Bungkusan Pemberian Mertua
Fara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tiga kotak plastik berisi sayur dan nasi yang tidak layak makan di atas meja.
“Semacam sampah,” gerutunya pelan.
Fara menyugar rambut panjangnya karena sempat berpikir bahwa mertuanya sangat baik telah memberinya makanan dari pesta perayaan pernikahan emas yang digelar sore tadi dengan mengundang banyak rekan kerja dan mitra bisnis ayah mertua yang bekerja sebagai pengusaha cukup sukses di bidang pariwisata. Mengelola beberapa hotel di kota itu. Nyatanya, kebaikan itu memudar sudah dengan pemberian yang tidak layak.
“Nasi basi, opor ayam ... ah, ini bahkan nggak bisa disebut opor ayam. Gosong gini, nggak ada yang bisa dimakan.” Tangan Fara sibuk mengaduk sayur yang disebut opor dengan ceker dan kepala ayam yang hitam sebagian.
Fara masih mengaduk jika ada potongan daging lain yang bisa dimakan, tapi seluruh bagiannya memang tidak bagus.
“Benar-benar sisa.”
Fara memutuskan untuk membungkus lagi apa yang dia sebut ‘sampah sisa’ itu dan berniat keluar untuk berbalik dan menggedor pintu rumah mertuanya untuk menanyakan keheranan dalam benak gara-gara bungkusan itu.
Namun, niatnya gagal karena mendengar deru mobil sang suami, Bayu, yang terdengar baru memarkir mobil di garasi. Fara kembali meletakkan bungkusan di atas meja, lalu memutuskan untuk mengadukannya pada sang suami saja. Bagaimana respon suaminya melihat bungkusan tersebut.
Seperti biasa dengan senyum dan tangan terulur untuk mengambil tas dan mencium punggung tangan suami, Fara menyambut kedatangan pria itu setiap harinya. Namun, kali ini pikirannya tentang nasi dan sayur tak layak itu cukup mengganggu. Jadi, dia segera mengatakan keresahannya pada sang suami.
“Mas, tadi mama kasih makanan ke kita, tapi kok aneh, ya?” ungkap Fara, ragu karena takut akan menyinggung perasaan pria itu. Dia meletakkan tas Bayu di atas kursi.
“Kenapa, emang?” tanya Bayu, penasaran melirik Fara yang sekarang sudah menyodorkan cangkir berisi kopi kental yang masih mengepulkan asap tipis dan bau yang enak.
“Mmm, coba aja Mas lihat sendiri,” sahut Fara, memutuskan agar Bayu bisa menilai menurut pandangannya sendiri.
“Mana sih?” Bayu penasaran dan menduga-duga dalam benaknya sambil menunggu istrinya.
Jemari lentik Fara tampak tidak sabar membuka bungkusan yang tadi sudah dia ikat untuk menunjukkan pada sang suami dan mengetahui reaksi pria itu. Dia mengeluarkan tiga kotak berisi sayur, nasi dan sambal. Tepatnya, kuah sambal karena memang sudah tidak ada isinya sama sekali. Bahan lain tidak diikutkan dalam sambal yang sudah dibuka, padahal jelas-jelas tadi Fara melihat kuah itu bukan sekadar dari cabai, melainkan ada potongan daging dan kentang yang berlimpah.
Masih banyak sajian lain, tapi hanya tiga jenis makanan yang diberikan oleh mertua Fara, itupun tidak bisa dimakan. Fara saja tidak akan tega memberikan makanan seperti itu pada orang gila sekalipun.
“Oh,” sahut Bayu datar, tanpa ada nada kaget, sesaat usai menatap isi kotak yang digamblangkan Fara di atas meja.
“Hanya ‘oh’?” protes Fara, tidak puas dengan tanggapan sang suami.
Bukan ingin lelaki itu mengamuk pada ibunya, tapi setidaknya dia bisa mengatakan sesuatu yang menunjukkan bahwa dia sependapat dengan pikiran istrinya.
“Terus? Aku harus bilang gimana? Itu bisa saja kesalahan, Fara. Kamu jangan bersikap naif. Kamu tau kan, kalo mama sudah tidak muda lagi? Bisa saja bungkusan itu tertukar. Yang harusnya diberikan padamu, tidak sengaja tertukar dengan bungkusan yang harusnya dibuang. Logis, kan?” tegur Bayu.
Fara menghela napas, mengelus dadanya. Meski masih ada rasa yang janggal, tapi rasanya omongan Bayu memang ada benarnya. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Mungkin saja karena lelah, Sundari, ibu mertuanya memang keliru membekalinya ‘sampah’ untuk dia bawa pulang.
“Oh, iya juga ya, Mas. Tapi—“
“Tapi apa lagi Fara? Aku capek. Kamu tau kan pekerjaanku sekarang? Karena terkena PHK, aku boyong kamu ke sini. Aku harus kerja ikut papa, tapi nggak seperti orang pikir enak. Meskipun perusahaan papa, tapi aku harus mulai lagi dari nol, Fara. Jadi jangan membebaniku pikiranku.”
Bayu harus bekerja di perusahaan ayahnya karena dia tidak bisa mencari pekerjaan lain lagi.
Fara mendesah melihat suaminya kelihatan jengkel, masuk ke kamar mandi. Akhir-akhir ini setelah pindah, tampak sekali perubahan sikap Bayu yang uring-uringan sepulang kerja. Bahkan, setelah pesta emas pernikahan kedua orang tuanya, sang papa tega menyuruh dirinya kembali untuk urusan kantor.
Pada akhirnya, Fara harus memendam perasaan aneh yang muncul saat berada di rumah mertuanya tadi. Entah sedang sibuk atau bagaimana, para iparnya tidak mengakrabi dirinya. Setelah Bayu pergi tadi, Fara harus mendekati ke tempat pelayan yang membersihkan dapur.
Para pelayan yang tidak enak, tidak membuat Fara berpindah untuk berkumpul bersama dengan para iparnya. Dia memilih ikut membersihkan ruangan yang barusan dipakai pesta.
Keganjilan itu hanya bisa dia simpan sendiri. Memprotes pemberian ibu mertuanya saja, membuat Bayu marah, apalagi mengatakan sikap para iparnya.
Apa tidak akan mengamuk.
Tiga kantong itu berakhir di tong sampah, menyisakan tanya di benak Fara. Pertanyaan bermacam-macam yang ingin sekali dia ketahui. Dia yakin, suatu saat pasti akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.
***
Rumah besar keluarga Handoyo masih terasa ramai setelah pesta. Handoyo dan Sundari sedang duduk di ruang tengah yang luas bersama dengan kedua anak mereka, Dela anak pertama dan Putri anak kedua. Masih mengenakan gaun kaftan berharga belasan juta, keduanya duduk sembari mengobrol dan tertawa.
Di samping mereka ada pasangan masing-masing, yaitu Andi, suami Dela dan Haris, suami Putri.
“Heran deh, si Bayu.”
Putri memulai percakapan setelah mereka tertawa bersama membahas pesta tadi.
“Masa dia bisa nikah sama perempuan kayak si Fara itu? Dateng ke pesta emas mertuanya udah kayak ke ulang tahun aja. Bajunya Cuma dress yang nggak banget,” kekeh Putri, mencomot kue keju premium dari atas meja yang mereka lingkari. Di atas meja itu masih banyak hidangan melimpah ruah. Mereka masih kenyang karena baru saja makan di ruang makan yang juga masih penuh dengan makanan.
“Iya, mana ketemunya di panti asuhan? Geli banget nggak sih,” celoteh Dela, melirik kedua orang tuanya yang menghela napas mendengar percakapan itu.
Apa yang menyangkut Bayu dan Fara memang tidak pernah mereka sukai. Bayu yang nekat menikahi Fara karena terpikat wajah ayu perempuan itu, tak meminta persetujuan mereka. Bahkan konon katanya ayah Fara datang menaiki sepeda motor butut ketika berlangsung ijab kabul di masjid belakang panti asuhan. Tidak ada yang melihat langsung wajah ayah Fara karena ditutupi masker dan mengenakan topi serta lucunya kacamata hitam.
“Pasti orang tuanya melarat banget sampe nitipin anaknya ke panti asuhan. Mana ada sih orang tua yang nitipin anak ke panti asuhan, kecuali karena faktor nggak ada biaya?” celetuk Dela.
“Mama juga nggak ngerti, kenapa Bayu itu sampe bisa nikah sama orang miskin macam Fara. Sampe dia di-PHK dari jabatan manager di Surabaya itu, pasti karena uangnya dikasihkan ke istrinya dan anak panti asuhan itu tidak bisa mengelola dengan baik. Payah,” gerutu Sundari, melipat kedua tangan, lalu menepuk sisi rambutnya yang dikonde modern dengan lembut.
“Biar aja si Bayu Papa kasihin ke bagian karyawan. Biar dia merasakan dari bawah. Enak aja kalo dikasih posisi langsung manager di perusahaan kita. Ya enak-enak istrinya, terus usaha kita bisa terancam bangkrut,” timpal Eka Handoyo, pemilik tiga hotel bernama Handoyo di kota itu.
“Bener, Papa. Aku juga nggak rela kalo ada kaum dari kalangan miskin masuk ke keluarga kita. Satu titik nila, rusak s**u sebelanga,” imbuh Putri, setuju dengan keputusan ayahnya.