Setelah membersihkan diri setelah percintaan panasnya di dapur, Amar dan Exelin makan malam berdua. Makan malam seadanya. Amar menatap wajah sang istri yang terlihat sangat bahagia. “Tetaplah seperti itu. Melihatmu bahagia adalah sumber kebahagiaan untukku. Aku tidak akan membiarkan air mata sampai menetes di pelupuk matamu,” ucap Amar dalam hati. “Karena ulahmu yang nakal. Kita harus mandi lagi,” ucap Exelin pada sang suami. Amar yang mendengar perkataan sang istri, Amar menyunggingkan senyum. “Supaya pernah, Sayang. Kita bercinta di dapur. Sensasinya begitu berbeda. Terlebih lagi mendengar kamu mendesah sambil mengambil kue yang kamu panggang di oven,” ucap Amar mengingat saat percintaannya dengan sang istri saat di dapur tadi. “Hemm...sepertinya kamu sangat bahagia kalau menyiksaku

