Sebuah Kebenaran memang sering kali menyakitkan. Adakalanya sebuah kebenaran juga memberikan kebahagiaan. Amar menerka-nerka kabar apa yang ingin Di sampaikan Adam kepadanya. Akhirnya Amar memutuskan menghubungi Adam di saat Exelin memasak di dapur. Amar langsung menghubungi Adam. Menanyakan informasi apa yang dia dapat soal Exelin. Tidak berselang lama, panggilan pun tersambung.
“Siang, Bos,” ucap Adam dengan sopan.
“Informasi apa yang kau dapat tentang istriku?” tanya Amar ingin tahu.
“Mungkin ini adalah kabar yang kurang baik untuk hubungan anda dengan Nona Exelin. Karena ada sebuah kebenaran yang harus anda ketahui, Bos,” ucap Adam.
“Cepat katakan, Adam!” perintah Amar.
“Nona Exelin adalah putri dari Tuan Alexander. Yang tidak lain adalah ayah dari Tuan Rio,” ucap Adam.
“Maksudmu Exelin adalah adik dari Rio?” tanya Amar meyakinkan apa yang barusan dia dengar.
“Benar sekali, Bos. Nona Exelin adalah adik kandung Tuan Rio,” ucap Adam. Amar menghela nafas kasar. Masalah baru datang di saat hubungannya dengan Exelin mulai menghangat.
“Terus apa ada lagi yang ingin kau sampaikan, Dam?” tanya Amar.
“Ada, Bos. Nyonya Elena di bawa paksa oleh Tuan Alexander. Saya tidak bisa mencegahnya, karena beliau mempunyai hak atas diri Nyonya Elena,” ucap Adam.
“Bagaimana tanggapan Tuan Alexander?” tanya Amar ingin tahu.
“Tuan Alexander dan Tuan Rio sedang mencari keberadaan anda, Bos. Mereka sangat marah karena anda telah membawa pergi Nona Exelin dan sampai tidak bisa terlacak sampai sekarang ini. Lebih baik untuk saat ini anda untuk sementara waktu menetap di Maldives dulu, Bos. Sampai semuanya terkendali. Karena Tuan Alexander tidak main-main dalam ancamannya,” ucap Adam.
“Kalau untuk menetap di Maldives aku tidak bisa, Dam. Karena cabang perusahaanku di Swiss untuk saat ini membutuhkanku. Aku tidak ingin egois. Karena masalah pribadiku, aku harus mengorbankan perusahaan yang baru aku rintis. Aku akan menghadapinya. Meskipun Rio dan Tuan Alexander menentang ku. Yang terpenting buatku, istriku tetap ada di sampingku,” ucap Amar. Adam yang mendengar apa yang barusan di katakan atasannya merasa tidak percaya. Seorang Amar Pradipta yang terkenal arogant dan kejam, Tiba-tiba sekarang berubah menjadi sesosok pria yang tenang dan bijak dalam menanggapi persoalan.
“Sayang, sarapannya sudah siap. Kita makan dulu,” ucap Exelin berjalan menghampiri Amar. Amar langsung menutup panggilannya dengan Adam saat tahu istrinya berjalan ke arahnya. Amar menatap Exelin penuh cinta. Amar berjalan ke arah Exelin dan mengajaknya ke luar menuju meja makan. Amar merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Amar tidak ingin sampai di jauhkan dengan Exelin. Amar akan menghadapi rintangan yang ada di depannya. Jika sampai ada orang yang ingin memisahkannya dengan Exelin.
Amar tidak menyangka kalau hubungannya dengan Exelin akan serumit ini. Terlebih lagi kakak dari istrinya adalah sahabatnya sendiri, Rio. Satu-satunya sahabat yang tahu bagaimana bajingannya dirinya selama ini. Yang sering gonta-ganti perempuan untuk dia jadikan teman tidur. Amar yakin Rio pasti akan memisahkan dirinya dengan Exelin.
“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Exelin pada Amar yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya risau.
