04

4745 Kata
Han Rae langsung pulang setelah acara sarapannya dengan Yongtae. Perasannya saat ini benar-benar senang, seolah kekhawatiran hidupnya sudah hilang entah kemana, dan sekarang dia tinggal leha-leha. Hah, tidak, Han Rae tidak akan seperti itu. Dia sangat mencintai kendaraan dan mesin, jadi sekalipun dia sudah memiliki banyak uang dari hasil kerja samanya dengan Yongtae, dia akan tetap bekerja di bengkel Daniel. “Huwaaaaa! Apa yang terjadi dengan wajah ku?!” Han Rae tersentak saat tiba-tiba mendengar suara teriakan Daniel dari salah satu kamar mandi. Dengan setengah berlari ia mencari sumber suara Daniel, dan rupanya pria itu berada di kamar mandi yang ada di sebelah dapur. Han Rae pun menggedor-gedor pintu dengan panik karena khawatir. “Daniel! Kau tidak apa-apa?!” seru Han Rae. “Kau pasti tahu ini bukan sesuatu yang berbahaya! Tapi apa yang sudah terjadi pada wajah ku?!” seru Daniel dari dalam kamar mandi. “Ya memang bukan sesuatu yang berbahaya, tapi aku tetap cemas.” Balas Han Rae. Daniel tak lama membuka pintu kamar mandi, menampilkan dirinya dengan wajah penuh coretan. Bibirnya melengkung ke bawah, dan matanya tampak berkaca-kaca. “Aduh, sudah tua juga, masak masih mau menangis? Kan bisa dicuci pakai sabun.” Kata Han Rae. “Siapa yang sudah melakukan ini pada ku?!” tanya Daniel sambil menunjuk wajahnya. “Yongtae.” Jawab Han Rae jujur. “Tadi dia ke sini, untuk mengajak ku sarapan. Tapi aku kan harus mandi dulu, jadi dia menunggu di ruang tamu, tahu-tahu selesai aku mandi, wajah mu sudah seperti itu.” Kedua tangan Daniel mengepal, dan raut wajah yang menunjukkan kejengkelan serta kemarahannya. “Sudahlah aku ditinggal begitu saja! Tidak dibawakan sarapan! Wajah ku dicoret-coret pula! Teganya kalian huwaaaa!!!” Han Rae membekap mulut Daniel. “Kau ini bisa tenang sedikit tidak? Jangan seperti bayi dong. Ini apartemen elit loh, yang tinggal orang-orang kaya, jangan berisik.” “Justru karena ini apartemen orang kaya, pasti kedab suara, jadi aku bisa berteriak sesuka ku! Biarkan saja!” Daniel sudah bersiap untuk teriak-teriak lagi, untuk meluapkan kekesalannya, tapi Han Rae tiba-tiba menangkup kedua pipinya, yang membuat Daniel otomatis bungkam. “Ayo kita bersihkan wajah mu sekarang. Aku memang tidak membelikan makanan untuk mu, tapi aku beli bahan. Kau katanya sedang dietkan? Jadi lebih baik makan makanan rumahan.” Kata Han Rae. Bibir Daniel mengerucut. “Memangnya kau akan memasakan apa?” “Telur tofu dan kentang rebus.” Daniel seketika langsung tersenyum, padahal Han Rae sangat ingin menyentilnya. Usia tidak menghalangi Daniel untuk bertingkah kekanakan. Han Rae pun akhirnya menurunkan tangannya dari pipi Daniel, dan mengajaknya kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Tapi sesaat setelah ada di kamar mandi, Han Rae baru sadar, di kamar mandi belum ada apa-apa selain pasta dan gosok giginya. Sabun dan samponya, ada di kamar mandi yang ada di kamarnya. “Bagaimana kalau kita bersihkan dengan pasta gigi saja?” tanya Han Rae sembari meraih pasta gigi yang ada di pinggir wastafel. “Gila! Yang benar saja?!” seru Daniel panik. Biasanya apa yang Han Rae katakan itu bukan bercanda, dia lebih sering serius. “Tidak apa-apa kok, paling hanya panas sedikit. Malah pasta gigi itu lebih ampuh untuk membersihkan.” Kata Han Rae seraya membuka tutup pasta giginya. “Han Rae, jangan bercanda! Jangan gila kau!” “Kenapa sih? Paling hanya panas sedikit, yang pentingkan wajah mu bersih.” Daniel menutupi wajahnya. “Aaaaa! Tidak, tidak!” “Ya sudah, aku ambilkan sabun dan brush cuci muka ku dulu.” Kata Han Rae yang membuat Daniel menghela napas lega. Tapi baru saja ia menurunkan tangannya dari wajahnya, Han Rae tiba-tiba mengoleskan pasta gigi di pipi kanan yang membuat Daniel memekik. Han Rae terbahak sembari berlari keluar kamar mandi, sebelum mendapat serangan balik dari Daniel. ••• “Jadi apa yang tadi kau bicarakan dengan Yongtae?” tanya Daniel. “Tentu saja tentang kontrak, dan rencana pernikahan.” Balas Han Rae tanpa menatap Daniel, karena sedang sibuk memasak. Sebenarnya setelah selesai sarapan, Han Rae tidak langsung pulang, dia mampir dulu ke toserba untuk membeli bahan makanan dan alat masak seadanya. “Lalu kapan jadinya kau akan menikah dengannya?” “Rencananya sekitar sebulan lagi, karena banyak yang harus dipersiapkan.” Kata Han Rae. “Kau pasti dapat bayaran yang lebih besar ya darinya? Dari pada dari ku.” “Yah, tentu saja. Tapi bukan berarti aku akan berhenti kerja di bengkel mu, tidak dibayar juga tidak apa-apa sih.” “Hei, mana bisa begitu? Aku akan tetap membayar mu, meskipun tidak akan seberapa.” Han Rae melirik Daniel, dan melihat wajah pria itu yang tampak murung. “Meskipun gaji yang kau berikan tidak seberapa, aku tidak akan bisa hidup sampai saat ini kalau bukan berkat kau. Jadi jangan berekspresi seperti itu.” Kata Han Rae. “Kau yang paling banyak berjasa untuk ku, setelah orang-orang di panti.” “Menurut mu begitu?” tanya Daniel. “Bukan hanya menurut ku, kalau orang lain mendengar cerita kita pun pasti akan memiliki pendapat yang sama.” Balas Han Rae. “Aku bisa sekolah, punya tempat tinggal, dan punya pekerjaan kan berkat mu, jadi... seberapa besar coba jasa mu untuk ku? Bahkan orang tua ku saja membuang ku.” Daniel menghela napas sembari tersenyum, rasanya jadi punya secercah harapan mendengar dirina disanjung seperti itu oleh Han Rae, tapi ucapan Han Rae selanjutnya membuat senyuman Daniel luntur. “Kau memang sahabat terbaik.” Ucap Han Rae sambil tersenyum simpul. Daniel tertegun. ‘Ah iya, aku hanya sahabat di matanya. Aish, ayo Daniel, kapan kau punya keberanian untuk menyatakan perasaan mu? Dia tidak akan diambil orangkan?’ batin Daniel. Seusai Han Rae selesai masak, ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja pantry. Beberapa kali Han Rae melihat layarnya nyala, menandakan ada pesan atau telfon yang masuk. Dan benar saja, rupanya ada pesan baru dari Yongtae yang masuk. From: Yongtae Jam makan siang ke kantor ya? Ada yang harus kita bicarakan. To: Yongtae Apa itu? From: Yongtae Kita mau membicarakan masalah gedung untuk pernikahan nanti. To: Yongtae Oke. Han Rae kembali meletakan ponselnya di meja, lalu mengikat rambutnya. Daniel yang sedang makan melirik. Setiap menatap Han Rae, yang Daniel pikirkan adalah, jangan sampai Han Rae jatuh hati pada pria lain. “Niel, aku ke bengkel duluan ya?” ujar Han Rae. “Loh, tidak bersama saja?” tanya Daniel. “Ini sudah telat, kalau Bos sih tidak apa-apa telat.” Kata Han Rae sembari tersenyum simpul. “Ck, kau malah membuat ku tidak enak. Motor mu kan di bengkel, kau mau ke sana baik apa?” tanya Daniel. “Aku bisa naik taksi.” Balas Han Rae. “Tunggu aku saja, kita ke sana bersama.” “Oke, tapi jangan lama-lama makannya.” Daniel mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban. ••• Sudah waktunya jam makan siang, Han Rae langsung bersiap-siap hendak ke kantor Yongtae. Ia mencuci wajah dan tangannya yang kotor dengan oli, dan melepas jumpsuit merah yang merupakan seragam. Menyisakan hanya kaos putih dan celana panjang hitam. “Semuanya aku pergi dulu ya!” pamit Han Rae sembari bergegas keluar bengkel, sembari mengenakan tas ranselnya di punggung. “Kau mau kemana? Tidak makan siang di sini?!” seru salah satu teman Han Rae. “Aku ada urusan, jadi ada urusan, jangan rindu!” “Pergi saja! Tidak usah kembali!” teriak Daniel dari dalam bengkel, Han Rae terkekeh, dengan kaki yang melangkah mundur untuk mengeluarkan motornya dari area bengkel. Sesampainya di kantor Yongtae, Han Rae sukses jadi pusat perhatian. Awalnya Han Rae pikir ia akan dijegal petugas keamanan atau sejenisnya. Tapi ternyata Han Rae dibiarkan masuk begitu saja, mungkin Yongtae sudah memberitahu. "Lantai 5, ruangan paling ujung, pintu kaca yang ditutup gorden abu-abu." Han Rae tanpa sadar membaca pesan dari Yongtae dengan nada keras, hingga penghuni lift lain dapat mendengarnya, tapi Han Rae cuek. Setelah menekan angka 5, Han Rae bersandar pada dinding lift. Ia menatap pantulan dirinya pada dinding lift lain, kulit pucat, alis tipis, bibir pink pucat. Han Rae tahu ia terlihat seperti gembel saat ini. Berbanding terbalik dengan orang-orang di sini yang berpakaian rapih, dandan dan wangi. Ia boro-boro wangi, yang ada bau bensin. Rasanya menyesal mengiyakan perintah Yongtae untuk menemuinya di kantor, lebih baik bertemu di tempat lain. Hanya mau membahas gedung ini. Setelah sampai di lantai 5, Han Rae buru-buru mencari ruangan Yongtae yang ‘kata’nya berpintu kaca. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ketemu. Han Rae terlebih dahulu mengetuk pintu, dan tak lama suara Yongtae dari dalam terdengar, menyuruhnya untuk masuk. Han Rae pun memutar knopnya dan mendorong pintu kaca tersebut. Yongtae tampak sedang fokus pada kertas-kertas ditangannya, dalam posisi menyamping, Han Rae dapat melihat rahang tajam pria itu. Keningnya terus mengkerut, dan surai panjang keabuannya menambah kesan cool pada pria itu. "Yang aku tahu, menatapku terlalu lama bisa jadi jatuh cinta padaku." Han Rae mendengus sambil memutar kedua bola matanya malas mendengar penuturan Yongtae. Ia kemudian menutup pintu dan berjalan menghampiri Yongtae yang tengah duduk di meja kerjanya. Han Rae duduk pada kursi yang berhadapan dengan Yongtae, kemudian Yongtae langsung beralih menatapnya dengan lurus. Yongtae tak lama menyerahkan berlembar-lembar kertas berupa brosur gedung pada Han Rae. "Dipilih," ucap Yongtae. "Kau tidak bantu pilih?" tanya Han Rae. "Aku sibuk." Kata Yongtae kemudian mengalihkan pandangannya pada laptop. Han Rae berdecak dan mulai melihat-lihat brosur tersebut. Tidak ada yang buka suara, Yongtae fokus bekerja dan Han Rae fokus melihat brosur, ah maksudnya, gedung yang ada di dalam brosur. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Yongtae, membuat Yongtae mengernyitkan kening, karena rasanya ia tidak punya tamu. "Yongtae, ini Ibu!" mata Han Rae dan Yongtae seketika melotot. "Aku pakai baju seperti ini, bagaimana?!" kata Han Rae panik sambil beranjak berdiri dan menunjuk celananya. "Ck, sudah tahu kau ke kantor, pakai baju yang rapihlah." Gerutu Yongtae. "Yongtae! Ibu masuk ya?! Tidak sedang sibukan?" Yongtae akhirnya dengan terburu-buru meraih pergelangan tangan Han Rae, dan mendudukannya di atas pangkuannya. "Diam," ucap Yongtae sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Han Rae membuat Han Rae sontak mematung karena terkejut. Pintu ruangan Yongtae tak lama terbuka. Ibu kemudian masuk, dan terkejut melihat ada Han Rae di sini. Terlebih melihat bagaimana posisi anaknya dengan gadis itu. "Ah Ibu," gumam Han Rae sambil tersenyum kikuk. "Oh, ternyata ada kau Han Rae, ya sudah Ibu pergi dulu, maaf ya mengganggu." Kata Ibu. Yongtae mengangkat kepalanya dari ceruk leher Han Rae untuk menatap Ibunya. "Ada apa Bu?" tanya Yongtae. "Tidak ada apa-apa, Ibu hanya mau tanya, sudah ada gedung yang dipilih?" Han Rae segera menganggukan kepalanya. "Nanti aku beritahu gedung yang mana, sekarang aku mau bersama Han Rae." Kata Yongtae. "Iya, iyaa... mentang-mentang sudah direstui, jadi berani mengajak Han Rae ke kantor." Ibu pun akhirnya segera keluar dari ruangan Yongtae, dan lupa menutup pintunya kembali’;. Han Rae langsung akan beranjak berdiri dari pangkuan Yongtae, tapi Yongtae meraih pinggangnya, dan mendudukan Han Rae di atas pangkuannya lagi. Han Rae membelalakan matanya, dan mencoba bangkit dari atas pangkuan Yongtae, sayangnya Yongtae malah mengeratkan pelukannya. "Hei! Apa yang kau lakukan hah?!" seru Han Rae. "Aku mengantuk dan lelah." Balas Yongtae. "Ya lalu apa hubungannya dengan ku bodoh?!" gerutu Han Rae kesal. Yongtae tidak menjawab, dia malah memejamkan matanya sambil menyandarkan pipi kirinya pada punggung Han Rae. “Yongtae, apa-apaan sih kau ini? Jangan beginilah.” Kata Han Rae. “Memangnya kenapa sih?” balas Yongtae. “Bisa-bisanya kau tanya kenapa? Kau pikir aku pacar mu yang bisa diperlakukan seperti ini huh?” “Ya, tapi kau kan calon istri ku.” Han Rae mendengus, sembari memijat tulang hidungnya. “Kau lupa yang tertulis di kontrak? Tidak boleh ada skinship berlebihan.” “Itu kan perjanjian nanti kalau kita sudah menikah. Lagi pula sekarang kita tidak sedang skinship, aku hanya butuh bantuan punggung mu untuk bersandar.” “Sialah!” “Shuttt, tenanglah, aku hanya mau tidur sebentar.” Han Rae tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghentikan ulah Yongtae. Dia keras kepala, dan tetap erat memeluknya. “Kau tahu tidak perbuatan mu ini tidak sopan.” Kata Han Rae. “Aku tahu, maaf ya. Kau bisa mendenda ku nanti.” Balas Yongtae. Han Rae menggaruk kepalanya. Bagaimana bisa Yongtae melakukan hal ini padanya yang baru sebentar ditemuinya? Tapi mau protes tetap akan percuma. Akhirnya sekarang Han Rae memilih diam saja. Tak lama suara dengkuran Yongtae terdengar, yang menandakan pria itu sudah tidur. Jadi dia benar-benar menjadikan dirinya sandaran untuk tidur ya? Batin Han Rae. ••• Han Rae membiarkan Yongtae tidur dipunggungnya entah berapa jam, sedangkan Han Rae sibuk main ponsel sambil sesekali melihat brosur gedung. Han Rae sebenarnya pegal dalam posisi seperti ini, dan bokongnya juga terasa sakit harus duduk di atas paha tajam Yongtae. Tapi Han Rae bisa apa? Pelukan Yongtae benar-benar erat. Han Rae harus tanya setelah Yongtae bangun, kenapa dia bisa-bisanya melakukan hal ini padanya. Kepala Yongtae yang ada di punggungnya tiba-tiba terangkat dari atas punggung Han Rae, membuat Han Rae menghela napas lega. Akhirnya dia bangun, batin Han Rae. "Eungghhh... sudah jam berapa, berapa lama aku tidur?" tanya Yongtae dengan nada suara seraknya. "Hampir 3 jam." Balas Han Rae dengan nada malas. Mata Yongtae seketika membelalak, ia kemudian mendorong tubuh Han Rae dari atas pangkuannya tanpa aba-aba, membuat tubuh Han Rae hampir membentur meja. "HEI! DASAR GILA! KENAPA MAIN MENDORONG KU?!” teriak Han Rae kesal. “Sudah numpang tidur di punggung orang, bukannya berterimakasih malah main dorong, mau aku hajar?!” "Aku ada rapat, dihajarnya nanti saja.” Kata Yongtae sembari beranjak berdiri, dan mengacak-ngacak meja kerjanya untuk mencari berkas yang harus ia bawa ke rapat. Han Rae mendesis kesal, ia kemudian memukul kepala Yongtae, dan berlalu begitu saja tanpa memedulikan Yongtae yang mengaduh kesakitan. “Han Rae, aduh, tunggu maaf. Aku benar-benar ada rapat, kau jangan pulang dulu, masih ada beberapa hal yang harus kita urus. Tolong tunggu di kantin kantor, sekalian kau makan siang.” Tutur Yongtae. “Tidak mau ah, aku mau langsung pulang saja.” “Han Rae, aku mohon. Aku tidak lama kok rapatnya, kau boleh pesan apapun yang kau mau di kantin, nanti aku yang bayar.” Han Rae menghela napas. “Oke, tapi kalau lama, aku mau pulang saja.” “Tidak, tidak, aku jamin tidak akan lama.” Han Rae akhirnya menurut untuk pergi ke kantin. Ia duduk di meja yang ada di pojok, yang tidak akan dilalui banyak orang, dan itu membuatnya terlihat mencolok. Tapi sebelum duduk, tentu saja Han Rae pesan makanan dulu. Dia pesan burger ukuran jumbo, ramen, dan es kopi. Han Rae terlebih dahulu menyantap ramennya, sebelum burger. Tapi baru makan sesuap, ia mendengar ponselnya berbunyi, membuat Han Rae menghentikan sejenak acara makannya untuk menge cek ponselnya. Sudah bisa ditebak sih, siapa yang mengiriminya pesan, kalau bukan Yongtae, pasti Daniel. Meskipun sebelumnya hanya Daniel yang biasa menghubunginya, tapi belakangan ini ada Yongtae juga. Padahal baru kenal beberapa hari, entah kenapa keberadaan Yongtae seperti sudah lama dalam hidupnya. From: Daniel Kau ada di mana? To: Daniel Aku ada di kantor Yongtae. From: Daniel Untuk apa kau ke sana? To: Daniel Ada urusan. Memangnya aku tidak belum bilang ya? From: Daniel Aku rasa belum. Kapan urusannya selesai? To: Daniel Entahlah, masih agak lama sepertinya. Kenapa? From: Daniel Tidak apa-apa, aku hanya khawatir. Jadi mau memastikan, kalau kau baik-baik saja. To: Daniel Hei, kau ini seperti baru kenal aku saja. Aku selalu baik-baik saja. From: Daniel Iya, aku tahu. Kau memang wanita kuat, tapi tetap saja harus dijagakan? To: Daniel Hahaha, kenapa kau tiba-tiba bilang begitu? Sepertinya dulu tidak pernah tuh. Bahkan kau tidak khawatir kalau aku tidak pulang sampai subuh. From: Daniel Yahhh, itu kan dulu. Sekarang kejahatan semakin banyak. To: Daniel Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bahkan termasuk bagian kecil dari kriminal, hahaha. Bukan hanya aku sih, kau juga. From: Daniel Heh, kenapa begitu?! To: Daniel Kita rajin ikut balap motor liar, bahkan aku tinju juga. Ditambah aku pernah menipu orang untuk beli motor, jadi kita ini termasuk kriminal kan? From: Daniel Yah, aku hanya sedikit, tidak seperti mu. To: Daniel Aku tahu. From: Daniel Membicarakan soal balap liar dan tinju, kapan kau mau ikut turnamen lagi? To: Daniel Baru juga kemarin aku ikutan, dan malah ada tragedi aneh setelah itu. From: Daniel Tapi menguntungkan kan? To: Daniel Yah, iya sih. Tapi untuk beberapa waktu ke depan aku tidak bisa ikutan. Aku kan harus mempersiapkan acara pernikahan, kalau aku terluka karena ikut turnamen, bisa repot. From: Daniel Iya sih. Padahal kalau kau ikutan, kau mempertaruhkan lebih banyak uang. To: Daniel Hahaha, iya, benar juga. Yah, nanti setelah acara pernikahan ku selesai, ayo kita bersenang-senang. Tak terasa Han Rae menghabiskan waktu cukup lama berkirim pesan dengan Daniel sambil menyantap makannya. Dia tidak sadar kalau Yongtae sedang berjalan menghampirinya. “Hai, menunggu lama ya?” mendengar suara Yongtae, Han Rae sontak menurunkan ponselnya dari depan wajahnya. Ia kemudian meletakan ponselnya di samping mangkuk ramennya. “Lumayan,” ucap Han Rae, yang Yongtae balas dengan gumaman maaf. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, sampai menahan ku?” tanya Han Rae. “Tentu saja masih masalah soal persiapan pesta pernikahan. Sekarang aku ingin kau memilih-milih dekorasinya.” Balas Yongtae sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Yongtae mengotak-ngatik ponselnya sejenak, sebelum menyerahkannya pada Han Rae. Layar ponsel Yongtae, menampilkan berbagai contoh dekorasi pernikahan. “Hah, ya ampun, kenapa tidak bicarakan nanti saja?” dengus Han Rae. “Nanti kapan? Lebih cepat lebih baikkan?” Han Rae akhirnya tidak bicara lagi, dan mulai melihat-lihat contoh dekorasi yang tertampil di layar ponsel Yongtae. “Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan pada mu,” celetuk Han Rae sambil melirik Yongtae sebentar, lalu kembali fokus pada layar ponsel Yongtae. “Perbuatan mu tadi di ruangan mu, apa-apaan itu?” “Sudah aku duga kau akan menanyakan itu.” Han Rae seketika menatap sinis Yongtae, saat mendengar responnya. “Kau tahu tidak perbuatan mu tadi itu kurang ajar!” “Iya tahu, aku minta maaf. Aku hanya benar-benar merasa lelah, dan ku pikir punggung mu terlihat nyaman, aku benar-benar minta maaf, peace.” Kata Yongtae sembari membuat tanda V dengan tangan kanannya. “Lagi pula dari awal aku melihat mu sebagai gadis yang cuek, dan aku... jujur saja merasa sedikit nyaman dengan mu, meskipun kita baru bertemu. kebanyakan wanita di sekitar ku formal sekali.” Han Rae mendengus. “Cuek bukan berarti aku tidak punya harga diri.” “Iya, iya, maaf. Aku benar-benar minta maaf.” Kata Yongtae dengan bibir mengerucut. “Jujur ya, aku sebenarnya agak takut kehidupan ku nanti berubah setelah menikah. Meskipun kau bilang kita tetap bisa menjalani hidup masing-masing setelah menikah nanti, tapikan tetap saja, kita secara resmi terikat dengan sebuah hubungan.” Tutur Han Rae. “Hah, ya ampun, santai saja. Pernikahannya memang tidak bohongan, tapi  bukan berarti akan mengusik kehidupan kita masing-masing. Aku juga malas kali harus merubah rutinitas ku yang biasa kalau sudah menikah nanti. Jadi kita jalani saja hidup kita seperti biasa, seolah-olah pernikahan itu tidak pernah ada.” Ujar Yongtae. “Ya, aku juga sebelumnya berpikir begitu, makanya tanpa pikir lebih panjang menerima tawaran mu. Tapi setelah aku pikirkan ulang, pergerakan ku bisa jadi sempit.” Kata Han Rae, yang membuat kening Yongtae mengernyit. “Sempit bagaimana?” tanya Yongtae. “Aku bukan Kang Han Rae yang dikenal keluarga mu, kau tahu itu kan? Bagaimana saat aku sedang jadi diri ku sendiri, aku tiba-tiba bertemu dengan keluarga mu?” “Kau tinggal sembunyi.” Ucap Yongtae enteng, dan sukses membuatnya mendapat u*****n dari Han Rae. “Jalani saja dulu yang ada, masalah ke depannya biar kita pikirkan nanti.” Kata Yongtae. Han Rae mengangkat kedua alisnya. “Oke. Tapi kalau pada akhirnya kebohongan kita terungkap, aku tidak mau ikut campur.” “Kejam,” ucap Yongtae. “Ya ini kan memang urusan mu, aku hanya seperti bawahan mu yang disuruh kerja lalu digaji.” “Oke, kau tidak perlu khawatir soal itu. Kalau ada masalah nanti aku yang urus sendiri.” Kata Yongtae sambil memasang ekspresi melas. Han Rae melempar pelan ponsel Yongtae ke arah pemiliknya sambil menggerutu. “Tidak usah memasang ekspresi seperti itu, sialan.” Kata Han Rae sambil bangkit berdiri, dan mengambil sisa burger serta minumannya. “Hei, kau mau kemana? Memangnya sudah selesai pilih dekorasinya?” tanya Yongtae. “Sudah, cek saja ponsel mu. aku mau pulang.” Balas Han Rae sembari berlalu. Yongtae mendengus. Ia meraih ponselnya, untuk melihat dekorasi mana yang Han Rae pilih. Yongtae pikir Han Rae mungkin akan memilih konsep pernikahan yang dark, tapi ternyata di luar perkiraannya. Han Rae malah memilih konsep pernikahan dengan tema pastel dan bunga. “Woah, seleranya manis juga.” Gumam Yongtae sembari tersenyum tipis. ••• Han Rae