3

1180 Kata
Keesokan harinya Rosalie kembali tidak tahu harus melakukan apa jadi setelah mandi pagi dia kembali mempelajari pekerjaannya dan jika tidak dia mencari resep-resep masakan yang akan membuatnya tertarik. Selama ini dia sangat suka mempraktikkan masakan-masakan. Saat sedang mencari-cari, sebuah resep membuat Pancake sederhana menarik minatnya dan saat membaca bahan-bahannya dia merasa itu sangat mudah di buat tanpa harus menggunakan peralatan-peralatan yang sulit di dapatkan. "Baiklah, aku harus pergi ke mini market lagi untuk membeli bahan-bahan ini," ucap Rosalie. Rosalie bergegas keluar rumah dan menuju ke mini market yang kemarin. Saat pulang dari sana dan melewati taman yang kemarin, dia seperti melihat seorang anak yang sedang bersembunyi di semak-semak taman dan karena penasaran Rosalie mendekat dan dia sangat terkejut karena itu ternyata anak yang kemarin di temuinya. Rosalie melihat sekeliling tapi tidak bisa menemukan kakek dan nenek anak ini. Apa dia kabur dari mereka lagi? "Halo, Sweety. Sedang apa kamu di sini?" Tanya Rosalie sambil duduk di kursi di dekat situ. Anak itu hanya menatap kepada Rosalie dan saat mengenali Rosalie dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan naik ke pangkuan Rosalie. Rosalie hanya bisa duduk diam saja dan tidak tahu harus melakukan apa. "Halo, Rosalie," sapa Luisa. "Hai, Luisa." "Halo, Sean. Apa yang kamu lakukan di sini? Di mana kakek dan nenekmu?" Tanya Luisa pada anak yang berada di pangkuan Rosalie. "Kamu mengenalnya, Luisa?" "Iya, dia cucu Clarise dan Roberto. Dia pasti melarikan diri dari mereka lagi. Mereka pasti sedang sangat panik mencarinya sekarang ini." "Ayo, Sean, tante antar pulang," ucap Luisa. Tapi Sean malah memeluk erat leher Rosalie. "Sepertinya dia menurut padamu Rosalie jadi sebaiknya kamu saja yang mengantarkannya." "Baiklah, aku harus segera mengantarkannya sebelum kakek dan neneknya benar-benar panik," ucap Rosalie dan bangun dari duduknya sambil menggendong Sean di dalam pelukannya. "Aku pulang dulu, Luisa." "Tentu, Rosalie. Sampai jumpa lagi." "Bye," balas Rosalie. Saat sampai di depan rumah kakek nenek Sean, Rosalie menekan bel pintu dan nenek Sean membuka pintu dengan air mata yang berlinang. "Oh...Sean kamu menakuti nenek saja," ucapnya dan mengambil Sean dari dalam pelukan Rosalie. "Aku menemukan dia di taman tadi sedang bersembunyi." "Terima kasih, Rosalie." "Sama-sama, Ma'am. Saya pamit dulu." "Apa kamu tidak mau mampir dulu?" "Mungkin lain kali, Ma'am." "Baiklah, maaf sudah merepotkanmu." "Tidak apa-apa," ucap Rosalie dan beranjak pergi walau dengan berat hati karena Sean terus menatap sedih padanya. "Sepertinya dia gadis yang sangat baik," gumam Clarise sambil menatap kepergian Rosalie dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan apa itu, Clarise bisa melihat jika Sean menyukai gadis itu tapi sejak mereka kehilangan seseorang di dalam hidup mereka karena sebuah kecelakaan, Clarise tidak bisa fokus pada hal lain lagi. Dia sangat mencemaskan anak dan cucunya saat ini hingga tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada hal lain lagi. *** Saat sampai di kamarnya kembali, Rosalie segera membuat Pancake yang ingin di buatnya tersebut. Beruntung kemarin dia membeli teflon jadi dia bisa membuat ini hanya menggunakan teflon. Setelah selesai membuatnya dia memberanikan diri membawa beberapa untuk pemilik rumah ini. Untuk rasanya Rosalie sudah mencobanya dan rasanya enak karena dia sering memasak hingga dengan mudah dia bisa mencoba semua masakan tanpa takut gagal lagi. Ting tong ting tong "Ada perlu apa?" Tanya Elizabeth ketus saat membuka pintu. "Eh...aku hanya ingin membawakan ini untuk Anda," ucap Rosalie sambil menyodorkan sepiring Pancake pada Elizabeth. "Untuk apa?" Tanya Elizabeth curiga. "Tidak untuk apa-apa, saya kebetulan membuat lebih tadi." "Kamu tidak sedang berusaha menyogok saya bukan?" Rosalie hanya bisa menatap takjub pada orang di hadapannya. Sabar...Rosalie...sabar... "Aku tidak ada maksud apa-apa, Ms. Elizabeth, hanya ingin berbagi. Jika Anda tidak mau tidak apa-apa," ucap Rosalie dan baru akan pergi dari sana saat Elizabeth sudah mengambil makanan yang di tawarkannya. "Terima kasih." "Sama-sama," jawab Rosalie dan beranjak pergi dari sana. Saat tiba di kamarnya Rosalie masih terus memikirkan anak yang tadi, jadi dia menyisihkan Pancake yang di buatnya dan membawa Pancake