Seorang diri

1231 Kata
Jakarta, Desember 2016. “Sayang, ini hujan, jangan pulang dulu, nanti aku kabarin mama kamu kalo kamu nginep di apartemen aku, udah ayo masuk.” Sam lagi-lagi menahan kekasihnya yang hendak pulang—saat ini mereka baru saja pulang dari sekolah, dan saat ini juga tengah hujan lebat disertai petir, tidak memungkinkan mereka pulang dengan motor. Di sini tidak ada mobil karena Sam jarang menggunakan kendaraan tersebut. Mita menggelengkan kepalanya lagi, dia tidak bisa jika harus disuruh menginap di sini, tidak pernah sekali pun dalam hidupnya menginap di rumah laki-laki, meskipun itu kekasihnya sendiri—Sam. “Gak mau, aku gak bisa nginep Sam. Aku mau pulang aja, aku bisa naik taksi kok. Kamu jangan khawatir,” ujar Mita yang terus membujuk kekasihnya yang tetap kekeh itu. Sam tetap menggeleng, mengunci pintu lalu melemparnya ke sembarang arah. “Udah, kamu gak bisa keluar dari sini, kita masuk.” Sam membalikkan tubuh Mita secara paksa lalu mendorongnya pelan agar masuk, namun Mita tetap kekeh. “Gak, aku gak mau Sam. Please, jangan paksa aku.” Tanpa sadar Mita menaikkan nada bicaranya, membuat Sam jelas terkejut dan langsung melepaskan bahu kekasihnya itu dari tangannya. “Emangnya kenapa sih? Di sini lebih aman sayang, aku takut kamu kenapa-kenapa kalo pulang sekarang,” ujar Sam yang mencoba memberi pengertian meskipun sudah emois karena sedari tadi Mita selalu menolaknya. Mita tetap menggeleng, “Aku, aku cuma takut kamu apa-apain aku, apalagi kita berdua, aku takut,” jawab Mita dengan suaranya yang pelan. Gadis yang sebentar lagi akan menginjak usia 18 tahun itu menunduk malu setelah mengatakan hal tersebut. Sam menggelengkan kepalanya pelan, dia menangkup wajah Mita dan mendongakkan dengan tangannya. “Aku gak akan apa-apain kamu sayang, jangan berpikiran gitu. Atau emang kamu yang mau ya?” tanya Sam berniat menggoda dengan cepat Mita menggeleng. Sam terkekeh kecil, dia mengusap rambut kekasihnya itu. “Ya udah, sana. Aku gak akan apa-apain kamu, kamu ganti baju dulu. Aku mau masak,” kata Sam dan langsung berlalu ke dapur apartemennya. Mita menghela nafas lega, dia sudah berpikiran buruk tapi Sam mengatakan tidak akan melakukan sesuatu padanya. Namun tetap saja perasaan takut tidak bisa Mita hilangkan. Akhirnya ia pun mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian Sam. Namun semua ucapan Sam hanyalah bualan semata, buktinya saat melihat Mita yang tertidur hanya menggunakan celana pendek dan kaosnya, Sam tidak bisa menahan diri. “Emhh.” Mita melenguh saat merasakan sesuatu yang basah hinggap di lehernya, “Sshhh, Sam,” panggil Mita saat membuka matanya dan melihat Sam di atasnya. “Mit, sayang, maaf. Aku, aku gak tahan, boleh ya?” tanya Sam, matanya terlihat berbeda. Seperti lebih ... b*******h? Entahlah, Mita tidak tahu. Tapi Mita dapat merasakan tangan Sam yang berada di ujung kaosnya. “Sam, jangan. Aku gak mau Sam, kamu udah janji sama aku gak akan ngelakuin ini tadi,” kata Mita menolak, menjauhkan tangan Sam dari tubuhnya dan mendorong pria itu. Sam tetap menggelap, dia malah semakin menekan tubuhnya membuat Mita tidak karuan. “Please sayang, aku udah gak tahan. Kamu juga ‘kan?” tanya Sam karena ia sempat mendengar suara-suara aneh dari Mita. Mata Mita berkaca-kaca, “Aku gak mau, takut Sam.” Mita menjawab dengan suaranya yang bergetar. Sam tersenyum, dia meraih tangan Mita lalu mengecupnya. “Sayang, gak akan sakit. Aku juga janji bakalan tanggung jawab, nanti setelah kita lulus SMA kita bakalan nikah, aku janji. Oke?” Entah karena terbuai atau memang sudah bernafsu, Mita menganggukkan kepalanya dan terjadilah malam indah namun berdosa itu. *** Mita berteriak, melempar seluruh isi kamarnya saat mengingat bayangan di mana hal itu terjadi, lebih tepatnya 5 bulan yang lalu itu terjadi. Lalu berlanjut sampai sekarang. Pria itu bahkan berjanji untuk menikahinya, namun malah pergi. “Jahat, lo jahat Sam!! Jahat!” teriak Mita. Dirinya masih tidak terima ditinggalkan seperti ini oleh Sam, padahal pria itu sudah mendapatkan semuanya. Ternyata memang semua pria sama saja. Akan pergi setelah mendapatkan apa yang diinginkan olehnya. “Gue udah ngasih semuanya, tapi lo tetap ninggalin gue. Lo jahat, b******k!!” teriak Mita dan melempar lampu pemberian Sam hingga pecah dan menimbulkan suara nyaring. Mamanya—Nita—yang berada di luar jelas terkejut, dia dengan cepat menghampiri kamar putrinya. “Mita, sayang? Kenapa nak??” teriak Nita khawatir, apalagi saat berusaha membuka pintu kamar Mita, ternyata dikunci. Huh, padahal tadi dirinya sedang bersiap-siap untuk pergi ke luar kota bersama suaminya. “Mit, buka ini mama! Jangan buat mama khawatir,” teriaknya lagi. Menyerah dan hampir saja memanggil satpam untuk mendobrak kamar Mita, tapi tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Mita dengan keadaan yang sangat acak-acakan. “Mama!” Mita langsung memeluk mamanya dan menangis. Nita semakin khawatir dengan keadaan anaknya, tidak biasanya Mita seperti ini. “Nak, kamu kenapa? Bilang sama Mama,” kata Nita dengan tangan yang terus mengusap lembut punggung putrinya itu. Mita masih diam, dia tidak mau mengatakan semuanya pada sang mama mengingat beliau akan segera pergi ke luar kota bersama ayahnya, Mita takut Nita akan kepikiran. “Gak, Mita cuma lagi pusing aja sama masalah sekolah,” jawab Mita dengan tangisnya yang berangsur-angsur tidak terdengar. Mita menghapus air mata di pipinya, lalu melepaskan pelukannya. Tersenyum seolah baik-baik saja. “Mama mau berangkat ya habis ini?” tanya Mita. Memperhatikan penampilan mamanya yang sudah rapi. Nita mengangguk, “Iya, mama berangkat sekarang, kamu hati-hati ya.” Mita hanya mengangguk, karena jujur saja kepalanya pusing bukan main, mungkin efek menangis. Nita menatap putrinya itu, “Kamu beneran gak papa kan?” tanya Nita sekali lagi, apalagi melihat wajah Mita yang pucat. Mita lagi-lagi menggeleng, “Enggak Ma, mama hati-hati ya di jalannya, Papa mana?” tanya Mita mengalihkan pembicaraan. “Papa di sini sayang,” celetuk seseorang dari arah belakang. Mita pun langsung menoleh mendapati seorang pria yang sudah rapi. Rapli, ayahnya. Mita memeluk Rapli yang sudah merentangkan tangannya itu, entahlah dia merasa berat untuk kepergian mama dan papanya yang tujuannya untuk bisnis ini. “Kalian beneran harus pergi malam ini?” tanya Mita. Sepasang suami-istri itu mengangguk menjawab pertanyaan anak mereka. “Iya sayang, tapi lusa kita bakalan balik kok. Gak lama,” jawab Rapli. Dia juga sebenarnya tidak rela untuk meninggalkan Mita, sulit, padahal sudah biasa. “Ya udah iya, tapi janji ya gak bakalan lama. Aku gak mau ditinggal tau,” kata Mita lalu mengacungkan jari kelingkingnya. Rapli dan Nita terkekeh kecil, mereka sama-sama memeluk Mita membuat perempuan itu terkejut. “Iya sayang, janji gak bakalan lama. Hati-hati di rumah ya, kalau mau ajak aja Sam buat nginep nemenin kamu di sini.” Mendengar perkataan mamanya, Mita terdiam. Dia tidak mau memberi tahu dulu pada mama dan papanya tentang kepergian Sam. Takut kepikiran. Akhirnya Mita pun mengangguk. “Iya ma, nanti aku hubungi dia kok.” Mereka pun kembali saling berpelukan sebagai pertanda pamit, dan setelah itu orang tua Mita pun pergi dari rumahnya untuk pergi ke luar kota. Meninggalkan Mita bersama para ART. “Kenapa gak rela gue?” gumam Mita menatap mobil yang berlalu itu, dia menghela nafas panjang. Sudah ditinggal Sam, sekarang malah ditinggal orang tuanya pelesiran. “Huh ... kenapa sih semua orang ninggalin gue?” gumam Mita yang pikirannya sudah sedikit ngaco sepertinya. Padahal saat ini dia sangat-sangat butuh hiburan. Biasanya jika Mita sedang sedih pasti ada mamanya yang akan menghibur, tapi sekarang malah pergi ke luar kota. Tapi tak apa, saat mamanya pulang nanti, Mita akan menceritakan semuanya. *** To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN