06

1646 Kata
"Kau yakin?" Tanya Joseph saat Tristan tengah menancapkan empat batang kayu panjang pada tanah, hingga membentuk kotak. "Aku yakin. Disini terlihat aman dan sepi. Kita bisa mandi disini. Cepat bantu aku pasang kayu-kayu ini." Balas Tristan. Kevin tidak banyak berbicara. Hanya diam sembari membantu Tristan menancapkan kayu yang cukup tebal dan berat pada tanah. Setelah merasa empat batang kayu itu, tertancap sempurna. Tristan memanggil Daniel untuk mengikat sudut-sudut kain pada bagian pucuk kayu. Jangan tanya kenapa dia minta bantuan Daniel. Tristan tidak sampai untuk mengikat kain pada ujung pucuk kayu yang tinggi. Setelah mengikat sudut kain, Daniel menambahkan dengan menggulung tali pada kayu dan kain sekaligus. Memastikan kain tidak akan merosot. Mereka saat ini tengah berada di hutan yang sudah gundul, dan mereka parkir di kaki bukit. Di sini tampak sepi tanpa gangguan zombie. Namun tetap saja mereka tetap harus berjaga-jaga. Lucas, Mark dan Edward bertugas naik ke atap mobil, untuk memasang kran dan selang pada tangki air yang berada di atap mobil. "Aku tidak pernah berfikir akan menjalani hidup sesusah ini. Astaga, tangki ini penuh dengan darah dan liur zombie. Hati-hati jangan menyentuhnya." Ujar Edward. "Tristan! Bisakah aku minta tali dan kain lap? Tali yang mengikat tangki ini hampir putus, dan banyak darah juga liur zombie." Kata Lucas pada Tristan yang sedang minum. "Tunggu sebentar." Balas Tristan kemudian segera melesat memasuki bagasi mobil. "Air ini akan cukup untuk beberapa kali mandi?" Tanya Mark. "Entahlah. Kita harus jarang mandi, untuk menghemat air." Balas Lucas. "Baju ganti kita juga hanya ada tiga. Kita harus menjaganya jangan sampai kotor dengan hal lain selain keringat kita. Jaket dan celana ini bisa dibersihkan hanya dengan di lapkan?" Ujar Edward sembari mengusap jaket yang membaluti tubuhnya. "Mungkin." Gumam Mark. "Seharusnya dalam kondisi seperti ini, kita jangan memikirkan kebersihan dulu." Kata Lucas. "Tapi Tristan mungkin akan mengomel jika kita terlalu kotor. Padahal dia sendiri pasti juga kotor." Balas Edward. "Aku terkadang benci pria itu." Lucas berujar dengan lirih. "Hei, bukan salah Tristan. Memangnya kalian tidak jijik dengan darah dan liur zombie yang ada di tubuh kita?" Mark mencoba membela Tristan. Tak lama Tristan datang dengan membawa tali dan beberapa buah kain lap. Ia memanjat untuk memberikannya pada Lucas, Mark dan Edward. Sebelum akhirnya turun kembali. Johnny tidak ikut membantu, karna sudah kelelahan menyetir. 7 jam. Dan dia tidak berhenti sama sekali. Sedangkan teman-temannya yang lain tidur selama 7 jam itu. Tidak ada yang bisa menyetir sebaik Johnny, itu sebabnya tidak ada yang bergantian menyetir dengan Johnny. Rosa juga masih beristirahat, karna kepalanya agak pusing. -- -- -- "Siapa yang akan mandi duluan?" Tanya Daniel sembari membuka jaketnya, menyisakan kaos abu-abunya. Udara tiba-tiba terasa panas. "Rosa saja. Lady first." Ucap Lucas. "Ya sudah. Biar aku bangunkan dia." Timpal Kevin dan akan beranjak berjalan menuju mobil, namun Tristan menahannya. "Biar aku saja." Tristan berujar seraya langsung melangkah mendekati mobil dan masuk ke sana. "Tingkahnya sering sulit ditebak." Komentar Lucas. "Mmh." Gumam Edward yang berdiri di sampingnya. "Hei, kenapa kau terlihat sangat membenci Tristan?" Tanya Lucas sembari menatap serius Edward. "Aku tidak membencinya." Tangkis Edward dengan kening mengernyit. "Jangan bohong. Kalau ada masalah dengannya, bicarakan baik-baik. Dari awal kau selalu sinis dengan Tristan." Joseph ikut campur. Edward menatapi teman-temannya yang berada di sekelilingnya. "Jangan paksa aku untuk bercerita." -- -- -- Tristan menatap Rosa yang masih tidur. Ia sebenarnya penasaran dengan luka Rosa. Dengan hati-hati Tristan mengangkat kaos Rosa ke atas, hingga menampakan perutnya. Kevin tidak melapisinya dengan kapas, perban atau kain kasa. Ia hanya memberinya obat merah. Lukanya memang tidak terlalu parah, besok juga mungkin sembuh. Rosa tiba-tiba menggeliat, membuat Tristan dengan terburu-buru menurunkan kembali kaos Rosa. "Hei