Sebagai anak tunggal, Putri memiliki segalanya. Orangtua yang menyayanginya, materi yang cukup memenuhi kebutuhannya, wajah yang cantik, otak yang pintar dan sifatnya yang supel membuat banyak orang yang terkagum-kagum akan dirinya.
Sebagai anak tunggal dalam keluarganya, Putri merasa memiliki nasib yang sama dengan Satria, karena laki-laki tampan itu pun seorang anak tunggal. Bedanya, Satria seringkali ditinggal oleh kedua orangtuanya yang sibuk bekerja, berbeda dengan dirinya yang memiliki perhatian melimpah dari kedua orangtuanya.
Putri menyukai Satria. Lebih tepatnya, sejak pertama kali melihat Satria di acara MOS, Putri sudah jatuh hati pada Satria. Putri tidak menampik jika ia tertarik dengan wajah tampan Satria yang begitu mencolok. Namun, Putri semakin jatuh hati setengah mengenal sosok Satria lebih dalam. Satria adalah pria yang cerdas, tenang, dewasa, pendiam dan pendengar yang baik. Meskipun, Putri seringkali merasa jika Satria itu misterius namun justru itu membuatnya semakin tertarik padanya.
“Mau kemana, Put? Anak Mama cantik banget sih,”Tanya Mama melihat Putri yang sudah rapi sedang duduk di ruang tamu.
“Aku mau pergi sama temen."
Mama tersenyum menggoda mendengar jawaban Putri yang terdengar malu-malu. “Temen apa temen? Jangan-jangan mau pergi sama Satria ya?"
“Kok Mama tau?"
“Tau dong, insting Mama kan kuat. Kenalin Mama dong sama Satria. Mama pengen tau seganteng apa gebetan kamu."
“Mama!"
Mama tertawa melihat reaksi gadisnya yang kini merona. “Akhirnya Mama bisa lihat kamu jatuh cinta juga!!"
“Apaan sih Ma!”Elak Putri.
“Eh, tuh ada suara mobil di depan, kayaknya itu Satria deh.”Ujar Mama.
Putri berdiri dan berjalan menuju jendela, ia tersenyum melihat Satria yang baru keluar dari mobilnya. “Iya Ma."
Putri segera membuka pintu rumah sebelum Satria mengetuk pintu. “Hai.”Sapa Putri sambil mengamati penampilan Satria yang luar biasa tampan.
Satria mengangguk sebagai balasan sapaan. “Berangkat sekarang?"
Putri mengangguk dan menatap Ibunya yang kini tengah memperhatikan di sofa. “Sat, masuk sebentar ya kenalan dulu sama Mama gue.”Pinta Putri sambil menarik tangan Satria untuk masuk ke dalam rumah, berjalan menghampiri Mama Putri. “Ma, kenalin ini temen Putri, Satria."
Satria mendekati Mama Putri dan menyalami tangan beliau dengan penuh hormat. Membuat Mama Putri begitu kagum, maklum saja di zaman modern seperti sekarang ini banyak anak muda yang seringkali acuh terhadap orangtua.
“Hati-hati dijalan ya, Satria tante titip Putri ya."
Satria tersenyum dan mengangguk. “Kalau gitu kami berangkat dulu, Tante. Assalamualaikum.”Ucap Satria sekali lagi mencium tangan Mama Putri sebelum masuk ke dalam mobil.
“Bye Ma,”Ucap Putri begitu Satria menjalankan mobilnya. “Tadi macet enggak Sat pas di jalan?"
“Enggak. Udah makan?"
“Udah, kamu gimana?"
“Saya baru sarapan roti aja tadi pagi. Jadwal nontonnya jam berapa?"
Putri mengeluarkan tiket yang ia simpan di tas dan mengeceknya. “Jam 12, masih ada waktu sih satu jam buat makan. Mau makan dulu?"
“Boleh, kita makan di mall aja biar dekat ke bioskop enggak apa-apa kan?"
Putri mengangguk.
Sesampainya di Mall, Satria dan Putri langsung menuju restoran yang berada dilantai 3. “Mau makan apa?”Tanya Satria sambil membuka menu.
“Gue masih kenyang sih, paling minum aja."
Satria mengangguk dan mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada pramusaji. “saya pesan paket ayam geprek 1, jus alpukat dan mango thai."
Putri menatap Satria dengan senyuman lebar. Ini pertama kalinya mereka jalan berdua diluar kegiatan sekolah atau Osis. Putri menatap sekelilingnya, melihat hampir semua pengunjung adalah pasangan, apakah dirinya dan Satria pun dianggap seperti itu? Memikirkan hal itu membuat Putri bahagia.
“Kenapa?”Tanya Satria menatap Putri yang sedari tadi memperhatikannya.
Putri menggeleng. “Lo sering makan di sini?"
“Lumayan, biasanya kalau Bunda dan Ayah saya libur kerja kami biasanya makan disini."
“Oh.. Mereka kapan pulang?"
“Minggu depan,"
Ketika Putri akan kembali berbicara, pramusaji datang membawa pesanan mereka. Tidak lupa bersama senyuman yang terlalu antusias menatap Satria, membuat Putri mendengus.
Setelah makan, Satria dan Putri berjalan menuju bioskop yang berada di lantai paling atas. Beruntung begitu sampai di bioskop, pemberitahuan studio yang mereka tonton sudah dibuka, mereka langsung menuju studio.
Sesampainya di bioskop, Putri kembali menatap Satria yang begitu fokus menatap layar. Putri sedikit kesal terhadap Satria, karena Satria jarang sekali mengajaknya berbicara kecuali ia memulainya. Terkadang membuat Putri harus memutar otak untuk berpikir.
Film sudah dimulai. Putri menggerutu karena ternyata diawal cerita sudah menakutkan. Membuat ia mulai berkeringat dingin. Ia memang termasuk penakut, tetapi demi bisa pergi bersama Satria, Putri rela harus menghadapi ketakutannya.
“Kenapa?”Tanya Satria menyadari Putri yang terlihat bergerak gelisah.
“E-enggak,”Jawab Putri gugup. Bagaimana bisa ia mengaku, sementara dirinyalah yang mengajak Satria menonton film ini.
Satria kembali menatap layar.
Dua jam akhirnya terlampaui dengan berat oleh Putri. Alih-alih menonton, Putri lebih memilih menutup matanya ketika si hantu muncul. Dirinya berdoa semoga Satria tidak menyadarinya.
“Sat, makasih ya udah nemenin gue nonton hari ini.”Ucap Putri begitu mobil Satria berhenti di depan rumahnya.
Satria tersenyum kecil. “Sama-sama."
Putri menggigit bibirnya. Ia ingin hari ini moment kebersamaan mereka berdua diakhiri dengan sesuatu yang indah, bukan tingkah lakunya yang konyol ketika di bioskop.
“Kenapa?”Tanya Satria yang melihat Putri sedari tadi diam.
“Enggak, kalau gitu gue masuk dulu ya.”Ujar Putri, namun ketika ia akan membuka pintu mobil, Putri menghela napas keras berbalik menghadap Satria dan mengecup pipi Satria. Setelahnya tanpa menunggu reaksi Satria, Putri segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
Satria yang masih tidak menyangka dengan tindakan Putri menghela napas. Ia segera mengambil tissue yang selalu ia sediakan di dalam mobil dan mengusapnya ke arah pipi yang tadi dikecup Putri.