“Huek ... huek!” Suara seseorang yang sepertinya sedang memuntahkan sesuatu dari mulutnya itu terdengar di dalam kamar mandi. Lebih tepatnya kamar mandi milik Mita, dan yang muntah-muntah pun adalah Mita. Perempuan itu sudah dua hari ini tidak enak badan, kepalanya pusing seperti diputar-putar, belum lagi perutnya yang juga sangat tidak enak, serasa dikocok membuatnya ingin terus muntah dan muntah, bahkan jika diisi makanan akan langsung keluar. Dia juga sering mengalami hal ini saat pagi, seperti sekarang misalnya.
“Sshhh, pusing banget ya Tuhan. Mana maunya muntah terus,” gumam Mita setelah membasuh mulutnya dengan air. Dia memperhatikan kondisi tubuhnya yang tampak berbeda, namun jujur karena permasalahan cintanya dengan Sam, dia tidak memperhatikan hal itu.
Tok, tok, tok!
Mita menoleh ke arah kamarnya, pintunya diketuk dari luar, Mita sudah yakin pasti itu adalah Bi Minah, asisten rumah tangganya yang mengurus kebutuhannya selama ini. Mita mengambil tisu lalu mengelap mulutnya. “Sebentar Bi,” teriak Mita lalu keluar dari kamar mandi tersebut.
Membuka pintu kamarnya, Mita mendapati Bi Minah yang membawa nampan dengan s**u dan roti di atasnya. “Non, sarapannya sudah siap,” kata Bi Minah dengan sopan.
Asisten rumah tangga itu cukup khawatir dengan keadaan nona mudanya, wajahnya terlihat pucat, dan lemas. Tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat. “Bi, aku lagi gak mau makan. Susunya suka gak enak, terus kalo makan aku bakalan muntah lagi,” tolak Mita dengan halus.
Bi Minah menyimpan nampan tersebut di atas meja kecil yang berada di depan kamar Mita, “Tapi Non, non itu harus makan. Bibi lihat wajah non itu pucat banget,” kata Bi Minah, meminta izin lebih dulu, Bi Minah pun memegang kening Mita.
“Tapi non gak panas, kenapa ya non?” Bi Minah bertanya dengan rasa khawatirnya, namun Mita tersenyum tipis melihat hal itu.
“Gak papa bi, beneran.” Namun ucapan yang keluar dari mulutnya itu tidak sejalan dengan kondisinya saat ini, Mita malah ingin muntah di depan Bi Minah, yang tentu saja membuat bi Minah semakin khawatir.
Mita langsung berlari lagi ke kamar mandi dan muntah di sana, “Non, aduh si non harus dibawa ke rumah sakit ini. Bibi khawatir non, takut tuan dan nyonya marah juga kalo non gak dibawa ke rumah sakit,” ujar Bi Minah sembari memijat sesekali punggung atas Mita. Mencoba membantu Mita mengeluarkan muntahannya.
Mita menghirup nafas sebanyak-banyaknya setelah selesai muntah, “Non, ayo turuti dulu kata-kata bibi, non harus makan dulu. Ya non?” bujuk bi Minah terus.
Mita lagi-lagi hanya menggeleng, dia malah duduk di salah satu kursi di kamar mandi. “Udah ada kabar belum mama papa kapan pulang?” tanya Mita. Oh ya, orang tuanya mengundurkan tanggal pulang, katanya masalah di sana cukup besar dan harus lebih lama lagi.
“Belum non, tapi waktu itu saya tanyain pulang kapan, ternyata tanggal 29, sekarang kan baru tanggal 20,” jawab Bi Minah detil. Karena memang dia sudah berbicara dengan tuannya itu, lewat telepon.
Mita mengangguk, namun sedetik kemudian dia terdiam. Sekarang sudah tanggal 20? “Tanggal 20 Bi?” tanya Mita memastikan. Bi Minah mengangguk, membuat Mita semakin terdiam.
Saking sibuknya Mita sampai lupa kalau dirinya sudah telat menstruasi, ingatan Mita langsung mengingat kejadian-kejadian beberapa hari ini dirinya yang terlihat aneh. “Bi, tolong ambil kalender yang deket tempat tidur aku,” pinta Mita. Karena di sana Mita selalu menandai setiap bulan. .
Mata Mita berkaca-kaca, pandangannya tiba-tiba mengosong, tangannya bergerak untuk masuk ke dalam bajunya, menyentuh permukaan perutnya di sana. “Gak, ini gak boleh terjadi. Dia udah tinggalin gue,” gumam Mita setengah ketakutan.
“Non ini.” Bi Minah kembali dengan sebuah kalender di tangannya, Mita dengan cepat mengambilnya. Lalu ia membukanya, melihat dua bulan terakhir yang ternyata dirinya tidak menstruasi.
Mita menggeleng panik, membuat Bi Minah panik. “Gak, gak bisa. Gak boleh, ini gak boleh terjadi,” ucap Mita dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.
“Non Mita, kenapa malah nangis non? Non gak papa?” tanyanya panik. Mita mendongak dengan air mata yang sudah bercucuran, dia menutup mulutnya menahan isak tangis. Namun tetap berbicara pada Bi Minah.
“Bi, tolong ambilin handphone aku. Cepet Bi!” Bi Minah yang panik langsung keluar dan mengambil apa yang dikatakan Mita.
Mita mengambil benda pipih itu, lalu mendeal nomor Sam beberapa kali, tersambung beberapa kali, namun setelahnya justru tidak aktif. Ia pun memilih untuk mengirimkan pesan saja. “Gak, gue gak mau ini terjadi. Sam ....” Mita menunduk dan menangis hebat, dan Bi Minah hanya bisa mengusap punggung nona mudanya itu.
***
Sementara itu, Sam, pria yang hilang kabar itu ternyata saat ini berada di sebuah rumah yang cukup besar, ah, bukan, melainkan sangat besar. Ia dengan santai duduk di sebuah kursi yang menghadapkannya pada taman di halaman rumah itu sendiri.
Sam hanya melamun, sudah beberapa hari ini ia tidak keluar dari rumah. Alasannya? Sam tidak akan memberi tahu untuk itu. Yang jelas, besok Sam akan segera meninggalkan negara tempatnya lahir ini. Meskipun hatinya tak rela sama sekali. Alasannya karena ada belahan jiwanya ada di sini.
“Sam.” Panggilan itu tidak membuat Sam menoleh, mendapati mamanya. Sam langsung mengalihkan pandangannya lagi ke semula. “Sayang, kamu udah siap-siap ‘kan nak?” tanya Zera, mama Sam.
Sam tidak menjawab, Zera menghela nafas panjang. “Sam, kamu udah siap ‘kan buat keberangkatan besok?” tanya Zera sekali lagi pada putranya, namun bukannya jawaban yang didapat, ia malah mendengar gumaman Sam.
“Mita.” Itulah yang digumamkan Sam, dan hal itu membuat Zera sedikit emosi. Dia tahu siapa Mita, dan ada hubungan apa perempuan itu dengan anaknya. Zera memang sudah lama tidak suka dengan perempuan bernama Mita itu.
“Sam, mama mohon, lupain perempuan itu, di luar negeri sana banyak yang lebih dari dia, nak.” Sam melirik mamanya tajam, jika bukan karena dirinya yang membutuhkan sesuatu di luar sana, pasti Zera tidak akan seegois ini untuk memaksanya ke luar negeri.
“Sampai kapan pun, aku gak akan cari perempuan lain. Kalau semuanya udah beres, aku bakalan langsung pulang,” kata Sam lalu berdiri dan meninggalkan mamanya yang semakin emosi.
Zera membuang nafasnya kasar, bersedekap d**a dan memikirkan suatu rencana ke depannya—untuk Sam—tapi suara dering ponsel membuatnya terganggu.
Zera melirik ponsel Sam yang ternyata berdering itu, mengabaikannya, Zera pun hendak berlalu, tapi suara itu kembali terdengar. Zera berdecak sebal, dia pun mengambil ponsel tersebut. Matanya memicing saat melihat nama nomor yang menelepon anaknya itu.
‘Honey’ dengan emoticon love itu cukup membuat yakin Zera, jika yang menelepon adalah Mita. “Gak tau malu, dia segitu gak maunya ditinggalin Sam, sampai telepon berkali-kali?” gumam Zera kesal.
Dia pun mematikan ponsel itu, lalu memasukkan ke dalam saku celananya, untuk berjaga-jaga jika nanti Mita meneleponnya lagi, jadi dia mengambilnya dari Sam. Biarkanlah anaknya itu pergi ke luar negeri dengan tenang, tanpa mengetahui Mita yang meneleponnya terus menerus.
***
To be continued