bc

Ratu Emas Sang Mafia K-Pop

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
family
HE
age gap
arranged marriage
goodgirl
mafia
gangster
drama
sweet
bxg
lighthearted
city
lies
like
intro-logo
Uraian

Di malam penuh salju, Nayla kehilangan suami, sahabat, dan usahanya. Takdir mempertemukannya dengan Arfan, Bos Mafia K-Pop yang menawarkan kawin kontrak demi balas dendam.

chap-preview
Pratinjau gratis
Di Antara Salju dan Darah
Salju pertama di Seoul turun malam itu, menyelimuti kota metropolitan dengan selimut putih yang tampak suci. Namun dinginnya udara di luar tak sebanding dengan kebekuan yang tiba-tiba meresap hingga ke tulang-tulang d**a Nayla. Tangan yang berbalut sarung tangan rajut itu gemetar hebat. Ia baru saja menekan kata sandi pintu studio fesyennya sendiri—Nayla Kim Studio. Di tangan kirinya tergenggam rapat sebuah kotak berisi kue black forest buatan tangannya sendiri, khusus disiapkan untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keempat. Namun alih-alih mendapati suaminya sedang menyusun laporan keuangan seperti yang ia katakan lewat telepon, telinga Nayla justru disambut suara yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir. Suara desahan nikmat. Nayla melangkah perlahan, napas tertahan di kerongkongan. Sepatu botnya tak menimbulkan suara di atas karpet tebal miliknya. Matanya tertuju pada ruang VIP di ujung lorong—tempat sofa beludru merah kesayangannya berada. Pintu itu sedikit terbuka, membiarkan cahaya temaram lampu gantung menerobos keluar. Di sana, di atas sofa tempat Nayla sering menghabiskan malam merancang gaun impian para kliennya, suaminya Irfan sedang merengkuh tubuh seorang wanita dengan penuh gairah. Pakaian wanita itu berserakan di lantai. Dunia Nayla runtuh seketika saat wajah wanita itu menoleh ke arah pintu dengan mata terpejam. Itu adalah Dinda Kirana. Sahabat dekatnya sejak kuliah. Wanita yang ia angkat menjadi manajer pemasaran di studionya karena ia merasa iba dengan nasibnya. BRAK! Kotak kue di tangannya terlepas, menghantam lantai pualam hingga hancur lebur. Krim cokelat dan buah stroberi terciprat ke ujung sepatunya, tampak persis seperti ceceran darah segar. Irfan dan Dinda tersentak kaget. Mereka buru-buru meraih pakaian yang ada di dekat mereka. Mata Irfan membelalak saat melihat istrinya berdiri di ambang pintu, air mata sudah mengalir deras membasahi pipi yang terbingkai hijab pashmina berwarna pastel. "N-Nayla? Bukannya kamu bilang akan menginap di rumah Ibumu malam ini?" Suara Irfan terdengar panik sesaat, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia bahkan tak tampak sedikit pun merasa bersalah saat mengancingkan kemejanya. Nayla mengepalkan tangan sekuat tenaga, kukunya menancap hingga telapak tangannya terasa perih. "Di hari ulang tahun pernikahan kita... Kau mengkhianatiku, Mas? Bersama Dinda? Sahabatku sendiri?!" Suaranya pecah, isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak keluar. Dinda, yang kini menutupi tubuhnya dengan gaun rancangan Nayla yang belum selesai, justru tersenyum sinis. Gadis itu menyisir rambut panjangnya ke belakang, lalu bersandar manja pada d**a Irfan. "Ah, ayolah Nayla. Jangan bersikap seolah kau satu-satunya korban di sini," ucap Dinda tanpa rasa malu. "Irfan butuh wanita yang bisa mengimbangi gaya hidupnya di Seoul. Pria sukses seperti dia butuh pendamping yang menawan untuk hadir di pesta-pesta para investor. Bukan wanita yang hanya sibuk dengan kain dan jarum sepertimu." Nayla menatap suaminya berharap Irfan akan membantah ucapan itu. Pria yang dulu ia temani berjuang dari nol, yang makan mie instan bersamanya di kamar kos sempit sebelum ia memenangkan lomba desain dan membuka studio ini. Namun Irfan hanya mendesah lelah. "Dinda benar, Nay. Aku sudah lelah dengan pernikahan kita yang begini-begini saja. Kau terlalu sibuk dengan mesin jahitmu. Dan kau terlalu... kaku untuk duniaku sekarang." "Dunia yang kau bangun pakai uang dan keringatku, Irfan!" teriak Nayla, dadanya naik turun menahan amarah. "Keluar dari studionya sekarang! Kalian berdua, keluar!" Irfan malah tertawa meremehkan. Ia merogoh saku jasnya dan melemparkan selembar dokumen ke lantai, tepat di samping sisa kue yang hancur. "Studiomu? Coba baca baik-baik surat peralihan saham yang kau tanda tangani bulan lalu, Nayla. Secara tertulis, 80% saham studio ini beserta hak cipta semua desainmu adalah milikku." Irfan melangkah maju, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Jadi secara hukum, ini adalah propertiku. Kau yang harus pergi." Nayla menggeleng tak percaya. Surat itu? Surat yang katanya hanya untuk keperluan administrasi pajak? Ia telah ditipu habis-habisan oleh orang yang paling ia percayai. "Kau iblis, Irfan..." bisiknya, suaranya bergetar campuran rasa sakit dan kebencian yang mendalam. "Ambil barangmu dan pergi. Surat cerai akan kukirim ke alamat Ibumu besok," ucap Irfan dingin, lalu kembali memeluk Dinda yang tersenyum kemenangan. Saat itu juga, sesuatu di dalam hati Nayla mati. Sisa cinta naifnya pada pria itu lenyap, berganti bara dendam yang menyala terang. Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, ia berbalik dan berlari keluar ruangan itu. Udara dingin musim dingin Seoul langsung menyambar wajahnya seperti ribuan jarum. Nayla terus berlari menembus lebatnya salju, tak peduli sepatunya basah kuyup dan butiran es menempel di hijabnya. Ia tak punya tujuan. Uangnya, usahanya, suaminya, sahabatnya—semuanya dirampas dalam satu malam. Kakinya terasa lemas saat ia berbelok ke sebuah gang sepi di distrik Gangnam. Ia menyandarkan punggung ke dinding bata yang beku, lalu merosot perlahan hingga terduduk di atas tumpukan salju. Memeluk kedua lututnya, Nayla menangis sejadi-jadinya, mengutuk kebodohannya sendiri. Tuhan... Apa salahku hingga hidupku dihancurkan seperti ini? jerit batinnya. Namun, di tengah isak tangisnya, pendengaran Nayla menangkap suara lain. Suara napas yang berat, tersengal, disusul erangan kesakitan yang tertahan rapat. Nayla mengusap kasar air matanya, lalu menajamkan pandangan ke sudut gang yang tak tersentuh cahaya lampu jalan. Ada seseorang di sana. Dengan sisa keberanian yang hampir habis, Nayla bangkit berdiri dan melangkah ragu mendekat. Saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, ia memekik tertahan dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Seorang pria bersandar di tumpukan kotak kayu tua. Ia mengenakan setelan jas hitam kelas atas yang robek parah di bagian perut. Darah segar mengalir deras dari luka itu, menetes perlahan dan mengubah salju putih bersih di bawahnya menjadi merah pekat. Meski tampak sekarat, aura pria itu tetap mengintimidasi dan sangat berbahaya. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna bak pahatan seniman terbaik. Saat Nayla melangkah mendekat, pria itu perlahan mengangkat kepalanya. Sepasang mata setajam elang, gelap pekat, dan sedingin es menatap tepat ke manik matanya. Tatapan itu begitu menguasai, seolah ia bisa melihat apa yang tersembunyi di dalam hati Nayla. Siapa pun yang melihatnya akan tahu: pria ini bukan orang sembarangan. Ia adalah penguasa kegelapan. Tak jauh dari jangkauan tangannya, tergeletak sebuah pistol berwarna perak. "Tolong..." suaranya terdengar parau dan lemah, namun anehnya tetap terasa seperti perintah yang tak bisa dibantah. "Selamatkan aku... dan aku akan memberikan dunia di telapak tanganmu." Salju turun semakin lebat, menutupi jejak mereka perlahan. Malam itu menjadi saksi bisu pertemuan antara wanita yang baru saja kehilangan segalanya, dengan sang penguasa dunia gelap yang akan mengubah seluruh takdirnya selamanya. Nayla tak pernah membayangkan bahwa malam ulang tahun pernikahannya akan berakhir di sebuah kamar motel murah yang