Part 14

1042 Kata
Sebuah hubungan yang mulai menghangat, karena adanya benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hati kedua Insan yang terikat dengan sebuah janji pernikahan di hadapan Tuhan. Dengan awal yang tidak baik. Menjadi cerita tersendiri untuk Exelin dan Amar. Mencoba membuka hati satu sama lain meskipun sangat berat untuk diri Exelin yang terlanjur membenci Amar. Menorehkan luka di hati Exelin. Tapi berbeda halnya dengan Amar yang mulai tertarik pada Exelin. Pesona Exelin mampu meruntuhkan keegoisan Amar. Exelin mulai memasak di dapur Resort yang sekarang dia dan Amar tinggali. Exelin tidak terlalu jago masak awal mulanya. Tapi setelah dia dan ibunya tinggal di Lembang, Exelin mulai bisa memasak. Untuk kali ini, Exelin memasak Ayam Mentega dan Tumis Baby Kailan. Makanan yang sederhana. Tapi di buat dengan penuh keikhlasan oleh Exelin. “Semoga saja dia suka dengan masakanku. Karena baru pertama kali ini aku memasak makanan untuknya,” batin Exelin. Setelah dia selesai memasak, Exelin membereskan barang-barangnya di kamar. Semenjak datang di Maldives, Exelin belum pernah membersihkan kamarnya. Meskipun dia benci dengan suaminya, Exelin tetap menghargai Amar. Karena dia saat ini menjadi istri Amar. Dia cuma pasrah akan takdir yang sudah di gariskan Tuhan untuk dirinya. Exelin menatap foto pernikahannya bersama Amar. Tak terasa air matanya menetes. Exelin begitu miris dengan hidupnya saat ini. “Takdir membawaku bersamamu. Menjadi istrimu dan sekaligus sebagai pemuas nafsumu. Masih membekas dalam ingatanku. Bagaimana kau memperlakukanku, Amar. Hatiku terlalu sakit untuk bisa memaafkanmu. Menganggap tidak terjadi apa-apa antara aku dengan dirimu,” ucap Exelin. Exelin memeluk foto pernikahannya dengan Amar. Tanpa sepengetahuan Exelin, Amar mendengar apa yang barusan di katakan Exelin tentang dirinya. Amar tidak menyalahkan Exelin sama sekali. Karena semua itu memang kesalahannya. Amar berbalik badan menuju dapur. Berjalan dengan banyak pikiran di benaknya. Amar menghela nafas kasar. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat Exelin seperti tadi. “Maafkan aku, Exelin. Aku akan berusaha berubah menjadi laki-laki yang layak bersanding denganmu. Menjadi suami yang patut di banggakan olehmu,” batin Amar. Amar mencoba menenangkan dirinya dengan mengalihkan pikirannya dengan hal yang lain. Saat sampai di meja makan, Amar di buat tercengang saat ia melihat meja makan tersaji beberapa masakan. Amar merasa senang, karena apa yang dia inginkan tadi pagi di lakukan oleh Exelin. “Sudah pulang,” ucap Exelin dari belakang tubuh Amar. Amar membalikkan badan dan tersenyum hangat pada Exelin. “Iya,” ucap Amar. Amar berjalan mendekat ke arah Exelin. Menatap Exelin dengan tatapan yang sulit di artikan. Entah kenapa Exelin tiba-tiba berdebar-debar jantungnya. Saat Amar menatapnya dengan intens. Amar mendekatkan wajahnya dan mencium puncak kepala Exelin. Tak berhenti di situ saja. Setelah mencium puncak kepala Exelin, Amar mendudukkan Exelin di atas meja makan. Amar melumat bibir Exelin dengan lembur. Menyesap bibir atas dan bawah Exelin saling bergantian. Mencurahkan perasaan yang baru dia rasakan pada Exelin. Exelin terbuai dengan ciuman Amar. Exelin membuka sedikit mulutnya. Memberikan akses untuk Amar menjelajahi rongga mulutnya. Amar sangat bahagia saat Exelin menerima ciumannya dan membalasnya. Ciuman panjang yang mencurahkan perasaan masing-masing. Exelin tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher Amar. Amar menghentikan ciumannya dan menatap mata Exelin penuh cinta. Ia sudah yakin akan perasaannya, kalau dia mulai jatuh cinta