Rosa diperintahkan mandi, dan menyiapkan seluruh barang-barangnya untuk dibawa.
Sedangkan barang yang lain, seperti persenjataan, bahan makanan, minuman, obat penawar, jarum suntik, alat operasi (untuk amputasi), dan lain sebagainya disiapkan oleh petugas.
Mereka akan dibawakan mobil yang sudah dirancang khusus untuk jalan jauh dan tahan dalam banjir. Meskipun sebenarnya itu tidak terjamin 100 persen.
Setelah semua perlengkapan siap, begitu juga dengan kondisi fisik dan mental tiap anggota. Tristan memanggil setiap anggota timnya untuk berkumpul di ruang rapat.
-- -- --
Rosa memasuki dengan ragu ruangan rapat yang terasa mencekam. Celana berbahan dasar kulit yang ketat melapisi kakinya, celana yang cukup kebal menahan cakaran zombie hingga beberapa kali. Juga kaos abu-abu berbahan sejuk, ditutupi jaket kulit dengan bahan yang sama seperti celana.
Rambut Rosa dipangkas lebih pendek agar merasa lebih nyaman. Anting-antingnya di lepas. Dan semua anggota sudah diberi suntik vitamin juga obat-obatan yang lain.
Semua memakai pakaian yang seragam. Mau itu perempuan dan laki-laki, karna modelnya juga sangat sederhana. Dan cocok untuk laki-laki atau perempuan.
Rosa duduk di sebelah Kevin kali ini, karna pria itu yang memanggilnya, untuk duduk di sebelahnya.
Setelah memastikan semua anggota telah berkumpul. Tristan beranjak berdiri untuk memulai rapat.
"Selama pagi semuanya." Buka Tristan. Semuanya segera menyahut sapaan Tristan, tak terkecuali Rosa.
Ia tidak berani membantah Tristan sama sekali, karna sejak pelatihan, Tristan begitu tegas dan sering memarahinya. Bahkan ia tidak segan memukul saat Rosa tidak sengaja membuat kesalahan namun fatal. Tidak ada yang membelanya, karna mereka memang harus disiplin dan berlatih dengan keras.
"Aku tahu ini bisa menjadi hari yang terburuk bagi kita semua. Tapi kita mengemban tugas penting, yang harus kita jalankan sebaik-baiknya. Semua orang membutuhkan kita." Tristan menjeda sejenak ucapannya. Tidak ada yang berniat menyela, semua mendengarkannya dengan baik, termasuk Edward yang biasanya menangkis ucapan Tristan dengan nyinyiran. "Kita sudah latihan bersama selama 5 bulan. Menjadi lebih mengenal dan dekat satu sama lain selama waktu itu. Jadi aku harap, kita bisa menjadi tim yang solid."
"Ada beberapa hal yang mau aku sampaikan juga. Pembagian tugas. Agar nanti saat terjun ke situasi yang tidak diharapkan, kita tidak bingung. Daniel dan Johnny, aku putuskan untuk menjadi ketua perlawanan. Setiap ada yang menyerang, dia akan maju ke depan. Tapi aku yang bertugas memimpin saat kita harus menggunakan panah. Joseph yang mewanti-wanti jika ada zombie yang hendak datang. Kevin yang mengobati jika ada yang terluka. Rosa bisa membantu. Lucas, Mark dan Edward, hanya aku harapkan agar tidak merusuh atau banyak mengeluh. Kalian masih anak-anak, jadi tidak perlu tugas yang terlalu berat. Cukup bantu perangi jika ada serangan."
Lucas mencebikan bibirnya.
"Oh s**t. Aku bahkan mimpi basah sudah berkali-kali, dan kau bilang aku masih anak-anak? Come on."
Tristan seketika menatap tajam Lucas.
"Kau memang masih kekanakan."
"Baiklah. Selesai rapat kita. Sekarang sarapan, kemudian bersiap. Oh ya. Johnny, kau yang bawa mobil." Tristan berucap sembari melempar Kevinci mobil pada Johnny.
Johnny dengan sigap menangkapnya.
"Aku dan Daniel bertubuh besar. Teruslah berlindung dibelakang kami dan jangan khawatir." Ucap Johnny untuk guyon sembari tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
Namun sepertinya, guyonan itu tidak bisa melunturkan ketegangan para anggota timnya. Termasuk Tristan.
-- -- --
"Satu hal yang mungkin belum kalian tahu. Mobil ini sangat rapat, celah udaranya sedikit. Jadi ada tabung oksigen di dalam jika kita sesekali sesak nafas saat di mobil. Tidak boleh buka jendela. Karna udaranya kurang baik, dan zombie bisa saja tiba-tiba melompat dari kaca mobil." Ujar Johnny yang sedang menyusun barang-barang di mobil. Mobil ini lebih mirip seperti bus mini.
Bisa menyimpan barang dan menampung lumayan banyak orang. Bahkan di jok paling belakang terdapat kasur kecil jika ada yang sakit atau tidak bisa tidur dalam posisi duduk. Bahan bakar sudah pasti dibekalkan. Dan jika habis mereka bisa meminta lagi.
Perkakas juga dibawa jika sewaktu-waktu mobil bermasalah.
"Ingat guys." Ucap Johnny sembari duduk di pinggir bagasi. Ia beristirahat sejenak, setelah mengangkat cukup banyak barang. Johnny kemudian menatap satu persatu temannya dengan serius. Mereka juga balik menatap Johnny dengan lebih serius. "Meskipun kita diberikan fasilitas yang rasanya cukup untuk membuat kita aman. Tapi itu belum tentu. Kalian tahu kelompok Roby? Kelompok kedua yang keluar dari sini. Semua anggotanya mati. Yang pertama karna kekurangan bahan makanan, minuman, obat-obatan, dan yang jelas mereka tidak solid. Saat ada anggota yang sekarat, mereka tidak minta bantuan karna egois. Jadi aku harapkan, kita solid. Dan menjaga satu sama lain."
Semua saling menatap beberapa saat. Sebelum akhirnya menganggukan kepalanya. Namun saat mata Tristan dan Daniel bertemu, anggukan Tristan menjadi sebuah keraguan.
"Apapun masalah pribadi kita terhadap anggota tim yang lain, lupakan. Oke? Kita sekarang tim. Yang harus saling merangkul dan bekerja sama."
-- -- --
Mereka hampir bersiap pergi. Jika saja Rosa tidak dihampiri oleh Angel, teman sekamarnya yang lain, David juga Jovin. Mereka memberi salam perpisahan, semangat, juga sebuah pelukan hangat.
"Jaga dirimu." Bisik David, sesaat sebelum akhirnya ia melepas pelukannya.
"Terimakasih." Ucap Rosa sembari tersenyum.
"Ros, berjanji. Kembalilah. Bulan depan mungkin aku yang akan keluar dari sini. Pastikan kita akan bertemu." Rosa hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Angel.
'Kalau aku mati bagaimana? Atau... malah kau?'
"Jangan biarkan zombie menggigit dan mencongkel mata kalian!" Teriak David tiba-tiba.
"Tidak akan!" Balas Lucas. "Aku yang akan mencongkel mata mereka!"
Rosa akhirnya masuk ke dalam mobil dengan langkah kaki yang berat. Tentu saja rasanya berat untuk meninggalkan surga dan masuk ke dalam neraka.
Neraka menanti di depan mata.
"Hati-hati teman-teman!" Teriak orang-orang yang mengantar kepergian mereka.
Johnny mulai menyalakan mesin mobil, dan menggasnya dengan cukup lamban menjauhi benteng perlindungan mereka.
-- -- --
Hal pertama yang mereka lihat begitu keluar dari benteng adalah. Tanah kosong, kering yang penuh retakan. Mayat-mayat zombie bergelimpangan. Ada yang baru, ada yang sudah menjadi tengkorak.
Salah satu mayat masih menggerakan tangannya, membuat Rosa terkejut dan seluruh tubuhnya meremang. Lebih terkejut dan hampir membuatnya berteriak, saat ada zombie yang tengah diambang kematiannya, menubrukan tubuhnya pada mobil.
"Oh Tuhan. Pertama kali aku kesini, kondisinya belum seburuk ini." Komentar Johnny.
"Dunia semakin buruk dari waktu ke waktu." Timpal Tristan yang duduk di sebelahnya.
"Apa kita ada Ukraina? Cina? Hongkong? Indonesia? Atau ada dimana?" Tanya Lucas.
"Tidak ada yang tahu bodoh." Balas Daniel.
Rosa mengedarkan pandangannya ke penjuru mobil. Ia melihat Edward tengah memakai tabung oksigen sembari menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Mark hanya termangu di tempatnya duduk, Joseph tertidur. Kevin sedang mengamati luar seperti kebanyakan yang dilakukan anggota lain.
"Kalau aku bertemu Profesor gila itu aku akan menebas kepalanya setelah mendapat penawar." Ujar Daniel.
"Hei, sebenarnya aku memikirkan ini sejak lama. Bagaimana jika ternyata Profesor Gal sudah berubah menjadi zombie? Dan dia kehilangan penawarnya? Semua yang kita lakukan ini akan sia-sia."
Seketika mobil hening saat mendengar perkataan Rosa. Namun tak lama Tristan melongokan kepalanya dari jok depan ke belakang.
"Dia- selalu bersembunyi di tempat yang aman. Ada tempat aman lain di dunia ini, tempat Profesor Gal diperkirakan bersembunyi, selain benteng pelindung kita." Ujar Tristan.
"Apa tidak ada yang tahu sama sekali, tempat itu ada dimana?" Rosa kembali bertanya.
"Tempat itu tidak tahu ada dimana. Dan kita harus terus mencarinya. Helikopter sudah mengitari setiap sudut dunia, menggunakan alat-alat canggih, tapi tidak bisa menemukannya juga. Dia selalu berpindah-pindah. Jadi... lebih baik digunakan cara manual untuk menemukannya. Profesor Gal itu terlalu pintar hingga dia menjadi gila. Dan yg jelas dia pintar membuat tempat persembunyian yang sulit dilacak."
"Guys." Suara Johnny tiba-tiba mengalihkan perhatian. Johnny melirik arlojinya sejenak. "Aku sebenarnya tidak tahu kita pergi ke arah mana. Gps tidak berfungsi. Kita tidak ada arah dan tujuan. Aku jadi pusing. Karna semua yang aku lihat hanya tanah kering, dan mayat zombie."
Helaan nafas terdengar dari Tristan.
"Kita hanya harus jalan sejauh mungkin dari benteng. Dan mencari tempat-tempat yang sekiranya masih berpenghuni. Meskipun seratus persen mungkin penghuninya zombie. Tapi ada kemungkinan juga Profesor Gal ada di sana." Johnny mengurut pelipisnya sejenak mendengar keterangan Tristan.
"Jadi bersiaplah turun dari mobil saat kita menemukan tempat-tempat berpenghuni. Mungkin juga kita menemukan teman kita yang terjebak atau dalam kesulitan."
-- -- --
Sudah lima jam berlalu, mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Hanya ada perumahan hancur dan terlihat tidak berpenghuni.
"Coba saja kita masuk." Titah Tristan. Johnny dengan wajah lelahnya, menganggukan kepalanya.
"Mungkin bahumu butuh dipijat setelah ini." Ujar Rosa.
"Ya, kau bisa melakukannya saat kita berhenti. Aku juga ingin tidur." Balas Johnny.
"Jangan sok baik bocah." Sahut Tristan tiba-tiba.
Rosa hanya diam. Dia sangat ingin berkata.
'Tidak usah bicara padaku, jika hanya kata-kata pedas yang bisa keluar dari mulutmu.'
Mereka tak lama menemukan rumah besar yang masih tampak utuh. Namun sepertinya kosong.
"Kita parkirkan mobilnya di depan terasnya saja." Ucap Tristan.
Johnny kembali hanya menganggukan kepalanya, dan mulai melakukan apa yang Tristan perintahkan.
"Teman-teman! Ayo bangun! Bersiap turun! Bawa senjata kalian masing-masing! Aku yakin banyak zombie bertebaran disini." Semua mengangguk setuju mendengar titah Tristan.
Mereka mulai bersiap turun, dengan mencoba menyegarkan pandangan, menyegarkan tenggorokan mereka, dan yang pasti senjata.
Tristan memastikan anak panahnya cukup, sebelum akhirnya dia turun.
"Kondisi masih aman. Tapi tetap berjaga-jaga." Kata Tristan.
Tak lama semua ikut turun. Johnny terlihat kurang baik. Tangannya kebas karna sudah menyetir 5 jam tanpa istirahat, matanya mengantuk, bahu dan punggungnya terasa nyeri.
grauummmm
Brak
"Johnny!" Pekik Edward saat ia baru keluar dari mobil dan melihat Johnny tiba-tiba diserang oleh seorang zombie dari belakang.
Johnny dengan panik mencoba melawan. Namun zombie itu mencekik lehernya dari belakang dan menekan pinggangnya hingga tidak bisa banyak bergerak.
Buk! Edward segera memukul zombie itu menggunakan senapannya, hingga zombie itu terpental ke samping Johnny.
Dor!
Dor!
Dua tembakan Edward layangkan pada zombie itu yang tak lama mengejang. Edward kemudian melirik Johnny yang masih tampak lemas. Ia segera membantunya untuk berdiri.
"Coba kau cek, apa dia menggigit atau mencakarku?" Tanya Johnny sembari memunggungi Edward.
Edward segera memerikanya.
"Aman." Ucap Edward.
"Kau yakin?" Edward menganggukan kepalanya.
Tristan tak lama muncul dengan raut wajah panik.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Tristan.
"Tidak. Kami tidak apa-apa." Balas Johnny sembari memegangi bahunya.
"Kau istirahat saja. Aku tahu kau sangat lelah menyetir. Dari pada terjadi sesuatu." Ujar Tristan.
Johnny mengangguk setuju. Bukannya ia pengecut. Tapi ia benar-benar tidak ralat.
"Atau Rosa mau sekalian aku biarkan di mobil dan memijat bahumu?" Tawar Tristan. Johnny menggelengkan kepalanya.
Kemudian menunjuk ke dalam rumah besar itu menggunakan dagunya.
"Dia sudah hampir masuk ke dalam rumah dengan yang lain. Cepatlah ke sana." Tristan seketika merasa panik, ia segera berlari menghampiri teman-teman mereka.
Edward pun akhirnya mengikuti dari belakang. Meninggalkan Johnny yang sedang menyandarkan punggungnya lesu pada pintu mobil.
Ia mengedarkan pandangannya. Merasa tak asing dengan tempat ini.
"Ini..." Johnny tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia merasa tidak percaya.
"Ini perumahan tempatku tinggal. Ini Chicago?" Gumam Johnny.
Johnny segera memasuki mobil. Bukan berniat istirahat, melainkan untuk mengelilingi perumahan yang sudah tidak berbentuk ini. Ia ingin mencari rumahnya juga rumah kekasihnya.
Mungkin orang tua atau kekasihnya ada di sana. Meskipun berbentuk zombie atau mayat.