berbau apek dan asap rokok, alih-alih di restoran berbintang lima. Dengan sisa uang tunai di dompetnya, ia menyewa kamar paling ujung yang tidak mensyaratkan kartu identitas. Pemilik motel—seorang pria tua yang setengah mabuk—bahkan tak peduli saat Nayla memapah sesosok pria bertubuh besar yang setengah pingsan, dengan mantel yang sudah basah dan berlumuran darah. Nayla membaringkan pria misterius itu di atas ranjang berseprai pudar. Napasnya tersengal, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Nayla tahu seharusnya ia memanggil ambulans, namun melihat jelas bahwa itu adalah luka tembak, serta pistol perak yang masih tergenggam erat di tangan pria itu, instingnya berkata: rumah sakit hanya akan mengundang bahaya yang jauh lebih besar. "Bertahanlah..." bisik Nayla, suaranya masih bergetar sisa tangisan tadi, namun tangannya bergerak cepat. Ia melepas mantel luar pria itu, memperlihatkan kemeja hitam yang robek parah di bagian perut. Pendarahannya cukup deras, namun beruntung pelurunya hanya menyerempet—merobek daging luar, tidak menembus organ vital. Nayla berlari ke wastafel yang terlihat kusam, mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu mulai membersihkan darah yang mengering. Saat kemeja itu tersingkap lebih jauh, Nayla sempat menahan napas. Tubuh pria itu terlatih sempurna, dengan otot perut yang padat, serta beberapa bekas luka sayatan lama yang sudah memudar. Siapa sebenarnya pria ini? Namun bukan saatnya mengagumi fisik orang asing. Lukanya menganga dan harus segera ditutup. Nayla meraih tas tangannya yang basah terkena salju. Sebagai desainer yang selalu teliti, ia tak pernah bepergian tanpa kantong kecil berisi peralatan kerjanya: gunting kecil, jarum tajam yang biasa ia gunakan untuk menancapkan payet tebal, dan benang nilon super kuat. "Maaf... ini akan sangat sakit. Aku tidak punya obat bius," gumamnya pelan. Ia menuangkan sedikit cairan antiseptik ke atas luka itu. Pria itu mengerang keras, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol, namun matanya tetap terpejam rapat menahan sakit. Dengan tangan gemetar namun gerakan tetap terukur, Nayla mulai menjahit robekan di perut pria itu. Ia mencoba membayangkan sedang menjahit kain sutra halus, berusaha menekan rasa mual yang mengaduk perutnya. Setiap tusukan jarum entah mengapa mengingatkannya pada tusukan pengkhianatan Irfan dan Dinda beberapa jam lalu. Rasa sakit di hatinya anehnya membuatnya mati rasa terhadap kengerian di hadapannya. Dua puluh menit yang terasa selamanya berlalu, jahitan pun selesai. Nayla merobek sisa kain dari lengan kemejanya sendiri untuk membalut luka itu dengan rapat. Ia mundur selangkah, napasnya terengah, lalu merosot duduk di lantai bersandar pada pinggiran ranjang. Baru sekarang ia menyadari betapa kacaunya penampilannya: hijab pashminanya berantakan, gaunnya bernoda darah, dan matanya bengkak sembab. Mengingat Irfan dan Dinda yang mungkin sedang tertawa puas di studionya, air mata kembali menetes dalam diam. Tiba-tiba—sebuah tangan besar dan dingin mencengkeram leher Nayla dari arah belakang. Nayla memekik kaget. Pria itu sudah sadar. Entah bagaimana, meski terluka parah, gerakannya secepat kilat. Ia menarik Nayla naik ke atas ranjang dan menindihnya, mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya menodongkan mulut pistol tepat di dahi Nayla. "Siapa yang mengirimmu?" Suaranya berat, serak, dan mematikan. Sepasang matanya menatap tajam seolah ia adalah predator yang baru bangun tidur. "Geng Naga Hitam? Atau antek dari klan CHEONMA?" Jantung Nayla berdetak brutal hingga nyaris melompat dari dadanya. Moncong pistol yang dingin menempel erat di kulit dahinya. Kematian terasa begitu dekat, namun entah mengapa—setelah semua yang ia lewati malam ini—ia sudah tidak peduli lagi. "Bunuh saja aku," desis Nayla, menatap tajam ke dalam mata hitam Arfan tanpa berkedip. Tak