Zoey mengajak Leon untuk berjalan di taman kota terlebih dahulu, bergabung dengan masyarakat umumnya, menikmati malam penuh lampu-lampu hias berbentuk aneka ragam binatang.
"Tempat ini sangat romantis Zoey, sangat indah, memberiku ide untuk membuatnya di negaraku, mungkin kau bisa merekomendasikan siapa yang membangunnya untukku." Ucap Leon yang kini berjalan disamping Zoey dengan tangan melingkar di pinggang Zoey.
Zoey melirik ke arah Joe yang masih mengikutinya dari belakang dengan jarak sekitar 3 meter jauhnya. Zoey semakin mendekatkan tubuhnya ke Leon membuat Leon tersenyum semakin lebar.
"Aku akan memberikan rekomendasinya padamu. Apa kau ingin duduk disana? Kita bisa menikmati air mancur yang menari indah disana." Ajak Zoey sambil menunjuk ke sebuah bangku di tengah taman yang tidak ditempati orang.
"Sepertinya akan lebih menyenangkan, ayo kita melihatnya." Sahut Leon.
Mereka duduk disana dengan tangan Leon yang kini merengkuh bahu Zoey disandaran bangku taman itu. Zoey sebenarnya merasa risih dengan tatapan Joe dari kejauhan, namun dia tetap bersikap nyaman dihadapan Leon. Leon menatap Zoey dengan hangat penuh senyum manis diwajahnya.
"Zoey, kau terlihat lebih cantik dengan cahaya warna warni yang menyorot ke arahmu." Ucap Leon dengan tangan yang satu lagi mengelus pipi Zoey. Zoey tersenyum kikuk menerima sentuhan Leon.
"Zoey, bagaimana jika kita mencoba menjalin hubungan khusus? Sebagai kekasih? aku menyukai wanita dengan tipe sepertimu, dan kurasa sangat nyaman berada di dekatmu. Apa kau merasakan hal yang sama denganku?" Ucap Leon semakin membuat Zoey kikuk tak mengerti harus menjawab apa.
Zoey hanya tersenyum menatap Leon.
"Mungkin lebih baik kita saling mengenal lebih lagi sebelum menjadi kekasih, maaf bukan aku tak suka padamu, tapi sepertinya terlalu cepat, aku tak ingin kegagalan lagi saat baru berjalan beberapa hari saja." Jawab Zoey dan Leon pun mengangguk tersenyum.
"Baiklah kalau kau ingin seperti itu, aku bisa mengerti, sangat bisa memahami." Ucap Leon tetap dengan senyuman manisnya masih menatap ke arah Zoey.
Leon meraih dagu Zoey dan membawanya semakin mendekat ke wajahnya. Zoey berpikiran bahwa Leon akan mencium bibirnya, namun ternyata bibir Leon justru mengecup kening Zoey. Zoey masih saja terdiam, dia menjadi sangat kikuk dihadapan Leon. Leon melihat Zoey yang tak menolak dengan kecupan kening itu, lalu menatapnya sesaat dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Zoey, mengecup bibir itu sesaat lalu melumatnya lembut meski tak mendapat balasan dari bibir Zoey, Zoey pun tak mampu menolaknya hanya terdiam menatap ke mata Leon yang sangat dekat dihadapannya. Leon segera melepas bibirnya menjauh dari bibir Zoey, menatapnya.
"Maaf, aku sudah lancang terhadapmu." Ucap Leon menyadari Zoey tak bereaksi apapun terhadap ciumannya berbeda dengan wanita lainnya yang akan langsung membalas pergerakan bibirnya.
"Maaf, aku hanya terkejut dengan ciuman mu yang tiba-tiba." Sahut Zoey.
Joe menatapnya semakin tak karuan amarah di dadanya, tak ada yang bisa dia lakukan, hanya menggenggam erat tangannya sendiri dengan sangat kencang.
"Masih saja seperti dulu! hanya diam saat ada yang mencium!" Ucap Joe kesal namun lirih, Joe teringat saat dirinya dulu pertama mencium Zoey.
Joe segera melangkah saat melihat Zoey dan Leon mulai berjalan meninggalkan taman itu.
"Akan kemana lagi mereka?!"batin Joe.
Leon mengajak Zoey kembali ke mobil dan mereka pergi dari sana. Tak disangka Leon membawa Zoey ke sebuah hotel yang sangat mewah dan memang itu adalah hotel khusus yang disediakan oleh kerajaan bagi para tamu kenegaraan mereka. Fasilitas yang sama dengan istana dan keamanan yang juga sama ketatnya dengan istana.
Joe berjalan ke arah yang berbeda dengan Zoey dan Leon. Joe segera menuju ke ruang pengawasan yang mengawasi seluruh saluran CCTV yang terpasang di seluruh ruangan di dalam hotel ini, kecuali di dalam kamar, tetap menjaga privasi para tamu kenegaraan maka tak ada kamera pengawas di dalam kamar. Joe menunjukkan kartu pengenalnya sebagai kepala tim pengawalan Princess, maka dia diberikan akses penuh yang dibutuhkannya.
Leon melangkahkan kaki masuk ke dalam lift, Zoey berhenti sejenak dan melihat keberadaan Joe, namun tidak didapatinya.
"Kemana dia?"batin Zoey bertanya dalam hati.
"Zoey...??? Kau tak jadi ikut?" Tanya Leon karena melihat Zoey tak segera mengikuti langkahnya memasuki lift.
"Ah iya..maafkan aku." Sahut Zoey lalu melangkah masuk ke dalam lift dan Leon hanya tersenyum.
Mereka berdua tiba dilantai dimana Leon menginap, kamar orang tua Leon terpisah dari kamar Leon. Leon membuka pintu kamar dan mempersilahkan Zoey masuk ke dalam.
"Duduklah, aku akan segera kembali, jika kau ingin minum ambillah sesukamu, bukankah hotel ini milik kerajaanmu?" Ucap Leon terkekeh lalu menghilang ke dalam sebuah ruangan lainnya di dalam sana.
Zoey segera mengambil dua gelas lalu menuangkan wine kedalamnya, dan memasukkan sesuatu ke dalam gelas yang satu.
"Maaf Leon, aku harus tetap berjaga saat tak ada pengawalan di dekatku." Bisik Zoey dalam hatinya.
Leon nampak keluar dari ruangan itu yang kelihatannya kamar tidur, Leon sudah melepaskan jasnya dan hanya menyisakan kemeja biru lautnya dengan 2kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung setengah.
"Hai, aku sudah menyiapkan minuman untuk kita, duduklah kita bisa bersantai dulu." Ucap Zoey dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih, biasanya aku yang akan menyiapkan minuman untuk para wanita, sungguh tersanjung saat ini seorang Princess yang menyiapkannya untukku." Ucap Leon meraih gelas yang Zoey sodorkan.
Leon segera meminumnya tanpa sadar bahwa ada zat lain didalamnya. Zat itu memang tidak langsung bereaksi dalam waktu cepat, namun selalu ampuh dipercaya oleh Zoey untuk menjaga dirinya. Leon tersenyum menatap Zoey, dan kini wajahnya mulai mendekat lagi pada wajah Zoey.
"Kau sangat mempesona Zoey, kecantikanmu tak pernah kutemui di seluruh negaraku."ucap Leon setengah berbisik. Zoey tersipu dengan pujian Leon, tersenyum menatap Leon.
"Terima kasih Leon, mmm...maaf boleh aku tahu mengapa kau tak pernah berhasil menjalin hubungan dengan siapapun?" Sahut Zoey mempertanyakan alasan Leon.
Leon sedikit bergeser duduknya dan bersandar pada sofa, mengusap wajahnya kasar.
"Aku pernah mencintai seorang wanita di negaraku, dia hanya rakyat biasa. Ayahku tak menyetujui kami, hingga kekuasaannya mampu menjauhkan kami berdua. Wanitaku jatuh sakit di tempat pengasingan yang aku sendiri sangat dilarang datang ke tempat itu, ayahku mengancam ku jika aku berani menemuinya maka dia akan membakar wanitaku hidup-hidup. Hingga akhir ajal menjemputnya dan aku hanya bisa menyaksikan jasad orang yang kucintai sudah terbujur kaku, meninggal karena sakit menahan rindu padaku, berjuang sendiri demi cinta kami. Aku hanya pria lemah yang tak pernah mampu berjuang bagi wanita yang kucintai. Sejak itu bagai dendam di dalam dadaku, aku merusak citra baik kerajaan ayahku sendiri dengan hidup selalu bermain wanita dan menghamburkan uang. Ibuku hampir mati melihatku hidup seperti itu, yang akhirnya mampu mengembalikan aku seperti saat ini, namun aku sudah tak mampu lagi jatuh cinta. Begitulah kisahku, bagaimana denganmu? Mengapa kau juga selalu gagal?" Cerita Leon dan sudah mulai mengantuk berat akibat zat yang Zoey taruh di minumannya tadi.
"Kau sepertinya sangat lelah Leon, lebih baik aku pulang, sepertinya aku melihat mobil pengawalku ada dibawah tadi." Sahut Zoey dan Leon hanya mengangguk karena matanya sudah sangat berat menahan kantuk.
Saat Leon sudah tertidur di sofa, Zoey segera membersihkan gelas Leon dan menggantinya dengan wine yang baru, supaya Leon tak mencurigainya besok. Zoey melangkah keluar dari kamar Leon, dan segera masuk ke dalam lift, Zoey sengaja mengacak rambutnya membuatnya terlihat berantakan, dia ingin Joe berpikiran bahwa dia sudah bukan Zoey yang dulu lagi. Zoey keluar dari lobby hotel itu dan melihat Joe sedang duduk disamping kap mobil depan dengan menunduk.
"Ayo Joe kita pulang, aku sangat lelah." Ucap Zoey tanpa menatap ke arah Joe, dan Joe hanya membungkuk hormat sambil membukakan pintu bagian penumpang belakang bagi Zoey.
Saat Joe sudah duduk di kursi bagian setir, dan siap menyalakan mesin mobil, Zoey memulai sandiwaranya.
"aaahh lelahnya, tapi semuanya sepadan karena sentuhannya membuatku tak mampu bertahan." Oceh Zoey sambil menatap keluar jendela tak ingin melihat reaksi Joe dari kaca spion tengah.
Joe menatap ke belakang melalui kaca tengah itu, dan hanya tersenyum sambil tetap mulai melajukan mobil menuju istana. Zoey merasa geram karena tak berhasil membuat Joe bereaksi apapun.
"Besok aku ingin melakukannya lagi, aku benar-benar ketagihan dengan sentuhan yang dia lakukan, oh Tuhan mengapa tidak dari dulu kau kirim Leon padaku? Mungkin aku sudah memiliki banyak anak sekarang karena sentuhannya selalu membuatku gila." Oceh Zoey lagi, namun tetap tak membuat Joe bereaksi apapun. Zoey semakin geram dalam hatinya.
"Andai saja aku tak pernah menutup mata pada pria lain selama ini, pasti aku telah berhasil menikmati banyak malam penuh gairah setiap malam, bodohnya aku hanya terpaku pada masa lalu penuh kepalsuan selama ini." Ucap Zoey lagi dan kali ini ucapannya beroleh respon mengejutkan dari Joe.
ciiiitt.....!!!!
Mobil mendadak di rem dengan sangat keras, hingga kepala Zoey terantuk ke kursi di depannya.
"JOE!!! APA KAU SUDAH GILA?!" seru Zoey meneriaki Joe.
Joe memegang setirnya dengan sangat kencang, berusaha meredakan emosi di dadanya. Joe akhirnya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan mencoba meredakan sendiri amarahnya. Joe lalu keluar dari mobil itu, membuat Zoey terkejut dan lebih bingung lagi saat Joe membuka pintu penumpang bagian belakang dan masuk mendekati Zoey. Joe segera mengunci posisi tubuh Zoey dengan tangan satu di pintu samping Zoey, dan tangan satu lagi di samping tubuh Zoey pada sandaran kursi mobil. Joe menatapnya dengan tajam.
"Joe...a..apa yang ka..au lakukan?" Tanya Zoey sedikit bergetar ketakutan.
"Jangan pernah mengatakan segala kenangan kita adalah kepalsuan! Kau tahu sendiri bahwa semua nyata Zoey! Kebersamaan kita, ciuman kita, bahkan malam pertama kita semua itu nyata Zoey! Aku tak pernah memberimu kepalsuan sedikitpun!" Ucap Joe tanpa berkedip sekalipun terus menatap tajam ke arah Zoey.
Zoey merasakan rasa sakit di dadanya lagi, namun Zoey tak ingin lemah dihadapan Joe, Zoey ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa tanpa Joe. Zoey membalas tatapan tajam Joe.
"Apa pedulimu sekarang Joe?! Kau selalu datang dan menghilang bagai hantu di hidupku Joe! Aku kini bukan Zoey yang dulu mudah kau permainkan Joe!" Seru Zoey.
"Kumohon hentikan semua sandiwara mu Zoey, aku tahu kau tak melakukan apapun dengan Leon didalam kamar hotel itu!" Ucap Joe lagi membuat Zoey tercengang bagaimana Joe bisa tahu?
"Tak perlu membahayakan dirimu hanya untuk membuatku cemburu Zoey! Jangan! Jangan.pernah. sekalipun.kau membuatku cemburu dengan cara apapun! Apa kau tahu api cemburu di dadaku ini sanggup membakar seluruh kerajaan ini hingga ke pelosok?! Jadi.jangan.pernah.mencoba melakukan hal berbahaya hanya untuk membuatku cemburu." Ucap Joe lagi penuh penekanan pada kalimatnya.
Zoey masih terdiam menatap ke mata Joe, bingung bagaimana Joe bisa mengetahui sandiwaranya?
"Obat bius hah?! Asal kau tahu Zoey, tak semua orang mampu dilumpuhkan dengan obat bius, suatu saat kau tak akan bisa mengandalkan zat itu lagi!" Lanjut Joe terus, semakin Zoey terperangah bingung bagaimana Joe bisa tahu detail seperti itu?
"Apa maksud ucapanmu?! Aku memang melakukannya dengan Leon di dalam sana! Kau terkejut hah?! Kau tak percaya kalau aku juga bisa melakukan s*x dengan pria lain hah?!" Ucap Zoey masih bersandiwara, semakin membuat Joe geram.
Sekali gerakan dan kini tangan Joe sudah berada di dalam rok Zoey yang hanya selutut dan sudah menyentuh bagian intimnya yang tertutup celana dalam. Zoey terkejut dengan perlakuan Joe.
"Apa yang kau lakukan Joe?!" Bentak Zoey sambil memukul lengan Joe.
"Kering? Tak ada basah sedikitpun? Apa ini yang kau sebut kenikmatan Zoey?!" Tanya Joe membelai celana dalam Zoey.
Zoey terkejut, ada gelenyar merasuk tubuhnya akibat belaian jari Joe di celana dalamnya, sandiwaranya kini sudah tak mampu lagi dilanjutkan, Zoey kalah strategi dengan Joe. Zoey diam menatap Joe, Joe mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Zoey, melumatnya lembut. Zoey tak menghindari bibir Joe, mata mereka masih terbuka saling menatap dekat, bibir Joe terus bergerak melumat bibir Zoey. Zoey juga merindukan ciuman itu, ciuman yang selalu membuatnya luluh dari segala amarahnya, semakin lama lembut bibir Joe membuat Zoey terlena dan memejamkan matanya, mulai ikut menggerakkan bibirnya juga, Joe meraih tengkuk Zoey memperdalam ciuman mereka, sedang tangan satunya masih tetap berada di celana dalam Zoey.
Joe tersenyum melepaskan ciuman mereka, sambil membelai celana dalam Zoey yang kini basah.
"Kenapa kini menjadi basah? Aku baru mencium bibirmu tanpa pergerakan apapun dan kau sudah basah, bagaimana mungkin kau melakukannya bersama Leon sedangkan celana dalam pun masih kering?" Ucap Joe menggoda Zoey.
"Sial kau Joe?!" Rutuk Zoey memukul lengan kokoh joe. Zoey melihat senyuman jahil Joe padanya. Joe segera menarik keluar tangannya dari dalam rok Zoey, lalu keluar dari mobil, dan pindah kembali ke kursi setir di depan.
Zoey seakan kehilangan sesuatu dengan menjauhnya tubuh Joe darinya. Joe tersenyum menatap Zoey melalui kaca spion tengah, dan kembali melajukan mobil kembali ke istana. Setibanya di halaman istana, Zoey tak menunggu Joe membukakan pintunya, Zoey segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam istana menuju kamarnya. Zoey menangis dalam pelariannya itu, Joe melihatnya dan menyesal telah melakukan hal buruk tadi pada Zoey, tak seharusnya dia melecehkan wanita yang dicintainya itu. Zoey terus menangis dalam kamarnya, Joe tak tahan lagi. Joe memberanikan diri melanggar peraturan istana bahwa dia tak boleh masuk ke dalam kamar Zoey. Joe menerobos masuk ke dalam kamar Zoey yang ternyata belum sempat dikunci oleh Zoey.
Zoey terkejut melihat Joe masuk ke dalam kamarnya dan melangkah mendekatinya.
"Pergi kau! Kau penjahat Joe! Kau sangat jahat!" Seru Zoey meneriaki Joe dan mengusirnya.
Joe tetap mendekat dan langsung memeluk Zoey erat, Zoey meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan itu, namun Joe semakin erat memeluknya, Zoey akhirnya berhenti meronta, namun tangisnya masih tidak berhenti justru semakin deras sambil memukul d**a Joe.
"Maafkan aku Zoey, aku memang penjahat. Maafkan aku, aku menyesal melakukan itu padamu, maafkan aku Zoey." Ucap Joe dengan kepalanya merasuk ke ceruk leher Zoey.
"Kau jahat Joe! Kau jahat!" Ucap Zoey dalam tangisnya.
"kau benar Zoey, maafkan aku, berhentilah menangis, kau boleh memukulku dan menyakitiku dengan apapun, aku rela untuk menebus kejahatan ku tadi, tapi kumohon berhentilah menangis karena aku tak sanggup melihat air matamu Zoey." Ucap Joe.
"Air mataku sudah terbiasa mengalir selama 15 tahun ini Joe, aku tak pernah bisa menghentikannya." Sahut Zoey lalu Joe melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Zoey dan menatapnya.
Joe mencium kedua mata Zoey lalu mengusap air mata di kedua pipi Zoey dengan kedua jempolnya. Tangisan Zoey pun terhenti, menatap Joe. Joe tersenyum menatap Zoey.
" masih berhasil." Ucap Joe dan kini Zoey mulai tersenyum, teringat masa dulu Joe selalu mengecup kedua mata Zoey jika menangis, dan selalu berhasil.
"Kau masih mengingatnya Joe?" Tanya Zoey menatap Joe.
"Aku tak pernah melupakan sedikitpun kenangan kita Zoey." Jawab Joe lalu kembali memeluk Zoey.
"Maafkan aku Zoey." Bisik Joe pada ceruk leher Zoey.
"Bohong, kau tak mengingat semuanya Joe!" Protes Zoey melepaskan pelukan Joe dan cemberut.
"Ouw Zoey, sungguhkah? Haruskah seperti itu? Ini di dalam istana Zoey! bahkan ini di dalam kamarmu! aku sudah melanggar peraturan dengan menerobos masuk ke kamarmu, haruskah aku melakukannya? Tak bisakah kau memaafkan aku tanpa aku melakukannya?" Ucap Joe dan Zoey menggelengkan kepalanya.
"Buktikan kalau kau mengingat semuanya!" Ucap Zoey dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.