“Tidak ada, Sayang,” ucap Amar meyakinkan Exelin. Amar duduk di samping Exelin. Menatap sang istri yang sedang mengambilkan makanan untuknya. Exelin mengulurkan piring yang berisi ikan salmon saus keju dan salad sayur. Amar menerimanya dengan menyunggingkan senyum.
Exelin menatap Amar yang memakan makanannya dengan lahap. Exelin bersyukur Amar tidak pernah rewel saat dia menyajikan makanan untuknya. Exelin mengambilkan minum untuk Amar sebelum dia juga ikut makan.
“Hari ini aku ingin ada di resort saja,” ucap Amar di sela-sela dia makan.
“Kenapa?” tanya Exelin penasaran. Karena tidak biasanya Amar seperti ini.
“Ingin bermanja-manjaan saja bersamamu,” ucap Amar. Exelin yang mendengarnya tersenyum simpul.
“Baiklah kalau itu sudah keputusanmu. Habis ini aku akan membuat kue kering untuk teman kita menonton televisi,” ucap Exelin dengan semangat.
“Apa perlu bantuan, sayang?” tanya Amar.
“Tidak usah, Sayang. Biar aku saja yang buat kuenya. Kamu cukup duduk manis sambil melihat televisi,” ucap Exelin. Amar tersenyum mendengar apa yang barusan di katakan istrinya. Terdengar sangat manis di telinga Amar. Tanpa rasa canggung, istrinya sudah mau memanggilnya sayang.
“Baiklah kalau begitu. Padahal aku ingin melihat istri seksiku membuat kue di dapur,” goda Amar pada Exelin. Wajah Exelin langsung bersemu merah karena perkataan suaminya.
“Dasar suami m***m,” ucap Exelin. Amar menarik tubuh Exelin sampai terjatuh di atas tubuhnya yang lagi tiduran di sofa yang ada di depan televisi.
“Seperti ini dulu, Sayang. Aku ingin memelukmu,” ucap Amar merajuk. Exelin menuruti apa yang di inginkan suaminya. Exelin menyandarkan kepalanya di d**a bidang Amar. Terdengar degup jantung Amar. Exelin menikmatinya sambil menghirup bau maskulin Amar yang sangat di sukai Exelin. Amar memeluk erat tubuh Exelin ke dalam pelukannya.
“Aku mencintaimu, Sayang. Terima kasih sudah masuk di hidupku. Menyadarkanku dari kesalahan yang pernah aku perbuat. Mau mencoba menerimaku dalam hidupmu. Maafkan aku atas perbuatanku dulu yang pernah menyakitimu,” ucap Amar penuh dengan penyesalan dalam setiap perkataannya.
“Karena kesungguhanmu, aku mau membuka hatiku lagi untukmu. Aku juga berterima kasih, Sayang. Sudah memilihku untuk menjadi satu-satunya wanita yang ada dalam hatimu. Menjadi tempat bersandarmu dikala penat menghampirimu. Semoga pernikahan kita bisa kuat dan kita tetap bisa hidup bersama. Meskipun banyak rintangan dan cobaan yang akan menimpa kita,” ucap Exelin.
“Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Dengan nyawaku aku akan menjagamu dan pernikahan kita, Sayang,” ucap Amar sambil mencium puncak kepala Exelin. Rasa sayang dan cinta mulai tumbuh di hati Exelin untuk Amar. Kata-kata yang barusan di ucapkan Amar membuat hati Exelin menghangat. Terlihat jelas begitu besar cinta Amar kepadanya. Tatapan mata yang sekarang terasa meneduhkan. Membuat diri Exelin semakin nyaman berada di dekat Amar.
“Terima kasih untuk semuanya, Sayang,” ucap Exelin. Exelin mencium bibir Amar dan menatap dalam mata Amar. Tatapan yang saling mengunci dan mengutarakan cinta di antara keduanya.
????
Pegang tanganku jika aku menjauh darimu
Tegur aku jika cintaku padamu berkurang
Teruslah cintai aku dengan tulus
Karena cintamu yang membuat aku tetap bertahan
(Amar Pradipta)
????