9

1117 Kata
“Sat, si Tria enggak bisa masak gimana nih? Dia ngedadak sakit, gue enggak tega liat dia maksain apalagi mukanya udah pucet gitu!”Ucap Putri sambil merangkul Tria yang terlihat kesakitan. Satria melipat tangannya diatas d**a. Mencoba untuk berpikir. lima jam lagi waktunya makan siang dan mereka kekurangan tim. Tria satu-satunya yang mahir memasak kini sakit. Bisa saja ia menyuruh anggota osis memasak, namun jika tanpa koordinasi yang bisa memasak seperti Tria itu akan sangat membingungkan.             Hari ini adalah kegiatan pengakraban antar siswa di mana setaun sekali diadakan acara makan siang di aula dengan osis sebagai panitianya. Kegiatan ini sangat di nanti siswa, terutama angkatan Satria yang memang tahun ini merupakan tahun terakhir mereka menjadi siswa SMA, sehingga mereka berharap kegiatan ini akan menjadi kenangan indah yang akan mereka bawa bekal kelak dimasa depan nanti. “Ya Tuhan, gue lupa! Sobat oon gue kan jago masak!!”Pekik Christin. “Si Raina?”Tanya Sari. Christin mengangguk semangat. Kini matanya menatap Satria. “Sahabat gue Raina, dia punya skill masak. Dia sering bantu masak Ibunya yang kadang suka diminta masak buat hajatan. Gue rasa untuk kondisi kita yang kepepet gini, Raina bisa diandelin." Hati Satria berdesir hangat mendengar nama Raina. Semangatnya naik berlipat membayangkan ia bisa menatap Raina yang tengah memasak. Satria mengangguk pada Christin. “Oke kita coba minta bantuan Raina," “Kalau gitu gue ijin bawa dia dulu ya." Tidak lama kemudian Christin kembali keruang Osis bersama Raina yang tengah kebingungan. Hati Satria berdetak sangat kencang melihat Raina kini berdiri di depannya. Rainanya. Calon istrinya. “Gue dengar lo punya kemampuan memasak yang baik. Kebetulan kita lagi ada masalah karena bagian masak tim lagi sakit. Bisa bantu kita kan?”Tanya Putri di samping Satria. Raina menggaruk tengkuknya, terlihat bingung. “Yakin? Gue bukan chef hebat lho! Kalau masakannya enggak enak emang enggak masalah?" “Gue dengar lo suka bantu nyokap lo masak buat hajatan kan? Seenggaknya lo ada pengalaman masak buat orang banyak." “Lo yakin?”Tanya Raina lagi. “Yakin,”Kini giliran Satria yang menjawab sambil menatap Raina dalam. Raina yang jengah ditatap Satria mengangguk. “Ayo kita ke dapur sekolah. Semua peralatan sama bahan udah siap, menu juga udah kita tentuin.”Ucap Ahmad menarik tangan Raina menuju dapur sekolah. Satria meremas tangannya kuat-kuat, menahan keinginannya untuk memukul tangan kurang ajar Ahmad yang berani menyentuh tangan Raina. Menghela napas Satria berjalan mengikuti anggota osis lainnya menuju dapur. Mata Satria langsung mengarah pada Raina yang kini tengah mengeluarkan bahan dari plastik. Rambutnya kini telah di ikat sehingga menampakkan lehernya yang putih. Satria meneguk ludah membayangkan dirinya mencium leher Raina, memberikan tanda cinta untuknya. Bibirnya yang mungil berwarna merah ingin mengecupnya. “Sat, kenapa?”Tanya Putri. Satria menatap Putri datar dan beranjak akan meninggalkannya, namun Putri menahannya. “Sat, please jangan cuekin gue. Kalau ini masalah soal hati gue, biarkan ini jadi urusan gue. Jangan sampai persahabatan kita putus." Satria menatap tangannya yang kini digenggakm Putri, sadar diperhatikan Putri segera melepaskan genggamannya. Satria menghela napas dan menepuk kepala Putri. “Ayo kerja," Putri tersenyum dan mulai membantu teman yang lain memasak. Tanpa Putri dan Satria sadari, satu mata sejak tadi memperhatikan mereka. Raina. ...             “Enggak makan, Sat?”Tanya Utin ketika masuk ke dalam ruangan untuk mengambil tas, terkejut melihat Satria yang terdiam menatap makanan yang berada di depannya.             “Nanti,”Jawab Satria.               “Enggak gabung di aula?”Tanya Utin lagi.             “Santai, nanti saya kesana."             Utin mengangguk dan mengambil tas nya yang diletakkan di pojok ruangan. “Eh Sat, lo tau enggak kalau si Ahmad ternyata naksir sobat gue?”Tanya Utin menatap Satria.             “Siapa?”Tanya Satria cepat.             Utin tersenyum, merasa umpan yang ia berikan termakan juga. “Raina,"             Satria mengeratkan rahangnya, berusaha mengendalikan emosi. “Oh, lalu?"               “Ahmad kan baik dan dia juga sama kayak Raina enggak pernah pacaran, jadi kayaknya mereka cocok kalau gue comblangin."             Satria menatap Christin dingin. “Tujuan kamu bilang ke saya ini apa?”Ujarnya dingin. Entah pergi kemana Satria yang biasa ramah.             Utin menyunggingkan senyum miringnya. “Tujuan gue kasih tau cuma ngingetin kalau perasaan itu lebih baik di ungkapin bukan di pendam."             Satria menyilangkan lengannya di depan d**a dan mengangkat sebelah alisnya. “Maksud kamu?"               “Gue tau lo suka sama sobat gue kan?"             Satria berdiri dan berjalan menuju arah pintu. “Itu bukan urusan kamu,”Ujar Satria dingin.             “Sat,”Panggil Utin menahan Satria. “Itu mungkin bukan urusan gue, tapi orang yang lo suka adalah sahabat gue satu-satunya. Gue tau yang nyobekin baju renang Raina tahun kemarin, lo kan? Lo juga selalu nunggu Raina sebelum pulang dan ngintilin dia sampai parkiran kan? Lo yang selalu ngeborong dagangan dia kan?.. Kenapa lo ngelakuin itu diam-diam?"               Satria berjalan mendekati Utin. “Ini bukan urusan kamu dan saya mohon jangan bilang hal ini ke siapapun."               “Kenapa gue harus ngelakuin itu?"   “Karena ada waktunya saya yang akan memperjuangan dia secara terang-terangan. Bukan sekarang."             Utin kini menatap Satria sedih. “Lalu kenapa harus Raina? Kalian bahkan enggak pernah ngobrol."    Satri tersenyum kecil. “Mungkin jika saya pribadi lebih memilih Putri untuk jatuh cinta, namun hati itu buta. Dia yang akan memilih terhadap siapa kita jatuh cinta, tanpa kompromi harus kepada siapa kita jatuh cinta.”Jawab Satria dan meninggalkan Utin sendirian.             “Lo beruntung Na.”Bisik Utin tersenyum sendu.               Satria berjalan menuju aula yang kini begitu ramai dengan acara music band dari setiap kelas. Mata Satria menemukan Raina yang kini duduk di barisan tengah bersama teman-temannya. Senyum dan tawa selalu menghiasi wajah gadis itu, membuat Satria selalu merasa semakin jatuh cinta.             Hanya tersisa 2 bulan lagi menjadi murid SMA, dan Satria tidak akan menemukan wajah Raina setiap harinya. Satria sudah memutuskan untuk kuliah di London, memenuhi keinginan Ayahnya.             Empat tahun.. Satria berharap empat tahun ia pergi, semoga Tuhan tidak memberikan Raina kepada siapapun. Ia akan berjuang untuk menyelesaikan studinya, bekerja lalu melamar Raina. Itu adalah planningnya. Ketika ia sudah memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan, ia akan mengejar Raina secara terang-terangan. Ia ingin dipandang sebagai pria dewasa dan mapan oleh Raina. Karena ia sadar, Raina adalah gadis berkomitmen dan pendirian teguh. Dan untuk berada di samping Raina, Satria harus menyeimbangkannya menjadi pria dewasa.             “Hey kok bengong?”Tanya Putri yang kini sudah berada di sebelah Satria.             Satria menatap Putri yang menatapnya. "Jadi ambil kampus mana?"               “Hmm.. Kita kayaknya satu kampus deh."             “Orangtua kamu?"            “Mama sama Papa langsung setuju kok apalagi pas tau kamu juga kuliah di london.”Kata Putri semangat.             Satria kembali menatap Raina. Ia terkejut karena ternyata Raina pun menatapnya. Satria tersenyum kepada Raina dan Raina yang sadar tertangkap basah segera memalingkan muka, membuat Satria tertawa kecil.                 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN