ENAM PULUH ENAM: NGGAK TAHAN LAGI!

1454 Kata
“Loh? Jun ke mana? April, Jun ke mana?” Bunda bertanya padanya saat acara selesai, keluarga Didit sudah pulang dan Mama meminta mereka semua untuk makan, karena tadi tidak cukup tempat untuk makan bersama - sama. April yang ditanyai otomatis menoleh ke samping kirinya dan melotot tak percaya saat tak menemukan siapapun di sana. Ke mana cowok itu?! “Jun nggak dibawa sama keluarga Bang Didit kan, ya?” Dia bertanya dengan bo*ohnya. “Di luar kali. Coba liat, Pril?” Mei mengusulkan. April menurut, Dia pergi ke luar, Melihat ke terasnya. Nggak ada. Dia juga melongok teras sebelah. Mobilnya masih ada, terparkir di halaman rumahnya sama persis dengan yang dilihatnya tadi saat menerima tamu di luar. Terus Jun ini ke mana?! Nggak mungkin beneran dibawa keluarga Bang Didit pulang, kan?! “Nggak ada di luar, Bund.” April laporan. Masuk lagi ke dalam rumah. Mama melambaikan tangannya menyuruhnya mendekat ke meja makan. “Ya udah kamu sini makan dulu. Kamu belum makan apa - apa dari tadi. Mei, gantian sama adik kamu, cari Bang Jun, ya.” “Coba cari di rumah, Nduk.” Usul Bunda. *** Mei yang sudah selesai makan dan bantu - bantu beberes sebentar langsung bergegas ke rumah sebelah. Tadi dia sengaja kasih tugas Jun dan April di depan. Tapi selesai tugas adiknya itu masih saja di sekap Jun di dekat pintu. Tapi bukannya terlihat senang, Jun malah terlihat tersiksa dan nggak nyaman. Mei bukannya ngeres, ya. Tapi, katakanlah, dia sudah lebih expert untuk masalah lelaki dari pada April. Ditambah sedikit suudzon juga, sebenarnya. Dia masuk ke rumah Jun, dan langsung menuju kamar cowok itu. Menguping sebentar sebelum mengetuk pintu. Hening? Masa iya Jun sudah tidur. Mobilnya di rumah, motor juga di rumah. Jadi seharusnya orangnya di rumah, dong. Dan Jun bukan tipe orang yang tidur sore. Ini memang sudah malam. Masih jam sembilan. Masa sih, sudah tidur. Dan kemudian suara yang ditunggu - tunggu Mei pun akhirnya terdengar. “Astaga bener - bener ya ini orang. Bisa - bisanya!” Geramnya pelan. Lalu tanpa tunggu lagi, dia menggedor pintu kamar Jun. “Bang Jun! Woy!” Suara gedebuk dan sentakan kaget terdengar dari dalam. Setelah gedebuk - gedebuk rusuh yang aslinya singkat, tapi bagi Jun pasti terasa amat lama, akhirnya pintu kamarnya terbuka. Wajah Jun masih merona merah dengan nafas terengah - engah. Tak tahu apakah dari kegiatan sebelum Mei mengetuk pintu atau karena Mei mengetuk pintu. “Apa sih?” “Udah? Udah kelar? Lega?” Jun merengut. Coba kalau dia perempuan, rasanya dia pasti sudah menjambak sanggul Mei karena sekarang ini baginya Mei amat menyebalkan. Eh, tunggu! Kalau dia cewek, dia nggak akan blingsatan begini gara - gara parfum April. Jun sekarang jadi bingung sendiri, apakah seharusnya dia bersyukur karena dia adalah seorang cowok atau bukan sekarang. “Lo gangguin, gimana bisa lega!” Jun nggak pernah membentak. Kalau sampai membentak, pasti dia sedang kesal luar biasa. Jangan - jangan pas Mei mengetuk itu pas… Mei meringis. Geli, kesal dan perasaan bersalah bercampur jadi satu sekarang. “Lagian lo apaan, sih, langsung ngilang gitu. Mana buat begituan lagi! Se nggak tahan itu? Kenapa lo nggak sekalian ikut lamar April tadi?” Jun melotot. Tangannya gatal ingin mengambil jarum jahit untuk menjahit mulut Mei yang lemes luar biasa. “Jangan reseh. Lo nggak tau perjuangan gue sekeras apa malam ini demi lo.” Mei mendengus. “Keras lah, pasti. Kalau nggak keras nggak bakal lo ngibrit pulang kaya tadi. Pake baju yang bener sono, ih. Dicariin Bunda tuh, suruh makan.” Sentak Mei kembali lagi menjadi Mei yang galak. “Bentar lagi lah. Masih gila banget gue. Lo cariin gue alasan, ya.” Kata Jun sebelum menutup pintu kamarnya dan menguncinya. “Astaghfirullah! Bang Jun!” *** Mei kembali ke rumah dengan tangan kosong. Dalam hati dia memaki - maki kelakuan b***t Jun yang hanya segelintir orang yang tau. Jun pasti sedang berpikir tentang April saat ini untuk menyalurkan ha*ratnya. Nggak heran sih, Walaupun dandanan Mei tak tertandingi, tapi dengan dandanan yang lebih tipis dan simpel, April juga tampil menawan malam ini. Tubuhnya yang ramping dan jenjang dalam balutan kebaya sederhana berwarna biru muda, dan wajahnya yang selalu tersenyum saat menyambut tamu.  Kalau Mei cowok, dia pasti akan naksir dengan April saat itu. April memang terlahir menawan walau tidak dengan wajah yang super stunning. Keanggunannya, sifat cueknya dan aura keibuannya itu yang membuatnya menarik. “Kayak gini, gue salah nggak sih?” Mei bergumam sendiri saat sampai di teras rumahnya. “Gue nggak kaya lagi jual April sama om - om hidung belang, kan?”  Mei tentu saja nggak akan rela kalau April dirusak oleh orang nggak bertanggung jawab, sekalipun itu Jun. Tapi April sudah menjadi objek fantasi Jun sejak lama. Mei tau itu, dan Mei nggak melakukan apapun untuk menghentikan Jun. “Mungkin karena gue tau Bang Jun bakal jagain April?” Gumamnya lagi. Dia jadi seperti orang kesurupan karena ngobrol sendiri di teras. “Gue lebih ikhlas sih, kalau April sama Bang Jun daripada sama yang lain. Asal Bang Jun nggak macem - macemin April aja!” Kemudian dia bergegas masuk. Dia kepo. Kok malam ini Jun sengebet itu dengan April? Ya secantik - cantiknya April malam ini gitu? Masa Jun se nggak bisa menahan diri? April masih makan sambil ngobrol sama Ayah, Mama dan Papa. Mereka terlihat serius. Mei menepuk pundak April, membuat adiknya itu terlonjak kaget.  “Ngagetin aja sih, masuk rumah bukannya salam.” “Yee, kalian aja yang nggak merhatiin. Ngomongin apaan sih, serius amat.”  April menunduk, mendadak sibuk melanjutkan makannya yang entah kenapa belum juga selesai sejak tadi. Padahal Mei di sebelah cukup lama. Masa makan nggak habis - habis? Mama dan Papa juga terlihat murung, berbeda dengan Ayah yang malah terlihat sumringah dan bangga. “Kamu nggak mau pertimbangin lagi, Pril?” Mama berkata dengan nada membujuk, membuat Mei mengernyit heran. Ini pasti ada sesuatu yang mereka bicarakan tadi pas dia ke sebelah. “Tai ini kesempatan bagus. Ayah dukung kamu, Pril.” Nah, kan. “Ada apa, sih?!” “April udah selesai makannya. April mau masuk beberes dulu. Belum mandi, gerah.” Mei melihat April yang beranjak dari kursinya sampai memutar badan. Keningnya berkerut heran. Ini ada apa? Kenapa?! Dari tadi dia dicuekin, nggak ada yang jawab pertanyaannya. Sebal? Jangan ditanya!  “Ada apa sih, Ma?” Tapi jawaban Mama hanya berupa gelengan lemah. Ayah menepuk pundak Papa sekali, lalu beranjak meninggalkan ruang makan sambil membawa kopinya ke teras. Papa malah lebih parah. Papa seperti orang baru sadar dari kesurupan. Bengong dan nggak fokus. Kesal, Mei beranjak dari sana dan menyusul April ke kamarnya. Diketuknya pelan tiga kali lalu diputarnya kenopnya. Untung nggak dikunci. April sedang duduk di atas ranjangnya, membersihkan make up nya tanpa kaca dengan pandangan melamun. Yang begini, masa nggak ada apa - apa? Sudah jelas ini pasti terjadi sesuatu yang mengguncang jiwa dan raga April. “Hei.” Kan, April bukan orang yang kagetan, tapi beberapa kali malam ini dia sering tersentak kaget. Tanda - tanda orang sedang berpikir tentang sesuatu yang serius sampai lupa dengan keadaan sekelilingnya. “Lo kenapa, sih? Ada apa?” April menunduk lagi. Ih, gemes! Ini kalau Mei masih umur sepuluh tahun dan April tujuh tahun, pasti sudah dijambaknya rambut April karena dia kesal luar biasa. Ditanyain juga, bukannya dijawab…. “Gue tadi bilang sama Mama sama Papa. Sebenernya udah dari lama gue pengen bilang, cuma takut ganggu acara lo.” Mei mengernyit. “Tentang?” “Gue lulus seleksi beasiswa ke Venesia yang gue pernah ceritain ke lo dulu itu.” Matanya melebar mendengar penuturan April. “Wah, hebat! Bagus, dong!” Dia dari dulu mengakui kalau secara akademis, April memang lebih unggul dari dia. April hampir selalu dapat tiga besar. Hal yang sangat dibanggain Mama karena kalau tahun ajaran baru kadang nggak perlu beli buku banyak atau nggak perlu beli sepatu dan tas untuk April karena sudah dapat dari hadiah sekolah. “Tinggal nunggu persyaratan berangkatnya. Kalau gue bisa penuhin semua, maka gue tinggal berangkat aja.” Mei mengangguk. Paham tentang ini. Pastinya April harus membuat Visa, mengisi dokumen kontrak, tes wawancara juga dan hal - hal terkait yang nantinya dibutuhkan untuk korespondensi. Ini berita bagus! Jadi kenapa April terlihat murung? Tadi  April bilang ini sama Mama sama Papa? Kenapa reaksi mereka begitu?! “Mama sama Papa keberatan kalau gue berangkat ke sana.” Loh?! “Tapi ini kesempatan bagus, loh, Pril.” “I know. Makanya itu.” April mendesah. Menatap langit - langit kamarnya sembari mendongak. “Kenapa ya, Kak. Kalau gue yang minta, pasti Mama sama Papa selalu aja keberatan. Kenapa mereka dulu pertahanin gue? Kenapa nggak digugurin aja kaya rencana awal mereka?” “Heh! Lo ngomong apa, sih?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN