April yang sedang memperhatikan Bu Sabrina dan Jun yang masih mengobrol dengan jajaran direksi lain langsung menoleh cepat kepada Septi.
“Apa lo bilang?!”
Septi yang peka kalau ada yang kurang beres menunjuk ampul yang di pegang April di bawah meja. Posisi mereka yang bersebelahan memudahkan mereka untuk berdiskusi tanpa ada orang lain yang tau.
“Ini punya siapa?”
April mangap - mangap, ingin menjawab, tapi perhatiannya teralih oleh MC yang mulai menyapa mereka untuk memulai acara dan Jun serta jajaran direksi yang lain, dengan Bu Sabrina yang menggandeng mesra lengan kiri Jun beranjak dari sana untuk menuju meja yang sudah disediakan di deretan paling depan. Perasaannya nggak enak!
“Gue… gue tadi nemu ini di wastafel toilet.” Jawabnya gugup, berbarengan dengan Novi dan Janu yang kembali ke meja mereka.
April nggak ambil pusing dengan posisi Janu dan Novi yang tertukar. Awalnya Septi di sebelah kirinya, Janu di sebelah kanannya, dan Novi di sebelah kanan Janu. Kini, posisi Novi dan Janu berganti.
“Nov, lo nggak papa? Muka lo merah.” Tanyanya pelan pada gadis di sebelahnya. Sejenak, lupa sama Septi dan ampul kosong di tangannya.
Septi terlihat flustered. Wajahnya merona, dan jika diperhatikan dengan saksama, dia seperti sedang terengah - engah. Posisi duduknya juga seperti gugup dan nggak nyaman. Sedangkan Janu, Janu terlihat tak biasa dengan wajah tegang dan seperti waspada begitu.
Mereka berdua kenapa?
Matanya menangkap Jun yang naik ke panggung untuk menyampaikan kata sambutan dari tim redaksi, kemudian April ingat tadi sedang membahas apa bersama Septi, jadi dia beralih pada temannya yang ada di sebelah kirinya itu.
“Lo yakin ini obat perangsang?!” bisiknya.
“Gue pernah muda, gue pernah iseng dan diisengin orang balik. Ini yang gue beli buat kado nikahan sahabat - sahabat gue. Gue tau banget ini apaan, Pril.”
April tercengang. Menoleh kembali pada Jun di atas panggung, kemudian pada bu Sabrina yang duduk tenang dengan wajah sumringah di samping kursi yang tadi diduduki Jun. Bu Sabrina… kasih Jun… buat apa?! Apa sekarang dia senekat itu?!
“Dan ini…. Buset!” Kesiap kaget Septi di sampingnya menarik lagi perhatian April padanya.
“Apa?”
“Obat beginian ada timingnya, Pril.” Jawab Septi pelan. “Ada dosisnya juga. Dan lo pegang itu dosisnya tinggi banget. Gue belom pernah beli yang setinggi itu.”
“Maksud lo timing?”
“Ada obat yang reaksinya beberapa jam setelah minum, ada yang cuma sejam, tiga puluh menit.”
Astaga!
“Ini berapa?”
“Gue nggak tau. Itu dosisnya dua kali lipat dari yang biasa gue beli buat gue kasih ke temen - temen gue. Dan kata temen gue…. It last long. Sekitar lima sampe enam jam.” Septi membisikkan itu di telinga April, membuat wajahnya memucat.
“Kalian ngobrolin apa, sih, gue nggak diajak?” Novi menjawil pundak April.
“Oh eh… ini, Septi bilang dia kuatir sama anaknya yang lagi sakit. Dia lagi curhat hehehe.”
Wah, kalau ada lomba akting terbaik malam ini pasti April bakal pulang bawa piala. Atau malam ini dia kerasukan Mei yang jago akting?
April terkaget saat tepuk tangan meriah menyambut jun turun dari panggung. Dia nggak dengerin sama sekali barusan itu Jun ngomong apa di depan. Dia menggenggam erat ampul di telapat tangannya yang kini berkeringat. Perutnya menegang mulas. Perasannya nggak tenang sama sekali.
Jun datang, tapi sama sekali nggak menyapanya, itu sudah bikin dia nggak karuan. Lalu lihat Bu Sabrina yang memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang dikasih ke Jun, dan tau kalau itu adalah obat perangsa*g, semakin membuat hatinya tak tenang. Dia mengutuki dirinya sendiri karena nggak lihat tadi Jun sempat minum koktail pemberian Bu Sabrina atau nggak.
Dia melihat Jun yang sudah duduk kembali di kursinya mengusap pelipisnya dan mencondongkan tubuhnya ke Bu Sabrina.
“Nggak, nggak mungkin…” Bisiknya panik.
“Hah? Lo ngomong apa?” Novi menoleh, memutus perhatiannya dari pimpinan direksi perusahaan yang sekarang menyampaikan kata sambutan.
“Hah? Nggak, ngga. Nggak ada apa - apa.”
Dia pura - pura menghadap ke depan. Tapi sebenarnya mengarah pada Bu Sabrina dan Jun. Mereka berdua berdiri dari kursinya, Bu Sabrina sedikit memapah Jun keluar dari hall.
“Pak Jun kenapa, tuh, Pril?”
April hanya menggeleng. Jantungnya berdentam kencang sekali sampai - sampai dia sudah nggak bisa lagi mikirin excuse apapun. Dia sendiri khawatir.
Dia tau Jun sudah sering melakukan hubungan badan dengan perempuan manapun. Tapi itu terjadi sebelum dia memiliki hubungan apapun dengan April selain sebagai tetangga dan sahabat!