itu ke rumah Sean. Ting...tong...ting...tong... "Hai, Ma'am." "Oh...Rosalie, panggil saja aku Clarise." "Oh...aku tidak bisa, itu akan tampak tidak sopan. Jika boleh aku akan memanggil Anda Tante saja." "Baiklah. Ada perlu apa, Rosalie?" "Oh...aku hanya membawakan ini untuk kalian dan juga Sean," ucap Rosalie dan menyerahkan Pancake yang di buatnya. "Oh, dia sedang tidur apa kamu mau bertemu dengannya?" Tanya Clarise sambil menerima pemberian Rosalie. "Tidak perlu, aku harus mandi sebentar lagi karena hari sudah mulai malam selain itu aku harus kembali bekerja karena aku baru mulai bekerja jadi masih banyak yang harus aku pelajari, aku pamit dulu, Tante." "Baiklah, terima kasih." "Ya," ucap Rosalie sambil tersenyum dan beranjak pergi dari sana. Rosalie tidak menyangka hari ini akan terlewati begitu cepat. Dia sudah tidak sabar ingin kembali bekerja besok. Saat tiba di kamarnya kembali, telepon genggam Rosalie berbunyi dan tertera nama Jassie di layarnya. "Halo, Rosalie." "Jassie, ada apa? "Apa kamu sedang sibuk? Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan malam ini?" "Oh...aku tidak tahu, aku sedang malas keluar, bagaimana kalau kamu ke sini? Aku membuat Pancake," tawar Rosalie karena dia tahu Jassie sangat suka Pancake. "Benarkah? Baiklah aku akan ke sana." "Oke, aku tunggu." Setengah jam kemudian Jassie sampai di tempat Rosalie dan dengan segera dia menyantap Pancake yang di buat oleh Rosalie. "Pancake ini terasa beda, Rosalie." "Ya, tentu saja karena hanya menggunakan teflon," ucap Rosalie sambil tertawa. "Hmmm...kamu memang istri idaman laki-laki karena bahkan bisa membuat Pancake menggunakan teflon." "Kamu berlebihan, Jassie, banyak yang bisa melakukannya bukan hanya aku." "Aku tidak bisa," ucap Jassie tersenyum masam. "Bahkan mungkin memasak nasi saja akan aku hanguskan," sambungnya lagi tertawa. Tok...tok...tok... Tiba-tiba jendela kembali berbunyi seolah-olah seseorang mengetuknya. "Apa itu, Rosalie?" "Aku tidak tahu, setiap malam jendela itu selalu berbunyi seolah-olah seseorang mengetuknya," ucap Rosalie dan berjalan keluar. Rosalie kembali terbelalak saat kembali menemukan sebuah balon di sana. Dia menjangkaunya dan membawanya masuk ke dalam. "Dan aku akan selalu menemukan sebuah balon putih di sana dengan tulisan di bawahnya," ujar Rosalie sambil mengangkat kertas di balon itu dan membacanya. "Mama, aku sangat merindukanmu." Baca Rosalie dengan suara keras dan kali ini terdapat gambar sederhana seorang wanita di kertas itu. Gambar yang di tulis oleh seorang anak kecil karena terlihat tidak rapi. "Aku tidak tahu kalau kamu punya anak." "Tidak lucu, Jassie," ucap Rosalie. Jassie hanya tertawa mendengar ucapan Rosalie. "Aku sempat berpikir jika rumah ini berhantu tapi kemudian aku malah menemukan balon di sana dan ini sudah ketiga kalinya." "Yang pertama dan kedua juga ada suratnya?" "Iya. Yang pertama isinya "I Miss You, Mama" dan yang kedua isinya "I Love You, Mama." "Mungkin itu hanya mainan yang di mainkan seorang anak dengan ibunya saja dan kebetulan pohon di depan kamarmu juga sangat tinggi, jadi selalu menyangkut di sana." "Ya, seperti yang aku pikirkan. Tapi entah kenapa saat aku membaca tulisan-tulisan itu, aku seolah-olah merasakan kesedihan di dalamnya." "Benarkah?" "Ya, tapi sudahlah ayo kita makan lagi," ucap Rosalie mulai makan makanan yang juga di bawa Jassie. Mereka kemudian makan dalam diam dengan pikiran masing-masing. "Baiklah, Rosalie aku pulang dulu karena besok kita harus pergi bekerja." "Oke, Bos," ucap Rosalie tertawa. Jassie tersenyum dan memeluk Rosalie erat. "Kenapa kamu tidak mau tinggal bersamaku, Rosalie?" "Tidak, Jassie aku tidak ingin membebanimu, lagi pula aku senang tinggal di sini." "Baiklah, jika kamu takut tinggal di sini kamu bisa pindah ke apartemenku," goda Jassie. Rosalie hanya tersenyum menanggapinya. "Sampai jumpa besok, Jassie." "Ya, bye," ucap Jassie dan pergi dari kamar Rosalie. Setelah kepergian Jassie, Rosalie kembali menatap balon itu dan kembali membacanya. Siapa sebenarnya anak ini? Dan kenapa dia merindukan mamanya? Kemudian Rosalie memutuskan menyimpan lagi balon itu dan tidur. Dia ingin bangun lebih pagi besok agar bisa belajar naik bus ke tempat kerjanya karena jika dia terus naik taksi sebelum gajian bisa-bisa tabungannya sudah habis. _________________________________________ Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN