Part 20

1019 Kata
Bahagia Itu sederhana. Melihat orang yang kita cintai bisa tersenyum kepada kita itu sudah lebih dari cukup. Kebahagiaannya bisa membuat kita merasakan kebahagiaan juga. Seperti halnya yang di rasakan Amar dan Exelin untuk saat ini. Cinta yang datang di hati mereka karena campur tangan Tuhan. Perasaan benci yang berubah menjadi cinta. Cinta yang tidak harus memaksa satu sama lain. Membiarkan hatinya sendiri merasakan secara perlahan namun pasti. Exelin menatap Amar yang tertidur pulas di atas sofa panjang yang berada di depan televisi. Dia tidak menyangka sama sekali kalau dirinya mulai mencintai pria yang ada di depannya saat ini. Yang dulu dengan tega menyakiti hati dan tubuhnya secara bersamaan. Tapi dengan berjalannya waktu semua berubah dengan sendirinya. Dari pertama kali Amar menyatakan perasaannya. Penolakan demi penolakan yang tidak membuatnya mundur untuk mendapatkan hati Exelin yang pernah tersakiti karena Amar sendiri. “Jika ada beban di benakmu, berbagilah denganku. Jangan kamu memikulnya sendiri. Entah kenapa aku merasa kalau kamu menyembunyikan sesuatu kepadaku. Sampai kamu terlihat terbebani akan masalah itu,” batin Exelin. Exelin mencium dahi Amar penuh rasa sayang di hatinya. Exelin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur untuk membuat kue untuk camilan Amar saat bersantai. Exelin merasa senang karena Amar menyukai semua kue dan makanan yang dia buat. Untuk kali ini Exelin ingin membuat kue Brownis kering dan kue coklat almond keju. Exelin tersenyum sendiri kalau mengingat Amar saat memuji kue buatannya dengan mulut yang penuh akan kue yang sedang dia makan. Exelin menyiapkan seluruh bahan-bahannya yang akan dia gunakan untuk membuat kue kering. Exelin sangat bersyukur, karena tanpa dia keluar bahan-bahan dapur sudah tersedia semua. Karena setiap hari memasak, Amar selalu menyuruh anak buahnya untuk membelanjakan keperluan dapur miliknya. Meskipun tinggal di resort, Exelin sudah menganggap resortnya adalah rumahnya untuk saat ini. Karena dengan sengaja Amar mendesainnya seperti sebuah rumah dengan fasilitas yang sangat lengkap. Khusus resort yang sekarang dia tempati untuk saat ini. Exelin mulai membuat adonan kue keringnya dengan semangat. Dengan tangannya yang lentik dan cekatan, Exelin dengan penuh ketelatenan memasukkan bahan-bahan kuenya ke dalam wadah yang sudah dia siapkan. Dua adonan kue akhirnya sudah jadi dia buat. Tinggal membentuk kuenya sebelum dia kue masuk ke dalam oven yang sudah di panaskan. “Semoga saja dia suka dengan kue yang aku buat untuk saat ini,” ucap Exelin. “Pasti aku suka, sayang. Istriku tersayang yang membuatnya dengan cinta, masa aku tidak memakan hasil kerja kerasnya di dapur,” ucap Amar mengagetkan Exelin yang hendak memasukkan kuenya ke dalam oven. “Sudah bangun, Sayang?” ucap Exelin dengan lembut sambil menatap suaminya yang mulai dia cintai. Amar menghampiri Exelin dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Exelin. Amar merapatkan tubuhnya dengan tubuh Exelin. Exelin mengalungkan tangannya di leher Amar sambil tetap menatap mata Amar yang sarat akan cinta. Tatapan mata yang selalu di liputi cinta. “Aku terbangun saat merasakan tidak ada kamu di pelukanku,” ucap Amar tersenyum hangat. “Aku tadi kan sudah bilang kalau aku mau membuatkanmu kue kering, Sayang,” ucap Exelin dengan lembut. “Lagi buat kue apa sekarang, Sayang?” tanya Amar pada Exelin. “Aku lagi membuat Brownis kering dan kue coklat almond keju,” ucap Exelin. Exelin harap-harap cemas takut suaminya tidak suka sama kuenya. “Pasti enak itu, Sayang. Aku tidak sabar untuk memakannya. Apa sekarang aku bisa membantu?” tanya Amar pada Exelin. “Kalau ingin membantu, cukup masukin kuenya ke dalam toples saja, Sayang,” ucap Exelin sambil melepaskan pelukan Amar dengan memberikan kecupan singkat di bibir Amar. Amar tersenyum dengan tingkah romantis sang istri yang membuatnya gemas. “Ciumannya kurang panjang, Sayang,” goda Amar pada istrinya. “Kalau lama ciumannya, aku tidak akan konsen membuat kuenya, Sayang. Kue jadi gosong semua tidak bisa kamu makan,” ucap Exelin sambil mengedipkan satu matanya. Amar melihat Exelin mengedipkan satu mata dengan genit, Amar tidak bisa menahan tawanya. Tawa Amar lepas dengan tingkah sang istri. “Tetaplah tersenyum seperti itu, Sayang. Karena kamu kalau tersenyum terlihat sangat tampan. Aku jadi semakin terpesona dengan ketampanan suamiku yang bagai dewa yunani,” ucap Exelin asal. “Memang kamu tahu wajahnya dewa yunani, Sayang. Sampai-sampai kamu menyamakanku dengan dewa yunani,” ucap Amar sambil tertawa. “Tidak tahu sama sekali malahan. Hehehe...,” jawab Exelin sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Istriku belajar gombal dari siapa sih. Mau suaminya ini setiap hari di gombalin,” goda Amar. “Itu bawaan hati, Sayang,” ucap Exelin asal. Exelin mengambil kue yang sudah matang dari oven dan dia letakkan di atas meja pantry. Satu persatu loyang kue masuk ke dalam oven. Setelah semuanya matang, Exelin dan Amar mulai menaruh kue ke dalam toples yang sudah di siapkan oleh Exelin. “Yang di masukkan toples kue yang sudah dingin, Sayang,” ucap Exelin. “Siap, Sayang,” ucap Amar dengan semangat. Amar begitu bahagia dengan momentnya dengan Exelin untuk saat ini. Kebersamaan yang mendekatkan satu sama lain. Meskipun cuma sekedar membuat kue seperti saat ini. “Bisa, Sayang?” tanya Exelin. “Cuma sekedar memasukkan kue ke dalam toples saja, Sayang. Itu hal yang sangat mudah. Hal yang sangat susah seperti mendapatkan hatimu saja aku bisa,” ucap Amar dengan percaya diri. Exelin yang mendengar jawaban sang suami cuma bisa geleng-geleng kepala. Amar dengan hati-hati memasukkan kue yang sudah dingin ke dalam toples. Sambil sekali-kali memakan kuenya. Amar berdecak kagum dengan keahlian sang istri membuat kue. Kue kering yang di buat Exelin begitu enak. Saat di makan sangat memanjakan lidah. “Sayang, kuenya enak sekali. Bagaimana kalau kita buka usaha pembuatan kue brownis kering dan kue coklat almond keju. Pasti laku di pasaran,” ucap Amar. “Setiap kita mau bikin usaha harus dengan pemikiran yang matang, Sayang. Karena takutnya kita tidak bisa mempertahankan kualitas kue kita cuma gara-gara kita tergiur dengan hasil yang banyak,” ucap Exelin. “Jika kamu sendiri yang mengelolahnya pasti bisa, Sayang. Nanti aku akan mengusulkan kerjasama dengan perusahaan sepupuku yang bergerak di bidang kuliner,” ucap Amar meyakinkan Exelin. Amar ingin membuatkan sebuah usaha untuk sang istri supaya tidak bosan berada di rumah setiap hari. “Nantilah, Sayang. Aku memikirkannya terlebih dahulu,” ucap Exelin pada suaminya. Amar tersenyum hangat ke arah Exelin. Meskipun Amar bisa memberikan apa yang Exelin mau dalam hidupnya. Amar tetap ingin membantu istrinya menggapai apa yang di inginkannya. ***** Memilikimu adalah Anugerah terindahku Tetaplah tersenyum bahagia Karena senyummu penyejuk hatiku *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN