Mei keluar dari kamar April setelah puas memarahi adiknya itu. Rasanya masih ingin marah, kalau bisa sambil napukin mulut April yang ngomongnya asal saja, atau jambakin rambut April biar kepalanya bisa mikir bener lagi. Tapi melihat April yang sekarang ini terlihat rapuh dan sedih begitu, dia jadi nggak tega. Makanya, dia keluar saja biar nggak semakin marah - marah.
Di luar kamar sudah sepi. Tapi ada dengung percakapan yang sepertinya suara Mama, Papa, Ayah dan Bunda di teras. Mungkin mereka sudah berpindah tempat.
Tapi di luar dia malah ketemu sama Jun. Cowok itu baru datang, dengan rambut setengah basah yang disisir ke belakang. Sudah memakai baju rumahan. Melihat Jun, kemarahannya jadi memuncak lagi. Karena dia tahu itu rambut Jun jadi setengah basah karena apa.
“Kenapa lo?”
“DIEM!” Bentakannya langsung membuat Jun mingkem seketika.
Dalam hari Jun menggerutu. Apaan, sih, baru datang, laper, mau makan, lihat orang mukanya bete, malah dibentak. Salahnya di mana coba?
“Semuanya salah lo!” Jawab Mei sebelum pergi meninggalkan Jun yang bengong. Perasaan tadi Jun kan membatin dalam hati, kok… bisa - bisanya Mei nenyahut? Sekarang Mei bisa telepati?
Jun mengangkat bahu tak acuh dan langsung menuju ke ruang makan. Di perjalanan, dia melihat pintu kamar April yang terbuka. Dia mengintip sedikit, dan kaget karena mendapati April sedang menunduk dengan bahu bergetar. April nangis?!
Sebelum dia sadar apa yang dilakukannya, Jun sudah masuk ke dalam kamar April dan mengunci pintunya dari dalam. April yang kaget langsung mendongak dan memelototinya dengan tatapan mata tak percaya.
“Lo ngapain di sini?! Kenapa pintunya lo kunci?! Lo mau ngapain gue?!”
Eh, loh, maksudnya nggak gitu. Jun jadi bingung sendiri dan ikut panik juga. Tadi dia reflek saja mengunci pintunya dari dalam, biar nggak ada yang mengganggu mereka? Tapi memangnya mereka mau ngapain?
Nah kan, karrna ditanya Jun jadi malah inget tadi barusan di rumahnya dia habis ngapain sambil bayangin April. Dan dia jadi merinding sendiri. Akhirnya dia buka lagi kunci lintu kamar April. Tapi pintunya tetap tertutup.
April masih menatapnya curiga dengan dengan bahu bergetar karena gadis itu masih menangis sesenggukan sambil mengerutkan matanya curiga pada Jun.
"Udah gue buka, kok." Jawabnya kikuk. Nggam yakin dia boleh mendekat atau nggak. Bukan karena masalah seminggu kemarin, tapi karena parfum April. Kalau masih kecium wangi yang tadi, masa iya malam ini dia harus melakukan ritual lagi dan mandi wajib lagi? Kisut dia lama - lama! "Lo kenapa? Mau gue buka aja pintunya? Tapi nanti Mama sama Papa lihat."
Seakan baru sadar kemungkinan itu, April berkedip kaget beberapa kali. Lalu menggeleng. "Jangan. Ditutup aja."
"Gue boleh ke situ nggak?" Akhirnya Jun yang meminta sendiri untuk bergerak mendekat. Urusan nanti dia harus ritual dan mandi wajib lagi, ya dipikir nantian.
Karena April diam saja, dan nggak menjawab apapun, Jun mengartikannya sebagai ‘boleh’. Jadi dia mendekat dan duduk di sebelah April yang sekarang sudah menunduk lagi meremas - remas kapas yang sudah basah oleh make up remover tapi tak kunjung di oleskan ke wajahnya. Di tangannya yang satu, April memegang sesuatu yang panjang dan hitam yang awalnya Jun kira adalah ulat bulu, tapi ternyata cuma fake lashes.
“Sini gue bantuin bersihin.”
Jun mengambil kapas dari tangan April dan membenarkan posisi April agar menghadapnya. April diam saja, masih menunduk, dan sepertinya sudah menangis lagi karena ada alur baru jejak air mata di pipinya.
Pertama - tama, Jun menyeka bagian pipi April. Jangan bertanya apapun tentang keadaan hati Jun saat ini. Rasanya nano - nano boom! Rame dan meledak rasanya. Ini seperti… Dia habis akad nikah dan mau malam pertama sama April, padahal yang habis lamaran Mei. Okay, lupakan bayangan konyol Jun yang tak terkontrol dan semakin menjadi karena setting dan posisi mereka; di kamar tidur, duduk berhadapan, April pakai kebaya, dan dia membantu menghapus make up April.
Ternyata efek selibat dua minggu itu dahsyat banget buat Jun. Iya, dia sudah nggak nganu - nganu dengan siapapun selama dua minggu. Bukan rekor terlama, tapi berhenti mendadak setelah bertahun - tahun rutin melakukan hal itu… bukannya itu luar biasa? Jun boleh dong berbangga diri? Dan akibatnya, pikirannya terus saja mengarah ke sana bersama bayangan April. Parah. Mungkin dia harus ke dukun memeriksakan diri. Siapa tahu April menaruh jampi - jampi, kan, buat dirinya.
“Lo nangis lagi? Kenapa? Nggak mau cerita?”
Diam - diam Jun sudah menyelesaikan separuh sisi bagian wajah April. Ditanya begitu, April hanya menggeleng.
“Gue sedih.”
Jelas, kan? Kalau dia lagi bahagia kenapa mukanya murung pakai acara nangis segala?
***
Jun akhirnya keluar dari kamar April. Ceritanya sudah selesai. Dan April bilang dia mau ganti baju dan mandi sebelum istirahat. April akhirnya bercerita tentang apa yang bikin dia sedih. Tapi nggak terlalu jelas.
Gadis itu cuma bilang kalau dia sedih. Dia selalu menahan diri buat nggak banyak minta sama Mama Papa. Menahan diri buat nggak jadi anak yang menyusahkan. Tapi saat dia ingin sesuatu, dan butuh hanya ijin saja, kenapa nggak dikasih? Padahal dia cuma butuh ijin saja. Bukan minta uang, nggak minta dibelikan ini itu dan sesuatu sebangsanya, April bilang. Cuma Jun nggak tau. Ini April sebenarnya minta apa? Sampai - sampai dia sedih luar biasa pas nggak dikasih ijin sama Mama Papa?
Dia berpapasan sama Mei yang sedang mencuci piring di ruang makan yang jadi satu dengan dapur.
“Mei, laper. Ambilin makan.” Pinta Jun sambil duduk di salah satu kursi di meja makan.
“Tangan sama kaki lo kenapa? Makanan udah di depan lo juga, masih nyuruh yang jauhan ngambilin. Heran gue.” Mei menggerutu.
“Piring Mei…. piringnya manaaa. Gelaaas. Sendok sama garpu jugaaa.”
Mei merotasikan matanya. Berdoa meminta kesabaran lebih. Dan mulai bertanya - tanya apa cowok kayak gini harus jadi adik iparnya? Kok kasihan April, ya. Tapi diambilkannya juga sebuah piring, gelas dan peralatan makan lainnya yang dibutuhkan Jun.
“Lo baru keluar dari kamar April?” Mei bertanya pelan, duduk di depan Jun. Acara cuci piringnya sudah selesai. Nggak banyak karena tadi sudah sempat dicicil sama Bunda sebelum diambil alih oleh Mei setelah dia bebersih. Dia juga sudah berganti baju dengan sesuatu yang lebih longgar dan nyaman.
“He eh. Dia kenapa, deh? Mood nya kacau bener akhir - akhir ini.” Jun menyendok nasi dan beberapa lauk ke piringnya sebelum mulai makan. Dia laper. Tahu, kan. Dia habis mengeluarkan banyak tenaga malam ini.
“Gue juga heran. Tadi masih nangis?”
“Masih. Ini tadi udah diem sih, tapi masih sengguk - sengguk. Nggak pernah gue lihat April begitu. Dia bilang dia nggak diijinin buat lakuin sesuatu. Apaan, sih?”
Rahasia lah! Gara - gara lo juga, Dodol! Arpir jadi begini, Mei membatin sebal. Tapi raut muka yang ditampilkannya di depan Jun masih biasa saja.
“Iya, gue jadi kepikiran. Mana pake bilang seandainya Mama nggak pertahanin dia dulu. Apa - apaan, coba. Kaya Mama emang dari awal ada niat buat gugurin dia aja.”
Pyar!!