“Besok kita diundang ke selamatan wisuda magisternya Mas Andi. Kamu bisa ikut?” tanya Bayu pada Fara paginya saat bersiap pergi bekerja.
“Kepalaku pusing, Mas. Kayaknya, aku nggak bisa ikut. Mas aja, ya? Nggak apa-apa?” tanya Fara.
Akhir-akhir ini Fara memang dia sedang masuk angin. Dia merasa harus banyak beristirahat. Meski sebenarnya dia ingin mengenal keluarga Bayu lebih dekat karena waktu acara perayaan pesta emas mertuanya, dia belum sempat menyapa mereka satu per satu.
“Oke, aku sendiri. Kamu istirahat aja, ya?”
Fara telah menemukan sebuah warung yang agak jauh untuk membeli sayur. Jadi, Bayu bisa makan pagi dengan satu mangkuk kari telur dan tempe goreng. Sederhana sekali karena Fara memilih untuk berhemat uang sisa tabungan sewaktu suaminya bekerja di perusahaan di luar kota.
“Iya, Mas.”
Fara merasa lega karena suaminya tidak menolak keinginannya untuk tidak ikut. Dia mengantar kepergian sang suami menggunakan mobil mereka di depan rumah.
Beberapa hari setelah perayaan pesta emas pernikahan mertuanya, Fara belum menginjakkan kaki lagi ke rumah itu. Dia merasa agak aneh saja. Kenapa ibu mertuanya tidak menghubungi tentang sayur yang tertukar dengan sampah? Setidaknya meminta maaf karena keliru telah memberikan bungkusan sampah padanya.
Fara hanya menghela napas teringat akan hal itu.
“Semoga omongan Mas Bayu benar. Mama mertua hanya keliru saja, bukan disengaja.”
***
Rumah Dela, kakak pertama dari Bayu tampak ramai sore itu karena mereka akan mengadakan syukuran wisuda Andi, suaminya yang berhasil meraih S2 untuk menaikkan jabatannya di perusahaan, karena akan dipromosikan menjadi manager pusat.
Bayu yang pulang dari kerja shif pagi, segera melajukan mobilnya langsung ke rumah kakak kandungnya, Dela.
Semua keluarga sudah ada di sana. Kakak keduanya dengan suami dan dua putrinya yang cantik-cantik juga sudah duduk manis di sana. Kakak kedua Bayu bernama Putri dan suaminya bernama Haris. Haris bekerja sebagai seorang pemilik restoran di kota dengan bayaran yang sangat tinggi untuk hidup di kampung. Rumahnya sampai bertingkat tiga dan tampak jelas rumah Putri adalah rumah paling besar di kampung.
Sedangkan rumah Dela juga nyaris sama besarnya dengan rumah Putri, tapi tidak kalah mewah dengan barang-barang yang luar biasa harganya.
“Weh, Bayu udah datang. Sendirian, Yu?” sambut Putri yang sudah memegang cangkir berisi teh hangatnya.
“Iya, Mbak. Fara lagi masuk angin, jadi nggak bisa datang.”
“Lah, nanti siapa yang beres-beres kalo istrimu nggak dateng?” serobot Dela yang keluar dari dalam, mendengar percakapan Putri dan Bayu.
“Kan ada pembantu di rumah Mbak Dela,” tukas Bayu.
“Banyak tamu, Yu. Kamu nggak ngerti aja, pembantuku juga kurang. Dari pada istrimu nganggur kan mendingan dia bantu-bantu bersih-bersih kayak kemarin.”
Bayu mendengkus mendengar ucapan Dela.
“Lagian, kemarin pas perayaan pernikahan emas Mama, kalian bawain kadonya kecil banget. Masa cuma handuk ditulis nama papa sama mama. Souvenir yang aku bagiin ke tamu undangan aja mahal, masa kadonya murahan,” gerutu Putri, teringat waktu mereka bersuka ria membuka kado-kado dari para tamu, sedangkan Fara sibuk membersihkan ruangan.
“Ya sebenernya Fara udah kusuruh beli cincin, tapi dia pesan handuk custom di temennya, Mbak. Katanya mau ngelarisin dagangan temen,” papar Bayu, mengulang usulan istrinya. Alasan sebenarnya juga untuk menghemat uang.
“Iya ... kalo ngelarisin itu lihat barangnya juga. Handuk, emang kita kekurangan peralatan mandi?” kekeh Putri dengan tawa mengejek.
Bayu makin kesal mendengar ucapan kakaknya, tapi memang benar kemarin dia sempat protes pada Fara karena istrinya itu ngotot memberikan hadiah sederhana. Bayu mau menggunakan seluruh gajinya untuk membelikan sepasang cincin, tapi Fara menahannya. Kata istrinya itu, kebutuhan mereka juga sedang habis.
Sekarang imbasnya, Bayu jadi bulan-bulanan di dalam keluarganya.
***
Fara merasa tidak enak petang itu karena tidak datang ke rumah kakak iparnya. Minum secangkir jahe membuat badannya cukup enakan. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah Dela. Dengan memakai atasan putih dan celana kulot bersih, dia berencana untuk memesan ojek online jika Bayu yang sudah berada di rumah Dela setuju dengan keinginannya.
Fara: Aku udah baikan, Mas. Nggak enak kalo nggak ikut ngucapin selamat buat Mas Andi.
Bayu: Trus?
Fara: Aku mau ke rumah Mbak Dela, sendiri aja, Mas. Nggak usah dijemput, pake ojol.
Bayu: Tapi kamu lagi sakit. Nggak usah lah.
Fara: Abis aku pikir-pikir, nggak enak juga Mas.
Fara harus menunggu beberapa saat untuk balasan suaminya. Sepertinya pria itu sedang berpikir.
Bayu: Oke, aku shareloc ya?
Fara: Iya.
Pada akhirnya, Bayu menyetujui keinginan Fara. Dengan mantap, Fara memesan ojek online.
Lima menit kemudian, driver ojek online sudah datang. Karena itu, Fara memakai kulot yang mudah dipakai ketika harus naik ojek. Suasana petang itu agak dingin, angin berhembus mengenai kulit Fara sampai merinding. Andai dia tidak mengindahkan perasaan tidak enaknya, dia memilih meringkuk di balik selimut saja.
“Sebentar aja, kan? Yang penting kelihatan dateng,” gumam Fara, ingat bahwa dia melakukan itu demi nama baik suaminya agar tidak kelihatan lucu sendirian datang ke acara keluarganya.
Fara sampai di depan gerbang besar sebuah rumah yang cukup besar juga. Dia menatap rumah itu, lalu melihat nomor rumahnya.
“Oh, bener ini. Makasih ya, Bang,” ucap Fara pada driver setelah mengembalikan helm yang cukup bau itu. Demi ke rumah itu, Fara menahan hidungnya. Salah dia sendiri tidak membawa helm sendiri. Fara merapikan rambutnya lalu masuk ke dalam rumah yang sudah agak ramai oleh orang-orang yang berdatangan.
“Mas,” panggil Fara ke suaminya yang sedang berdiri di depan pintu, membawa sebuah gelas berisi minuman bersoda.
“Minum dulu aja, Fara. Makan itu,” suruh Bayu menunjuk ke banyaknya makanan di atas meja besar yang sudah dikelilingi oleh orang banyak.
Sesungging senyum tampak di wajah Fara. Perempuan itu mengambil beberapa snack secukupnya dan makan di dekat Bayu.
“Mas, kenapa aku nggak disuruh ketemu sama Mas Andi? Aku juga mau salim, kasih selamat gitu,” tutur Fara setelah beberapa saat di ruang tamu. Dia melihat ibu mertua dan ayah mertua di dalam, tapi entah kenapa Bayu tidak langsung membawanya ke dalam.
“Nanti aja kalo udah sepi,” sahut Bayu.
Fara mendekik, tapi menuruti Bayu karena mungkin memang masih banyak orang dan mungkin suaminya ingin agar pertemuan mereka lebih nyaman.
***
Akhirnya, pesta selesai dan Fara mulai masuk ke ruang tengah yang cukup luas itu. Dia menyalami kedua mertua yang kaget, tapi tersenyum masam padanya.
“Mas, mama lagi marahan sama papa?” desis Fara melihat mimik ibu mertuanya.
“Hus, nggak. Ya, mungkin kaget kamu datang. Mereka kan taunya kamu sakit tadi,” sahut Bayu.
“Oh.”
Nyaris Fara menghempaskan bobotnya di sofa panjang nan besar itu, jika Bayu tidak menyuruhnya untuk bergegas ke dapur.
“Ke dapur dulu, Fara. Kita nggak bawa hadiah, jadi kamu bantu-bantu di sana, ya?” pinta Bayu.
Fara mengerutkan dahi, tapi lalu menurut saja. Terdengar aneh memang, seolah kado adalah hal utama dalam perayaan.
“Aku kan udah doain biar ilmunya Mas Andi berguna—“
“Nggak usah ngigau, Fara.”
Bayu mendorong istrinya masuk ke dalam dapur. Fara menghela napas melihat para asisten rumah tangga sedang sibuk membersihkan dapur. Dia pun mulai mengambil serbet dan seperti tempo hari, para asisten rumah tangga itu menatapnya heran, tapi tidak berani bertanya kenapa adik ipar majikannya ikut membantu mereka.
Namun, tidak seperti waktu perayaan pesta emas mertuanya waktu itu, Fara selesai memberesi piring karena pembantu rumah tangga Dela sangat sigap melakukan bersih-bersih. Dia pun selesai hanya dalam setengah jam saja di dapur.
“Sudah cukup ya? Mari,” salam Fara ramah pada asisten rumah tangga yang berjumlah tiga orang itu. Mereka tersenyum ramah juga pada Fara dan berbisik-bisik membicarakan soal Fara.
Fara tak menggubris para asisten itu, lalu bergegas ke ruang tengah untuk bertemu dengan ipar-iparnya. Tidak sabar untuk mengucapkan selamat karena sedari tadi dia belum sempat. Bayu selalu saja menghalanginya.
Namun, tinggal dua langkah lagi ke ruang tengah, dia mendengar sesuatu yang menyakitkan.
“Istrimu itu, lulusan apa, Yu?” tanya Andi, pria yang sekarang menyesap minumannya.
Fara menghentikan langkahnya, mepet ke tembok agar mendengar percakapan di dalam ruang tengah.
“Palingan cuma lulusan SMA! Udah bagus anak panti asuhan bisa lulus SMA,” celetuk Putri.
Fara mengintip dari celah pintu. Bayu tampak hanya diam dengan wajah kecut mendengar suara-suara para kakak iparnya.
“Iya, aku yakin istrimu itu nggak pernah merasakan wisuda. Paling banter, wisuda SMA, tanpa skripsi. Bayu, Bayu, kamu itu bisa-bisanya dapetin cewek kayak gitu. Datang ke pesta begini pake ojek, lagi. Kenapa nggak kamu jemput? Kamu pasti nggak tau kalo dia mau dateng? Alasan aja Bayu tadi nutupin kalo si Fara anak panti asuhan itu sakit. Nyatanya, dia bisa dateng,” celetuk Dela, tak kalah pedasnya.
“Pasti Bayu malu banget kalo istrinya dateng, jadi nggak dibarengin,” timpal Putri.
“Udah deh, Mbak!” sungut Bayu kesal.
Fara merengut mendengar ucapan-ucapan para iparnya. Dia pun muncul dari balik pintu dengan wajah cemberut, membuat semua orang di dalam menoleh dengan kaget tidak menyangka Fara sudah masuk ke dalam.