mendengus saat ponselnya berbunyi, padahal sedang menyetel lagu. Ia buru-buru membersihkan tangannya dari busa, kemudian mengerikannya dengan handuk yang terlipat pada meja nakas keramik di samping bath up. Iya, Han Rae saat ini sedang berendam di dalam air hangat yang penuh busa, dan menguarkan wangi bunga yang menenangkan. Han Rae tidak menyangka dia akan punya pengalaman berendam di bath up pribadi seperti ini. Tak terhitung berapa kali Han Rae teriak-teriak sebelumnya, saking senangnya. Setelah memastikan tangannya sudah bersih dari busa dan kering, Han Rae mengambil ponselnya yang juga berada di meja nakas. Ia melihat nama Yongtae tertera di layar ponselnya. Dengan malas Han Rae mengangkat panggilan telfon tersebut. "Ada apa?! Menganggu saja!" seru Han Rae kesal. "Memangnya kau sedang apa?" "Sedang refreshing." "Nanti malam makan dengan ku yuk?" "Wow, apa ini ajakan kencan?" "Aku bilangkan makan malam, bukan mengajak mu kencan. Makan malam antar rekan bisnis." "Boleh saja sih." "Kita akan makan di restoran mahal, di ruangan vip tapi. Jadi kau bebas berpenampilan seperti apapun." "Oke." "Yah mungkin sedikit menebalkan alis dan pakai lipstick lah, agar terlihat hidup." "Memangnya aku seperti orang mati ya?" "Kau tidak sadar?" "Ya, baiklah." "Aku akan menjemputmu jam 7." "Tapi sebenarnya ini dalam rangka apa?” “Kan tadi aku sudah bilang, makan malam biasa antar rekan bisnis saja.” “Memangnya aku akan percaya begitu saja dengan ucapan mu? Apa lagi kali ini? Soal makan untuk pesta, atau baju pengantin?” “Sungguh, aku hanya ingin makan dengan mu. Malam ini tidak ada yang bisa diajak makan malam bersama, aku tidak suka makan sendirian.” “Ya ampun, sedih mendengarnya.” Kata Han Rae sambil membuat suara yang dibuat-buat melankonis. “Jangan meledek ku!” gerutu Yongtae. Han Rae tergelak kecil. “Baiklah, aku tunggu.” “Oke, dah.” Belum sempat Han Rae menjawab, Yongtae sudah lebih dulu mematikan sambungan telfonnya. Han Rae pun mengembalikan ponselnya ke tempat semula, dan menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai sebatas leher ke dalam bath up. ‘Aku punya makeup tidak ya?’ batin Han Rae sambil mencoba mengingat-ngingat. ‘Oh iya punya! Pemberian Daniel.’ Han Rae bukannya tidak suka dandan. Dia hanya tidak bisa, dan berpikir dandan itu melelahkan. Terlebih Han Rae yakin, mau dandan seperti apapun tetap tidak akan ada pria yang meliriknya. Tapi kali ini Han Rae mungkin harus coba untuk dandan. Apa lagi setelah baru melihat karyawan-karyawan berpenampilan rapih dan wangi saat di kantor tadi. ‘Aku juga bisa begitu!’ seru Han Rae di dalam hatinya. ••• Han Rae mengambil tas kosmetiknya dari dalam koper. Tas kosmetiknya terlihat masih bagus, karena Han Rae hampir tidak pernah menyentuhnya, atau malah sama sekali tidak pernah. Semua kosmetik di dalam tasnya masih di segel. Kosmetik ini pemberian Daniel saat ulang tahunnya setahun lalu, meskipun tahu tidak akan dipakai, Daniel tetap memberikannya karena mungkin saja Han Rae sewaktu-waktu akan butuh, dan benar saja. Sekarang Han Rae memakainya! Bukan karena perintah Yongtae, bagaimanapun semakin ia dewasa jiwa perempuannya pasti akan tumbuh, apa lagi setelah melihat kemarin saat ia dandan waktu mau makan malam dengan orang tua Yongtae, dia terlihat cantik. Ditambah melihat karyawan-karyawan Yongtae juga. Siapa wanita yang tidak ingin terlihat cantik? Meskipun itu hanya untuk dirinya sendiri. Tapi Han Rae tidak berani menggunakan semua make up itu, takut penampilannya malah jadi aneh. Jadi Han Rae hanya menggunakan foundation, bedak, alis, sedikit perona pipi dan lipstick. Beberapa kali Han Rae salah saat membuat alis, padahal sudah sambil menonton video tutorialnya dan mengikuti bentuk alis aslinya. "Aishhh, menyebalkan." Gerutu Han Rae saat gagal lagi menggambar alis. Dia jadi harus menghapus dan mengulangnya dari awal lagi. "Oke, selesai." Gumam Han Rae setelah 45 menit berkutat dengan alis, akhirnya ia berhasil membuat alis. Meskipun tidak rapih, yang penting masih enak dilihat. Han Rae menghela nafasnya. Lelah sekali, tangannya sampai pegal, padahal hanya menggambar alis. Dia harus membiasakan diri agar bisa jadi pro. "Kenapa aku harus terlahir tanpa alis?! Ini menyebalkan!" gerutu Han Rae. Bel apartemennya tak lama berbunyi, Han Rae pun melirik jam dinding, sudah jam 7 rupanya. Itu pasti Yongtae. Tidak ada yang tahu tempat tinggal barunya selain Yongtae dan Daniel. Han Rae melihat ke arah badannya, ia bahkan sampai lupa belum pakai baju, masih hanya memakai handuk. Saking fokusnya dandan. Dengan terburu-buru Han Rae mengenakan baju yang sudah ia siapkan, celana denim biasa, dan kaos hitam lengan panjang. Selesai mengenakan pakaiannya, Han Rae segera bergegas membukakan pintu. Tak lupa sebelumnya mengantongi ponsel dan dompetnya dulu pada kantung celana jeansnya. Han Rae bukan tipe gadis yang suka membawa tas, jadi dia hanya mengandalkan kantung bajunya untuk membawa barangnya. "Lama sekali." Dengus Yongtae sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. "Lama? Kau saja kan baru datang.” Balas Han Rae sembari keluar dari unit apartemennya, tak lupa smenutup pintunya. "Daniel tidak datangkan?" tanya Yongtae. "Tidak, tapi rencananya dia mau ke apartemenmu untuk mematahkan tulang-tulangmu, karena sudah mencoret-coret wajahnya." Wajah Yongtae seketika menegang mendengar perkataan Han Rae. Mengingat besar tubuh Daniel dua kali lipat darinya, pasti akan sangat mudah bagi Daniel untuk mematahkan tulang-tulangnya. Yongtae bergidik ngeri saat membayangkannya. Melihat Yongtae yang malah melamun, Han Rae pun mengguncang lengannya, membuat Yongtae seketika tersadar, dan sontak menolehkan kepalanya ke arah gadis itu. “Apa?” tanya Yongtae dengan nada sedikit panik. "Aku cantik tidak?" tanya Han Rae sambil mengedip-ngedipkan matanya, dan menunjuk ke arah wajahnya sendiri. Kening Yongtae mengernyit dengan mata menyipit, seolah wajah Han Rae ada di jarak yang sangat jauh. "Huh?" tanya Yongtae. Han Rae seketika mengerucutkan bibirnya. "Aku dandan berjam-jam, masak tidak ada perubahan sih?" dengus Han Rae. "Ya ada, tapi biasa saja." Balas Yongtae jujur, yang membuat Han Rae berdecih, dan semakin manyun. "Kau dandan sendiri?" tanya Yongtae. "Menurut mu?" respon Han Rae sinis. "Bagus." Puji Yongtae pada akhirnya. Meskipun singkat, rupanya itu berhasil membuat Han Rae tersenyum lebar dan wajahnya berubah jadi berseri-seri. "Benarkah? Jadi aku terlihat cantik kan?” tanya Han Rae untuk memastikan. "Iyaa..." balas Yongtae malas, karena Han Rae bertanya sambil mengguncang-guncang tubuhnya, dan mencondongkan wajah ke arahnya. "Woahahaha, aku terlihat cantik. Tidak sia-sia dandan berjam-jam." Han Rae memekik senang, sembari meletakan kedua tangannya di bawah dagu. Ia kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya untuk bercermin. Kerja kerasnya ternyata membuahkan hasil. Tentu saja Han Rae jadi sangat senang. Yongtae memutar kedua bola matanya malas melihat tingkah Han Rae, dan memilih jalan duluan. Han Rae buru-buru menurunkan ponselnya dari wajahnya, dan mengejar Yongtae. Yongtae kira Han Rae sudah selesai narsisnya, tapi sesampainya di parkiran, ia kembali melihat ke ponselnya untuk bercermin. Han Rae sampai tidak sadar kalau di depannya ada pilar, dan... bruk! Yongtae sontak menolehkan kepalanya ke belakang, karena debuman yang kencang. Matanya melebar melihat Han Rae yang terduduk di aspal, sembari memegangi hidungnya. Bukannya membantu Han Rae yang baru menabrak pilar hingga terjatuh, Yongtae malah menertawainya. Tawa yang sangat keras dan puas, membuat Han Rae berteriak. “Diam! Jangan tertawa!” Yongtae susah untuk berhenti tertawa, meskipun ia sudah mencobanya, sampai menutup mulut. “Ngapain sih? Sampai nabrak pilar begitu, hahahaha.” “Yongtae! Aku peringatkan untuk berhenti tertawa!” seru Han Rae. “Tidak bisa, hahaha.” Kata Yongtae sembari memegangi perutnya, kemudian memukul-mukul lututnya. Wajah Han Rae merah padam, dengan bibir bawah yang maju ke depan. Ia kemudian bangkit berdiri, dan mengejar Yongtae yang langsung berlari sambil tertawa. “Yongtae! Berhenti kau! Sialan!” maki Han Rae. “Awas hati-hati, kau bisa menabrak pilar lagi nanti!” sahut Yongtae sambil tertawa. Yongtae tidak sadar kalau di depannya ada pilar, dan bisa ditebak kejadian selanjutnya. Brak! Yongtae menabrak pilar, dan langsung jatuh terkapar di aspal. Han Rae seketika berhenti berlari, kemudian menutup mulutnya. Dia hendak tertawa, tapi melihat Yongtae tidak bergerak, membuat Han Rae panik. Han Rae langsung menghampiri Yongtae, dan berjongkok di sebelahnya. Hidung Yongtae mengeluarkan darah, dan matanya terpejam. Han Rae mengguncang tubuh Yongtae, dan menepuki pipinya secara bergantian dan berulang. “Yongtae, bangunlah, kau tidak apa-apa? Astaga. Bagaimana ini? Tolong jangan mati dulu. Kontrak kita bahkan belum mulai. Makanya kalau lari lihat-lihat dong, aduhhh, Yongtae! Ayo bangun!” Han Rae gusar. Yongtae sama sekali tidak bergerak, meskipun ia sudah keras-keras mengguncang tubuhnya. Han Rae mengedarkan pandangannya, berniat cari bantuan. Sampai dia tidak menyadari kalau Yongtae sudah membuka matanya. Melihat Han Rae yang tampak gusar, membuat Yongtae menyeringai. Ia tiba-tiba bangun, dan menyerang Han Rae dengan cara mendorongnya, dan memutar balik tubuh Han Rae hingga berbaring di aspal. Han Rae sontak berteriak, dan memukul wajah Yongtae terkejut. Yongtae yang tidak menyangka akan dipukul, langsung mengaduh kesakitan sembari menjauh dari Han Rae. Han Rae bangkit duduk, kemudian menghampiri Yongtae. Dia mau memukul Yongtae lagi karena sudah mengerjainya, tapi melihat darah yang keluar dari hidung Yongtae, membuat Han Rae mengurungkan niatnya. Han Rae berdecak, sembari menyingkirkan tangan Yongtae yang sebelumnya menutupi wajahnya. Ia menggunakan ujung lengan bajunya, untuk mengelap darah yang keluar hidung Yongtae, membuat Yongtae terkejut. “Apa yang kau lakukan?” tanya Yongtae. “Ya mengelap darah mu lah, apa lagi?” balas Han Rae. “Kenapa pakai lengan baju mu? Kau kan baru mandi.” Kata Yongtae. “Mau dilap pakai apa lagi? Lagian kau ini ya. Sudah tua juga, masih seperti anak-anak saja.” Dengus Han Rae. “Yang membuat ku jadi seperti anak-anak begini kan kau.” Kata Yongtae. “Huh? Aku? Bagaimana bisa kau menjadikan ku kambing hitam.” Kata Han Rae. Yongtae menatap wajah Han Rae sejenak, sebelum melihat ke arah lain. “Aku biasanya serius dan dewasa kok, yang biasanya aku pikirkan hanya pekerjaan. Tapi akhir-akhir ini isi pikiran ku aneh, itu sejak bertemu dengan mu. Yah, memang sih aku jadi tidak terlalu stress seperti biasanya. Tapi sebelumnya aku tidak pernah begini tahu.” Tutur Yongtae. “Jadi menurut mu itu hal bagus atau tidak?” tanya Han Rae sembari mendekatkan wajahnya pada Yongtae. Yongtae menatap Han Rae dengan tatapan datar. “Apa-apaan ini? Kenapa kau mendekatkan wajah mu?” “Jawab pertanyaan ku.” Ucap Han Rae. “Mana aku tahu! Sudahlah, kita harus pergi sekarang. Sudah telat nih.” Kata Yongtae sembari beranjak berdiri, dan berusaha membuang mukanya dari Han Rae, agar tidak wajahnya tidak dapat dilihat gadis itu. Han Rae menyeringai kecil, Yongtae sepertinya salah tingkah. ••• "Wow," ucap Han Rae sambil menatap lapar steak daging di depannya, matanya tampak jauh lebih berbinar lagi saat seorang pelayan menuangkan wine pada gelasnya. "Wow," gumam Han Rae lagi dengan tatapan matanya yang memancarkan kekaguman. "Wow terus, dasar norak. Ayo di makan." Kata Yongtae untuk menyadarkan Han Rae, tapi Han Rae rupanya masih belum sadar, dan malah berkata ‘wow’ lagi, yang membuat Yongtae memutar kedua bola matanya malas. "Wow apa lagi?" tanya Yongtae kesal. "Pelayan tadi sangat hot." Balas Han Rae jujur saat pelayan yang tadi mengantarkan makanan dan menuangkan wine sudah pergi. "Kau itu memang aneh. Kenapa tidak ada malu-malunya sih, memuji orang, terlebih pria di depan sesama pria? Astaga. Gengsi sedikit kek.” Han Rae menggaruk kepalanya. “Ya apa salahnya jujur soal pendapat ku? Toh, tidak merugikan siapapun. Aku kan tidak melontarkan kalimat buruk yang bisa menyakiti orang lain.” Yongtae tertegun. “Ada ya orang seperti mu?” komentar Yongtae. “Ya banyaklah. Apa kau sakit hati atau cemburu karena aku memuji pria lain?” balas Han Rae sembari menyeringai. Yongtae berdecih. “Cemburu? Yang benar saja?” “Yaaa, mungkin sajakan? Tapi kau malam ini tampan kok.” Kata Han Rae sambil tersenyum simpul. Yongtae membuang muka. “Aku selalu tampan setiap hari.” “Aku akui itu sih,” ucap Han Rae sembari mengambil garpu dan pisaunya untuk mulai makan. Yongtae diam-diam melirik Han Rae. Sebelah lengan bajunya yang tadi ia gunakan untuk mengelap darah mimisannya, jadi ia gulung sampai sesiku. Han Rae terlihat nyaman dan baik-baik saja dengan itu, padahal kalau Yongtae membayangkan itu dirinya, ia akan merasa risih dan jijik. Han Rae... benar-benar unik.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN