Berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan di jalanan rumah penduduk Maldives. Menikmati makanan khas penduduk Maldives yang di jual di sana. Exelin merasa sangat bahagia dengan apa yang sudah Amar berikan hari ini.
“Aku sangat bahagia, Amar. Terima kasih untuk semuanya,” ucap Exelin sungguh-sungguh.
“Aku senang kalau kau juga menikmatinya,” ucap Amar sambil tersenyum hangat ke arah Exelin. Tanpa di sangka-sangka oleh Amar, Exelin mencium pipinya. Ciuman pertama yang di berikan Exelin pada Amar. Hati Amar begitu bahagia. Melihat Exelin mulai menghangat kepadanya.
“Aku berjanji akan belajar mencintaimu, dan menjadi satu-satunya wanita yang layak bersanding denganmu,” ucap Exelin sungguh-sungguh. Amar begitu kaget mendengar perkataan Exelin. Istrinya sudah mau membuka hati untuknya. Kata-kata yang selama ini dia tunggu-tunggu keluar dari mulut Exelin. Amar menarik tubuh Exelin ke dalam pelukannya.
“Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau membuka hatimu untuk menerima pria b******n sepertiku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu pernah aku lakukan kepadamu. Aku benar-benar bahagia,” ucap Amar berkaca-kaca. Amar tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Exelin yang melihatnya juga terbawa suasana. Dia begitu terharu melihat Amar seperti itu. Amar mencium puncak kepala Exelin penuh rasa cinta.
“Sekarang kamu mau kemana?” ucap Amar dengan lembut.
“Kita pulang saja. Aku sudah capek seharian kita sudah jalan-jalan,” ucap Exelin. Amar menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Exelin. Amar melepaskan pelukannya. Dan kembali berjalan berdampingan menuju ke resort miliknya.
????
Seorang Ayah yang sedang merindukan putrinya. Karena sudah sangat lama mereka berpisah karena sebuah kesalah pahaman yang terjadi. Alexander menatap foto putrinya yang sudah terlihat sangat dewasa. Kecantikannya menurun dari ibunya. Alexander benar-benar merasa khawatir dengan keadaan sang putri yang sampai sekarang tidak bisa dia temukan keberadaannya. Amar benar-benar membawa Exelin tanpa ada yang tahu. Termasuk kedua orang tuanya. Sampai-sampai anak buah Amar tiak berani mengucapkannya. Meskipun sama Rio, anak buah Amar sudah di ancam.
“Apa sudah ada kabar dari Exelin, Boy?” tanya Alexander pada putranya.
“Belum, Pa. Amar dan Exelin seperti di telan bumi. Keberadaannya tidak ada yang tahu,” ucap Rio di liputi perasaan khawatir akan keselamatan adiknya yang berada dalam kendali Amar. Rio tahu bagaimana tabiat Amar yang arogant dan suka menyiksa siapapun yang tidak menuruti apa kemauannya. Hartanya yang berlimpah membuat Amar suka semena-mena pada semua orang.
“Apa sudah kamu kerahkan semua anak buah kita untuk mencari keberadaan Amar dan Exelin?” tanya Alexander pada Rio.
“Sudah, Pa. Sampai-sampai anak buah Jonathan juga ikut turun tangan untuk mencari keberadaan Exelin dan Amar,” ucap Rio.
“Hasilnya gimana, Boy. Apa tetap sama?” tanya Alexander.
“Iya, Pa. Tetap gak ada kabar. Padahal sudah 5 bulan ini pecarian mereka berdua,” ucap Rio.
“Mamamu jangan sampai tahu tentang adikmu ini. Papa takut keadaan mamamu akan semakin buruk. Papa tidak ingin sampai terjadi apa-apa dengan mamamu. Karena mamamu adalah segalanya buat papa,” ucap Alexander. Rio yang mendengarnya paham akan apa yang di rasakan sang papa. Bukan cuma untuk papanya saja. Buat Rio untuk saat ini, mamanya adalah nafasnya.
*****
Setelah sampai di resort, Exelin dan Amar langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang ada kamar mereka. Amar menatap wajah Exelin yang rebahan di sampingnya. Wajah cantik yang tanpa polesan pun tetap terlihat cantik dan mempesona. Terlebih lagi dengan body proporsional yang di miliki Exelin. Semakin menambah kesempurnaan dalam diri Exelin.
“Capek?” tanya Amar pada Exelin dengan sedikit merajuk. Amar sudah menahan hasratnya mulai tadi pagi untuk tidak menerkam Exelin. Untuk saat ini dia menginginkannya.
“Kenapa?” tanya Exelin balik. Exelin menatap mata Amar yang terselimuti oleh hasrat. Exelin tersenyum simpul melihat Amar.
“Joniurku ingin di manjakan oleh milikmu, sayang,” bisik Amar di telinga Exelin. Tiupan Amar di telinga Exelin, membuat Exelin langsung merinding. Untuk kali ini Exelin juga menginginkan Amar. Pria yang sekarang sudah menjadi suaminya seutuhnya. Amar hanya milik Exelin. Bukan milik wanita lain. Exelin tidak ingin kehilangan Amar karena trauma yang dia alami. Exelin akan belajar memaafkan Amar dan menyembuhkan luka di hatinya yang di torehkan oleh Amar.
“Ehemmm...apa yang kamu inginkan sebenarnya dari diriku?” tanya Exelin pura-pura tidak tahu apa yang sedang di inginkan oleh Amar. Exelin menatap dalam mata Amar. Mata penuh cinta yang terlihat berbinar saat menatap matanya. Mungkin terlihat sangat konyol melihat dirinya mulai ingin belajar mencintai Amar. Padahal pernikahannya sudah berjalan lima bulan ini. Exelin baru menyadari kalau Exelin menginginkan Amar ada di sampingnya. Menjadi tempat sandaran untuknya.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Apa kamu ingin aku perkosa lagi untuk menuntaskan hasratku yang aku tahan mulai tadi pagi karena ulahmu,” ucap Amar.
“Aku tadi tidak melakukan apa-apa. Kamunya saja yang m***m. Melihatku tidak memakai baju saja sudah trun of,” ucap Exelin tanpa rasa bersalah. Amar langsung menyambar bibir Exelin. Melumatnya bergantian. Lumatan panjang yang saling membalas satu sama lain. Mencurahkan apa yang mereka berdua rasakan saat ini. Amar melepaskan ciumannya saat melihat Exelin mulai terengah-engah. Amar dan Exelin saling menatap dan tersenyum.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Amar.
*****