Semua anak tampak berkumpul dengan ketegangan di wajah mereka. Tidak dengan Rosa, dia justru sangat menunggu hari ini. Meskipun sebenarnya, rasanya tidak mungkin dia dipilih sebagai anggota kelompok sekarang, karna ia masih sangat baru disini.
Rosa melirik teman-temannya yang lain yang tampak gelisah. Saling meremat tangan mereka sendiri, atau tangan temannya.
Dia bisa melihat Jovin terus menggigit bibirnya, kemudian berbisik-bisik dengan Jeno. Teman terdekatnya.
Salah satu anak menarik perhatian Rosa. Dia seorang remaja laki-laki bersurai coklat. Sepertinya hanya dia satu-satunya yang tak tegang selainnya. Bahkan sempat-sempatnya dia mengorek-gorek hidungnya, kemudian menjaili gadis yang duduk di sampingnya menggunakan harta karunnya.
Setahu Rosa, namanya Lucas. Dia dari Hongkong. Rosa tahu, karna Lucas menelusup masuk ke asrama perempuan untuk mengintip ruang ganti. Begitu ketahuan, ia langsung dihukum membersihkan kamar mandi penjaga.
Yang Rosa dengar sangat jorok.
Rosa kemudian mulai memikirkan hal lain.
Ini mengherankan, karna setiap bulan hanya dibuat satu kelompok. Tapi kali ini dua.
"Harap tenang, dan perhatian semua!" Suara wanita paruh baya itu berhasil menenangkan semua orang.
"Sebelumnya aku mau memberi alasan kenapa bulan ini dikirim dua kelompok." Jeda sejenak. "Itu karna virus mengerikan itu semakin menyebar, butuh lebih banyak kelompok untuk mencari Profesor Gal."
'Jadi nama Profesor gila itu Gal? Nama yang aneh.'
"Aku tahu. Sebagian dari kalian berfikir ini gila. Hanya untuk mencari satu orang, kita membutuhkan banyak orang. Tapi kenyataan yang harus dihadapi, kita memang harus melewati ini. Jangan khawatir. Kalian akan aman. Meskipun ada zombie, kami menjaga kalian selama 24 jam. Jadi jika terjadi sesuatu, kami bisa langsung bertindak. Aku sudah mengatakan ini berkali-kali, jadi... aku harap. Kalian tidak khawatir."
Beberapa orang saling menatap. Mereka tetap tampak gelisah meskipun sudah diberitahukan hal semacam itu. Yang seharusnya bisa sedikit menenangkan mereka.
"Kenapa kami memilih kalian? Karna kalian masih muda. Generasi muda selalu diharapkan bisa menyelamatkan dunia. Oke, kalimat ini juga sering aku lontarkan. Para orang tua dan anak-anak bergantung pada kalian."
Beberapa pemuda dan anak remaja laki-laki seketika menegakan punggung mereka. Seolah mereka langsung siap bertempur, hanya dengan mendengar kalimat itu.
"Baik. Aku akan mulai mengumumkan nama-nama untuk dua kelompok kita kali ini."
Semua orang seketika benar-benar fokus.
Wanita itu mulai menyebutkan nama-nama untuk kelompok pertama.
Rosa tidak terlalu memperhatikan, karna ia hanya ingin namanya disebut.
Selesai dengan kelompok pertama, giliran kelompok kedua.
"Tristan." Semua orang tiba-tiba bersorak. Entah kenapa orang-orang seperti sangat ingin menendang Tristan dari sini.
Dia memang tampak mengerikan. Tatapan matanya selalu tajam, dan dia selalu makan sendirian.
"Daniel. Daniel." Lagi, sorakan terdengar. Kali ini lebih seperti memberi semangat juga selamat.
"Joseph." Gelak tawa seketika mengisi seisi ruangan.
"Hei! Hei! Jangan meremehkan aku! Aku akan membawa seribu mayat zombie untuk kalian! Sebagai oleh-oleh!" Sepemilik nama berteriak.
Wanita yang tengah mengumumkan nama hanya mengulum senyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah para remaja dan pemuda ini.
"Baiklah, selanjutnya. Johnny." Hening. Beberapa pemilik nama itu pun tampak tercengang.
"Johnny yang mana Nyonya? Banyak yang namanya Johnny!" Seru salah satu seseorang.
"Johnny Seo." Sorakan terdengar lagi.
"Cari baby girl zombie di sana John!" Ledek seseorang.
"Hei! Kau gila?!" Sahut pemilik nama Johnny itu.
"Nyonya, anda harus hilangkan Daddy kink nya dulu sebelum mengirimnya ke para zombie."
"Shut up! Ten!"
"Oke tenang semua. Biar aku lanjutkan. Mark. Mark Lee." Seketika hening. Rosa jadi berfikir ada beberapa nama Mark Lee disini.
Namun sepertinya hanya ada satu nama Mark Lee disini. Dan sepertinya semua orang sudah tahu siapa. Mereka entah kenapa menatap nanar remaja laki-laki yang hanya diam dengan ekspresi tegang.
"Tenang Mark, Tuhan selalu disisimu." Ujar wanita itu pada remaja laki-laki bernama Mark itu.
"Iya Nyonya." Gumam Mark seraya menghela nafas.
'Anak itu tampak polos.' Batin Rosa.
"Edward."
"Apa?"
"Hah? Yang benar saja?"
"Nyonya anda tidak salah? Edward?"
"Kenapa memangnya kalau aku? Kalian meragukan aku? Aku akan membawa mayat zombie juga sebagai oleh-oleh juga untuk kalian. Lihat saja."
"Jangan ikuti ideku Edward!"
"Shutttt... tenang semua. Selanjutnya!"
Semua segera tenang dan menyimak.
"Kevin."
"Kevin! Astaga!"
"Aku yakin mendengarmu bernyanyi, para zombie akan tertidur!"
"Kevinnn!!! Aku jadi khawatir!"
Kevin hanya tersenyum mendengar orang yang bersorak sorai padanya.
"Lucas! Atau Lucas!"
"Au! Aku hampir mencongkel hidungku terlalu jauh karna terkejut! Oh Tuhannn... aku langsung merasa menjadi kesatria."
Gelak tawa segera memenuhi seisi ruangan mendengar guyonan tidak mutu Lucas.
"Kalau ada Lucas tidak boleh ada anggota perempuan Nyonya! Nanti dia intip saat sedang mandi dan ganti baju!"
Wanita paruh baya itu kembali hanya tersenyum.
"Selanjutnya! Anggota terakhir."
Hening.
Rosa menggigit bibirnya. Berharap itu dirinya.
"Sebelumnya, aku mau mengumumkan sesuatu. Seharusnya, anggota terakhir adalah Wanda. Tapi dia sakit. Jadi kami menggantinya dengan-" menjeda sejenak. "Rosa Adelina."
Semua tercengang. Tampak terkejut.
Berbeda dengan Rosa yang terkejut sekaligus senang. Ingin rasanya ia berteriak saking senangnya. Namun ia mencoba menahan keinginannya itu.
Sungguh tidak disangka.
"Rosa Nyonya? Bukankah dia masih baru?" Tanya seseorang.
"Aku tahu ia menginginkannya. Untuk menyelamatkan adik-adiknya. Rosa, kau jangan khawatir. Adik-adikmu berada disini, tapi diamankan di dalam sel. Jadi selama bertugas nanti, kau jangan mengkhawatirkan mereka. Bertugaslah dengan baik, untuk menyembuhkan adik-adikmu."
"Aku mengerti."
-- -- --
Name: Tristan Lee
Age: 23
From: Korean
_________________________
Name: Daniel
Age: 22
From: Korean
_________________________
Name: Kim Joseph
Age: 22
From: Korean
_________________________
Name: Johnny Seo
Age: 23
From: Chicago
_________________________
Name: Mark Lee
Age: 19
From: Canada
________________________
Name: Lucas
Age: 19
From: Hongkong-Thailand
________________________
Name: Edward Lin
Age: 17
From: Taiwan
________________________
Name: Qian Kevin
Age: 22
From: China
________________________
Name: Rosa Adelina
Age: 18
From: Indonesia
Srek
Rosa terkejut saat seseorang tiba-tiba merebut kertas berisi data kelompok dari tangannya. Rupanya yang melakukannya Tristan.
"Padahal aku mengharapkan wanita dan cantik sexy sebagai anggota kelompokku." Celoteh Tristan saat sedang mengamati kertas data itu.
Rosa hanya diam seolah tidak mendengarkan apa yang Tristan katakan. Orang-orang bilang padanya Tristan jadi agak gila sejak Jennie pergi.
Rosa tidak percaya. Tapi ucapan sarkastik Tristan tadi membuatnya jadi ingin percaya.
Daniel tiba-tiba datang menghampiri, ia sehabis melakukan push up, angkat beban dan tinju. Rosa bisa mencium aroma asam tubuh Daniel dari jarak yang tidak terlalu jauh ini.
"Kau baru menyakiti hati seorang gadis bung." Ucap Daniel sembari mengambil kertas data itu dari Tristan.
Rosa tahu apa yang Daniel ucapkan hanya untuk basa-basi. Sekarang dia tampak fokus pada kertas data.
Tristan tak lama pergi. Tampak tidak peduli dengan apa yang Daniel katakan.
Rosa jadi takut masuk kelompok ini. Semuanya tampak tak ramah. Sekalipun itu Joseph yang banyak bicara omong kosong sekaligus.
Mark terlihat baik, tapi dia menyendiri sejak tadi. Membuat Rosa berfikir dia akan sulit didekati.
Kenapa setiap kelompok tidak memasukan minimal dua anggota wanita?
Rosa menghela nafasnya. Daniel tiba-tiba meletakan kertas datanya di meja, ia kemudian memandang Rosa, yang balik memandangnya dengan tatapan agak segan.
"Rosa itu... apa sebenarnya nama itu diambil dari kata Rose?" Oke, pertanyaan yang sangat bermutu. Fikir Rose. Mungkin ini cara Daniel berkenalan, atau mengajak berteman.
"Ya mungkin." Rosa menjawab singat.
"Nama yang cocok untukmu. Kau secantik mawar." Rosa tercengang saat Daniel mengatakannya sembari mengedipkan mata kirinya. Apa pemuda ini berniat menggodanya?
"Eum, ya."
Daniel tiba-tiba melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Kau tahu? Untuk berada di dunia luar, kau harus kuat, tahan banting, jago bela diri, dan mahir memegang senjata. Yang terpenting juga kau harus pintar lari. Aku bisa mengajarimu semua itu, dibanding diajarkan pelatih galak itu." Daniel berucap sembari menunjuk pria yang sedang membentak-bentak Edward dan Mark agar melakukan push up dengan benar, menggunakan ibu jari kanannya.
"Aku suka olah raga, dan jago hal-hal seperti itu sebelum masuk ke sini. Atau lebih tepatnya sebelum daerahku di serang zombie. Jadi... mau berlatih denganku? Biasanya para pelatih membiarkan anggota perempuan memilih pelatihnya sendiri."
Rosa terdiam sejenak tampak berfikir. Daniel tampak sebagai orang yang menyenangkan. Jadi apa salahnya mencoba dilatih Daniel. Sepertinya kemampuannya juga tidak diragukan.
"Ya aku mau." Ucap Rosa pada akhirnya. Daniel tersenyum lebar.
"Oke. Dimulai dari pemanasan dulu. Aku akan mengajarimu bagaimana melakukan pemanasan, ayo,"
Rosa hanya mengikuti. Saat Daniel mengajaknya untuk memasuki lebih dalam tempat gym ini.
-- -- --
Rosa mencoba mengatur nafasnya yang tidak teratur. Daniel berlari menghampirinya, dengan nafas tersengal juga. Mereka baru saja berlari mengelilingi lapangan hingga 20 kali putaran.
"Kau sangat bersemangat." Ucap Daniel sembari duduk di samping Rosa. Yang duduk diatas pasir lapangan.
Rosa tidak langsung menjawab perkataan Daniel. Dia terlalu lelah, tidak biasa lari sebanyak itu.
Daniel meraih handuk untuk mengelap keringat pada kening, leher serta lengannya yang tak tertutup kain. Ia memang hanya menggunakan singlet putih dan celana training hitam.
Selesai berurusan dengan keringat. Daniel mengambil botol berisi air mineral yang sudah ia bawa sebelum datang ke lapangan. Sebelum akhirnya menyerahkan salah satunya pada Rosa.
"Kau tahu? Bagiku berlatih fisik selama berbulan-bulan sebelum akhirnya terjun ke dunia luar, menurutku membuang waktu." Daniel membuka pembicaraan, setelah ia selesai minum.
"Kenapa? Bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Orang-orang yang lemah sepertiku tidak bisa keluar ke dunia luar begitu saja." Kata Rosa.
"Ya kau benar. Aku hanya terlalu kesal dan tidak sabar."
"Kenapa? Bahkan kebanyakan anak takut untuk keluar dari sini."
"Aku ingin mencari Ibuku. Aku yakin dia masih hidup meskipun sudah berubah jadi zombie. Aku akan mengikatnya dengan rantai dan membawanya kesini. Mengamankannya di dalam sel, sebelum virusnya semakin parah dan merubahnya jadi zombie kanibal. Aku juga ingin segera menemukan Profesor gila itu. Dia benar-benar sudah menghancurkan dunia. Aku tidak habis fikir untuk apa dia membuat virus konyol itu? Astagaaa..."
Setelah berceloteh panjang, Daniel membaringkan tubuhnya begitu saja di pasir. Membiarkan pasir-pasir itu menempel pada tubuhnya yang basah akan keringat.
Rosa menatap Daniel tanpa berucap apapun. Membuat Daniel yang sebelumnya sedang memejamkan mata, jadi membuka matanya, kemudian menatap Rosa.
"Jadi apa pendapatmu soal virus konyol ini?" Tanya Daniel.
"Aku tidak tahu. Dia tidak mungkin membuatnya untuk menguasai dunia. Dia sendiri akan mati dimakan zombie. Satu lawan berjuta-juta umat manusia. Bagaimana mungkin?"
Daniel mendengus, ia menatap langit-langit yang terbuat dari lempengan besi tebal.
"Aku tidak nyaman satu kelompok dengan Tristan." Rosa sedikit melebarkan matanya mendengar ucapan Daniel.
"Kenapa?" Tanya Rosa.
"Dia agak... ahh... entahlah. Tidak seharusnya aku membencinya. Orang-orang salah berfikir dia tampak murung, suram dan mengerikan karna Jennie. Aku cukup tahu dia, karna dulu kita berada di kelas dance yang sama."
Daniel tiba-tiba bangkit duduk, menatap Rosa dengan kening yang agak mengkerut. Seperti memberi isyarat jika dia memang ingin menceritakan hal serius.
"Dia tipe orang yang penyayang, sensitif, hatinya lembut sekali. Semua orang yang ditemuinya dan baik padanya, akan dia cintai. Dulu kami punya grub dance yang berisi anak-anak kecil, mereka sangat lucu." Daniel menjeda ucapannya sejenak untuk tersenyum dan mengingat memori indahnya itu. "Aku, Tristan, dan beberapa orang lainnya, aktif mengajarkan mereka menari. Mencari acara yang mau menerima mereka tampil. Dan saat itu-"
Daniel masih membuka mulutnya. Namun tidak ada kalimat yang keluar, seolah dia sulit untuk mengeluarkan kalimat selanjutnya.
"Saat itu anak-anak tampil di acara sekolah kelulusan anak berkebutuhan khusus. Tristan dan beberapa Guru menari mereka menemani. Aku tidak ada disana saat itu. Seharusnya aku ada. Tristan sudah memohon agar aku datang menemaninya dan yang lain menjaga anak-anak, karna perasaannya tidak enak. Tapi- tapi aku menolak datang karna ada kencan. Dan kau pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya."
"Zombie?" Tebak Rosa. Daniel mengangguk lemah.
"Lebih parahnya lagi itu zombie kaninal. Mereka memangsa anak-anak di depan Tristan. Tristan sudah berusaha keras melindungi mereka tapi sia-sia."
"Bagaimana Tristan bisa selamat?"
"Dia di back stage. Yang pertama kali diserang tentu saja penonton dan yang tampil. Anak-anak juga belum bisa membuat perlawanan apa lagi kebanyakan anak-anak disana berkebutuhan khusus. Tristan jadi seolah hanya melindungi dirinya sendiri. Dia berhasil membunuh para zombie yang menyerang. Tapi anak-anak juga sudah mati."
Rosa hanya bisa diam dan mengatupkan kedalam kedua belah bibirnya.
"Saat dia pulang orang tua dan Kakak perempuannya sudah... hilang. Mungkin menjadi zombie. Tapi dia malah tidak terlalu tertekan soal itu. Dia tertekan karna tragedi di sekolah itu. Dan dia... menyalahkan aku karna tidak bisa datang. Dia selalu bilang, seandainya aku ada minimal satu anak bisa selamat."
"Dia seharusnya tidak menyalahkanmu. Kau tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti itukan? Lagi pula... kalau ada kau, terjamin akan ada anak yang selamat?"
"Mungkin. Maksudku. Refleksku bagus soal menyerang. Aku mungkin bisa..." Rosa menepuk bahu Daniel. Saat pemuda itu tidak melanjutkan kalimatnya dan menundukan kepalanya semakin dalam.
"Rosa! Daniel!" Seseorang tiba-tiba memanggil. Mereka menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dan menemukan Tristan di sana.
"Waktunya makan siang." Ucap Tristan dengan nada dan ekspresi datar.
"Apa kita makan di ruangan khusus?" Tanya Rosa saat Daniel beranjak berdiri.
"Ya. Kita harus makan makanan paling baik dan sehat." Balas Daniel. "Aku mau mandi dulu." Ucap Daniel kemudian sembari menatap Tristan.
"15 menit." Sahut Tristan singkat.
"Tampak seperti mengaturku." Decih Daniel.
"Karna aku pemimpin kalian sekarang. Aku yang ditunjuk." Rosa dan Daniel seketika saling bertatapan.
"Makanya jangan hanya pacaran. Harusnya kalian datang diperkumpulan tadi." Kata Tristan dengan dagu terangkat angkuh.
"Hei, kami tidak sedang pacaran. Kami latihan. Dan seharusnya kami diberitahu kalau memang harus berkumpul." Balas Daniel dengan sirat tidak terima dinadanya.
"Terserah. Sekarang cepatlah, lalu makan siang. Kita ada latihan khusus." Setelah berucap demikian, Tristan pergi.
"Kau lihat? Sikapnya menyebalkan."
Rosa hanya diam tidak menanggapi gerutuan Daniel.