Sepiring nasi goreng disuguhkan. Kafka menyambut piringnya dan menghela napas sekilas. Menarik perhatian Bima yang sedang asyik menyantap nasi mawut gerobak pinggir jalan raya. "Bosan gua dari tadi dengar elu begitu, Kaf. Agak kerasan dikit, elu bakalan dikira babi hutan nyasar di Monas." Bukannya meladeni kalimat protesnya Bima, Kafka justru mendengus. Membuat Bima tertawa karenanya. Untung saja cowok yang sedang sibuk menguyah itu tidak tersedak. "Galau mulu lu kayak anak perawan," ledek Bima lagi. "Emang cuma perawan yang boleh galau?" sahut Kafka sewot. Bima menelan nasi mawutnya lalu menjawab, "Tampang macam lu mah kagak ada pantas-pantasnya galau. Muka PK begitu sok-sokan gundah gulana!" "b*****t," maki Kafka sembari tertawa keras. Wajar saja jika Bima berpikiran bahwa Kafka