dengan Exelin. Amar ingin memulainya dari awal lagi. Mendapatkan hati istrinya yang sudah ia sakiti. Meskipun tidak akan mudah untuk dirinya. “Aku ingin memakan masakan pertama istriku,” bisik Amar di telinga Exelin. Exelin yang mendengarnya tersipu malu. Amar menurunkan tubuh Exelin yang masih tertunduk malu karena ucapan yang terlontar dari mulut Amar. Amar duduk di kursi meja makan sambil menunggu Exelin mengambilkannya makan. Amar menatap Exelin yang terlihat cekatan mengambilkan masakannya di piring yang sedang dia bawa di tangannya. Setelah piring terisi dengan nasi, Ayam mentega lada hitam dan tumis baby kailan, Exelin memberikannya pada Amar. Amar menerimanya dengan senyuman yang tetap terhias di wajah tampannya. Exelin duduk di sebelah Amar setelah dia juga mengambil makanan untuk dirinya. Amar menikmati masakan Exelin. Dia tidak menyangka kalau masakan Exelin seenak ini. Amar memakannya dengan lahap sampai dia minta tambah lagi pada Exelin. “Aku tidak menyangka kalau masakanmu seenak ini. Kalau tahu lebih awal, setelah ini aku tidak akan makan di luar lagi. Aku akan memakan masakanmu saja,” ucap Amar sungguh-sungguh. “Habiskan dulu makananmu. Jangan bicara!” ucap Exelin. Amar yang mendengarnya tersenyum simpul. Mendengar Exelin mau berbicara dengannya, itu sudah kemajuan dalam hubungan rumah tangganya dengan Exelin. Exelin sangat senang melihat Amar memakan masakannya dengan lahap. Di tambah lagi dia sampai minta tambah. Exelin merasa di hargai kerja kerasnya memasak kali ini. Exelin menatap Amar yang sedang menikmati kue yang tadi dia buat. Exelin sedikit kaget saat melihat Amar membawa toples yang berisi kue yang tadi dia buat ke ruangan TV. “Cookiesnya enak. Aku suka,” ucap Amar sambil berlalu pergi. Exelin geleng-geleng kepala melihat tingkah Amar yang manis kepada dirinya. Tapi Exelin juga merasa sangat senang dengan tingkah manis Amar kepada dirinya. Setelah membersihkan meja makan dan mencuci piring, Exelin menghampiri Amar yang sedang menonton televisi sambil memakan cookies yang tadi dia buat. Exelin duduk di samping Exelin dan ikut menonton televisi. Amar yang melihat Exelin duduk di sampingnya, Amar menaruh kepalanya di pangkuan Exelin sambil tetap melihat acara berita yang ada di televisi. “Lin, nanti kita akan pindah ke Swiss. Ada pembukaan cabang perusahaan di sana yang mengharuskan aku ke sana,” ucap Amar. “Memangnya kapan rencananya?” tanya Exelin. “Sekitar Empat bulan lagi,” ucap Amar. “Kalau itu sudah keputusanmu, tidak masalah,” ucap Exelin. “Lin, aku ingin punya anak,” ucap Amar tanpa dosa. Exelin yang mendengarnya tak bisa menutupi keterkejutannya. “Jangan ngomong ngawur. Memangnya anak seperti makanan yang bisa di beli di super market. Bagaimana bisa kita punya anak kalau kita tidak saling mencintai. Aku tidak ingin anakku menanggung keegoisan orang tuanya,” ucap Exelin. “Kita akan memulainya dari awal, El. Memperbaiki pernikahan kita. Aku ingin membangun keluarga kecilku dengan cinta dan kasih sayang. Aku mulai mencintaimu,” ucap Amar dengan jujur. Jantung Exelin berdegup kencang saat mendengar ungkapan hati Amar yang tidak pernah dia duga sama sekali. “Buktikan saja dulu. Jangan sekedar cuma omongan semata. Kalau benar tentang perasaanmu padaku. Karena trauma yang kau sebabkan tidak bisa dengan mudah untuk bisa aku lupakan dan aku maafkan,” ucap Exelin. “Aku akan membuktikannya kepadamu. Peganglah janjiku itu padamu. Akan aku perbaiki pernikahan kita. Mendapatkan hatimu dan kepercayaanmu lagi,” ucap Amar dengan penuh keyakinan. “Aku harap seperti itu, Amar,” batin Exelin. ????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN