Johnny memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah, dengan cat berwarna coklat dan cream. Jantungnya seketika berdegub dengan kencang, melihat rumahnya yang kini penuh retakan, catnya mengelupas, ada banyak cakaran pada tembok, dan lantai atas roboh.
Saat Johnny dibawa ke benteng perlindungan. Ia dalam kondisi pingsan, setelah melawan Ayahnya yang sudah berubah menjadi zombie. Kepalanya membentur tangga dan ia langsung tidak sadarkan.
Jadi ia tidak tahu bagaimana kondisi orang tuanya. Johnny mengambil senapan, memastikan pelurunya terisi penuh, sebelum akhirnya ia turun dari mobil.
Ia bisa melihat beberapa zombie bertengger di atap rumahnya, membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Ia segera mengarahkan senapannya ke sana, dan menghabisi, setidaknya 8 zombie.
Ia harap itu tidak termasuk orang tuanya.
Baru saja hendak melangkah memasuki rumahnya. Sebuah geraman berhasil mengalihkan perhatian Johnny.
Johnny memutar balik tubuhnya kebelakang. Dan menemukan zombie perempuan dengan bersimbah darah, mulutnya rusak, dan pembuluh darah hampir keluar dari kulit-kulitnya. Menandakan ia adalah zombie kanibal.
Langkah Johnny sontak mundur beberapa langkah. Sebuah kalung yang melingkar pada leher zombie itu menarik perhatian Johnny.
"Linda...?" Gumam Johnny. Dadanya seketika terasa sesak.
Zombie itu tiba-tiba berlari ke arah Johnny dengan cepat, hingga tanpa fikir panjang Johnny segera melayangkan tembakan pada zombie itu hingga beberapa kali.
Zombie itu langsung ambruk ke tanah, namun badannya masih menggeliat. Johnny segera menghampirinya. Ia berjongkok di samping zombie yang sedang meregang nyawa tersebut. Johnny berjongkok cukup jauh, karna zombie itu masih mencoba menggapainya menggunakan tangan.
Darah bermuncratan dari mulutnya, membuatnya tampak mengerikan. Namun di mata Johnny itu sangat menyedihkan.
"Linda..." gumam Johnny. Air mata sudah mengumpul pada pelupuk mata Johnny.
Tak lama zombie itu tidak bergerak sama sekali. Ia mati.
Johnny dengan hati-hati mengulurkan tangannya ke arah leher zombie tersebut, mengambil sebuah kalung perah dengan bandul berbentuk bintang yang dihiasi permata.
Johnny menatap lamat kalung tersebut. Sebelum akhirnya geraman zombie terdengar di sekelilingnya.
-- -- --
"Seharusnya kita turun dari mobil saat malam. Di malam hari zombie tidak beraktifitas karna tidak ada cahaya. Kecuali ada yang menyalakan lampu." Ujar Joseph.
"Memangnya apa aktifitas zombie selain berjalan dengan tatapan kosong mencari mangsa? Mereka tidak punya aktifitas bodoh." Joseph seketika memukul kepala Edward menggunakan senapannya.
Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat Edward meringis.
"Bisakah bicara yang sopan pada yang lebih tua?" Sungut Joseph.
"I can't," timpal Edward dengan seringai kecil.
Saat mereka tengah mengelilingi rumah besar yang masih utuh dibanding rumah-rumah yang lain.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan zombie juga disini. Membuat Tristan curiga Profesor Gal mungkin bersembunyi di sini, atau setidaknya meninggalkan beberapa barangnya yang bisa digunakan sebagai petunjuk.
"Apa Johnny baik-baik saja sendirian?" Tanya Rosa pada Kevin.
Kevin tersenyum.
"Dia akan baik-baik saja." Balas Kevin.
"Jangan mengkhawatirkan orang seperti Johnny. Khawatirkan saja dirimu sendiri." Tristan tiba-tiba ikut campur pembicaraan Rosa dan Kevin dengan sengit.
Daniel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tristan.
"Hei, aku mau ke kamar mandi!" Teriak Lucas sembari memegangi perutnya.
"Sana cari kamar mandi, pergi dengan Mark, jangan sendiri." Kata Daniel.
Lucas menganggukan kepalanya. Ia kemudian berjalan menghampiri Mark yang sedang melihat lukisan-lukisan yang terpajang di rumah tersebut.
"Sisss... temani aku ke kamar mandi yuk." Mark seketika menatap ilfeel Lucas yang tiba-tiba berbicara padanya dengan nada dibuat-buat. Dan bahkan dia mencolek bahunya.
"Apa-apaan?" Gumam Mark.
"Daniel menyuruhmu menemaniku cari kamar mandi." Balas Lucas dengan mata mengedip-ngedip.
"Oh. Ide bagus. Aku sekalian mau muntah." Ucap Mark dengan mata berkedip polos.
"Jangan meledekku. Aku hanya merasa aneh anak laki-laki minta di temani temannya ke kamar mandi. Itukan biasanya kelakuan anak perempuan." Kata Lucas. "Ya sudah ayo, aku sudah tidak tahan."
Lucas dan Mark pun akhirnya bergegas mencari kamar mandi. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah pintu kayu yang berada di dekat dapur.
"Mungkin itu." Lucas menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan Mark.
Mereka segera berjalan menuju pintu tersebut. Dan Lucas dengan hati-hati memutar knop pintu, sebelum akhirnya mendorong pintu tersebut. Hingga terbuka lebar.
Lucas melebarkan matanya saat melihat ada zombie di dalam bath up, ia segera menembakinya hingga mati.
"Astaga..." gumam Lucas sembari memegangi dadanya. "Aku tidak yakin bisa membuang semua kotoran di perutku sambil menatapi mayat zombie."
Mark mendengus. Ia sama terkejutnya dengan Lucas, saat melihat ada zombie pada bath up tadi. Tapi mendengar ucapan Lucas barusan sukses membuatnya mual.
"Ada tirai di depan bath upnya. Kau bisa menutupnya." Ujar Mark.
"Kau temani aku di dalam kamar mandi dong. Aku takut zombie itu tiba-tiba bangun lagi." Mark melebarkan matanya mendengar permintaan Lucas. Kemudian ia memutar kedua bola matanya.
"Kau gila?" Gumam Mark sembari menjilat sudut bibirnya. "Aku bisa trauma berat. Sana cepatlah, selesaikan urusanmu!" Sentak Mark.
Lucas mendengus. Ia akhirnya terpaksa masuk ke kamar mandi sendiri. Mark menunggu di depan kamar mandi.
Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Berjaga-jaga jika tiba-tiba ada zombie.
-- -- --
Tristan dan Daniel memasuki sebuah kamar yang penuh debu dan acak-acakan. Kamar hanya memiliki pencahayaan remang-remang. Membuat Daniel akhirnya berinisiatif menyalakan senternya.
Daniel berjalan mendekati meja. Membuka laci-lacinya, dan meneranginya. Sedangkan Tristan memeriksa rak-rak buku.
"Aku rasa tidak ada gunanya kita di sini. Untuk mencari apa?" Tanya Daniel.
"Meskipun Profesor Gal tidak ada. Tapi mungkin dia pernah bersembunyi di sini, dan meninggalkan sesuatu." Balas Tristan.
"Kalaupun meninggalkan sesuatu. Mungkin sudah di ambil kelompok yang lain. Aku khawatir dengan anak-anak." Kata Daniel.
"Kau khawatir dengan anak-anak? Atau kau mulai takut dengan tempat ini?" Tristan bertanya dengan nada sarkastik.
Daniel seketika menatap Tristan dengan tatapan jengah.
"Bisakah hilangkan dendammu? Percuma. Anak-anak itu tidak akan kembali hidup." Tristan berdecih.
"Kalau kau jadi aku. Kau juga pasti akan membenci orang yang berada di posisimu. Kalau bayangan anak-anak yang di makan zombie bisa terhapus dari fikiranku, baru dendamku bisa hilang. Asal kau tahu- bayangan anak-anak di makan saat itu, tidak bisa hilang dari benakku." Kali ini Daniel hanya bungkam. Ia seharusnya mengerti perasaan Tristan.
"Aku mengerti. Tapi sekarang kita tim. Kita harus bekerja sama."
"Kita bisa bekerja sama. Hanya bekerja sama."
Tristan dan Daniel tersentak saat tiba-tiba mendengar geraman zombie, dan terdengar keributan di luar.
Mereka buru-buru keluar dari kamar tersebut. Mata Tristan dan Daniel melebar saat tiba-tiba melihat sekumpulan zombie sedang mencoba menyerang teman-teman mereka.
Tristan segera mengambil busurnya, dan melemparkan anak-anak panahnya ke arah zombie-zombie yang menggila tersebut.
Edward yang sedari tadi bersusah payah melepaskan zombie yang mencekik lehernya. Segera mendorongnya, saat anak panah menembus kepala zombie tersebut.
Keringat sudah membanjiri kening Edward. Dadanya naik turun dengan cepat, sesuai dengan deru nafasnya yang memburu.
"Edward! Awas! Jangan diam saja!" Teriak Daniel saat melihat ada zombie yang hendak menyerang Edward kembali dari samping.
Edward segera mengambil senapannya dengan memukul zombie tersebut. Hingga zombie itu jatuh, dengan kepala membentur tembok. Kepalanya seketika hancur, seperti buah semangka yang dibanting, lalu pecah.
Edward rasa setelah ini ia akan sulit makan.
Kebanyakan zombie-zombie ini, zombie kanibal. Yang dimana kelemahannya, tubuh mereka mudah hancur. Sangat rapuh seperti kayu lapuk.
Prang!
Rosa menghancurkan cermin ke atas kepala tiga zombie yang coba menyerangnya. Ia dengan panik mengeluarkan senapannya, dan menembakan pelurunya dengan asal ke arah para zombie yang semakin banyak datang melalui tangga dan jendela, karna tangannya yang gemetaran.
Tristan tiba-tiba memukul tangannya, hingga senapan yang ada di tangan Rosa jatuh ke lantai.
"Fokus! Jangan main asal tembak bodoh! Kau bisa menembak temanmu sendiri!" Teriak Tristan.
"Ma-maaf." Ucap Rosa dengan tergagap.
"Cepat ambil kembali senapanmu. Kalau belum terbiasa menembak, pukul saja menggunakan senapanmu." Titah Tristan yang segera di angguki Rosa.
-- -- --
Lucas keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru, karna mendengar suara keributan. Ia tidak melihat Mark lagi. Yang ia lihat hanya sekumpulan zombie yang naik ke lantai atas.
Begitu menyadari ada manusia, semua mata zombie-zombie itu, terarah pada Lucas. Sekujur tubuh Lucas menegang, jantungnya berdegub dengan kencang.
Namun tanpa berfikir lagi, ia segera mengambil senapannya dan menembaki zombie-zombie tersebut.
"Mark! Kau dimana?!" Teriak Lucas.
"Aku ada di kulkas!"
Lucas segera berlari ke dapur, dengan sesekali masih menembak, atau melempar para zombie menggunakan senapannya.
Ia kemudian membuka kulkas, dan menemukan Mark tengah berjongkok di dalamnya. Rak-rak kulkas sudah berada di luar.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba banyak zombie begini?" Tanya Lucas.
"Ak-aku tidak tahu. Mungkin mereka sudah mencium keberadaan kita." Balas Mark dengan nada bergetar.
Lucas bisa melihat sekujur tubuh Mark bergetar hebat. Namun tak lama matanya melebar.
"Lucas awas!" Mark melompat keluar dari dalam kulkas dan memukul zombie yang akan menyerang Lucas dari belajang, menggunakan senapannya.
"Kita harus ke atas." Ucap Lucas.
"Bagaimana caranya? Tangga dikuasai zombie." Timpal Mark.
"Kita habisi zombienya. Ayo! Buktikan pada Tristan, kita bukan bocah!"
"Hei bocah ingusan! Kalian di mana hah?!" Tiba-tiba terdengar teriakan Tristan.
Lucas mendengus. Pasti mereka sudah sampai di bawah. Berarti zombie-zombie yang mengumpul di tangga, sudah dibereskan.
-- -- --
"Ya Tuhan. Johnny kemana?" Tristan seketika panik saat tidak melihat mobil mereka beserta Johnny.
"Tidak mungkinkan dia di culik zombie beserta mobil-mobilnya?" Ujar Daniel dengan nafas terengah.
"Guys, aku tidak peduli kemana Johnny sekarang. Yang terpenting sekarang kita di kepung." Ucap Lucas.
"Aku tahu." Balas Tristan dengan nafas tercekat.
Zombie kanibal mengelilingi mereka. Tampak sangat kelaparan.
Daniel yang langsung maju memberikan pukulan, dan tembakan. Sedangkan Tristan mulai melemparkan anak-anak panahnya.
Mereka tahu ini hanya untuk mengulur waktu, sebelum Johnny kembali dengan mobil, dan mereka bisa berlindung, lalu pergi dari sini. Karna zombie itu tidak berkurang sedikit pun. Setiap ada yang mati, yang baru akan datang.
Tangan Tristan bahkan sudah lecet karna terus memanah tiada henti. Punggungnya sudah cukup sakit membawa banyak anak panah, sekarang di tambah tangan dan kakinya yang sesekali tercakar zombie. Beruntung cakaran itu tidak sampai melukai kulitnya, karna ia memakai celana yang cukup kuat.
Namun tetap terasa perih.
"Ya Tuhan tolong aku!"
"Joseph!" Teriak Daniel saat melihat kaki temannya itu diseret berpuluh zombie. Daniel segera menembaki mereka.
Kemudian berlari dan memukuli kepala-kepala zombie itu hingga hancur.
-- -- --
Johnny segera memasuki mobilnya. Disaat ia merasa tidak mampu lagi menyerang para zombie-zombie kanibal itu.
Darah terlihat mengotori kaos, jaket dan celananya. Bahkan wajahnya.
Nafasnya memburu dan jantungnya berdebar dengan kencang. Para zombie mencoba masuk ke mobilnya, dengan membantingkan tubuh mereka pada mobil, dan mencakar-cakar badan mobil.
Johnny mulai menyalakan mesin mobilnya. Berniat menggasnya sekencang mungkin untuk menambrak para zombie tersebut.
Sekarang kepalanya terisi teman-temannya. Ia mulai khawatir dengan kondisi mereka, dan merasa bersalah karna sudah pergi.
Namun saat ia baru akan menggas mobilnya. Zombie yang tiba-tiba menaiki kap mobil, membuatnya mengurungkan niatnya.
"Ibu?" Gumam Johnny dengan nafas tercekat. Zombie itu mencoba memecahkan kaca mobil dengan membentur-benturkan kepalanya pada kaca.
Hingga akhirnya kepalanya pecah. Bersamaan dengan air mata Johnny yang meluncur dari matanya.
Johnny mengusap kasar air mata yang jatuh ke pipinya. Ia akhirnya menggas mobilnya hingga mayat zombie wanita itu jatuh, dan Johnny segera membersihkan kaca mobilnya dari darah dengan menyemprotkan air ke kaca mobil, sebelum akhirnya menyalakan wiper.
"Momm..."
Johnny kembali menangis, dengan bahu yang bergetar. Namun ia tetap mencoba fokus menyetir.
-- -- --
"Astaga! Kau kemana saja John? Aku sampai kehabisan busurku!"
Johnny hanya diam mendengar omelan Tristan. Teman-temannya sedikit sulit untuk masuk mobil karna masih harus melawan para zombie yang mencoba ikut masuk ke dalam mobil.
"John, kau tidak apa-apa?" Tanya Rosa yang baru masuk ke dalam mobil.
Johnny kembali hanya diam.
"Semuanya sudah masuk?" Tanya Daniel. Ia kemudian mengabsen temannya satu persatu.
"Oke, lengkap. Apa ada yang terluka?" Daniel kembali bertanya.
"Perut Rosa tercakar." Ucap Kevin.
"Bagaimana kau menjaganya?" Tristan tiba-tiba bertanya sembari melongokan kepalanya ke belakang.
"Dia mencoba melindungiku. Maaf. Tadi aku hampir di gigit di kepala. Aku tidak sadar, karna aku hampir pingsan." Ujar Kevin.
"Ya untung hanya tercakar. Tidak tergigit. Lain kali kalau kita turun dari mobil, resletingkan jaket."
Semua hanya mengangguk mendengar perkataan Tristan.
Kevin tak lama menatap Rosa yang sedang memegangi perutnya. Menutupi darah yang terus keluar dari perutnya meskipun tidak banyak.
"Obati di belakang Kevin. Bisa saja luka cakarannya terinfeksi virus zombie dari udara. Jadi beri sedikit obat penawar." Ujar Daniel.
Yang segera di angguki Kevin.
Ia kemudian segera mengajak Rosa ke belakang. Menyuruhnya berbaring pada kasur, sebelum akhirnya ia mengeluarkan kotak obat, juga memasukan sedikit cairan penawar ke dalam suntikan yang masih baru.
"Maaf ya, aku harus mengangkat bajumu." Ucap Kevin.
"Tidak apa-apa." Balas Rosa sembari tersenyum tipis.
Di depan, Tristan tampak mulai khawatir dengan tingkah Johnny yang hanya diam sedari tadi. Padahal ia tipe orang yang banyak bicara. Bahkan setelah mulai menjalankan mobilnya, dan menabrak para zombie dengan asal. Ia tetap tidak bicara apapun.
Tristan takut ternyata Johnny sudah tergigit zombie.
"John, kau baik-baik saja?" Tanya Tristan.
Johnny menghela nafasnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya tubuhku sedikit nyeri." Balas Johnny.
"Semuanya begitu. Tapi kenapa kau diam saja? Kau membuatku khawatir."
"Ini Chicago. Kita berada di Chicago sekarang. Dan tadi itu perumahanku. Aku bertemu kekasihku dan Ibuku. Bahkan Ibu menghancurkan kepalanya di depan mataku." Seketika mobil hening. Mereka fokus memasang telinga untuk mendengarkan cerita Johnny.
Tristan menepuk bahu Johnny.
"Mereka sekarang sudah damai John. Kau kuat. Bukan hanya fisik maupun mental." Ucap Tristan.
"Terimakasih." Balas Johnny sembari tersenyum tipis.
"Tapi kita berada di Chicago? Berarti setelah ini kita akan ke mana?" Gumam Tristan.
"Dunia sekarang rata seperti tanah. Peta dunia sudah rusak. Perbatasan negara sudah tidak ada. Tidak ada lagi mana Indonesia, Kanada, Amerika, Korea, Inggris dan sebagainya. Hanya ada tanah yang rata. Jadi kita hanya bisa terus jalan, tanpa tahu kita kemana, ada dimana. Yang jelas, jangan sampai kita melewati jalan yang sama secara berulang." Ujar Daniel.
"Aku tahu. Mobil ini akan memberi alarm, jika kita mendatangi tempat atau jalan yang sama. Tapi alarm itu menarik perhatian zombie." Balas Johnny. Kesedihannya beberapa saat yang lalu, seolah sudah menguap.
Tapi bukan begitu. Ia hanya ingin fokus saja sekarang.
Kevin tiba-tiba datang dari belakang, dan duduk di samping Edward yang tengah tidur. Bocah itu tampak kelelahan.
"Bagaimana kondisi Rosa?" Tanya Daniel.
"Baik. Aku menyuruhnya tidur." Balas Kevin.
"Mungkin kita bisa mencari danau, laut, atau sebagainya, untuk membersihkan tubuh. Aku mual mencium bau darah." Ujar Joseph.
"Airnya pasti sudah tercemar virus. Kita cari tempat aman saja. Dan menggunakan persediaan air yang kita bawa." Sahut Tristan.
"Kalau Rosa mandi, jangan ada yang mengintip. Terutama kau Luke." Lucas hanya bisa menatap sinis Joseph yang baru saja menoyor kepalanya.