Pradipta pada Alexander. Panggilan pun akhirnya diakhiri oleh Alexander. Alexander duduk di kursi kebesarannya sambil menatap nanar foto sang putri yang ada di meja kerjanya.
????