Laura terus terisak menangis, Joe menghampiri Laura lalu memeluknya, memeluk Laura sebagai seorang paman pada keponakannya.
"Laura, kau tak akan mampu mengerti hubunganku dengan Princess, kami sudah saling dekat sejak 17tahun yang lalu. Saat kau masih balita, cinta diantara kami berdua sudah tumbuh dan berakar sangat kuat. Cinta kami berdua tak akan mampu dimengerti oleh semua orang, bahkan oleh kami sendiri. Maafkan aku Laura, aku hanya menyayangimu sebagai keponakanku saja. Aku memilih hidup sendiri dan menjadi pengawal Princess, sampai selamanya aku ingin selalu menjaganya Laura. Maafkan aku." Ucap Joe sambil membelai kepal Laura.
Laura terkejut dengan cerita Joe barusan. Saat tangis Laura tak lagi terdengar, Joe melepaskan pelukannya dan menatap Laura.
"Saat princess nanti pada akhirnya menikah dengan pria lain, apakah kau juga akan menikah dengan wanita lain?" Tanya Laura mendongak keatas menatap Joe. Joe tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tak akan menikah dan tetap selalu menjadi pengawalnya, jika Princess menikah itu karena dia diwajibkan menikah oleh tuntutan tahta. Kami berdua telah saling menyakiti dan mengecewakan namun cinta itu tetap tak mau pergi dari hati kami berdua Laura." Jawab Joe.
"Kenapa kau tak berjuang demi cintamu? Kau bawa kabur saja Princess saat Raja dan Ratu sedang pergi." Ucap Laura dengan polos.
"Tidak Laura, aku sudah berjanji pada Sang Ratu untuk menjaga Princess dengan baik. Janji adalah harga diri seorang prajurit, kau tak bisa menjadi prajurit yang setia jika tak bisa menepati janji yang kau ucapkan dari mulutmu." Sahut Joe.
"Aku mengerti Joe, meski aku juga tak paham ada cinta seperti yang kalian miliki. Maafkan aku sudah bersikap aneh, mungkin karena ini pertama kalinya aku jatuh cinta pada pria. Aku juga ingin memiliki cinta yang tidak egois seperti kalian Joe, maafkan aku, tapi jika suatu saat kau ingin menikah, ingatlah aku ini." Ucap Laura lalu kembali memeluk Joe dan tersenyum. Joe pun memeluk Laura dan mengecup puncak kepalanya.
"Kau gadis yang baik dan sangat cantik, juga pandai dalam banyak hal, kau pasti bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dariku Laura, dan pastinya lebih muda dariku." Pesan Joe dan Laura mengangguk dalam pelukan Joe. Joe melepaskan pelukannya pada Laura dan segera berbalik melangkah keluar dari dapur.
"Joe." Panggil Laura dan Joe menghentikan langkahnya.
"Apakah aku harus merahasiakan ceritamu tadi?" Tanya Laura, dan Joe berbalik menghadapnya lalu tersenyum.
"Ceritaku tadi bukan sebuah rahasia Laura, banyak orang di istana ini yang mengetahuinya bahkan Sang Mulia Ratu, hanya saja keep silent please???" Sahut Joe dan Laura tersenyum lebar menganggukkan kepala.
Joe kembali melangkahkan kakinya keluar dari dapur, Laura entah mengapa merasakan sedikit kelegaan bukannya sakit hati mendengar bahwa Joe mencintai Princess dan menolak dirinya. Joe kembali ke pos penjagaannya yang tepat berada dibawah balkon kamar Zoey. Joe menatap ke atas menengok balkon itu dan kosong. Joe memeriksa aplikasi CCTV di kamar Zoey dan tersenyum melihat wanitanya baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan menuju ke lemari pakaian. Joe segera menutup aplikasi itu, tak ingin melebihi batasannya meskipun dia sangat ingin melihatnya, tapi tidak dengan mencuri lihat.
Zoey melangkah menuju ke balkon, dan melihat Joe sudah berada di bawah sana sedang menatapnya ke atas. Zoey tersenyum lalu mengetik sebuah pesan pada ponselnya.
"Bagaimana dengan Laura? Apakah dia baik-baik saja?"
(Zoey)
"Ya, dia baik-baik saja."
(Joe)
"Kurasa gadis itu menyukaimu"
(Zoey)
Joe memilih untuk tidak membalas pesan terakhir Zoey.
Mereka kembali saling menatap dan Zoey tersenyum namun tidak dibalas oleh Joe. Zoey lalu berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya meninggalkan balkon itu. Joe selalu berhasil mengacaukan hatinya. Kadang lembut penuh perhatian namun sering mengacuhkannya. Zoey duduk di tepi tempat tidurnya dan bermain dengan pikirannya sendiri. Joe, mungkinkah semua ini diwujudkan dalam kenyataan? Bagaimana sesungguhnya yang ada di hati Joe?. Zoey tak tahu harus bagaimana, ketakutan akan rasa kecewa di masa lalunya selalu menghantui dan membuat dirinya terus menyangkal Joe.
Drrrttt...ddrrtttt...
Ponsel Zoey berbunyi mengembalikan dirinya pada alam nyata. Sebuah nomor tak dikenal masuk menghubunginya.
"Halo"
"Hai Princess Zoey, saya Leon, saya mendapatkan nomor anda dari kedua orang tua kita, anda tak keberatan kan?"
"O hai Prince Leon, tak masalah. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin mengajak anda makan malam di sebuah restaurant, apakah anda punya waktu?"
"Kapan?"
"Malam ini, saya akan menjemput pukul 7pm. Bagaimana? Anda bergabung atau tidak?"
"Ehm..baiklah, saya akan bersiap dan menunggu anda. Terima kasih sudah mengundang saya."
"With my pleasure princess... Oke kita bertemu nanti malam. Bye."
"Bye"
Sambungan telepon pun dimatikan.
"What?! 7pm, itu berarti aku hanya punya waktu 2jam untuk bersiap?!" Seru Zoey saat melihat ke jam mini di atas nakasnya.
Zoey segera menuju ke ruangan gantinya disana terdapat banyak lemari yang isinya sudah dibagi sesuai kebutuhan. Zoey ingin tampil elegan tidak terbuka namun terlihat sexy. Zoey ingin menjaga harga dirinya dihadapan King dan Queen Quentin, cantik sexy namun tidak terlihat w************n. Fashion yang Zoey pakai kapanpun dan dimanapun akan selalu menjadi pembicaraan banyak orang, itulah mengapa Zoey sedikit bingung memilih pakaian yang akan dia kenakan nanti malam.
Zoey telah menunggu Leon sambil berdiri di ruang tamu istana depan. Joe menatapnya terpana, wanitanya sangat elegan dan cantik, meski tertutup namun sangat sexy menggoda penampilannya. Zoey tersenyum saat melihat reaksi Joe yang terpana menatapnya atas ke bawah dan naik ke atas lagi.
"Beautiful" puji Joe lirih menatap Zoey.
"Thank you Joe." Sahut Zoey tersenyum dan membuat Joe sedikit kaget karena Zoey ternyata mendengar pujiannya.
"Ijinkan saya mengantarkan anda Princess." Ucap Joe sedikit membungkuk hormat.
"Tidak Joe, saya akan pergi berdua dengan Prince Leon, dan karena Leon juga membawa pengawal, maka sepertinya malam ini kau bebas tugas." Sahut Zoey.
"Tugas saya adalah menjaga anda Princess, dimanapun dan kapanpun bahkan saat anda tertidur pun saya tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga anda." Ucap Joe.
"Baiklah, saya tak ingin kau kehilangan kepalamu, karena tidak menjaga saya dengan baik. Ikutilah kami dengan mobil berbeda dan jaga jarak untuk ruang privasi kami." Sahut Zoey dan Joe mengangguk setuju, lalu berpamitan untuk mempersiapkan mobil guna mengawal Princess.
Keadaan kembali formal, Princess dan pengawal pribadinya. Hal inilah yang tidak diinginkan oleh Zoey, namun Joe adalah sosok yang kaku, selalu menaati peraturan di istana ini. Zoey terkadang juga tak mengerti apa yang diinginkan oleh dirinya. Terkadang ingin kembali ke masa lalu bersama Joe, namun saat luka itu kembali terasa nyeri, Zoey lebih memilih untuk tidak kembali tergoda pada Joe.
"Princess Zoey, anda sangat menawan malam ini. Terima kasih telah mau menerima undangan saya." Sapa Leon yang telah tiba menjemput Zoey. Zoey tersenyum, Leon memang pandai meluluhkan hati seorang wanita dengan pujian.
"Terima kasih Prince Leon, anda juga sangat mempesona malam ini." Sahut Zoey membalas pujian Leon.
Leon lalu meraih tangan Zoey dan mengecup punggung tangan putih mulus itu, lalu mengamitnya ke dalam lengannya, sehingga mereka menjadi semakin dekat lalu berjalan beriringan keluar menuju ke halaman dimana mobil Leon berada.
Joe melihat Zoey keluar bersama dengan Leon dengan tangan yang melingkar di lengan Leon dan senyuman pada wajah keduanya. Joe segera mengatur hatinya untuk tetap profesional. Saat matanya bertemu dengan mata Zoey, Joe segera memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. Leon membukakan pintu bagian penumpang di depan lalu segera berlari ke sisi lain mobil di bagian setir. Leon membawa sendiri mobilnya, dan mereka hanya berdua di dalam mobil Leon. Mobil pengawal ada di bagian depan dan juga belakang mereka termasuk Joe dan mobilnya.
"Fokuslah Joe! ini sudah keputusanmu, menjadi penjaganya selamanya dengan resiko melihatnya bersama pria lain yang lebih layak." Ucap Joe dalam batin mengingatkan dirinya sendiri.
Joe tetap profesional dalam tugas pengawalannya malam ini. Zoey tampak tersenyum lebar bahkan tertawa bersama Leon di dalam restaurant mewah yang sudah dibooking pribadi seluruh lantai 2 nya oleh Leon, sehingga hanya ada mereka berdua di atas sana, menikmati makan malam. Joe segera bersiap saat melihat Zoey dan Leon keluar dari restaurant. Leon nampak berbicara pada para pengawalnya, sedangkan Zoey berjalan ke arah Joe.
"Joe, kau dan lainnya silahkan pulang saja, karena kami ingin melanjutkan berdua saja, dan.... mungkin aku akan menginap di tempat Leon." Ucap Zoey membuat Joe yang tadinya menunduk hormat langsung mengangkat kepalanya menatap tajam ke arah Zoey.
Zoey sempat terkejut dan salah tingkah saat melihat sekilat tatapan tajam yang Joe berikan penuh amarah. Zoey berusaha mengacuhkan tatapan yang Joe berikan meski dadanya penuh gemuruh. Mendadak Leon hadir di samping Zoey dan segera merangkul pundak Zoey.
"kita berangkat sekarang Zoey?"tanya Leon dan menambah Joe terkejut karena sekarang Leon hanya memanggil nama Zoey tanpa embel-embel Princess maupun Zovenof.
Zoey menatap Joe sesaat dan mendapati Joe sedang menatap tajam ke arah Leon.
"Eh, maaf Leon malam ini kita batalkan saja, maaf karena ibuku ingin mengadakan video call denganku, dia sangat merindukan aku. Kita pergi lain waktu saja ya, aku pastikan sebelum kau kembali ke negaramu, kita akan menghabiskan waktu bersama melihat keindahan seluruh negeriku ini." Ucap Zoey.
"Ouw Zoey sayang sekali, padahal aku sudah sangat senang akan menghabiskan waktu berdua denganmu. Baiklah tak masalah, kau masih milik ibu mu, jadi aku akan mengalah, tapi jika kau sudah jadi milikku, maka aku pastikan kau melakukan video call dengan ibumu bersama aku disampingmu." Ucap Leon lalu mengecup pipi Zoey.
"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang, ayo Zoey, mobilku ada disana." Ucap Leon lagi sembari menggandeng tangan Zoey.
Zoey berbalik melangkah ke arah mobil Leon, namun sebelum masuk ke dalam mobil Leon, Zoey menatap ke arah Joe sesaat, melihat Joe kembali mengacuhkannya.
"Leon, benar katamu, aku bisa melakukan video call dengan ibuku sambil menemanimu berkeliling. Baiklah sebaiknya kita tetap sesuai rencana kita saja malam ini, lagipula para pengawal juga sudah kembali." Ucap Zoey di dalam mobil mendadak merubah rencana seperti semula, tentu saja langsung disambut baik oleh Leon.
"Benarkah? Kau yakin?" Tanya Leon meyakinkan pendengarannya pada ucapan Zoey.
"Iya Leon, aku takut tak ada kesempatan lagi, mengingat kita berdua sangat sibuk dengan urusan kenegaraan kita masing-masing." Jawab Zoey dan Leon pun tersenyum lebar
Leon segera meraih tangan Zoey dan mengecupnya lembut, sedang tangan lainnya tetap memegang kendali setir.
"Terima kasih Zoey, aku akan pastikan kita berdua menikmati waktu kebersamaan ini dengan indah dan bahagia." Ucap Leon dan Zeoy pun tersenyum. Leon segera memutar balik mobilnya ke arah yang berbeda, membuat Joe segera memutar balik mobilnya juga mengikuti mereka dengan penuh tanya.
"s**t! Apa yang akan mereka lakukan?! Mengapa mobil Prince Leon tidak jadi mengarah menuju ke istana?!" Rutuk Joe sambil memukul setirnya.
Zoey menatap ke spion di sampingnya dan melihat mobil Joe masih mengikutinya. Entah Leon sadar atau tidak bahwa masih ada satu mobil pengawal yang mengikuti mereka. Zeoy hanya diam saja bermain dengan pikirannya kembali.
"Mengapa kau lakukan ini Joe? Ini demi profesionalitas kerjamu ataukah hatimu yang tidak rela aku bersama pria lain?" Pikiran Zoey terus mengaduk hatinya sendiri.
Tangan Joe mengeras mencengkram setir dihadapannya sambil menatap ke mobil di depannya penuh amarah cemburu di dadanya, entah apa yang sedang wanitanya itu pikirkan, dengan mudahnya dia akan menghabiskan malam berdua dengan pria yang baru saja dikenalnya.
"Apakah Zoey melakukan ini untuk membuatku cemburu ataukah memang dia menginginkan pria itu?" Pikiran Joe juga mengaduk hatinya sendiri.