Part 13

1059 Kata
Pagi yang cerah di Maldives dengan di suguhi pemandangan yang sangat memanjakan mata. Hamparan laut biru yang indah. Semakin membuat siapa pun ingin berlama-lama singgah di Maldives. Amar bangun lebih dulu, ia menatap Exelin yang masih tertidur pulas dalam pelukannya. Amar tidak menyangka kalau ia akan terjebak dengan pesona Exelin. Amar mencium puncak kepala Exelin sebelum ia ke kamar mandi. Amar pagi ini tidak bisa menemani Exelin, karena ia harus memantau perkembangan bisnisnya. Amar tidak ingin karena kesalahannya, bisnisnya harus gulung tikar dan mempengaruhi pendapatan penduduk Maldives yang bergantung padanya. Setelah mandi, Amar bersiap-siap dengan memakai pakaian yang sedikit rapi. Kemeja hitam panjang yang ia lipat sesiku dan celana jins hitam. Amar terlihat sangat tampan dan mempesona siapa pun yang melihatnya. Exelin sudah bangun. Ia menatap Amar dalam diam. Amar tidak sadar kalau dirinya di perhatikan oleh Exelin. “Begitu bahagianya aku jika pernikahan kita bukan berawal dari keserakahanmu. Mungkin saat ini aku tanpa malu akan memuji ketampananmu. Bisa membanggakan diriku sebagai istrimu. Tapi semua itu cuma bisa dalam anganku. Bukan kenyataan. Entah siapa kelak wanita yang beruntung yang bisa mendapatkan hatimu. Bisa meluluhkan mulai dengan cinta dan kasih sayangnya padamu. Mungkin saat itu aku akan iri pada wanita itu. Bukan sepertiku yang untuk bersanding dengan seorang Amar Pradipta tidak pantas. Pernikahan yang cuma menjadi status di antara aku dan Amar. Tidak ada perasaan yang saling memiliki satu sama lain,” batin Exelin. “Sudah bangun,” ucap Amar mengagetkan Exelin dalam lamunannya. Exelin menatap Amar dalam diam tanpa bicara sepatah kata pun. Amar menghampiri Exelin. Amar ikut duduk di atas ranjang sambil berhadapan dengan Exelin. Tatapan Amar kali ini terlihat beda pada Exelin. Exelin yang melihatnya jadi salah tingkah di buatnya. “Jangan menatapku seperti itu,” ucap Exelin. Amar yang mendengarnya tidak bisa menahan senyumnya. “Apa aku salah menatap istriku sendiri? Perasaan tidak ada yang melarang suami menatap istrinya sendiri,” goda Amar. Wajah Exelin langsung memerah karena perkataan Amar barusan kepadanya. Amar yang melihatnya semakin gemas pada Exelin. “Jangan berbicara seperti itu. Jangan membuatku melayang karena perkataan manismu. Aku sadar diri siapa aku, Amar,” ucap Exelin. “Kau adalah istriku. Nyonya Exelin Pradipta. Istri dari pengusaha muda Amar Ptadipta,” ucap Amar dengan lembut. Amar mencium puncak kepala Exelin. “Aku harus pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Nanti saat pulang aku ingin makan masakanmu. Jaga dirimu baik-baik,” ucap Amar sambil mengecup bibir Exelin. Exelin di buat kaget dengan apa yang di lakukan Amar barusan kepadanya. Begitu manis dan lembut. Bertolak belakang dengan apa yang di lakukan Amar selama ini padanya. Amar pamit dan pergi meninggalkan Exelin yang masih shock. “Apa yang sudah terjadi saat aku tidur tadi? Kenapa dia berubah semanis itu padaku,” ucap Exelin. Amar yang mendengarnya dari balik pintu, ia tersenyum simpul. “Sepertinya aku mulai menyukaimu, Exelin,” ucap Amar sambil berlalu pergi. ***** Rumah Sakit Albert, Bandung, Indonesia Dua pria dengan pemikiran masing-masing berjalan berdampingan menuju ruang perawatan VVIP. Tempat di mana ibu Exelin sedang di rawat. Saat hendak masuk ke dalam, Alexander dan Rio di hadang para anak buah Amar. Pengamanan ketat di berikan Amar untuk ibu Exelin. Alexander tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. “Besar juga nyalimu anak muda. Demi memiliki putriku kau sampai melakukan hal seperti ini,” batin Alexander. Adam yang baru keluar dari ruang perawatan ibu Exelin terheran-heran melihat Rio dan pengusaha ternama Alexander Kartez. “Adam, biarkan kami masuk,” ucap Rio pada Adam. Rio sangat mengenal Adam dengan baik. Adam menganggukkan kepala sambil memberi kode kepada para pengawalnya untuk mempersilahkan Rio dan Alexander masuk ke ruang perawatan. Rio berjalan bersama sang ayah memasuki ruang perawatan ibu Exelin. Saat pintu di buka, Rio dan Alexander masuk ke dalam ruang perawatan ibu Exelin. Alexander merasa hancur saat berjalan mendekati ibu Exelin yang sedang tertidur setelah meminum obat dari dokter. Alexander duduk di sebelah sang istri. Memegang tangan istri yang selama ini ia rindukan. Alexander mencium puncak kepala sang istri penuh cinta. Cinta yang tidak pernah berkurang sedikit pun untuk istri yang di cintainya. Air mata Alexander tidak bisa terbendung lagi. Hatinya hancur melihat keadaan sang istri. Ingin rasanya dia yang menggantikan rasa sakit sang istri. Ibu Exelin terbangun saat merasa istirahatnya ada yang mengganggu. Saat ia membuka mata, ia sangat kaget melihat suaminya menangis sambil memegang tangannya. Ibu Exelin mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia takut kalau ia cuma berhalusinasi melihat suaminya. “Alexander,” ucap Ibu Exelin dengan lemas. Alexander yang mendengar suara yang selama ini ia rindukan, ia menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Alexander memeluk istrinya dengan erat saat melihat istrinya sudah bangun. Menumpahkan rasa rindu yang selama ini sudah ia tahan selama bertahun-tahun. Alexander melepaskan pelukannya, menatap mata indah milik sang istri. “Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku tidak bisa menemukanmu. Tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Maafkan aku telah menyembunyikan putra kita. Maafkan aku terlambat mempertemukanmu dengan putra kita yang dulu telah di culik,” ucap Alexander penuh penyesalan. Elena yang mendengar apa yang barusan di ucapkan sang suami, begitu kaget. Elena menatap seorang pria satu lagi yang berdiri di sebelah sang suami. Pria muda yang sangat tampan. Yang wajahnya sangat mirip dengan sang putri. Mata Elena berkaca-kaca saat melihat apa yang ada di depannya saat ini. Ia tidak menyangka bisa di pertemukan dengan putra yang ia kira sudah meninggal. Karena penculikan 20 tahun yang lalu. Elena merentangkan tangan kepada Rio. Rio yang melihatnya langsung memeluk sang mama yang sangat ia rindukan. Karena sebuah kejadian masa lalu ia dan sang mama harus terpisah. “Mama,” ucap Rio dengan bibir bergetar. Sapaan yang selama ini ingin ia ucapkan setiap ia membuka mata. Elena semakin terisak saat mendengar putranya memanggilnya mama. Kata yang sangat ia rindukan selama ini. “Mama harus kembali sehat demi Rio dan Exelin,” ucap Rio memberi semangat kepada sang mama. Elena mengangguk sambil menyunggingkan senyum hangat pada Rio. Alexander yang melihat kedua orang yang ia kasihi bisa menumpahkan rasa rindunya, ia tidak bisa menahan rasa haru dalam hatinya. Ia berharap kebahagiaan bisa ia rasakan bersama keluarganya kembali. Menjadi keluarga yang harmonis seperti sedia kala. Saling menyayangi satu sama lain. Dengan cinta yang tulus. Alexander menghawatirkan sang putri yang sekarang berada dalam kuasa suaminya, Amar Pradipta. Alexander harus memikirkan cara yang benar-benar bisa melepaskan putrinya dari cengkraman Amar Pradipta. Alexander menatap sang istri yang sedang mengobrol dengan sang putra. Ia berjanji akan membawa putrinya kembali di tengah-tengah mereka. Meskipun nyawa taruhannya. Alexander tidak peduli. Yang terpenting putrinya baik-baik saja. ????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN