05

4682 Kata
"Jangan terlalu mabuk." Ucap Yongtae memperingati Han Rae. Wajah Han Rae sudah memerah, karena terlalu banyak meneguk wine. Yongtae sendiri hanya minum 3 gelas, jadi kesadarannya masih cukup baik. Padahal kadar toleransi alkohol Yongtae rendah, tapi kadar alkohol wine juga rendah, jadi ia masih baik-baik saja. "Hei Yongtae,” Han Rae tiba-tiba memanggil Yongtae, membuat Yongtae menatapnya. Han Rae sepertinya sudah benar-benar mabuk, terlihat dari matanya yang menyayu. “Kau mau tahu? Terkadang aku masih suka penasaran bagaimana sosok orang tuaku, siapa mereka, dari kalangan keluarga kaya atau miskin. Kalau kaya, hik, aku bisa memeras mereka." Oceh Han Rae, sambil tertawa kecil di akhir. Han Rae kemudian meletakan kepalanya pada lengan kanannya yang terlipat di atas meja. "Kau tahu? Aku sebenarnya menyukai Daniel, dia juga sering bilang begitu, tapi aku tidak percaya karena dia sering mengencani wanita lain." Kata Han Rae. "Mungkin, dia mengencani wanita lain untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, bukan karena dia benar-benar mencintai wanita itu." Respon Yongtae. Entah kenapa juga Yongtae merespon ocehan orang mabuk, tapi Yongtae merasa Han Rae tetap dapat mencerna omongannya meskipun dalam ke adaan mabuk, meskipun mungkin besok Han Rae akan lupa dengan obrolan mereka, yah kalau lupa juga tidak masalah sih. Yongtae membalas perkataan Han Rae juga asal. “Jujur, aku sebenarnya tidak suka kontak fisik berlebihan dengan pria.” Tutur Han Rae. “Bahkan meskipun aku menikah dengan Daniel, aku rasa aku tidak akan mau disentuh olehnya.” “Kenapa?” tanya Yongtae. “Aku takut, aku tidak suka. Itu mengingatkan ku saat dulu aku pernah hampir diperkosa. Padahal aku sudah banyak bergaul dengan pria, berharap rasa takut ku bisa hilang. Yah, cukup membantu untuk berkurang, tapi tidak hilang. Dan aku rasa tidak akan pernah bisa hilang. Meskipun aku bergaul dengan mereka, aku memang tidak pernah skinship dengan mereka sih, paling hanya jabat tangan. Pelukan saja tidak pernah.” Celoteh Han Rae sembari mengucek matanya. “Ah ya, hanya dengan Daniel aku bisa lebih dari jabat tangan. Tapi sebenarnya aku tidak nyaman. Daniel tidak tahu, tidak ada yang tahu kejadian itu. Itu memalukan. Aku selalu takut kalau orang lain tahu kejadian itu, mereka akan jijik pada ku. Aku berusaha menutupinya dengan bersikap seperti perempuan murahan, ahhh, cara ku memang aneh sih. Hah, aku memang aneh sih.” “Kalau ada yang sampai jijik pada mu karena tahu dulu kau hampir diperkosa, tandanya pikiran dia kolot dan sempit. Lagi pula kau bukan bersikap murahan menurut ku, hanya terlalu cuek dan bar-bar.” Kata Yongtae. “Yah, entahlah. Mungkin itu memang salah ku, tapi aku tidak pernah pakai baju terbuka kok...” “p*******a itu terlalu banyak nonton p***o, makanya otaknya jadi kotor. Mau kau pakai baju setertutup apapun, kalau otaknya sudah kotor yaaa, melihat ada kesempatan pasti beraksi.” Han Rae tidak memberi respon lagi atas perkataan Yongtae. Yongtae beranjak berdiri, kemudian menghampiri Han Rae. Han Rae rupanya sudah tidak sadarkan diri. Yongtae menatap wajah Han Rae sejenak, sebelum menggendong tubuh Han Rae dengan hati-hati. ••• Yongtae terdiam di depan pintu unit apartemen Han Rae, kemudian mendengus. Dia baru sadar tidak tahu pin apartemen Han Rae. Kalau sudah begini mau bagaimana? Terpaksa ia membawa Han Rae ke apartemennya. Ugh, Han Rae berat. Tapi dia harus tahan. Dengan susah payah Yongtae kembali ke lift, untuk ke lantai tempat di mana unit apartemennya berada. Sesampainya di sana, Yongtae bergegas membawa Han Rae ke kamar tamu. Ia membaringkan tubuh Han Rae di kasur, lalu merenggangkan otot-ototnya sejenak yang terasa pegal setelah menggendong Han Rae cukup lama. Setelah ototnya terasa lebih baik, Yongtae melepaskan sepatu Han Rae, dan menarik selimut sampai sebatas d**a Han Rae. Yongtae kemudian mengambil kursi yang ada di depan meja, memindahkannya ke pinggir ranjang, untuk ia tempat. Entah kenapa Yongtae ingin melihat wajah Han Rae sekali lagi, sebelum ia pergi ke kamarnya sendiri dan tidur. Han Rae yang tampak cuek dan kasar, ternyata punya rasa penasaran dengan keluarganya. Meskipun kalimat akhirnya terdengar b***t, Yongtae yakin maksudnya bukan seperti itu. Dia juga punya trauma, dan bagaimana bisa, Daniel yang tampaknya orang paling dekat dengannya, malah tidak tahu akan hal itu. Yah, memang sih, ada beberapa hal yang tidak perlu diketahui orang lain, meskipun itu keluarga atau sahabat sendiri. Tapi itu kan hal penting. Han Rae menyimpan banyak luka, tapi memilih memendamnya sendiri. Yongtae menopang pipinya. Ada suatu hal juga yang baru Yongtae sadari. Yongtae belum lama mengenal Han Rae, tapi entah kenapa dia merasa sudah sangat lama mengenal gadis itu. Yongtae bisa melupakan sejenak pekerjaannya, padahal biasanya barang sedetik pun dia tidak bisa melupakan itu. Merasa nyaman, dan merasa bisa bersikap seperti apapun di depan Han Rae, karena Han Rae yang juga bersikap apa adanya. Meskipun dia tidak jujur dengan luka di batinnya. Yongtae menghela napas. Ia bangkit berdiri, ia menatap Han Rae sekali lagi, sembari berucap selamat malam, sebelum keluar dari kamar tamu yang sedang ditempati Han Rae kini. ••• Han Rae membuka matanya perlahan, saat merasakan sinar matahari yang menerpa wajahnya hingga terasa panas. Han Rae menyesuaikan sejenak penglihatannya dengan cahaya, sebelum akhirnya ia tersadar tidak sedang berada di kamarnya. Karena tirai pintu balkon kamarnya berwarna hitam, sedangkan yang ini putih. Aroma kamar yang sangat harum juga menyeruak indra penciuman Han Rae. Sedangkan kamarnya sendiri tidak memiliki aroma. Dengan malas Han Rae beranjak duduk, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, nuansa kamar ini berwarna putih dan abu-abu, dan tampak sangat bersih serta rapih. "Ini kamar Yongtae ya?" gumam Han Rae mengira-ngira. Han Rae pun turun dari ranjang, dan bergegas keluar dari kamar tersebut. Han Rae seketika bergumam 'wow'. Unit apartemen milik Yongtae tampak jauh lebih mewah dan besar dibanding unit apartemen Han Rae, dan mungkin dibanding unit yang lain juga. Mungkin karena apartemen ini milik Yongtae, jadi unit milik Yongtae lebih spesial. Tak lama penciuman Han Rae menangkap aroma sedap. Han Rae segera melangkahkan kakinya mencari sumber aroma tersebut, dan benar dugaannya, sudah pasti dari arah dapur. Ia melihat seorang pria bersurai coklat, dalam balutan kaos putih dan sweatpants hitam, tengah sibuk berkutat di depan kompor. Dengan langkah hati-hati Han Rae berjalan mendekati Yongtae. Dan tiba-tiba menepuk dengan keras kedua bahu Yongtae, membuat Yongtae berjenggit kaget dan otomatis berteriak. "HEIII!!!" teriak Yongtae sambil memutar ke belakang tubuhnya dan hendak memukul kepala Han Rae dengan capitan yang ada di tangannya, tapi Han Rae segera menghindar. "Kaget yaaa?" ledek Han Rae yang hanya dibalas tatapan datar oleh Yongtae. "Jangan seperti bocah." Sungut Yongtae ketus sembari melanjutkan acara memasaknya. "Enak kalau punya suami sepertimu, aku tidak perlu memasak." Kata Han Rae sembari tersenyum dan menempatkan dirinya di samping Yongtae. "Aku tidak akan masak untukmu." Balas Yongtae. "Tapi sekarang kau memasak untuk ku kan?” "Hanya untuk kali ini." "Waktu di rumah ku, kau masak untuk ku juga." Yongtae berdecak kesal dan memilih tidak merespon perkataan Han Rae. Han Rae kemudian memilih duduk pada meja pantry sambil memperhatikan Yongtae memasak. Yongtae berdecak melihatnya. “Kan ada kursi, kenapa harus duduk di meja?” dengus Yongtae. “Kalau duduk di sini, ketampanan mu lebih terlihat jelas.” Balas Han Rae. Yongtae berdecih, ia tahu Han Rae tengah menjailinya. Terbukti dari senyuman dan sorot matanya. Yongtae tak lama berjalan ke arah kulkas, meninggalkan kompornya sejenak. Ia mengambil whipping cream secara diam-diam tanpa Han Rae sadar karena posisinya membelakangi. Yongtae mengocok botolnya, sebelum berbalik dan tiba-tiba menyemprotkan whipping cream tersebut pada wajah Han Rae. "HEIII!” teriak Han Rae terkejut, sambil mencoba melindungi wajahnya dari whipping cream yang terus Yongtae semprot ke wajahnya. Sementara Yongtae tertawa lebar dengan puas. "Makanya jangan menggodaku!” seru Yongtae. Han Rae berdecak, ia turun dari meja pantry, lalu mengambil saos coklat untuk pancake yang berada di samping kompor. Dia menyemprotkannya pada wajah Yongtae tanpa Yongtae sadar, karena terlalu asik tertawa. Dan sekarang tawa Yongtae otomatis berhenti. "Hei!" pekik Yongtae. "Rasakan!" balas Han Rae sembari hendak keluar dari dapur, karena sadar Yongtae akan menyerangnya lagi, tapi Yongtae dengan cepat bisa meraih pinggangnya dari belakang dan mengotori wajah Han Rae dengan whipping cream. Han Rae mendorong tubuh Yongtae dengan punggungnya, hingga tangan Yongtae pada pinggang Han Rae terlepas. Ia kemudian membalikan badan, dan mengotori wajah Yongtae lagi dengan saos coklat. Han Rae tertawa lebar, sedangkan Yongtae tertawa kecil sambil mengusapi wajahnya yang penuh saos coklat dengan jari-jarinya. Ini menjengkelkan, tapi entah kenapa Yongtae merasa senang dan lebih rileks. Karena sepanjang hidupnya, ia tidak pernah seperti ini, hidupnya lebih banyak diisi untuk melakukan hal-hal yang serius dan membosankan. "Wajahmu jadi jelek." Ucap Yongtae. "Kau juga." Balas Han Rae. Yongtae tiba-tiba mendorong tubuh Han Rae hingga punggung gadis itu menyentuh dinding. Han Rae hanya diam, sembari memperhatikan Yongtae, yang jaraknya kini berdekatan dengannya. "Pemenang final," ucap Yongtae sambil mengangkat botol whipping cream yang berada di tangannya, dan bersiap mengotori wajah Han Rae dengan whipping cream lagi. Tapi Han Rae sudah lebih dulu menyemprotkan saos coklat pada wajah Yongtae, tapi Yongtae dengan otomatis langsung menutup matanya, sementara Han Rae tertawa puas melihatnya. "Kau tampak eksotis." Komentar Han Rae yang lebih seperti ledekan di sela tawanya. Yongtae membuka matanya, menatap Han Rae yang masih belum berhenti tertawa. Dia tidak menyadari Yongtae sedang mempersempit jarak wajah mereka, dia baru menyadari saat napas Yongtae menerpa wajahnya. Tawanya terhenti, ia kemudian menatap Yongtae tepat di manik matanya. Han Rae menelan ludahnya, tubuhnya seketika menegang dengan ujung jari jemarinya yang mendadak jadi dingin. Saat jarak wajahnya dengan Yongtae hampir terhapus, Han Rae langsung menolehkan kepalanya ke arahnya, hingga ujung hidung serta bibir Yongtae hanya mengenai pipinya. “Apa yang mau kau lakukan?” tanya Han Rae. “Oh, maaf.” Ucap Yongtae sembari menjauh dari Han Rae. “Aku rasa kita harus mandi sekarang.” “Tapi aku tidak bawa baju ganti.” Kata Han Rae. “Tidak mungkin kau ke rumah mu dengan kondisi begini kan?” Han Rae melihat penampilannya yang kotor dengan whipping cream dan saos coklat. “Jadi aku harus bagaimana?” tanya Han Rae setelah menghela napas. “Aku bisa pinjamkan baju.” Balas Yongtae. Suara pintu apartemen Yongtae yang terbuka tak lama terdengar, membuat Han Rae dan Yongtae saling bertatapan. Dan tak lama seorang wanita paruh baya muncul, dia tampak terkejut melihat penampilan Yongtae dan Han Rae. Sementara Yongtae dan Han Rae terkejut dengan kehadirannya. “Astaga! Kalian kenapa?!” seru wanita itu. “Tunggu, ada yang lebih parah dari kondisi kalian. Ibu mencium bau gosong!” Yongtae melebarkan matanya. Astaga, dia lupa kalau tadi sedang masak. ••• Han Rae baru saja selesai mandi, kaos hitam dan celana pendek berwarna putih milik Yongtae membaluti tubuhnya. Tidak terlalu kebesaran, karena ukuran tubuh Yongtae dan Han Rae tidak terlalu jauh berbeda. Yongtae yang terlalu kurus untuk ukuran pria, dan Han Rae yang memiliki tubuh cukup besar untuk ukuran wanita. Han Rae kemudian berjalan ke ruang makan, di sana sudah ada Yongtae yang juga telah mandi, dan Ibunya. Iya, yang datang tadi adalah Ibu Yongtae. Han Rae tersenyum kikuk pada Ibu Yongtae, yang tersenyum lebar padanya. Ia kemudian duduk di kursi yang berada di samping Yongtae. Ibu sedari tadi tidak melepas senyumannya. "Ibu tidak menyangka kalian seromantis itu.” Celetuk Ibu. Salah satu alis Han Rae terangkat. Romantis? Ia melirik Yongtae. Apa yang sudah pria ini ceritakan pada Ibunya? Batin Han Rae. “Duhhh, Ayah dan Ibu dulu mana pernah masak bersama, sampai main begitu. Ibu juga tidak menyangka Yongtae bisa jadi menyenangkan begitu. Kau tahu Han, calon suami mu ini dulu sangat kaku. Waktu kecil belajar terus, dan saat sudah dewasa kerja terus. Ibu kira dia akan jadi pacar yang membosankan.” Celoteh Ibu. "Ya ada saatnya aku berubah kalau di depan pasangan Bu, kalau aku di depan Ibu, memang tetap sambil bekerja?" balas Yongtae. "Ya tidak sih. Tapi Ibu senang kau bahagia begini, rasanya Ibu legaaa sekali. Kau tahukan, kebahagiaan seorang Ibu dan Ayah itu melihat anaknya bahagia? Jadi sekarang Ibu merasa lega kau sudah menemukan pasangan dan bahagia. Cepatlah menikah." Yongtae hanya tersenyum simpul membalas perkataan Ibunya. Jujur, Yongtae jadi merasa bersalah karena ia sudah membohongi kedua orang tuanya. Orang tuanya begitu mencintainya hingga seperti ini, sedangkan ia malah membohongi mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Yongtae benar-benar malas mencari pasangan. Dia sudah merasa bahagia tanpa pasangan. Kalau punya pasangan pun, Yongtae paling tetap akan lebih sering berkutat dengan pekerjaannya. Yongtae melirik Han Rae, untuk melihat bagaimana ekspresinya saat ini. Han Rae tidak memasang ekspresi apapun, tatapan hanya kosong, tapi tertekan dalam waktu bersamaan. Sadar diperhatikan, Han Rae menoleh ke arah lain, sembari mengusapi tengkuknya. ••• Ibu Yongtae datang untuk membawakan sarapan. Karena kebetulan dia sedang ada urusan di sekitar apartemen Yongtae, jadi Ibu Yongtae sekalian mampir. Yah, kebetulan sekali, karena makanan yang Yongtae masak gosong. Setelah Ibu Yongtae pergi, Han Rae menatap Yongtae dengan tatapan serius, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Jadi Yongtae memilih tetap duduk diam di tempat, dan menunggu Han Rae bicara. “Jujur saja, aku merasa... tidak enak karena sudah membohongi orang tua mu. Aku tidak pernah punya orang tua memang, tidak tahu seberarti apa orang tua itu. Tapi mendengar perkataan Ibu mu tadi, sudah membuat ku bisa menyimpulkan, kalau peranan orang tua itu sangat penting. Rasanya meskipun seluruh dunia membenci mu, tetap ada mereka yang dapat menerima mu. Tapi... kau malah mau membohongi mereka?” ujar Han Rae panjang lebar. “Kau tahu aku juga tidak menginginkan ini, tapi mereka sendiri yang selalu menekan ku untuk segera menikah.” Tutur Yongtae sembari menghela napas berat. "Kenapa kau tidak benar-benar mencari pasangan saja sih?” tanya Han Rae. “Memangnya aku tidak pernah bilang? Kalau aku sangat malas untuk mencari pasangan. Aku juga terlalu sibuk. Pekerjaan sudah banyak menyita waktu ku, kalau punya pasangan, hanya akan merepotkan.” Balas Yongtae. “Kalau aku tidak malas, aku tidak akan langsung meminta mu bekerja sama dengan ku malam itu, di mana kita pertama kali bertemu.” “Kau tahu? Kalau aku itu orang lain, kau mungkin sudah dihajar, karena tawaran kerja sama mu benar-benar gila. Tapi karena aku butuh, aku jadi menerimanya. Aku berterimakasih dengan tawaran mu itu, tapi aku tetap lebih berharap kau bisa mencari pasangan, yang bisa menemani mu sampai di hari tua. Orang tua mu tidak akan hidup selamanya, teman-teman mu punya kehidupan sendiri-sendiri, dan pekerjaan mu, tidak akan bisa menemani mu. Meskipun kau merasa tidak keberatan, kau lama-lama bisa gila. Hidup bukan hanya tentang uang.” Celoteh Han Rae. Ia kemudian bangkit berdiri, hendak pulang ke unitnya sendirinya. “Dan satu lagi, apa yang mau kau lakukan di dapur tadi? Kau mau mencium ku?” tanya Han Rae sinis, yang lebih seperti sindiran. Yongtae sendiri hanya diam tidak menjawab. “Aku mau kerja dulu, terimakasih atas makan malamnya semalam, dan membiarkan aku menginap di apartemen mu. Baju mu akan segera aku kembalikan.” Kata Han Rae sekali lagi, sebelum benar-benar pergi dari apartemen Yongtae. Han Rae memegangi dadanya yang berdegub kencang setelah baru saja keluar dari apartemen Yongtae. Dia mengingat kejadian di dapur, dan entah kenapa reaksi tubuhnya jadi begini. Padahal jelas ia ketakutan tadi, tapi sekarang debaran jantungnya bukan mengindikasikan kalau ia sedang ketakutan. Wajahnya bahkan mulai merona secara perlahan, tanpa ia sadar. ••• Yongtae datang telat ke kantor, karena Ibunya yang sempat datang ke rumah tadi, dan banyak hal yang Yongtae pikirkan, hingga membuatnya menunda keberangkatannya ke kantor. Dia tiba di kantor, sudah hampir dekat dengan jam makan siang. Untuk pertama kali Yongtae merasa malas untuk bekerja, jadi dia hanya mengerjakan beberapa pekerjaan yang tidak perlu menguras banyak pikirannya, dan tiba jam makan siang. Yongtae memilih makan di luar. Padahal biasanya kalau ia telat hanya sedikit saja ke kantor, Yongtae tidak akan makan siang, dan memilih menghabiskan jam makan siangnya dengan bekerja. Yongtae tidak makan di restoran tertentu, dia hanya membeli burger dan soda, kemudian memakannya di jalan agar tidak bosan. Cukup berbahaya memang menyetir hanya menggunakan satu tangan sedangkan satu tangan yang lain digunakan untuk memegangi burger. Tapi Yongtae akan meletakan burgernya saat harus berbelok, atau mendapati polisi tidur. Ditengah aktifitas mengunyah, kegiatan Yongtae harus terhenti karena mobilnya tiba-tiba berhenti. Yongtae tersentak kaget, dengan kening mengernyit kebingungan. Ia akhirnya dengan terpaksa meletakan burger yang sisa setengah pada jok di sampingnya, kemudian keluar untuk menge cek kondisi mobilnya. Tapi Yongtae tidak mengerti, dia sama sekali tidak mengerti mesin. Kalau mobilnya sudah mogok-mogok begini, Yongtae akan langsung membeli mobil yang baru, tapi sekarang Yongtae terjebak di tengah jalan. Sedikit beruntung karena tadi Yongtae menyetir mobilnya di pinggir dekat trotoar. Kalau benar-benar di tengah jalan, bisa-bisa dia diklaksoni, atau yang terparah ditabrak. Yongtae mengedarkan pandangannya hendak mencari bantuan, tapi dia malah melihat orang yang tidak diharapkan, baru saja keluar dari minimarket yang berada diseberang jalan. "Daniel!" dengan terpaksa Yongtae memanggil orang yang baru keluar dari minimarket tersebut. Ya, orang itu Kang Daniel, pria bongsor yang entah kenapa jadi musuh Yongtae dari awal bertemu. Daniel tidak mendengar kalau ada yang memanggilnya, dia hanya samar-samar mendengarnya, lalu berpikir itu hanya halusinasi. Yongtae mengerang kesal, ia berteriak sekali lagi dengan suara lebih keras. Dan akhirnya Daniel berhasil terpanggil, dia menolehkan kepalanya ke arah Yongtae, tapi hanya diam menatap Yongtae, sembari menyedot minumannya. "Tolong aku!" teriak Yongtae lagi sambil melambai-lambaikan tangannya. Yongtae kira Daniel akan mengabaikannya, tapi pria itu ternyata akhirnya menyeberangi jalan dan menghampirinya, membuat Yongtae otomatis menghela napas lega dan tanpa sadar berjingkrak kecil. "Apa?" tanya Daniel dengan nada ketus. "Mobil ku mogok, tolong aku, kau kan montir, pasti mengertilah soal mesin." Balas Yongtae sambil memasang ekspresi memelas. "Berlutut dulu padaku, sambil minta maaf karena sudah mencoret-coret wajahku." Kata Daniel. “Ah kau ini, waktu itu aku kan hanya bercanda. Jangan dibawa serius, aku minta maaf deh, aku benar-benar menyesal sudah  melakukan itu.” Daniel berdecih, sembari berkacak pinggang. “Entahlah, aku merasa tidak bisa mempercayai permintaan maaf mu.” Yongtae memajukan bibir bawahnya. “Aku minta maafnya setulus hati loh,” Daniel menatap Yongtae dengan mata menyipit untuk memastikan. “Aku tidak melihat adanya ketulusan hati.” “Huaaaa, Daniel, tolonglah aku. Aku bisa membayar mu berapa pun.” Mohon Yongtae. “Kau tahu, noda pulpen kemarin sulit sekali dibersihkan!” seru Daniel jengkel. “Iya aku tahu, makanya aku minta maaf, sungguh, aku minta maaf. Aku akan membayar mu berapapun, sungguh.” "Oke," ucap Daniel pada akhirnya sembari menyerahkan belanjaannya pada Yongtae, Yongtae menerimanya sambil bersungut di dalam hati. Tapi kemudian tersenyum saat Daniel mulai menge cek mobilnya. “Kau punya perkakas?” tanya Daniel. “Ada di bagasi.” Daniel bergegas ke bagian belakang mobil, untuk mengambil perkakas yang Yongtae maksud. "Kenapa kau bisa ada di sekitar sini?" tanya Yongtae. "Bengkel ku dekat sini." Balas Daniel. Yongtae pun menganggukkan kepalanya. “Berarti Han Rae ada di sekitar sini dong?” “Ya jelas, kan dia ada di bengkel ku.” “Sedang apa dia?” “Tentu saja kerja,” Hening beberapa detik, Daniel fokus mengotak-ngatik mesin, sementara Yongtae sibuk mencari bahan obrolan. “Sejak kapan kau dekat dengan Han Rae?” tanya Yongtae. “Sejak SMA. Kita satu sekolah, dan aku Kakak kelasnya dulu.” Balas Daniel. “Apa kau sangat dekat dengannya? Bagaimana pertemuan pertama kalian?” “Yah, bisa dibilang begitu. Aku pertama kali bertemu dengannya saat dia baru lulus SMP, dengan Ibu ku. Waktu itu dia sedang nangis di pinggir jalan, karena gagal dapat beasiswa masuk SMA. Jadi Ibu ku berbaik hati membiayainya sekolah. Waktu itu juga usaha Ibu ku sedang jaya-jayanya sih.” Cerita Daniel. “Waktu itu Han Rae tinggal di mana?” kembali Yongtae bertanya. “Dia tinggal di mana-mana. Dulu dia bergabung dengan kelompok anak-anak yatim piatu lainnya, yang suka mencuri untuk makan, dan membuat onar. Tapi Han Rae memilih kerja serabutan, dan tetap sekolah.” “Hidupnya seberantakan itu?” “Aku rasa itu bukan berarti hidupnya berantakan, hidupnya hanya berbeda dengan mu. Kau mungkin punya hidup yang tersusun, tapi Han Rae punya hidup yang penuh tantangan.” “Yah, iya sih. Tapi aku benar-benar terkejut mendengar cerita mu. Dia tetap bisa hidup dengan baik, meski riwayat hidupnya begitu.” “Makanya kau juga perlakukan lah dia dengan baik.” “Aku tahu,” gumam Yongtae. “Lalu dia setelah itu tinggal dengan mu?” “Tidak, Ayah ku tidak memperbolehkan Han Rae tinggal di rumah. Dia malah disuruh kerja sebagai tukang cuci mobil dan motor di rumah ku, tapi berkat dia kerja itu, dia jadi bisa sewa tempat tinggal sih. Padahal Ibu ku sebenarnya lebih ingin Han Rae tinggal di rumah.” “Sayang sekali... jadi dia tinggal di tempat itu dari SMA?” “Tidak, dia tinggal di situ setelah aku punya bengkel dan dia kerja di bengkel ku. Kalau hanya gaji dari cuci mobil dan motor di rumah ku, tidak seberapa. Zaman SMA, tempat tinggal dia jauh lebih kecil.” Yongtae kemudian hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya sebagai respon. Daniel tak lama mendengus sembari berkacak pinggang. "Ini harus dibawa ke bengkel. Alat-alat yang kau punya tidak lengkap, dan aku rasa Han Rae lebih ahli membetulkan mobil mewah seperti ini." Kata Daniel. "Harusnya kau rajin merawat mobil mewahmu ini, kelihatan sekali kalau kau jarang merawatnya." "Aku tidak punya waktu untuk merawatnya, lagi pula kalau rusak aku bisa beli lagi yang baru." Kata Yongtae dengan enteng. Daniel menatap malas Yongtae, ia kemudian mengusap wajah Yongtae dengan sebelah tangannya yang kotor dengan oli, tapi Yongtae tidak sadar kalau usapan tangan Daniel tadi mengotori wajahnya, jadi dia hanya mendesis jengkel. "Sudah ayo kita dorong mobilmu ke bengkel." Ucap Daniel. “Aku di dalam mobil saja, kau yang dorong.” Kata Yongtae, yang membuat Daniel menatapnya tajam. “Ya sudah aku tinggal kau di sini dengan mobil mogok mu.” Kata Daniel. “Aaaa! Jangan! Bagaimana kalau kita telfon mobil derek?” “Kelamaan, aku banyak kerjaan. Kau kan bisa sekalian buat otot.” “Aku sudah punya otot kok!” “Hah, jangan bercanda. Kurus kering begitu. Sudahlah, jangan banyak protes. Kau mau bantu dorong atau tidak? Kalau tidak mau aku tinggal.” “Mau! Iya mau!” ••• Han Rae pergi ke depan bengkel, saat melihat pemandangan yang membuatnya mengernyitkan kening. Daniel dan Yongtae sedang kerja sama mendorong mobil masuk ke dalam bengkel. Kenapa juga Yongtae bisa ada di sini? Begitu mobil tiba di bengkel, tubuh Yongtae langsung merosot ke lantai. Peluh membanjiri tubuh Yongtae, napasnya terdengar berat, dan matanya menyayu karena kelelahan serta kepanasan. Daniel meraih kedua ketiak Yongtae untuk mengangkat tubuhnya, dan mendudukkannya di kursi panjang. Tapi Yongtae langsung tiduran begitu didudukkan di sana. "Jangan tiduran di situ, bodoh." Ucap Daniel. "Aku mau mati..." balas Yongtae dengan napas tersengal, kesadaran Yongtae rasanya sudah seperti di awang-awang. Daniel jadi tidak tahan untuk mengata-ngatai Yongtae. "Dasar lemah, dasar payah." "Ada apa sih sebenarnya?" tanya Han Rae yang masih kebingungan dengan situasi di depannya. "Mobil Yongtae mogok di tengah jalan, pas sekali bertemu dengan ku." Balas Daniel. "Jadi kalian sudah akur?" tanya Han Rae lagi. "Ya, tidak.” Daniel menjawab dengan jawaban tidak pasti. “Itu karena dia sudah minta maaf dan menjanjikan uang, jadi aku mau membantunya. Kau yang urus ya? Aku pusing." “Oke, kau istirahat saja sana.” Kata Han Rae sembari menepuk sebelah bahu Daniel. Daniel menganggukkan kepalanya, sebelum berlalu memasuki bengkel. Setelah Daniel masuk, Han Rae langsung mengambil alat-alat, dan mulai menge cek mobil Yongtae. Saat kesadaran Yongtae sudah pulih, Yongtae mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian bangkit duduk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk melihat bengkel sejenak, lalu tak lama fokusnya jatuh ke Han Rae. Yongtae tertegun, melihat Han Rae yang sedang serius dengan mesin. Rambutnya di gulung ke atas hingga menampakan leher serta tengkuknya, kaos putih lengan pendek, serta jumsuit yang bagian atasnya diikat di pinggang, membuat Yongtae tanpa sadar terpana. Yongtae menopang dagunya sambil menatapi Han Rae yang sedang serius, gadis itu tampak sangat berbeda saat sedang serius. "Eum Han," panggil Yongtae setelah beberapa saat melamun. "Ya?" sahut Han Rae tanpa sekalipun menoleh pada Yongtae. "Nanti sore kita akan beli baju pengantin." Kata Yongtae. "Oh," Respon Han Rae singkat yang membuat Yongtae mengerucutkan bibirnya. "Sekalian beli cincin, kau bisa pilih sendiri cincinnya, yang paling mahal pun tidak masalah." Kata Yongtae. "Ya, nanti aku akan pilih yang paling mahal lalu menjualnya. Ide yang baguskan? Hahaha,” kata Han Rae sembari tertawa di akhir. Sementara Yongtae kembali mengerucutkan bibir. "Memangnya nanti sore kau sudah selesai bekerja?" tanya Han Rae setelah tawanya mereda. "Aku bisa pulang kapanpun aku mau." Balas Yongtae. "Cih, mentang-mentang jabatan tinggi bisa seenaknya. Seharusnya tidak begitu, karena peraturannya kan tidak begitu." Kata Han Rae. "Nakal-nakal, kau tipe orang yang ta'at peraturan ya?" "Tidak juga sih, yah sedikit. Karena aku selama ini hidup tanpa aturan, jadi aku selalu mencoba hidup dengan manta’ati peraturan yang aku tahu.” “Kalau kau sendiri yang membuat peraturan dalam suatu perjanjian, apa kau akan melanggarnya? Meskipun hanya satu.” Tutur Yongtae. “Entahlah, aku rasa tidak. Tapi bisa saja kalau ada kondisi tertentu. Aku juga tipe orang yang sportif sih, aku rasa akan susah bagi ku untuk melanggar peraturan atau perjanjian yang aku buat sendiri, dan sudah disepakati berbagai pihak yang bersangkutan. Soalnya bagi ku itu masalah harga diri.” Ujar Han Rae. "Jadi kau juga tidak akan melanggar peraturan di kontrak yang kita buat sedikitpun?" tanya Yongtae. Han  Rae tertawa kecil. “Kalau itu tentu saja, haha. Memangnya apa yang mau aku langgar dari kontrak itu?” Yongtae tidak menjawab, tapi ekspresinya berubah masam. ••• "Kau ingin gaun yang seperti apa?" tanya Yongtae di tengah perjalanan menuju butik. "Yang sexy." Balas Han Rae. "Huh?" sebelah alis Yongtae terangkat, dan eksresinya menunjukkan rasa tidak suka pada jawaban Han Rae barusan. "Kenapa?" tanya Han Rae bingung melihat ekspresi aneh. "Ti-tidak. Kenapa tidak sederhana saja? Sederhana, tapi anggun, kan cantik." Kata Yongtae. "Kalau begitu aku ingin kau pakai tuxedo warna pink." Balas Han Rae. "Hah? Yang benar saja! Lagi pula memangnya ada?" Timpal Yongtae. "Aku rasa ada." Kata Han Rae sembari mengusapi dagunya. “Lagi pula kau kan orang kaya, bisa sewa desainer terkenal untuk membuatkannya.” "Karena beli gaunnya pakai uangku, aku ingin kau pakai gaun sesuai keinginanku, yang manis, anggun dan sederhana." Kata Yongtae. "Ck, dasar aneh, tadi kan kau yang tanya duluan aku mau pakai gaun seperti apa, kok sekarang malah bilang begitu?” sungut Han Rae. “Ya itu karena aku tidak menyangka jawaban mu akan begitu.” Balas Yongtae. Han Rae mendengus. “Oke, begini saja. Aku akan pakai gaun sesuai keinginanmu, ah begini! Begini!" Yongtae memutar kedua bola matanya malas saat Han Rae heboh sendiri. "Kau pakai tuxedo pink, dan aku akan pakai gaun pink! Bagaimana? Aku suka lihat pria yang manis, ya? Ya? Aku akan rela pakai baju pink, asal kau juga pakai." Yongtae terdiam sejenak memikirkan permintaan Han Rae. "Kau tahu? Rasanya kita seperti akan menikah sungguhan." Ucap Yongtae. "Kan kita memang akan menikah sungguhan, tapi hanya sementara." Kata Han Rae sambil nyengir lebar dan berjingkrak kecil. Entah kenapa senang membayangkan Yongtae akan memakai baju warna pink, pasti tampak lucu dan manis. Sementara Yongtae bergidik ngeri membayangkannya. Tapi melihat Han Rae sudah tampak sesenang dan se- excited itu, Yongtae tidak tega menolaknya. “Ya sudahlah, aku setuju dengan permintaan mu, tapi kau juga harus setuju dengan permintaan ku.” Kata Yongtae yang dibalas Han Rae dengan anggukan. Tuxedo berwarna pink, dengan dalaman serba hitam akhirnya dipilih untuk Yongtae, sementara Han Rae menggunakan gaun panjang, berikut dengan lengannya, bagian atasnya menggunakan kain transparan sampai sebatas bahu. Warna gaun tersebut juga pink, agar senada dengan tuxedo Yongtae. Ditambah pita warna hitam di bagian pinggang. Selesai beli gaun dan tuxedo, Yongtae dan Han Rae beralih ke toko perhiasan untuk membeli cincin. "Kau mau yang mana?" tanya Yongtae. Han Rae tidak menjawab, karena ia sedang fokus melihat-lihat cincin pada etalase toko. Yongtae akhirnya terdiam menunggu Han Rae selesai memilih, dan akhirnya pilihan Han Rae jatuh pada cincin berwarna perak yang sederhana dengan permata mengelilingi cincin tersebut. "Coba ini," ucap Han Rae. "Ini terlalu sederhana." Komentar Yongtae. "Tapi aku suka. Kalau perhiasan tidak perlu yang terlalu heboh, nanti jadi mencolok." Balas Han Rae. Yongtae pun meminta pelayan untuk mengambilkan cincin tersebut. Sang pelayanpun segera mengambilkannya, dan Yongtae langsung meraih tangan kanan Han Rae untuk mencoba cincin tersebut. "Aku baru sadar kau sama sekali tidak pakai aksesoris. Kenapa?" tanya Yongtae sambil menyematkan cincin perak tersebut pada jari manis Han Rae. "Karena aku tidak terlalu suka pakai perhiasan, plus tidak ada uang untuk beli perhiasan. Lebih baik uang perhiasan itu untuk makan." Balas Han Rae. Yongtae menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah cincin itu tersemat di jari Han Rae, Yongtae menatap Han Rae sembari menepuki punggung tangannya. "Nanti kalau kita sudah menikah jangan melepasnya, kecuali kontrak sudah selesai." Kata Yongtae. "Aku tahu." Balas Han Rae. ••• Semua sudah selesai, gedung, gaun dan cincin. Masalah dekorasi gedung pernikahan juga sudah beres, Jinhyun, sepupu Yongtae yang akan turun tangan mendekorasi gedung pernikahan, karena kebetulan dia seorang  desainer interior. Jadi masalah dekorasi seperti itu, hal mudah bagi Jinhyun. Acara pernikahan akan diadakan cukup besar-besaran, karena Yongtae seorang Direktur, banyak orang yang harus ia undang. Selesai dari toko perhiasan, Yongtae mengajak Han Rae untuk makan malam. Tapi mereka tidak mengunjungi restoran hanya memesan makanan lewat drive thru, lalu Yongtae membawa Han Rae ke sebuah bukit datar, dengan hamparan rumput luas, dan pemandangan kota yang indah di bawahnya. “Kenapa kau membawa ku ke sini?” tanya Han Rae sesampainya di sana. “Karena ini tempat yang nyaman dan indah. Aku terakhir ke sini SMA, dan entah kenapa tiba-tiba ingin ke sini lagi.” Balas Yongtae. “Kau ingin keluar, atau tetap di mobil?” “Di sini saja.” Kata Han Rae sembari membuka pintu mobil Yongtae, agar udara segar bisa masuk ke dalam mobil. Han Rae menaikan kakinya ke atas dasbor, sebelum menyantap burgernya, sambil memainkan ponselnya. Untuk beberapa saat tidak ada yang buka suara, mereka fokus makan. Tapi tak lama Yongtae menyeletuk. “Aneh ya?” "Aneh kenapa?" tanya Han Rae tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. "Padahal kalau dihitung kita baru kenal beberapa hari, belum lama, tapi entah kenapa aku merasa sudah sangat lama mengenal mu.” Jawab Yongtae. "Begitu kah?" Yongtae mengerucutkan bibirnya karena respon Han Rae yang terkesan cuek. “Apa kau tidak merasa demikian?” Han Rae terdiam sejenak sembari menatap lurus ke depan saat mendengar pertanyaan Yongtae. “Yah, sejujurnya aku juga begitu. Mungkin karena begitu bertemu, kita terus terlibat dengan berbagai moment, jadinya begitu.” Tutur Han Rae. "Han Rae, apa kau tidak merasa kita adalah takdir?" tanya Yongtae. "Apapun yang terjadi di hidup kita adalah takdir." Balas Han Rae. Yongtae berdecak, ia kemudian melihat ke arah Han Rae, dan menarik ponsel Han Rae, membuat Han Rae kesal dan otomatis menolehkan kepalanya ke arah Yongtae, sambil hendak mengeluarkan protes karena ponselnya direbut. Tapi mulutnya langsung merapat saat menyadari jarak wajahnya dengan Yongtae yang cukup dekat. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam sambil saling tatap. Hingga akhirnya Han Rae buka suara. “Kau menyukai ku ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN