"Betul, kamar saja, tanpa sarapan. Payment menggunakan kartu kredit atas nama Nawang Retno Sabrina. Nomor kartunya empat tujuh delapan….. iya, silakan diulangi. Betul. CIF code nya xyz. Betul, untuk malam ini. Terimakasih banyak."
Dia meletakkan telponnya dengan senyum kemenangan terkembang lebar di bibirnya. Matanya tertuju pada dua ampul kecil yang tadi pagi baru saja datang.
"Akhirnya, yang ditunggu - tunggu, sebentar lagi bakal kembali jadi milikku." Dia terkekeh kecil.
Sebagian besar ruangan di kantor ini sedang kosong. Jam istirahat. Hanya ada beberapa pegawai saja yang masih under supervisinya masih di tempatnya. Dan mereka duduk lumayan jauh darinya sehingga agak nggak mungkin bagi mereka untuk mendengar percakapannya barusan di telepon.
Dia melirik ruangan di sebelahnya dengan penuh makna. Dia belum melihat targetnya selama dua minggu terakhir ini. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini. Kangen yang seluas benua amerik tentunya. Tapi dia sudah memastikan dengan dalih tugas kantor, bahwa orang yang paling ingin dia lihat itu akan hadir malam ini.
"Ra, saya break dulu. Kasih tau tim yang lain kalau urgent langsung kontak ke hape, ya."
"Iya, baik Kak."
***
April memandang pantulan dirinya di kaca meja yang ada di atas meja belajar lesehan di kamarnya. Di matanya, terlihat lumayan, sih, meskipun usahanya harus luar biasa mengingat dia nggak pinter make up sama sekali.
Mau minta Mei dandanin, tapi waktunya nggak cukup. Me paling cepat sampai rumah itu jam lima. Sedangkan dia jam lima sudah harus berangkat dari rumah kalau nggak mau telat.
Pak Ano tadi mengirim email prompt ini ke semua karyawan bahwa mereka diharapkan untuk datang tepat waktu, dan semua karyawan diwajibkan menghadiri pembukaan acara. Berasa kaya anak SMA harus ikut upacara 17 an aja.
Masih untung sih, tahun ini nggak ada konsep yang bikin ribet kayak dresscode atau pesta bertema. Septi dan Novi yang sudah lebih dulu bekerja di sana dan sudah beberapa kali menghadiri acara anniversary kantor ini. Mereka bilang, tahun - tahun kemaren, konsep yang diusung panitia malah lebih ajaib lagi. Mereka pernah harus memakai topeng, ala film panas kontroversial tapi booming beberapa tahun lalu, terus pernah juga pakai konsep disney. Dan banyak lagi.
Yang niat sampai sewa kostum, dandan ke salon dan sebagainya ya ada. Toh mereka dikasih kompensasi waktu pulang cepat dari kantor untuk hari itu kan, untuk mempersiapkan diri. Tapi bagi tim hore yang nggak terlalu niat dan agak tipis pembiayaannya seperti Septi dan Novi, mereka malah ujung - ujungnya jadi nggak menikmati pestanya.
Tahun ini, temanya hanya formal cocktail. Jadi pake night gown saja cukup. April sudah nabung buat beli, kok. Makanya dia jadi bokek banget karena gajinya dia habiskan untuk siapin kado pernikahan Mei dan beli ini.
Gaun yang dipakainya adalah gaun merah model slim gown tanpa lengan dengan strap di satu sisi, yang memamerkan bahu dan tulang selangkanya. Model rok bawahnya mermaid dengan belahan hingga atas lututnya. Model badannya slim fit, sehingga membentuk tubuh April dengan apik mulai dari d**a hingga pertengahan pahanya. Awalnya dia nggak mau beli ini. Nggak pede, terlalu terbuka dan sebagainya. Tapi, tiba - tiba dia teringat Jun dan tau - tau dia sudah di luar department store dengan paper bag berisi gaun ini.
Rambutnya ditata simpel saja, hanya dicepol ke atas menyisakan beberapa sulur rambut yang menjuntai membingkai wajahnya. Riasannya tipis, yang berbeda hanya lipstik merah menyala yang sengaja dia aplikasikan agar senada dengan gaunnya. Sepatunya juga strap shoes ber hak rendah berwarna merah. Dia sudah tinggi, jadi dia nggak pede kalau harus pakai heels yang kelewat tinggi. Berasanya kayak pakai egrang.
“Yah, abis.” Dia merengut menerawang pada botol beling di tangannya. Parfumnya abis. Memang awalnya cuma tinggal sedikit, sih, dan dia lupa terus mau beli. Harusnya kemarin dia ikutan aja pas Septi sama Novi beli parfum online. Tapi dianya ragu - ragu karena takut nggak sesuai sama wanginya. “Kak Me…!”
April menghentikan dirinya yang ingin memanggil Mei saat matanya menangkap botol parfum berbentuk hati berwarna merah. Dia lupa kalau masih punya parfum itu.
Sejak Jun bilang jangan pakai parfum itu, kecuali saat bersama dengannya, April nggak pernah pakai lagi. Sudah berbulan - bulan. Masih bisa dipakai, kah?
Tangannya terulur mengambil botol yang terselip di keranjang make up nya. Keranjang yang berfungsi sebagai tempat make up portable karena dia nggak punya meja rias seperti Mei.
“Isinya masih banyak.” Gumamnya menerawang, lalu menurunkannya lagi untuk membuka tutupnya, dan mendekatkannya ke hidungnya. Baunya enak gini loh. Lembut, manis, tapi kenapa Jun kayak nggak suka kalau dia pakai parfum ini, sih?!
Memikirkan Jun dia jadi bete lagi. Setelah sekali - kalinya selama cowok itu liburan ke Surabaya cowok itu mengangkat telponnya, seminggu setelahnya dia diabaikan lagi, dong! Kesel? Nggak, April bahagia, sampai rasanya pengen gelitikin Jun pake sikat kawat. Dia nggak tau Jun bahkan akan datang atau nggak malam ini.
Kalau dari jadwalnya sih, aturan nanti jam enam pesawatnya mendarat. Jadi Jun akan sedikit telat, tapi karena nggak dapat mengonfirmasi hal ini sendiri, April jadi nggak yakin, dan itu membuatnya dongkol.
“Bodo, ah!”
Dengan itu, dia menyemprotkan parfumnya agak sedikit bar - bar ke tubuhnya. Belakang leher, di belahan da*anya, dan dipergelangan tangannya. Dia mengembalikan parfumnya ke keranjang make up dengan wajah puas. She’s now ready to party!!!
***
Pesta belum mulai, tapi sebagian besar karyawan, staff, jajaran direksi serta tamu undangan sudah banyak yang berdatangan. April duduk di meja bersama Janu, Septi, Novi dan dua orang lainnya dari devisi marketing yang dia cuma tau wajahnya saja.
Dia menatap Janu dan Novi yang tadi bergandengan menjauh.
“Lo ngerasa nggak sih, kalau Novi sama Janu sekarang jadi jauh lebih deket?” Bisiknya pada Septi, menatap dengan pandangan penuh semangat pada pasangan tersebut.
Dia dan Septi memang sedang berusaha ‘menjodohkan’ Janu dan Novi. Keduanya terlihat cocok. Novi yang penuh pengertian dan Janu yang peka, tapi usil bukan main. Mereka seperti magnet yang saling tarik menarik. Meskipun setiap kali ditanya mereka bilang kalau mereka cuma teman, tapi kadang Septi dan April kaget karena mereka selalu punya topik yang hanya mereka berdua yang tau.
“Mungkin akhirnya rencana berjalan lancar hahaha,” timpal Septi. “Duh, ini acara kok nggak mulai - mulai, sih. Anak gue lagi agak rewel pas gue tinggal tadi. Jadi kepikiran.”
April meringis. Walaupun nggak tau pasti bagaimana perasaan Septi saat ini, dia bisa bersimpati. Pasti rasanya nggak enak luar biasa harus meninggalkan buah hati yang sedang butuh kita, untuk datang di acara yang bisa dikatakan sebagai ajang bersenang - senang ini.
“Eh, gue ke toilet dulu, ya.”
Septi mengangguk. April langsung beranjak ke toilet di luar hall. Agak buru - buru menyelesaikan urusannya karena kakak panitia yang dia temui di pintu hall tadi bilang kalau acara akan segera dimulai karena Pak Jun sudah datang.
Hatinya melonjak gembira! Akhirnya Jun datang!
Dai juga melihat bahu bidang Jun dari belakang yang terbalut suit formal berwarna hitam sedang bercakap - cakap dengan beberapa jajaran direksi. Dia tersenyum senang. Akhirnya setelah dua minggu, dia bisa lihat Junnya lagi.
“Astaga, pikiran gue hahaha.”
April berbalik, untuk kembali ke ke kursinya, tapi langsung terhenti dan buru - buru bersembunyi di balik pillar saat melihat Bu Sabrina menuangkan sesuatu di gelas cocktail yang dia punya dengan senyum aneh. Aneh bagi April karena Bu Sabrina selalu jaim, nyaris nggak pernah dia melihatnya tersenyum meringis begitu.
Dia menuang sesuatu di dalam ampul hingga habis, membuang bungkus ampulnya di tempat sampah yang disediakan di bawah meja dan berjalan mantap menuju…. Jun?!
Dia bahkan memberikan cocktail tersebut pada Jun?!
Apa yang barusan bu Sabrina masukin di sana, sebenarnya? Buru - buru dia mengambil tempat sampahnya dan untungnya isinya nggak banyak. Ampul tersebut adalah satu - satunya sampah yang berada di sana. Dia mengambil ampulnya dan berjalan kembali ke tempat Septi.
“Lama? Antree?”
Dia menggeleng. Menunjukkan ampul kosong tersebut pada Septi yang langsung terbelalak kaget.
“Lo mau godain siapa, Pril, sampe butuh obat perangsa*g pria begini?”
PS:
Ujan udah mulai turun, mungkin akhirnya iklim balik ya gais, gara - gara PPKM. Bunga - bunga udah mulai mekar, dan.... alergiku kambuh nyahahahahahaha getellllll hiks