bangun, mandi sana. Kami sudah siapkan tempat dan airnya." Ujar Tristan. Rosa dengan susah payah beranjak duduk. Ia meringis kecil sembari memegang perutnya. "Kepalamu masih pusing?" Tanya Tristan. "Sedikit. Tapi setelah mandi dan minum obat, mungkin akan lebih baik." Balas Rosa. "Jangan lupakan makan. Kau harus makan dulu sebelum minum obat. Sana cepat mandi. Bawa handuk dan baju gantimu. Oh, peralatan mandi juga. Kami akan berjaga selama kau kau mandi, jadi tidak perlu khawatir." Rosa menatap ragu Tristan. "Bukan Lucas yang berjaga. Dan kami tidak akan mengintip. Kami tidak mau cari penyakit sendiri, cepatlah. Jangan buang waktu. Yang lain juga ingin mandi." Rosa akhirnya menghilangkan rasa khawatirnya, kemudian menganggukan kepalanya. -- -- -- "Kalian tidak lelah berdiri? Kenapa tidak ganti-gantian saja berjaganya?" Tristan seketika mendelik tajam pada Lucas yang baru berujar. "Diam kau bocah." Ucap Tristan singkat. Lima menit kemudian berlalu, Rosa akhirnya selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi buatan itu, dalam balutan celana dan kaos yang baru, namun dengan warna dan model yang masih sama. "Maaf lama." Ucap Rosa yang merasa tidak enak. Ia sadar sudah menghabiskan waktu dua puluh menit untuk mandi. Itu karna ia berulang kali menyabuni tubuhnya, masih merasa geli dengan sisa-sisa darah dan liur zombie pada tubuhnya. "Tidak masalah." Ucap Daniel sembari tersenyum. "Sekarang, bisa tolong siapkan makan... eum, sekarang malam, siang, atau pagi ya?" Tanya Daniel. Semua orang menggendikan bahu. Cuaca masih panas dan terik sekali, seperti tidak ada pergatian waktu. Tristan melirik arlojinya. Jarum jam menunjuk angka 4. "Jam 4 sore. Wow, seharusnya kita makan siang sejak beberapa jam yang lalu." Ujar Tristan. "Ya sudahlah. Yang penting, Rosa, tolong siapkan makanan ya? Kau... sudah tidak pusing lagi kan? Atau masih?" Rosa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Daniel. "Oke, selanjutnya siapa yang mau mandi?!" Seru Tristan. "Aku!" Teriak Edward. "Aku sudah gatal-gatal." Tristan akhirnya mempersilahkan Edward mandi, tanpa berkomentar apapun. -- -- -- Rosa menyiapkan makanan, dengan bahan yang sudah dibekalkan untuk mereka. Kebanyakan makanan yang dibawa makanan instan, jadi lebih mudah untuk memasaknya. Hanya tinggal menggunakan microwave. Ia melirik Johnny yang tampak sudah bangun. Namun hanya duduk, bersandar pada jok mobilnya yang ia buat mundur, sembari menatapi kalung yang ada di tangan kanannya. Wajahnya tampak murung. "Kau baik-baik saja?" Tanya Rosa, sembari melompat ke bagian depan mobil, dan duduk di jok yang biasanya di duduki Tristan. Selagi menunggu makanan matang. "Aku bertemu kekasih dan Ibuku." Balas Johnny singkat. Ia mendengus pelan. Sedangkan Rosa melebarkan matanya. "Lalu apa yang terjadi?" "Aku menembak kekasihku, dia sudah menjadi zombie kanibal. Namanya Linda." Johnny bercerita, disertai senyuman kecil. Mungkin sedang mengingat kenangannya dengan kekasihnya itu. "Dia gadis yang baik, dan selalu berada disisiku apapun yang terjadi. Tapi aku malah membunuhnya. Hah... seharusnya aku tidak mencari rumahku dan akhirnya bertemu dengannya. Harusnya aku membiarkan dia menjadi zombie untuk beberapa lama lagi, sebelum akhirnya kita menemukan Profesor Gila. Ibuku juga jadi mati karna menghancurkan kepalanya pada kaca mobil. Semua salahku." "Itu bukan salahmu. Kau tidak salah, sungguh. Manusiawi kau mencari rumahmu, saat tahu kau ternyata ada di tempat tinggalmu. Dan bertemu Linda juga Ibumu... itu takdir. Meskipun mereka berakhir mati. Tapi itu sudah digariskan juga. Mereka pasti mendapat tempat baru yang indah." Johnny tersenyum kecil mendengar perkataan Rosa. "Ya. Semoga." Gumam Johnny. Johnny tiba-tiba menatap Rosa. Mengalihkan pandangannya dari kalung. Johnny menatap Rosa seraya tersenyum tipis. "Coba kau kemari." Titah Johnny. "Hanya condongkan tubuhmu." Rosa terdiam sejenak. Awalnya ia tampak ragu, namun akhirnya, ia tetap mencondongkan tubuhnya mendekati Johnny. Johnny tiba-tiba memasangkan kalung yang sedari tadi berada di tangannya, pada leher Rosa. "Apa yang-" "Jaga kalung itu baik-baik." Johnny memotong ucapan Rosa. "Kalung ini aku berikan pada Linda sebelum aku resmi berpacaran dengannya. Aku berikan padanya, saat dia sedang melawan sakit kanker, untuk penyemangatnya hidup. Jadi aku berikan itu padamu, agar kau semangat, agar kau tetap semangat hidup, meskipun kondisi dunia sedang begini." Rosa seketika menatap Johnny seraya tersenyum. "Terimakasih. Tapi... kenapa kau tidak menyimpannya sendiri?" Tanya Rosa. "Tidak. Kalung itu kan untuk perempuan, tidak mungkin aku yang pakai." Balas Johnny seraya terkekeh kecil. "Ya tidak perlu kau pakai. Cukup disimpan." "Sayang kalau hanya disimpan. Kalung ini terlalu berharga, harus dipakai dan menjadi berguna. Ya... aku harap kalung itu bisa menyemangatimu sedikit. Seperti bintang yang bersinar. Tapi sekarang bintang tidak ada. Jadi... kau jadilah satu-satunya bintang, hahaha." Rosa ikut tertawa. Johnny sadar apa yang diucapkannya konyol, begitu juga dengan yang mendengarnya. Rosa. Rosa merasa itu terlalu omong kosong. Namun entah kenapa bisa menyisipkan rasa semangat dihatinya. Setelah perasaan itu sempat pudar. "Aku rasa, makanannya sudah matang. Aku lihat dulu ya?" Johnny hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, dan membiarkan Rosa melompat ke bagian belakang. -- -- -- Mereka makan dengan lahap di dalam mobil. Merasa sudah benar-benar lapar dan butuh energi. Langit tiba-tiba berubah gelap, tanpa ada tanda-tanda apapun. Seperti senja atau sebagainya. Dan udara mendadak berubah dingin. "Kita harus minum vitamin setelah ini." Ujar Tristan. Yang hanya diangguki oleh teman-temannya, mereka tampak fokus makan. "John, kau tidur di kasur saja. Aku tahu bahumu sangat lelah." Ucap Rosa tiba-tiba pada Johnny. Johnny tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Tidak gentle sekali membiarkan gadis tidur duduk." "Hanya diberi kalung, tidak usah jadi bersikap sok manis pada Johnny." Tristan tiba-tiba ikut campur. "Aku tidak bersikap sok manis. Tapi dari tadi aku dengar Johnny terus merenggangkan tulang-tulangnya, tandanya dia pegalkan?" Rosa menyahuti ucapan Tristan dengan nada sengit. "Kau bilang mau memijatnyakan?" "Ya aku akan memijatnya. Tapi dia harus tidur di kasur agar aku lebih mudah memijatnya." Johnny memutar kedua bola matanya melihat Tristan dan Rosa yang malah berdebat. "Sudahlah. Ya sudah, nanti aku tidur di kasur. Tidak ralat juga sih aku rasanya, kalau harus tidur duduk." -- -- -- Rosa tidur di jok paling belakang sendirian. Sedangkan yang lain ada yang di depan, dan tengah. Johnny di kasur. Rosa sebenarnya tidak bisa tidur. Ia hanya terus memejamkan matanya, tapi tidak bisa pergi juga ke alam mimpi. Ia terus memikirkan apa yang akan terjadi besok, entah kenapa perasaannya tidak enak. Rosa tiba-tiba merasakan seseorang datang dan duduk di jok yang bersembrangan dengan jok yang didudukinya. Rosa seketika membuka matanya, ia mengerjapkan matanya, saat melihat rupanya Daniel yang tengah duduk di sana. Pria itu tersenyum begitu melihat Rosa membuka matanya. "Tidak bisa tidur?" Tanya Daniel. "Bagaimana kau tahu?" Rosa balik bertanya. Daniel menggendikan bahunya. "Entahlah. Tahu saja. Kau memikirkan apa?" "Apa yang akan terjadi besok. Eum, entahlah. Aku tiba-tiba merasa khawatir, perasaanku tidak enak." "Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja kalau kita saling melindungi." Rosa menghela nafasnya. "Ya, aku harap begitu." "Dibalik bukit ini, diperkirakan ada bekas perumahan warga atau gedung bekas pabrik. Kita akan menyelidikinya besok. Kalau kau takut, bersembunyi di belakangku atau Johnny. Kau tidak akan kelihatan oleh zombie." Rosa seketika tertawa. "Sepertinya kau sangat bangga dengan tubuh besarmu." Ucap Rosa. "Ya. Aku merasa jadi bisa melindungi kalian semua." "Jangan-jangan Joseph sebenarnya bangga juga dengan pipi besarnya. Karna jadi merasa bisa melindungi." "Jadi bisa melindungi makanannya, bukan kita." Dan mereka berakhir saling bercengkrama dengan menyelipkan candaan ringan sesekali. Hingga mungkin pertengahan malam, sebelum akhirnya mereka tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN