kafka b******k

3178 Kata

Setelah sekian lama dilanda kemarau, hujan pun mengguyur Jakarta. Dari tempatnya berteduh, Olivia dapat mencium semilir aroma khas uap aspal panas tersiram air. Sama seperti langit yang muram, Olivia merenung. Tidak ada ketenangan. Rasa gundahnya masih mengganggunya. Lelucon-lelucon yang Angga lontarkan pun tidak dapat membuat tawa dan senyuman Olivia bertahan lama. Kegelisahan cewek pecinta buah stroberi itu tentu tak luput dari perhatian Angga. Dia diam bukan berarti tidak peduli. Hanya ingin memberikan waktu agar Olivia dapat mengusir kegundahan itu secara perlahan. Entah apa yang sedang mengisi benak Olivia, Angga berharap agar semua yang dihadapinya segera berlalu. Kehadiran cowok itu bukan tanpa tujuan. Munafik jika Angga berkata bahwa dia tidak mempunyai perasaan apapun pada Olivi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN