Malam panjang di lalui bersama dengan memadu kasih antara Exelin dengan Amar. Pernikahan yang mulai menghangat dengan di awali sebuah insident yang tidak akan pernah di lupakan oleh Exelin. Tapi semua berbeda mulai hari ini. Malam panas yang di lakukan suka sama suka tanpa paksaan sama sekali. Untuk pertama kali ini Amar menikmati bercinta dengan Exelin. Dengan dia di bawa kendali Exelin. Untuk pertama kalinya dia melihat sisi Exelin yang berbeda. Menikmati setiap permainan yang dia buat dengan berbagai gaya. Amar tidak menyangka kalau istrinya bisa seliar itu saat di atas ranjang. Sampai dia sendiri kewalahan mengimbangi permainan Exelin. Dengan gayanya yang erotis setiap mau memulai bercinta membuat Amar ingin bercinta lagi dan lagi dengan Exelin.
“Capek, Sayang,” ucap Amar lembut sambil tetap menatap wajah cantik istrinya yang terlihat kelelahan karena percintaan panjang mereka berdua.
“Iya, Sayang. Aku menikmati percintaan kita kali ini,” ucap Exelin dengan jujur. Amar tersenyum hangat dan mengecup bibir wanitanya. Satu-satunya wanita yang sudah membuatnya gila. Amar tersenyum saat melihat tubuh istrinya yang banyak tanda kepemilikan yang dia buat. Dari leher sampai kedua gundukan kenyal milik Exelin yang padat. Puncak gundukan kenyal yang menjadi tempat favorit Amar saat bersama sang istri. Amar berharap semoga kali ini benihnya bisa tertanam di rahim Exelin. Benih Amar junior. Buah cinta dari mereka berdua.
“Aku tidak menyangka kalau istriku sangat buas di atas ranjang,” goda Amar pada Exelin. Wajah Exelin bersemu merah karena perkataan sarkas suaminya.
“Memangnya kamu tidak suka aku seperti itu?” tanya Exelin penasaran. Amar tersenyum mendengar pertanyaan Exelin yang terdengar sangat lucu di telinganya.
“Suami mana yang tidak suka dengan permainan istrinya yang agresif saat di atas ranjang. Kalau boleh meminta kalau setiap kita bercinta kamu seperti itu. Terlihat sangat seksi dan menggoda. Di tambah lagi gayamu yang erotis saat mengodaku,” ucap Amar sambil menatap dalam mata Exelin Amar masih tetap mengungkung tubuh Exelin di dalam dekapannya. Tubuh yang saat ini sudah benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. Wanitanya, calon ibu untuk anak-anaknya kelak.
“Kalau itu maumu saja seperti itu. Dasar suami m***m,” ucap Exelin.
“m***m kalau ke istri sendiri tidak masalah. Dari pada m***m ke wanita lain,” ucap Amar sambil mengedipkan satu matanya ke arah Exelin.
“Terserah kamu saja. Sekarang kita tidur. Lihat itu jam udah jam 3 pagi,” ucap Exelin. Amar melihat ke arah jam yang di tunjuk Exelin. Dia tidak sadar kalau percintaannya kali ini sampai dini hari.
Amar merengkuh tubuh Exelin ke dalam pelukannya. Memejamkan mata sambil memeluk wanita yang dia cintai. Exelin memeluk balik tubuh kekar Amar. Sambil menyandarkan kepalanya di d**a bidang Amar. Exelin mulai memejamkan matanya dengan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Perasaan nyaman yang belum pernah dia rasakan selama ini.
*****
Pagi yang cerah untuk memulai aktifitas. Dua anak manusia masih betah tertidur saling berpelukan. Padahal waktu sudah menunjukkan waktu pukul 09.00 siang. Exelin terbangun saat mendengar suara ponsel Amar berbunyi.
“Sayang, bangun,” ucap Exelin pada Amar. Amar membuka matanya saat mendengar Exelin memanggilnya.
“Morning, Sayang,” ucap Amar sambil mencium puncak kepala Exelin.
“Morning juga, Sayang. Tadi ponselmu bunyi. Tidak tahu siapa yang menelphonemu. Coba lihat dulu, takutnya itu hal yang penting,” ucap Exelin pada Amar.
Amar mengambil ponselnya yang dia taruh di atas nakas. Saat dia melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi, Amar langsung mengirim pesan pada Adam. Orang kepercayaannya yang dia taruh di Indonesia untuk memantau perkembangan dan situasi di sana.
“Ada apa, Dam. Apa ada yang penting yang harus di bahas.” Amar mengirim pesan pada Adam. Tidak berselang lama Adam membalas pesan dari Amar.
“Bos, kali ini anda perlu berhati-hati. Ada hal yang perlu saya bicarakan pada anda. Ini sesuatu yang penting yang ada sangkut pahutnya dengan Nona Exelin. Untuk sementara waktu lebih baik anda stay di Maldives saja. Karena untuk mengakses keberadaan anda itu sangat sulit.” Amar mengerutkan dahi tidak paham akan pesan adam untuknya.
“Maksudmu apa, Dam. Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Amar.
“Anda hubungi saya kalau Nona sedang tidak berada di samping anda, Bos.” Balas Adam pada Amar. Amar semakin penasaran di buatnya. Amar menatap Exelin yang sedang menatapnya ingin tahu. Amar mau tidak mau mencari alasan supaya Exelin tidak bertanya macam-macam padanya.
“Siapa yang menghubungimu?” tanya Exelin ingin tahu.
“Adam menghubungiku. Memberitahuku tentang perkembangan perusahan kita yang ada di Indonesia,” ucap Amar bohong. tidak mungkin Amar mengatakan kalau Adam mau memberi tahunya tentang Exelin.
“Oh...!!! ya sudah kalau gitu. Aku mandi dulu. Setelah itu baru aku buatkan sarapan,” ucap Exelin pada Amar.
“Mandi bareng, Sayang,” rajuk Amar pada Exelin. Exelin menganggukkan kepalanya. Tandanya dia menyetujui apa yang di katakan Amar barusan. Amar tersenyum senang. Dia bangkit dari tidurnya dan mengangkat tubuh Exelin untuk dia bawa ke dalam kamar mandi. Bukan Amar namanya kalau cuma sekedar mandi. Exelin dan Amar mengulangi percintaan panas mereka di dalam kamar mandi. Desahan dari mulut Exelin semakin membuat Amar menggila.
“Sayang, milikmu tetap terasa nikmat,” ucap Amar di sela-sela permainannya. Exelin berada di atas tubuh Amar di dalam bath up yang sudah terisi dengan air hangat dan aroma terapi bunga lavender yang sangat menenangkan. Untuk kali ini Amar ingin menenangkan pikirannya yang masih penasaran akan informasi Adam.
????
Jika aku di haruskan untuk memilih
Aku akan memilih untuk meninggalkan semuanya
Untuk tetap bersamamu
(Amar Pradipta)
???