ada lagi keputusasaan yang tersisa, hanya kemarahan yang membeku seperti es di luar. "Bunuh aku setelah aku membuang sisa uangku untuk kamar kotor ini dan menjahit lukamu dengan benang gaunku. Lakukan!" Arfan terdiam. Mata elangnya memindai setiap sudut wajah Nayla—melihat jejak air mata, kesedihan, dan yang paling penting: ketiadaan rasa takut. Pandangannya turun ke pinggangnya sendiri, melihat balutan kain yang rapi dan sudah menghentikan pendarahan. Perlahan-lahan, ia menurunkan pistolnya. Ia menjauh dari atas tubuh Nayla dan bersandar di kepala ranjang, mendesis pelan saat luka berdenyut sakit. "Kau bukan pembunuh bayaran," gumamnya. Suaranya kembali tenang, mengamati Nayla yang kini duduk menyusun ulang hijabnya yang berantakan. "Tusukan jarummu terlalu rapi. Kau penjahit?" "Aku desainer pakaian," koreksi Nayla dengan nada dingin. "Atau setidaknya... mantan desainer. Semuanya baru saja dirampas dariku." Arfan menyeringai tipis—senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Aku Arfan. Arfan Haidar Al-Fatih. Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, aku biasanya memberimu cek kosong atau koper uang agar kau menutup mulut. Sebutkan hargamu." Nayla menatapnya. Uang? Tentu ia butuh uang—Irfan telah memblokir semua rekening mereka. Tapi uang saja tidak cukup untuk menghancurkan Irfan dan Dinda. Mereka memiliki koneksi ke investor besar. Ia butuh sesuatu yang jauh lebih kuat. Ia butuh kekuasaan. Melihat aura gelap yang menguar dari Arfan, jas mahalnya, dan pistol di tangannya, Nayla tahu pria ini hidup di dunia yang tak tersentuh hukum. "Aku tidak mau uangmu," jawabnya tegas. Ia mengangkat wajah, menatap Arfan dengan sorot mata yang tak kalah tajam. Alis Arfan terangkat sebelah. "Lalu? Jangan bilang kau menginginkan ginjalku." "Aku ingin kekuatanmu," ucap Nayla, suaranya mantap tanpa keraguan. "Suamiku merampas perusahaanku dan berselingkuh dengan sahabatku. Mereka membuangku ke jalanan seperti barang buruk. Aku ingin menghancurkan mereka hingga mereka memohon kematian. Tapi aku tidak punya kekuatan untuk melakukannya sendiri." Arfan terdiam beberapa detik. Tatapannya menembus Nayla seolah sedang menimbang setiap serat jiwanya. Bos mafia itu tiba-tiba tertawa pelan—tawa yang dalam dan menggema di kamar sempit itu. "Kekuatan, ya? Menarik," gumamnya. Ia menatap Nayla lekat-lekat. "Aku sedang membutuhkan tameng. Keluargaku, para tetua CHEONMA, terus mendesakku menikah untuk mengamankan pewaris tahta. Musuh-musuhku juga terus mengincar kelemahanku." Arfan mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan rasa sakit di pinggang. Wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari Nayla—aroma maskulin yang bercampur bau darah menguar kuat. "Gunakan kekuasaanku untuk menghancurkan mantan suamimu," bisiknya, suaranya seperti bisikan iblis yang menggoda. "Sebagai gantinya... jadilah istriku di atas kertas. Jadilah Nyonya Al-Fatih. Pernikahan kontrak eksklusif. Bagaimana?" Nayla menelan ludah. Menjual dirinya ke pria berbahaya dari dunia gelap? Ini adalah kegilaan. Namun saat bayangan Irfan dan Dinda yang tertawa puas di studionya muncul kembali, Nayla mengepalkan tangan. "Setuju," jawabnya tanpa ragu. Seringai Arfan melebar lebih lebar. "Pilihan yang cerdas, Istriku. Mulai besok, seluruh Seoul akan bertekuk lutut di bawah kakimu." Namun sebelum Arfan bisa menjelaskan rencananya—BUK! Suara dobrakan keras menghancurkan pintu kamar motel hingga terlepas dari engselnya. Empat pria berpakaian serba hitam merangsek masuk, tangan mereka memegang senapan serbu laras panjang yang diarahkan lurus ke kepala Nayla dan Arfan. "Tamatlah riwayatmu, Arfan Haidar Al-Fatih!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
767.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.1K
bc

Not just, the Beta

read
353.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook