bc

Istri Lugu Kesayangan CEO Kejam

book_age18+
158
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
family
HE
friends to lovers
kickass heroine
stepfather
blue collar
kicking
like
intro-logo
Uraian

Ella Pramitha hanya ingin menyelamatkan seseorang yang ia sayangi. Satu malam, satu keputusan nekat, dan hidupnya berubah selamanya.

Ia tak tahu bahwa pria dingin yang ditemuinya di hotel mewah itu adalah Rainer Alvarez, CEO kejam yang terbiasa mengendalikan segalanya… termasuk wanita yang datang dan pergi dari hidupnya. Kesalahpahaman di malam kelam itu mengikat mereka dalam sebuah pernikahan kilat tanpa cinta, tanpa janji, dan penuh batasan.

Ella tetap lugu, tetap ceria, meski terperangkap di dunia orang-orang kaya yang memandangnya sebelah mata.

Sementara Rainer, tanpa sadar, mulai runtuh oleh kepolosan istrinya sendiri.

Namun masa lalu tidak tinggal diam.

Rahasia, fitnah, dan luka lama siap menghancurkan segalanya.

Akankah mereka tetap bertahan dan menemukan cinta sejati, atau kesalahpahaman dan konflik yang ada mampu membelokkan jalan takdir?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Gadis yang Bersemangat
Motor tua Ella berhenti tepat di depan rumah bercat krem pucat itu. Ia menurunkan standar, melepas helm, lalu merapikan jaket merahnya yang kebesaran di tubuh mungilnya. “Pesanan ayam crispy paket keluarga,” ucapnya nyaring sambil menekan bel rumah. Pintu terbuka. Seorang ibu muda muncul, diikuti anak kecil yang matanya berbinar melihat kantong makanan di tangan Ella. “Wah, cepat sekali datangnya,” kata ibu itu tersenyum. Ella ikut tersenyum lebar. Senyum yang cerah, polos, hampir seperti anak SMA yang baru pulang sekolah. “Hehe, iya, Bu. Soalnya ini pesanan terakhir aku hari ini,” katanya ringan. “Jadi harus sampai dengan selamat.” Anak kecil itu menunjuk kantong makanan. “Ayamnya banyak?” Ella langsung berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan si bocah. “Banyak dong. Tapi jangan dimakan semua sendiri, ya. Nanti mamanya nggak kebagian,” katanya sambil mengedipkan mata. Anak itu terkikik. Ibunya tertawa kecil. “Makasih ya, Dek.” “Sama-sama, Bu.” Ella menyerahkan kantong itu hati-hati. “Hati-hati panas.” Ibu itu merogoh dompet. “Ini uangnya. Lebihannya buat kamu.” Ella melambaikan tangan cepat-cepat. “Nggak usah, Bu. Udah pas kok.” Ibunya memaksa, menyelipkan uang receh ke tangan Ella. “Buat jajan.” Ella menatap uang itu sejenak, lalu tertawa kecil. “Hehe… makasih banyak, Bu.” Ia mengenakan helm kembali, naik ke motornya, lalu melambaikan tangan. “Selamat makan, yaa!” “Dadah, Kak!” teriak si bocah. Ella membalasnya dengan klakson pendek dan lambaian tangan yang sedikit berlebihan. Motor melaju perlahan meninggalkan rumah itu. Di ujung jalan, Ella menepikan motor sejenak. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan melirik jam di layar. 16.59 WIB Matanya berbinar. “YES!” serunya pelan, mengepalkan tangan kecilnya. “Kelaar!” Ia menghela napas puas, bersandar sedikit ke motor. “Shift sore selesai. Ella resmi bebas,” gumamnya ceria. Angin sore meniup ujung rambutnya yang terlepas dari helm. Di pantulan kaca spion, wajahnya tampak muda—pipinya sedikit chubby, matanya bening, ekspresinya penuh semangat. Ella tersenyum lebar, menjalankan sepeda motornya kembali ke restoran. Beberapa menit kemudian, ia menghentikan motornya di area parkir, di samping deretan motor kurir lain. Ia melepas helm, lalu mengibaskan rambutnya yang sedikit lembap oleh keringat, tapi senyumnya justru semakin lebar. Keringat di pelipisnya tak ia pedulikan. Hari ini melelahkan, tapi hatinya ringan. Pesanan terakhir tadi cukup jauh, harus memutar lewat jalan macet, tapi pelanggan ramah dan memberinya tip kecil. Tidak besar, hanya cukup untuk membeli es teh manis di jalan pulang. Namun bagi Ella, itu sudah terasa seperti hadiah besar. Ia melangkah masuk ke restoran fast food itu dengan langkah ringan, tetap mengenakan jaket merah dengan logo besar di punggung. Bau ayam goreng dan kentang panas langsung menyambutnya—bau yang sudah ia hafal luar kepala selama setahun terakhir. Ella Pramitha berusia dua puluh tahun, dan hidupnya selalu berjalan mengikuti jam. Jam masuk kerja, jam antar pesanan, jam pulang, jam kuliah. Setiap menit berarti uang, dan setiap keterlambatan berarti potongan gaji—sesuatu yang tak pernah bisa ia anggap sepele. Ia bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu di restoran cepat saji terkenal. Dengan motor tua yang setia menemaninya, Ella berpindah dari satu alamat ke alamat lain. Kadang dapat senyum, kadang hanya pintu yang menutup cepat. Tapi ia tetap ramah. Selalu ramah. “Ella, cepat juga baliknya,” sapa Riko, sesama kurir paruh waktu. Ella terkekeh. “Iya dong. Kalau nggak cepat, bisa-bisa kebagian antrean gaji paling belakang.” Riko membalasnya dengan mengancungkan jempol, lalu buru-buru berlari kecil menuju toilet. Ella melanjutkan langkah menuju ruangan administrasi, yang berada di bagian belakang gedung restoran. Beberapa karyawan paruh waktu sudah berbaris rapi di dekat ruang administrasi kecil. Meja lipat diletakkan di sana, dengan tumpukan amplop cokelat di atasnya. Ia ikut berbaris bersama karyawan paruh waktu lain. Matanya terpaku sesaat di atas meja kecil, amplop cokelat berjajar rapi, upah kerja mereka selama sepekan lalu. Tidak banyak, tapi cukup untuk menyambung hidup beberapa hari ke depan. Karena Ella tidak hidup sendirian. Setahun terakhir ini, ia tinggal bersama sahabatnya sejak sekolah, Susi, dan ibu Susi—Tante Rahma—wanita yang menariknya dari jalan setelah ayahnya meninggal dan ibu tirinya mengusirnya tanpa belas kasihan. Mereka bukan keluarga kaya, rumah mereka sederhana, tapi hangat. Dan bagi Ella, itu lebih dari cukup. Rasa hangat menyusup di d@da Ella setiap kali mengingat keluarga yang dia miliki sekarang. Ella ikut mengantre dengan sabar. Ia mengayun-ayunkan tubuh kecilnya, jemarinya tak berhenti memainkan ujung jaket. Di kepalanya, daftar belanja sudah tersusun rapi. Bubur ayam spesial untuk Tante Rahma, dan ayam goreng madu buat Susi. Ah, sekalian beli jeruk, kata dokter bagus buat daya tahan tubuh. Hatinya makin terasa hangat hanya dengan membayangkan wajah Susi yang akan bersinar saat melihat makanan kesukaannya nanti, dan senyum lembut Tante Rahma, yang selalu berkata, “Ella, jangan sungkan, ini rumahmu juga. Kamu udah ibu anggap anak sendiri.” Senyum membayang di wajah Ella, kehangatan kasih sayang seorang ibu memenuhi hatinya. Giliran Ella dipanggil. “Ella Pramitha.” “Iya, Mbak!” jawabnya cepat. Amplop cokelat berpindah tangan. Tidak tebal. Ella tahu itu. Tapi beratnya terasa pas di telapak tangannya— seberat harapan untuk beberapa hari ke depan. “Terima kasih, Mbak,” katanya ceria. Ia melangkah keluar, berhenti sejenak di sudut, lalu membuka amplop itu sedikit. Menghitung cepat. Sesuai. Tidak lebih, tidak kurang. “Lumayan,” gumamnya pelan sambil tersenyum sendiri. Cukup untuk bayar listrik, beli beras, dan—yang paling penting—membeli makanan enak malam ini. Ella mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju perlahan keluar dari area parkir. Langit sore berwarna jingga pucat. Angin menerpa wajahnya, membawa perasaan ringan yang jarang ia rasakan selama bertahun-tahun hidup bersama ibu tiri dan ayah yang acuh-acuh. Ibu Ella sudah lama meninggal, dan Ella sudah terbiasa dengan kerasnya hidup sejak masih kanak-kanak. Dan hidup Ella benar-benar menjadi sebatang kara sejak dua hari setelah pemakaman ayahnya, saat koper kecilnya dilempar begitu saja ke teras rumah oleh ibu tirinya. Sejak tidak satu pun keluarga ayahnya mau mengangkat teleponnya. Sejak tangan hangat seorang wanita yang ia panggil Tante Rahma, menariknya dari pinggir jalan dan berkata, “Kalau kamu mau, tinggal saja sama kami.” Ella menghela napas pelan. Bukan sedih. Justru bersyukur. Tiba-tiba ponselnya bergetar di saku jaket. Ella meminggirkan sepeda motornya, berhenti sebentar untuk memeriksa ponsel. Nama Susi muncul di layar. Ella tersenyum lebih lebar. “Pasti nanyain aku pulang jam berapa,” gumamnya. Ia menekan tombol terima. “Halo, Sus—” “Ella…” Suara di seberang terdengar berbeda. Serak. Bergetar. Senyum Ella langsung pudar. “Susi? Kenapa?” tanyanya cepat, punggungnya menegang. Di seberang sana terdengar suara isakan yang ditahan. Napas berat. Lalu suara yang ia kenal begitu baik—suara sahabat yang selalu kuat, selalu ceria—kini terdengar rapuh. “Ibu… ibu harus dioperasi, El.” Jantung Ella terasa seperti jatuh ke perutnya. “Operasi? Kenapa? Bukannya kemarin katanya cuma butuh observasi?” tanyanya, suaranya ikut bergetar tanpa ia sadari. “Dokter bilang ada komplikasi. Harus cepat. Kalau ditunda…,” Susi terisak, suaranya pecah. “Biayanya mahal, El. Empat puluh juta. Belum obat. BPJS nggak nutup semua.” Dunia Ella seakan berhenti berputar. Empat puluh juta. Angka itu berputar-putar di kepalanya, terlalu besar, terlalu asing untuk hidupnya yang dihitung per lembar uang sepuluh ribuan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.2K
bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook