Malam itu, berakhir dengan Jun dan Mei yang nggak bisa tidur nyenyak. Berbanding terbalik dengan April yang langsung pulas tertidur di kamarnya. Nggak peduli lagi kalau di teras dan di tempat lain juga di rumahnya masih ada basis para orang tua sedang ngobrol. Mama datang dan terdengar kaget sampai memecahkan cangkir kopi yang sedang dibawanya. Menuntut Mei dan Jun memberi tahunya dari mana mereka mendengar tentang April yang berharap Mama nggak mempertahankan dia dulu di dalam kandungan.
Mama akhirnya mengajak mereka ke ruang tamu setelah Jun selesai makan. Dan entah bagaimana malah menceritakan tentang asal usul April. Cerita yang membuat Mei dan Jun melotot tak percaya.
Tentang Mama yang awalnya tak berniat punya anak lagi setelah Mei karena saat itu ekonomi mereka benar - benar nggak bagus. Rumah ini belum lunas. Papa yang saat itu hanya bekerja serabutan, dan berbagai biaya dan cicilan lain yang harus mereka tanggung. Dengan Mei saja, keadaan mereka sudah amat susah. Apalagi ditambah dengan satu orang anak lagi. Mama juga mengakui dengan nggak enak, kalau beliau beliau merasa takut kalau anak keduanya nanti memiliki sifat sama persis seperti Mei, membuat Mei salting cemberut tapi nggak bisa membela diri.
“Tapi Mei kan udah nggak begitu, Ma.” Adalah satu - satunya pembelaan yang bisa dikatakan Mei tadi di depan Mama. Mama hanya tersenyum mengangguk sambil menepuk pelan lututnya. Tapi berbeda dengan Jun yang kesal hanya dengan mendengar cerita itu. Cowok itu langsung yang nyolot nggak terima.
“Udah telat! Dasar, lo.”
Jadi karena alasan itu, Mama panik saat tahu dirinya hamil, dan bermaksud untuk menggugurkan April. Tapi terlambat. Mama terlambat mengetahui kalau dirinya hamil April, sehingga kandungannya sudah terlanjur solid untuk dihilangkan. Dengan agak terpaksa, akhirnya mereka mempertahankan April.
Apalagi saat itu Bunda Jun bilang mau mengadopsi April jika Mama belum juga berubah pikiran dan masih tetap tak menginginkan April. Setelah melahirkan Jun, karena suatu keadaan, membuat Bunda harus menjalani operasi pengangkatan Rahim. Itulah sebabnya Jun sampai sekarang tetap jadi anak tunggal.
“Oh, masuk akal. Kenapa dia masih sendirian. Padahal Ayah seneng banget sama anak - anak. Mei kira karena Ayah seneng banget main ke perbatasan sampai lupa kalau di rumah ada Bunda.” Mei menyeletukasal, membuat Mama menjewer sebelah telinganya dan Jun memeletkan lidah padanya. Suka sembarangan memang Mei ini.
Tapi Mei punya pendapatnya sendiri. Jun jadi penjahat k*lamin begini kan pasti ada yang nurunin. Masa iya, sih, itu bakat sejak lahir? Pasti ada yang namanya bakat turunan, kan? Nggak mungkin lah malaikat tiba - tiba turun dan meniupkan bakat ajaib yang bisa disalah gunakan oleh Jun begini.
“Tapi Mama nggak pernah cerita ini sama siapa - siapa. Dari mana April tahu?” Mama mengembalikan fokus mereka pada pembahasan awal.
“Kalau April beneran tahu niat awal Mama seperti itu, nggak heran April jadi begini. Pasti dia sedih banget. Ngiranya dia nggak dianggap di keluarga ini.” Jun marah. Marah banget. Kalimatnya keluar tanpa filter. Nggak peduli kalau itu akan melukai perasaan Mama. Tapi dia masih bisa menguasai diri untuk nggak teriak - teriak dan menghantam sesuatu atau seseorang dengan tinjunya. Masa mau nonjok Mama? Yang bener aja. “Jadi orang tua tuh, nggak gampang ya. Harus bisa bersikap bijaksana biar nggak nyesel nanti - nanti.”
***
Keesokan harinya, Jun sudah bersemangat. Dia bersiap lebih pagi dari biasanya karena dia mau nyamperin April. Berangkat kerja bareng April. Syukur - syukur bisa ngobrol lagi, karena banyak banget yang ingin Jun sampaikan untuk April. Alasan, penjelasan, pengharapan. Banyak banget! Terlambat sih, tapi mumpung belum lama.
Tapi dia kaget setengah mati saat Mei bilang April sudah berangkat dari tadi.
“Ini jam tujuh, Mei.” Jun menegaskan, mengangkat tangan kirinya dan mengarahkan pergelangan tangannya yang dihias jam kulit hitam elegan hadiah dari April Beberapa tahun yang lalu. Bukan jam tangan mahal. Mungkin harganya juga cuma puluhan sampai ratusan ribu. Tapi barang itu masuk dalam kategori barang mewah kepunyaan Jun.
“Gue juga tau ini jam tujuh. Dan hari sabtu. Kalau nggak, nggak mungkin lah gue bangun jam segini. Ih, ini orang.” Mei memang seperti yang dikatakannya. Baru bangun. Masih pakai piyama tidur dan rambut singa masai.
Mei kadang masuk kalau sabtu, kalau dibutuhkan sama bosnya. Tapi officialnya, dia kerja senin sampai jum’at saja. Sabtu seringnya Mei keluar rumah, ke apartemen Didit, nyalon, belanja ini itu, jarang di rumah.
“Emang kantor udah buka jam segini…?”
“Lo nggak percaya sama gue?! Cek sono kamarnya sendiri!” Mei lama - lama gusar.
Jun juga, tapi lebih ke gusar karena putus asa. April… apa menghindari dia lagi?
“Eh, apaan. Gue mau mandi, kok malah diseret - seret.” Mei menepuk - nepuk lengan Jun karena mendadak menariknya untuk duduk di kursi teras. Kursi yang amat jarang diduduki. Karena yang biasa ngobrol di situ Ayah dan Papa. Tapi kedua orang tersebut amat jarang berada di rumah.
“Gue penasaran. Emang April minta apaan sih, sampe pas nggak diijinin jadi kayak gitu?”
Mei memutar bola matanya jengah. Jun sedang dalam mode ibu - ibu kompleks haus gossip. “Urusannya sama lo apa sih, Bang?”
“Siapa tau ini ada hubunganya sama gue?”
“Ih! Nggak ada! Nggak usah GR.”
“Mei, hish! Spill lah. Gue kepo.” Jun setengah memaksa. Entah kenapa perasannya nggak terlalu enak soal ini.
“Nggak. Kalau April nggak cerita sendiri sama lo, maka gue juga nggak berhak kasih tau lo.”
Mei kok sekarang jadi nyebelin, sih. “Dulu lo kasih tau gue tentang perasaan April ke gue.”
Iya, dan sekarang Mei menyesal luar biasa gara - gara itu. Bagaimana bisa, udah dikasih tau tentang perasaan orang yang ditaksirnya selama beberapa waktu, tapi nggak ada make a move. Kesel sendiri. Mana kalau keluar - keluar Jun selalu mengenalkan April sebagai ‘adiknya’ yang selalu saja sukses bikin April seketika jadi murung dan badmood.
“Bodo ih, sana. Gue mau mandi. Mau pergi kencan sama Didit.”
Jun mencibir. “Kencan apa mau en… hmmmp!!” Mei melotot kesal luar biasa. Memang ya, orang bernama lengkap Junaidi Abraham Salim ini, jangan sampai dikasih hati. Nggak ada akhlak sumpah!
“Gue doain keinginan April terkabul diijin sama Papa Mama biar lo sengsara!”
“Eh bushet! Emang apa keinginan April?” Jun kembali ke mode keponya.
“Nikah sama cowoknya yang lebih uwaw dari lo!” Sahut Mei asal. Dia bahkan nggak berpikir akibatnya nanti bakal gimana. Misinya adalah membuat Jun down dan menyadari kesalahannya kemudian man-up.
“Emang April punya cowok?!”
“Kenapa harus nggak punya? April kurangnya di mana coba?”
ps: hola hola~
Aku double upnya sekarang nih, mumpung lagi rajin.
Tapi besok jangan ditungguin ya, habiskan waktu kalian dengan yang tersayang dulu, mumpung week end dan belum mulai musim hujan, masih bisa main - main.
Aku juga samaa mau main - main dulu, mungkin malam baru up. Nggak papa ya~~~
Enjoy sayang - sayangnya Vee~