April meringis dalam hati, memangnya sekarang dia siapanya, Jun? Well, paling tidak dia merasa, walaupun dia nggak ada bedanya dengan para teman kencan Jun yang banyaknya kalau dikumpulin bisa jadi warga satu kecamatan itu, dia pangkatnya lebih tinggi karena selama dengannya Jun bisa sampai kuat puasa berbulan - bulan. Selain itu, karena cara Bu Sabrina yang main ancam, dia nggak suka! Dia nggak rela wanita itu mendapatkan Jun dengan cara begini.
Kalau mau Jun, sportif, dong! April bukan yang yakin banget pasti menang, tapi dengan berjuang sportif, mereka punya kesempatan yang sama. Buka curang begini. Iya kalau Jun inget, kalau nggak inget apapun besok paginya? Kan kasihan. Belum lagi kalau Bu Sabrina berencana yang lebih macam - macam lagi seperti memvideokan kegiatan mereka. Apapun kegiatan mereka.
Seringai samar yang Bu Sabrina coba sembunyikan tertangkap oleh mata April dan membuatnya bergerak cepat sebelum dia tau harus melakukan apa, dia sudah berdiri, membuat Novi, Septi dan Janu memandangnya heran.
“Bentar, ya. Gue kebelet. Kayaknya gue salah makan tadi siang hehehe.”
***
April berjalan mengendap - endap mengikuti mereka berdua. Hall terletak di lantai paling bawah. Dan mereka naik ke lobby menuju reception.
“Jun mau dibawa check in?!”
Tebakannya benar! Mereka beneran mau check in. April yakin banget setelah Bu Sabrina menerima kunci kamar berupa key card dari receptionist hotel.
“Nggak boleh, ini nggak boleh kejadian. Astaga gue harus gimana?!” Dia berbicara sendiri dengan panik.
Matanya melihat mereka yang mendekat ke arah lift untuk naik menuju lantai kamar mereka. Wajahnya gugup, bahkan air matanya sudah menggenang karena marah dan bingung. Tangannya meremasi clutch hitam yang dibawanya. Ampul kosong itu masih di tangannya.
“Mikir, April, mikir…. Hiks. gue harus gimana?!”
April tau, mendekati Jun yang sedang berada di bawah pengaruh obat begitu, bukan hal bijaksana. Tapi kalau bukan dia yang mendekat…. Masa Bu Sabrina?!
“Nggak mau! Jun nggak boleh sama dia!” Geramnya. Bu Sabrina, sama seperti semua cewek lain yang mencoba mendekati Jun, boleh memiliki kesempatan membuat Jun terkesan. April nggak keberatan. Tapi kalau sampai memanfaatkan cara kotor begini… Nggak! April nggak terima!
Sebuah ide terbersit di kepala April. Bu Sabrina dan Jun masih berada di depan lift, menunggu kotak besi pengangkut itu turun. Jun bersandar di bahu Bu Sabrina yang malam ini memakai gaun dengan potongan da*a seperti kemben nyaris melorot. Tangannya melingkari pinggang Jun dengan posesif.
April menarik nafas panjang dan bergegas melangkah ke sana. Mei, kalo lo bener - bener lagi ngerasukin gue dengan jiwa akting lo, bantu gue lagi sekali ini, doanya. Aneh memang April, bukannya berdoa pada Tuhan, malah berdoa pada Mei. Sesat.
Tapi dia sudah memutuskan. Tekad tergambar di wajahnya dan langkahnya yang mantap. Dia memanggil tepat saat pintu lift terbuka di depan mereka.
“Kak Sabrina, Pak Jun hehehe.”
Mereka berdua menoleh, menengok. Jun mengernyitkan keningnya, berusaha melihat April dengan lebih fokus, sedangkan di sebelahnya, Bu Sabrina nyaris menelannya hidup - hidup.
“Maaf, Pak Jun, saya di suruh ke sini buat manggil Pak Jun. Pak Ano dan ketua direksi meminta bapak menghadap.” kata April cengengesan. Seperti tingkahnya biasanya saat di kantor.
“Kamu nggak liat Mas Juned lagi nggak enak badan?!” Sembur Bu Sabrina.
April membuat wajahnya kaget, lalu mengiba dengan bingung. “Aduh, maaf, Pak. Saya nggak tau. E.. gimana ya ini. Tadi sih, bilangnya, Pak Jun, kalau bisa sama Kak Sabrina juga gitu di suruh menghadap.”
Jari telunjuk dan jari tengah tangannya yang bebas tak memegang clucth saling terkait. Meminta keajaiban agar kebohongannya terdengar serealistis mungkin, dan Sabrina akan menyerah.
“Saya kan lagi anter mau anter Mas Juned istirahat! Kamu nggak liat apa?”
Coba kalau yang nyolot begitu orang lain, bukan Bu Sabrina, pasti April sudah menjambaknya kesal. Sayangnya kalau sama Bu Sabrina dia nggak berani.
“Waduh gimana ya…. Kelihatannya penting sih, Kak. Saya juga nggak tau harus bilang apa gitu kalau disuruh panggilin aja nggak bisa.” Lagi, April meringis. Jantungnya berdebar kencang dan kakinya sudah gemetaran dari tadi, takut ketahuan. “Atau gini aja, saya bantuin antar Pak Jun buat istirahat, terus Kakak coba menghadap ke pak Ano dan presdir?”
PS: Aku ngetiknya ikut deg - degan berasa jadi April huwaaaaa
Sabrina nurut nggak ya, pengen tak tarik bawa pergi, cemplungin ke sumur aja rasanya, hih~~~