Mereka makan di ruangan yang jauh lebih apik dibanding tempat makan sebelumnya yang terlalu ramai dan padat. Bersama kelompok yang lain, namun ruangannya berbeda.
Rosa dengan ragu duduk di samping Daniel yang tampak sudah mandi. Tercium bau harum dari tubuhnya. Rambutnya juga masih lepek karna basah.
Tristan duduk di berhadapan dengan Daniel. Tak lama Joseph, Edward, Kevin, Johnny, Mark dan Lucas sudah mulai duduk ke kursinya masing-masing. Tidak ada percakapan.
Semua orang memilih tutup mulut, seperti malas membuat percakapan.
Tak lama makanan datang dan orang yang mengantar makanan, menyusunnya di meja makan.
"Terimakasih." Ucap semuanya serentak. Si pengantar makanan hanya tersenyum, kemudian keluar dari ruang makan khusus bagi kelompok pencarian.
Tristan mulai mengawali acara makan dengan meminum air putih, dan memasukan potongan jamur ke mulutnya. Seolah memberi isyarat pada semuanya, untuk mulai makan.
Dan dengan segera, anggota yang lain mengambil sendok juga garpu, dan mulai memakan hidangan mereka masing-masing.
"Apa kita bisa menjadi tim yang solid?" Pertanyaan Edward sukses memecah keheningan.
Tristan menatap anggota termuda di kelompoknya itu dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Kau tidak mempercayai aku bisa membuat tim ini solid?" Tanya Tristan dengan sarkastik.
"Aku rasa kau harus bercermin. Dan lihat apakah kau bisa membuat timmu jadi solid?" Balas Edward dengan ekspresi datar.
Kevin tiba-tiba berdesis sembari meletakan jari telunjuknya di depan bibir.
"Jangan bertengkar, oke? Kita sedang makan." Ucap Kevin.
"Dengar guys, semua butuh proses. Lama-lama kita pasti bisa menjadi tim yang solid." Johnny bersuara.
"Hei, bolehkah aku bertanya?" Semua orang seketika memfokuskan pandangan mereka pada Rosa yang tadi baru berucap.
"Apa? Tanyakan saja." Sahut Kevin sembari tersenyum. Entah kenapa Rosa merasa nyaman melihat senyumannya.
Dan berfikir, Kevin mungkin bisa menjadi teman keduanya setelah Daniel.
"Tim atau kelompok yang dikirim ke dunia luar sebelumnya, kapan akan kembali?" Tanya Rosa.
Seketika meja hening untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Lucas yang membalas pertanyaan Rosa.
"Tidak akan ada yang kembali, sampai Profesor Gal ditemukan. Kecuali dia mengalami kecelakaan, cedera, tergigit zombie tapi kehabisan penawar, seperti David dan beberapa anak yang lain." Ujar Lucas.
Rosa seketika terdiam.
"Kalau kau takut, kau bisa keluar, agar di ganti dengan anak perempuan yang lain." Kata Tristan tanpa menatap Rosa, seolah ia sibuk makan.
"Tidak, aku tidak takut." Balas Rosa dengan nada lirih.
Daniel tiba-tiba menepuk bahu Rosa.
"Setelah ini, kita akan diajarkan cara menyuntik penawar." Tristan berujar sembari memasukan potongan daging ke mulutnya.
"Dan menahan penyebaran virus untuk beberapa menit jika penawar habis." Tristan melanjutkan ucapannya.
"Dan juga... belajar cara mengamputasi."
Seketika semua kening mengernyit.
Tristan tahu mereka pasti terkejut.
"Dua puluh helikopter rusak di serang zombie. Jadi hanya tersisa beberapa helikopter lagi. Butuh waktu cukup lama untuk memperbaiki semuanya. Jadi jika diantara kita ada yang terserang zombie, penawar habis, dan virus sudah mulai menyebar. Kita belum tentu bisa mengandalkan para helikopter untuk datang. Apa lagi jika kita berada sangat jauh dari sini. Jadi... kita akan mengamputasi anggota tim kita sendiri." Jawaban dari pertanyaan yang berada di benak mereka tadi, seketika membuat semua orang yang berada di ruang makan ini meremang.
Tristan tahu rasa takut seketika menjalari mereka. Ia juga merasa takut dan khawatir. Tapi kenyataan yang harus mereka hadapi seperti ini.
"Kita akan dibekali lima tabung penawar, lebih banyak dari tim sebelumnya. Karna helikopter belum tentu bisa datang di saat darurat. Tapi... mereka akan mengusahakan helikopter tetap bisa memberi bantuan nanti. Jadi jangan terlalu khawatir."
-- -- --
Rosa belum Kevinjung bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya, kemudian membolak-balik tubuhnya tak tentu arah. Mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi... apa yang dia lakukan rasanya benar-benar tidak berguna.
Ia tetap tidak bisa tidur.
Rosa merindukan adik-adiknya.
Ia ingin ke sel menjenguk mereka. Tapi itu dilarang. Hanya penjaga yang boleh datang kesana.
Rosa beranjak duduk. Ia akhirnya memilih turun dari ranjang, dan keluar dari kamarnya, yang di tempati beberapa gadis juga.
Rosa keluar dari asrama khusus perempuan. Ia langsung disapa penjaga.
"Kenapa belum tidur?" Tanya penjaga itu dengan ramah.
"Aku tidak bisa tidur. Mungkin butuh sedikit berjalan-jalan." Balas Rosa.
"Jangan sampai terlalu larut ya?" Pesan penjaga asrama tersebut, yang segera diangguki Rosa.
Rosa pun bergegas pergi. Ia pergi ke lorong yang berisi ruangan-ruangan tempat cemilan, minuman ringan, dan ruangan yang nyaman untuk bersantai, mengobrol dan refreshing. Terasa lebih menyenangkan disini dalam kondisi sepi. Karna sebagian orang sudah terlelap.
Setelah mengambil beberapa makanan manis dan minuman. Rosa bergegas ke ruang bersantai. Lantainya terbuat dari rumput sintetis, banyak bangku-bangku taman yang terbuat dari kayu.
Ada pohon-pohon buatan, namun rindang dan terlihat nyaman untuk duduk dibawahnya. Semua yang ada disini buatan. Bunga, pohon, rumput. Namun udaranya tetap terasa segar.
Virus zombie itu sudah mematikan tanaman juga hewan-hewan. Hanya beberapa tanaman dan hewan yang bisa selamat, dan sedang dicoba untuk di budi daya kembali.
Rosa duduk di salah satu bangku. Ada beberapa orang yang berada di ruangan ini. Salah satunya Rosa tahu. Si tampan yang tak punya tangan kanan. Jung David.
Ia terlihat hanya duduk sembari meneguk soda. Sendirian.
Rosa ingin berbincang banyak dengannya. Bertanya bagaimana petualangannya di luar sana saat dia sedang mencari Profesor Gal, dan apa yang terjadi dengan anggota timnya yang lain saat ia dibawa ke sini karna virus zombie yang sudah menyebar ditangannya.
Dan sepertinya, banyaknya pertanyaan di benak Rosa, berhasil membuat gadis itu berani beranjak berdiri dari duduknya dan menghampiri David.
Ia duduk di samping David tanpa ragu, membuat pria itu tersentak dan segera menolehkan kepalanya ke arah Rosa.
"Kau? Anak baru itukan?" Tak disangka David yang akan menyapanya lebih dulu.
Benar apa yang Jovin katakan, David sangat ramah. Bahkan dia tidak ragu untuk melempar senyuman lebar padanya.
Membuat Rosa otomatis ikut tersenyum.
"Iya. Aku Rosa." Ucap Rosa seraya mengulurkan tangannya pada David. David pun menjabat tangannya.
"Aku David. Tapi sebenarnya aku sudah tahu namamu. Kau banyak diperbincangkan karna sudah menjadi anggota kelompok, padahal kau orang baru."
'Aku juga sebenarnya sudah tahu siapa kau.'
Rosa tidak tahu harus mengawali obrolan dengan David bagaimana. Terutama untuk melontarkan pertanyaannya yang seolah mendesak fikirannya.
"Kau pasti mau bertanya tentang tangan kananku ya?" Pertanyaan David sukses menyentak Rosa.
David mengayunkan tangan kanannya yang buntung sesiku.
"Digigit zombie. Dan virusnya sudah menyebar sampai siku, jadi terpaksa diamputasi. Orang-orang pasti sudah menjelaskan padamu, jika penawar tidak bisa menyembuhkan virus yang sudah menyebar." Ujar David.
"Ya." Gumam Rosa. "Pasti dunia luar sangat mengerikan."
David terdiam sejenak. Senyumannya luntur dan ekspresinya berubah jadi sedikit murung.
"Ya. Terlalu mengerikan. Bukan hanya karna zombie. Tapi kondisi dunia memang sudah hancur saat ini. Bangunan-bangunan sudah tidak berbentuk, ada daerah yang kering kerontang, tapi ada yang banjir dan berbadai salju. Tidak ada tanaman atau hanya sekedar serangga." Ini yang Rosa inginkan. David menceritakan dunia luar.
"Apa yang terjadi pada timmu? Saat akhirnya kau dibawa kesini karna virus yang menyebar?" Tanya Rosa.
"Aku tidak tahu. Aku tidak sadarkan diri saat dibawa ke sini." Balas David. "Yang jelas timku masih ada di luar sana."
"Apa banyak orang sepertimu?"
"Banyak. Banyak sekali. Kau lihat orang kulit hitam di sebelah sana." David menunjuk menggunakan ibu jarinya, pada seorang remaja laki-laki, orang kulit hitam yang duduk menyendiri di sudut taman buatan ini.
"Dia kehilangan mata kirinya karna tercongkel tangan zombie." Rosa seketika meringis kengerian.
"Benarkah?"
"Ya. Dan yang lebih mengenaskan, semua anggota timnya mati. Dia menelfon minta bantuan dengan ketakutan dan menangis meraung-raung. Karna sendirian."
"Bagaimana dia bisa berlindung?"
"Saat di temukan, dia tengah mengurung diri dalam kotak kayu yang sangat sempit. Untuk mengamankan diri dari zombie."
"Jadi kemungkinan kita bisa mati saat bertugas?"
"Ya. Entah itu karna serangan zombie, perubahan cuaca yang ekstrim, angin topan, badai, tsunami, dan sebagainya. Virus yang dibuat Profesor Gal benar-benar mengerikan. Bukan hanya menghancurkan umat manusia tapi juga dunia."
Rosa kemudian hanya terdiam. David tiba-tiba menepuk bahunya.
"Jangan khawatir. Aku rasa kau harus merasa aman karna satu kelompok dengan Daniel, Mark, Tristan, Johnny dan Joseph."
"Kenapa?"
"Daniel itu jago dalam bertempur. Aku pernah melihatnya dipusat kota melawan para zombie sebelum akhirnya para penyelamat datang. Mark religius, dia sangat dekat dengan Tuhan, Tuhan pasti melindungi kalian. Tristan, dia seorang pemimpin yang hebat dan bijak. Johnny kuat, dan Joseph punya pendengaran juga penciuman yang tajam. Dia akan sadar jika ada zombie hendak datang. Jadi kalian bisa kabur sebelum para zombie datang menyerang."
"Wow, perkataanmu jadi sedikit membuatku tenang."
David tersenyum.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
-- -- --
5 month later
Rosa tersentak saat ia dibangunkan tiba-tiba, sebelum alarm berbunyi. Rosa segera beranjak duduk dan menemukan pengawas tengah meletakan jari telunjuknya di depan bibir.
"Ada apa?" Tanya Rosa. Ia kemudian melirik jam tangannya. Masih subuh.
"Kau lupa? Pagi ini kau dan timmu akan berangkat. Kau lupa? Kalian harus bersiap dari subuh. Jam 7 nanti kalian akan berangkat."
Sekujur tubuh Rosa seketika meremang. Ia tercengang untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya tersadar dan hanya bisa menganggukan kepalanya pelan.
Tak terasa hari ini datang. Setelah menjalani pelatihan yang cukup berat selama 5 bulan. Akhirnya ia akan berangkat. Ia akan berangkat.
Telinga Rosa terasa berdengung saat mengingat kalimat berangkat dibenaknya. Semangat yang membara saat awal pertama kali namanya disebut untuk masuk kelompok. Menguap.
Dia sekarang merasakan ketegangan, kecemasan, ketakutan, dan perasaan tidak enak lainnya.
"It's ok Rosa. Ini semua untuk adik-adikmu."