April duduk diam, menunduk, enggan melihat ke kaca di depannya, menunggu sentuhan akhir untuk tatanan rambutnya.
Perasaannya galau dan kacau. Selama bertetangga, bersahabat, apapun sebutannya dia dengan Jun, baginya tabu sekali menyebutkan keadaan ekonominya. Berbeda dengan Mei yang bisa blak blakan tanpa sungkan bilang dia nggak punya uang tapi pengen sesuatu dan berharap Jun membelikannya untuknya, April nggak bisa seperti itu. Makanya, mendengar Jun berkata seperti tadi dengan entengnya, dia merasa sakit hati. Tapi dia bukan di pihak yang bisa seenaknya memilih.
Selalu begitu, kan. Pilihan bukan buat April. Hidupnya bukanlah pilihan. Dari dulu, dia nggak bisa memilih apa yang dia sukai dan dia nggak sukai seperti orang lain pada umumnya. Jangan jauh - jauh, seperti Mei dan Jun. Sama, saat ini pun begitu. Kalau dia nggak menuruti Jun, Mei akan marah dan salah paham padanya. Kalau dia menuruti Jun, harga dirinya terluka.
“Sudah selesai, Kak. Mas nya sudah nunggu di depan.” MUA yang menanganinya memberitahu. Dia hanya mengangguk kecil sebelum beranjak ke luar.
Dia mengambil dompetnya dan berjalan menuju konter pembayaran. Walaupun Jun bilang mau bayar, buat jaga - jaga aja. April nggak suka hutang budi sama orang lain. Walaupun dia nggak yakin uangnya bakal cukup, sih. Di dompetnya kini tinggal ada lima lembaran merah muda dengan nominal angka rupiah tertinggi saat ini dan beberapa uang receh sisa kembalian.
Dia tadi sudah bilang sih, minta make up dan hairdo yang paling simple. Seharusnya dia perjelas saja, ya. Minta service yang paling murah, begitu. Soalnya kan, simpel belum tentu murah. Dia sampai nggak berani ngaca. Takut kalau ada ondel - ondel menatap balik padanya dari dalam kaca.
“Hei, mau ke mana?”
***
“Lah ini Aprilnya. Nduk, kamu ke mana aja? Kakakmu nyariin sampai nangis - nangis dari tadi.” Bunda yang pertama kali lihat April turun dari mobil Jun langsung berseru, membuat Mama yang sedang menyematkan bros di jilbabnya tergopoh - gopoh keluar.
“Ya sudah. Syukur kalau udah dateng. Kamu ganti baju ya, Nak. Siap - siap. Ini kata Mei keluarga Didit udah mau jalan ke sini.”
April langsung digiring masuk ke dalam. Acara lamaran ini nggak rame - rame. Selain keluarga inti, dan keluarga sebelah, cuma ada Pakdhe dan budhe yang tinggal di kota sebelah yang datang sebagai perwakilan keluarga.
Mei memang sengaja. April juga kaget pas Mei bilang nggak rame - rame. Untuk seukuran orang yang hobi pamer kaya Mei, punya hajat diam - diam itu sesuatu yang uwow. April malah curiga dan malah jadi berpikiran buruk. Jangan - jangan Mei…. ah masa, sih?!
April tau banget gaya pacaran Kakaknya. Walaupun menurut April Mei waras banget buat nggak ngelakuin itu di rumah sejak dulu. Dan belum pernah terjadi apapun. Entah kalau sudah pernah kejadian tapi Mei nggak cerita, amit - amit.
“IIh, lo ke mana aja?!!” Mei, yang sudah berkebaya dan bersanggul lengkap, terlihat anggun dan luar biasa cantik, berderap dari dalam kamarnya. Matanya masih berkaca - kaca dan mulutnya mengerucut sebal bukan main.
“Lah ini?” April menunjuk muka dan rambutnya. “Emang boleh gue pulang terus ikut acara lo bulukan?”
“Enak aja! Lo mau bikin gue malu?! Nggak gue akuin adek, lo kalau lo berani - berani.” Ancam Mei. “Kan ada MUA di rumah. Lo bisa dandan abis gue sama kaya Bunda kaya Mama.”
Eh? Ada? April meringis.
“Gue nggak tau.”
“Kebiasaan jelek! Kalau ada orang ngobrol nggak diperhatiin!”
Ya maaf, Abisnya kan dikira April bukan urusannya. Tau kalau ada MUA di rumah, dia langsung pulang aja tadi. Pake obral harga diri segala di depan Jun. Ah, April nyesel!
“Loh kok masih berdiri di situ? April ayo, Nak, buruan ganti baju. Baju kamu udah Mama taruh di kamar.” Mama menegur mereka.
April mengangguk, merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu. “Buat lo. Selamat, ya. Jangan lupain kami kalau udah jadi istrinya Bang Didit.”
Kemudian dia melenggang pergi ke kamarnya. Dari tirainya yang terbuka, mungkin dibuka Mama, atau April yang lupa nutup tadi pagi? Dia bisa melihat Jun yang sedang berdiri di depan kaca membenarkan kancing bagian kerahnya. Terlihat gagah dan menawan.
Bahkan hal remeh seperti itu saja sudah membuat jantung April blingsatan seperti ada yang main trampolin reme - rame di sana.
“Ya Ampun, gue nggak ketolong banget kayaknya, deh.”
Dia beranjak dan cepat - cepat menutup tirainya sebelum Jun menyadari ada yang menatap mupeng sampai nyaris ngiler - ngiler dari kamar ini. Setelahnya dia bergegas melucuti bajunya dan menggantinya dengan stelan kebaya yang sudah di siapkan Mama, tergantung di pintu lemarinya.
Mandi?
Aduh, nggak sempat. Daripada pas mandi dia didobrak Mei dengan bar - bar. Mending nanti saja selesai acara dia baru mandi. Tenang, dia pake parfum kok! Ada parfum yang dikasih sama teman kuliahnya dulu pas mereka baru lulus kuliah. Tapi sama April nggak pernah dia pakai sama sekali karena pacakgingnya terlihat mahal, jadi dia sayang memakainya. Lagian, dia ada parfum KW yang semilinya cuma sepuluh ribu dari bandar parfum di di ruko depan.
Selain itu, namanya yang aneh tapi familiar tapi Apri lupa artinya apa bikin dia ragu - ragu juga. Aphrodisiac. Parfuma apaan coba, namanya begitu?
Tapi demi Mei dan acara pentingnya, April rela buka segel. Disemprotkannya pasrfumnya di belahan dad*nya, di balik telinganya dan di pergelangan tangannya. Udah, wangi. Cukup lah ya, jangan banyak - banyak. Sayang banget kalau cepat habis. Setelahnya, dia mengambil pouch kecil yang berisi ponsel dan tissue, lalu keluar kamar.
***
Jun duduk dengan gelisah. Ini yang bagi jobdes dan bikin tatanan tempat duduk pasti Mei. Dia tau banget. Tadi dia dan April harus berdiri berjejeran di depan untuk menerima tamu dari keluarga Didit.
Oh, nggak masalah. Dia nggak keberatan sama sekali. Meskipun situasinya dengan April masih amat awkward, tapi sesaat tadi, rasanya sudah normal lagi. Bukan normal yang mereka sudah bisa saling bercanda seperti biasa, tapi normal karena April memberitahunya kalau ada debu di kerah jasnya dan menyekanya untuknya. Dia juga menyeka buturan keringat yang muncul di pelipis April. Mengambilkan minum untuknya dan segala macam. Normal, kan?
Hal kecil yang nggak ada orang yang menyangka kalau itu amat susah dilakukannya. Kenapa? Karena April tampil stunning?! Please, dia orang pertama yang melihat dandanan April. Dan memang April jadi luar biasa uwow, tapi bukan itu. Wangi April! Astaga, April pake parfum apa, sih?! Jun pas pertama kali menghirup aromanya tadi langsung susah menahan diri, Antara ingin menarik April dan menguncinya di dalam kamar, atau dia sendiri yang lari jauh - jauh dari April.
Dan sekarang, pas keluarga Didit semua sudah masuk ke dalam, memulai acaranya, dia menari April agar duduk bersamanya di dekat pintu. Biar yang jadi korban Jun aja, jangan yang lain. Itu sepupu sama adik cowoknya Didit, nggak, Jun nggak rela! April nggak buat dibagi!
“Pril.”
“Hmm?”
April menyahut tak acuh. Fokusnya masih pada orang - orang yang berkumpul di tengah ruangan sedang membicarakan tentang tanggal mana yang paling bagus sambil mengipas dirinya dengan kardus air minum kemasan. Mereka di sisi ini memang tidak terkena hembusan kipas angin. Tapi itu tujuan Jun.
“Lo pake parfum apa, sih?”
“Kenapa? Baunya enak, kan?”
Enak, enak banget! Sampe bikin gue sa*ge berat! Tandas Jun dalam hati. Kesal tapi gemas sekaligus. “Enak, sih.” Jun menjawab keki.
“Parfum baru, dulu dikasih temen tapi belum pernah gue pake. Jun, panas banget di sini, pindah situ yuk.”
Jun buru - buru menarik April agar duduk kembali di tempatnya. Nggak boleh! April nggak boleh ke mana - mana. Di sini tempat yang paling aman buat April! Batin Jun panik. Sebenarnya nggak juga, nggak aman - aman banget karena ada Jun di sini. Tapi Jun kan bisa menahan diri. Iya, kan?
“Kenapa, sih? Gerah tau.” April merengut kesal. Pakai kebaya dengan kain brukat yang panas, ditambah dengan stagen, korset dan segala macam begini, masih make up yang super tebal yang bikin wajah gatal - gatal ini. April gerah! Jun ini ngerti nggak, sih?!
“Di sini aja. Kalau lo ke situ gue sendirian nanti di sini.”
Dalam hati Jun mengomel. Lo baru gerah. Gue? Gerah, sesak, panas, pusing, semua kumpul jadi satu di bagian itu. Rasanya Jun ingin langsung pulang dan melaksanakan ritual lalu untuk melepaskan semua yang mengganjal.
“Kan lo bisa ikutan gue ke sana.”
“Please. Di sini aja, sama gue.”
April memandangnya bingung dan heran. Kok rasanya, kalimatnya agak ambigu ya. Atau Aprilnya aja ini yang ke GR an?