05

2035 Kata
"selamat siang King Quentin dan Queen Quentin. Saya sangat senang bisa menyambut kedatangan pasangan yang paling serasi abad ini." Sapa Zoey sambil menundukkan kepala lalu menjabat tangan mereka. King & Queen Quentin tersenyum senang dengan sikap Zoey yang ramah dan rendah hati, bahkan Queen Quentin juga memeluk zoey dengan hangat. "Princess Zoey, perkenalkan putra mahkota kami, Leonell Quentin. Kuharap kalian bisa menjadi akrab, karena usia kalian sangat berdekatan." Ucap sang King Quentin pada Zoey. Prince Leonell Quentin maju selangkah mendekat pada Zoey dan meraih tangannya lalu mengecup punggung tangan Zoey dengan tidak melepaskan pandangannya dari wajah Zoey. "Senang berkenalan dengan anda Princess Zovenof , semoga ini bukan pertemuan kita yang terakhir." Sapa Leon pada Zoey. Zoey tersenyum sedikit menganggukkan kepalanya dengan anggun. "Senang berkenalan dengan anda Prince Quentin, kuharap juga begitu." Sahut Zoey membalas sapaan Leon.   Keluarga King Quentin menatap Zoey dengan tersenyum bahagia, namun tidak bagi Zoey, karena Zoey menjadi sangat gugup saat ini berada di hadapan Prince Leon, yang dijuluki Prince Charming tahun ini oleh sebuah badan survey terpercaya di dunia. Leon terus menatap ke arah Zoey, senyuman nya sungguh menawan dan tubuh kekar kokohnya berbalut jas itu, sungguh menambah nilai positif untuk ketampanannya. Zoey sempat terlena dengan aroma maskulin yang berasal dari aroma tubuh Leon. Zoey harus terus menggigit bibir bagian bawahnya untuk dapat mempertahankan kesadarannya dalam tatapan Leon itu. "Baiklah, hidangan telah siap, mari kita menuju ke ruang perjamuan makan." Ajak Zoey dan segera berbalik berjalan membelakangi keluarga King Quentin itu. Zoey berusaha meredakan detakan jantungnya yang mulai tidak stabil akibat tatapan Leon tadi.   Mereka makan siang bersama di istana Zoey hari ini, lalu King & Queen Quentin segera berpamitan kembali ke hotel untuk beristirahat, karena petang nanti akan diadakan telekonferensi bersama orang tua Zoey, yang kini berada di Jepang. Prince Leon tetap tinggal di istana itu dan Zoey memiliki kewajiban untuk menemaninya, karena dialah tuan rumah di istana ini. "Andaikan Thomas tidak sibuk, pasti hal ini bisa dilimpahkan pada Thomas." Batin Zoey sedikit kesal namun tetap dipaksakan tersenyum dan bersikap ramah pada Leon. Kini mereka berdua berjalan beriringan di taman istana bagian depan. "Jadi kelemahan kita sama ya?" Ucap Leon membuka percakapan. "Ach itu, ya boleh dianggap seperti itu, kalau boleh tahu kenapa anda bisa memiliki kelemahan seperti itu, secara pria sempurna seperti anda pasti banyak yang rela memberikan cintanya." Sahut Zoey. "Saya??? Menurut anda, saya pria sempurna? Ouh terima kasih Princess, tapi pada kenyataannya tidaklah seperti itu." Ucap Leon merendah. "Kenapa anda menyangkal kenyataan?" Tanya Zoey pada Leon. "Karena saya yang paling mengetahui kenyataan yang ada pada diri saya Princess." Sahut Leon. Langkah mereka terhenti sesaat, karena Zoey terpana dengan jawaban Leon. Zoey menatap Leon sejenak dan tersenyum. "Saya suka dengan statement anda barusan Prince Leon." Ucap Zoey memuji Leon. "Terima kasih Princess." Sahut Leon dan mereka tersenyum lebar bersama.   Ada seorang pengawal yang sedari tadi mengawasi mereka dan mengikuti perjalanan mereka berdua dari kejauhan, dengan hati panas karena cemburu. Joe. "Tersenyum lebar huh?! Apa yang mereka bicarakan?! Baru pertama kali bertemu sudah sedekat itu." Batin Joe dalam hati dengan kesal. Drrttt.... Ponsel Joe berbunyi tertulis Sang Ratu.   "Selamat sore Sang Mulia Ratu." Sapa Joe dengan hormat saat menerima panggilan itu. "Joe, dimana Zoey saat ini? Saya mencoba menghubunginya namun tak ada jawaban." "Princess Zoey sedang menemani Prince Leon berjalan di taman istana, Yang Mulia. Apakah ada pesan yang harus saya sampaikan pada Princess?" "Joe, apakah kau sedang mencari alasan untuk berada diantara mereka?" "Maaf Yang Mulia Ratu, saya tidak berani melakukannya. Maafkan saya." Terdengar suara tawa sang Mulia Ratu dari seberang line telepon lalu sambungan itu terputus.   Joe nampak memanas di wajahnya karena malu, rasa cemburunya terbaca oleh Sang Mulia Ratu, ibunya Zoey. "Kau telah membuatku kehilangan akal sehatku Zoey." Ucap Joe lirih. Joe kembali mengawal Zoey dari kejauhan, dan siaga bersama dua teman pengawal lainnya. Tiba-tiba Zoey terkilir kakinya karena heelsnya menginjak batu taman yang tidak rata. Leon segera meraih pinggang Zoey sehingga tidak sampai terjatuh.   Leon dan Zoey saling menatap dalam kedekatan mereka. Joe mengepalkan erat kedua tangannya di samping tubuhnya, menahan gejolak amarah cemburu melihat kedekatan Zoey dan Leon, apalagi kini tangan Leon ada di pinggang Zoey dan tangan Zoey berada dipundak Leon, bahkan kini mereka saling menatap dan tersenyum.    Joe tak tahan lagi, pada akhirnya dia berlari menuju Zoey. "Anda baik-baik saja Princess? Apakah anda terluka?" Tanya Joe dan seketika membuat tubuh Zoey kaku mematung dan senyumnya menghilang.  Zoey sadar bahwa posisinya dan Leon saat ini sangatlah dekat bagai sepasang kekasih. "Gawat! Apa yang akan Joe pikirkan?! Oh God apa yang harus kukatakan padanya?!"  Batin Zoey bergemuruh, membuat Zoey tak mampu menjawab pertanyaan Joe. "Dia baik-baik saja, hanya terkilir, saya akan menggendongnya masuk ke dalam istana." Sahut Leon menjawab pertanyaan Joe. Joe tak mampu berkata apapun dan hanya bisa diam membiarkan Prince Leon mengangkat tubuh Zoey ala bridal style dan membawanya masuk ke istana meninggalkan Joe berdiri menegang memendam semua amarahnya.  Zoey juga tak berani mengatakan apapun dan hanya diam saat Leon mengangkatnya. Zoey sempat menatap sesaat ke arah Joe, dan tatapan itu ternyata beradu dengan tatapan Joe yang berkilat penuh amarah, Zoey melihat kedua tangan Joe mengepal kencang di samping tubuhnya.   "Kau marah Joe? Kenapa kau harus marah?! Bukankah aku sudah kau buang dulu?! Kini biarkan orang lain yang mengurusku." Batin Zoey merasa sedikit menang dari Joe. Joe dan pengawal lainnya tetap mengikuti Zoey dan Leon masuk ke dalam istana. Leon merebahkan tubuh Zoey ke sofa di ruang tamu istana. Leon membuka sepatu zoey perlahan dengan sangat lembut. Joe datang dengan membawa sebotol lotion anti nyeri untuk dioleskan ke kaki Zoey. "Biarkan saya saja yang memijitnya Prince Leon, supaya tangan anda tidak kotor." Ucap Joe padahal dengan maksud yang berbeda dari yang diucapkan oleh mulutnya. Joe tak akan rela pria lain menyentuh wanitanya lagi. "Tak apa, saya juga pandai memijit, bawa kemari lotion nya, biarkan saya yang mengoleskannya." Sahut Leon. "Tak masalah Tuan, lebih baik Tuan duduk dan beristirahat saja, biar saya yang melakukan tugas ini." Ucap Joe lagi masih tak rela memberikan lotion itu pada Leon. Zoey yang menyadari perdebatan yang Joe lakukan, segera mengambil sikap, tak enak dengan Prince Leon.  "Joe, berikan lotion nya pada Prince Leon, se.ka.rang!" Ucap Zoey dengan tekanan penuh pada ujung kalimatnya, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Joe penuh protes, Zoey hanya memalingkan wajahnya menghindar dari tatapan protes Joe. Joe dengan terpaksa memberikan lotion itu ada Leon dengan sedikit hentakan di tangan Leon. "Hati-hatilah memijitnya, bila terjadi sesuatu pada Princess Zoey, maka kepala saya bisa dipenggal oleh Sang Mulia Raja." Ucap Joe tegas memperingatkan Leon. Joe lalu mundur, berdiri agak menjauh dari keduanya. Leon hanya tersenyum mengangguk, lalu mulai memijit kaki Zoey. "Kaki anda sangat halus terawat Princess." Ucap Leon. "Dasar otak m***m! cari kesempatan!" Ucap Joe lirih namun tetap masih dapat di dengar oleh Zoey dan Leon, karena keduanya kini menatap ke arah Joe.   Leon segera salah tingkah, dan kembali memijat dengan lembut lagi. Zoey meringis kesakitan saat Leon mulai menyentuh bagian yang terkilir. "AAAA!!!! SAKIT!!!" teriak Zoey dengan wajah sangat kesakitan. Joe tak tahan melihatnya dan langsung mendekat, meraih lotion di tangan Leon dan sedikit mendorong Leon untuk menyingkir dari kaki Zoey.  "Biar saya saja Prince Leon, maaf saya tak ingin kehilangan kepala saya karena kecerobohan anda." Ucap Joe penuh kebohongan. "Baiklah, maafkan saya Princess Zoey." Ucap Leon lalu duduk di sofa lainnya di dekat Zoey. Joe memijat perlahan kaki Zoey, dengan penuh konsentrasi. Pijatan Joe tidak menyebabkan rasa sakit yang berlebihan, hanya sedikit nyeri namun lebih nyaman. Saat Joe sedang memijat kaki Zoey, Leon mendapat panggilan telepon yang mengharuskan dirinya segera pamit dari istana Zoey. Zoey pun mengijinkan Leon untuk pergi dan tak perlu mencemaskannya.   Joe memberi tanda pada pengawal lainnya untuk keluar, setelah Leon pergi. Karena Joe adalah ketua tim pengawalan terhadap Princess Zoey, maka pengawal lain pun tunduk pada Joe. Saat mereka hanya berdua, Joe segera menatap tajam ke arah Zoey. Zoey kembali pada pendiriannya ingin membuat Joe cemburu. "Kehilangan kepalamu heh?! Kau benar-benar membuat orang tua ku terlihat kejam di mata Prince Leon, apa kau sadar itu?!" Omel Zoey menutupi bahwa dirinya merasa terintimidasi oleh Joe. "Kembali membiarkan sembarangan pria menyentuhmu heh?!" Balas Joe mengomel pada Zoey. "Apa pedulimu?! Jangan bilang kau kini peduli padaku! Aku tak akan pernah jadi korban harapan palsumu lagi Joe!" Ucap Zoey tak kalah tajam menatap ke mata Joe.   Joe tersentak dengan ucapan Zoey barusan. Zoey begitu dendam dan sangat membenci dirinya karena peristiwa 15 tahun yang lalu.  "Aku tak pernah memberimu harapan palsu! Semua itu nyata segala yang aku berikan padamu adalah senyatanya hidupku Zoey, tak pernah ada kepalsuan sedikitpun yang aku berikan padamu.!" Sahut Joe sambil menarik sedikit pergelangan kaki Zoey hingga berbunyi klek. Zoey tak merasakan lagi sakit di pergelangan kakinya yang ditarik kembali posisinya oleh Joe. Hatinya terlebih sakit berhadapan dengan Joe saat ini.  "Kau tak pernah menunjukkan kenyataan padaku Joe, kau lari dari semua yang kau katakan kenyataan itu! Kau sudah membuangku 15 tahun yang lalu Joe! Kini ada pria lain yang datang ingin mengambilku dan kau tak rela?! Kau sungguh egois Joe!" Ucap Zoey lagi. "Semua akan terjawab berjalannya waktu Zoey." Ucap Joe lalu berdiri dan meninggalkan Zoey masih terbaring di sofa. "Waktu?? Kapan Joe?! Sampai kapan waktu itu akan menjawab aku Joe?!" Tanya Zoey berseru pada Joe yang sudah tak terlihat lagi.   "Dasar hantu! Selalu menghilang dengan cepat!" Umpat Zoey sambil menutup matanya, air matanya mengalir di pipinya. "Apa kau tahu kalau waktu terus berjalan dan usia terus bertambah? Saat aku muda pun kau memilih meninggalkan aku, aku tak berani berharap bahwa kau mau menerimaku saat aku bertambah tua dan keriput Joe. Lalu waktunya siapa yang akan menjawab cintaku Joe?" Ucap Zoey dalam isak tangisnya.   Sepasang tangan kokoh menangkup wajah Zoey dan menyeka air mata di kedua pipi Zoey. Zoey membuka matanya menatap sosok di hadapannya, air matanya bukan berhenti justru bertambah semakin deras. "Waktuku tak pernah melihat kau bertambah tua Zoey, kau selalu cantik di mataku, sampai kapanpun kau tetap Princess di hatiku. " Ucap sosok itu. "Joe....kau benar-benar hantu!" Sahut Zoey kesal karena terkejut namun tersenyum sambil memukul lengan Joe. Mereka pada akhirnya tertawa bersama. "Kau masih ingin digendong olehku atau Prince Leonell mu itu?!" Tanya Joe menggoda Zoey. "Lebih enak digendong Leon sebenarnya, tapi berhubung saat ini hanya ada kau, jadi......... a..aku memilih berjalan sendiri saja." Ucap Zoey tertawa menggoda Joe yang langsung menggelitik pinggang Zoey. "Kau ini......" Ucap Joe menggelitik pinggang Zoey. Mereka saling membalas menggelitik dan tertawa bersama hingga sebuah suara menghentikan kesenangan mereka. "maaf saya menganggu." Suara gadis itu membuat Zoey dan Joe menoleh ke arahnya. "Laura..." Ucap Zoey memanggil nama gadis itu. "Maaf Princess, bolehkah saya meminjam Joe sesaat?" Tanya Laura dengan sopan dan menunduk penuh hormat. "Silahkan Laura, saya akan beristirahat di kamar." Ucap Zoey dan berdiri mencoba melangkah sendiri menuju kamarnya di lantai atas.   Tanpa diduga sepasang tangan mengangkat tubuh Zoey di bagian punggung dan belakang lututnya. "Saya akan mengantar Princess ke kamarnya dulu, karena kakinya tadi terkilir. Setelah itu saya akan langsung menemuimu Laura." Ucap Joe dan Laura pun mengangguk dan berbalik menuju ke belakang. "Aku bisa berjalan sendiri Joe, kau tak perlu repot mengangkat ku." Ucap Zoey namun tak dipedulikan oleh Joe.   Sesampainya di depan kamar, Joe segera menurunkan Zoey. Zoey ingin sekali egois dan menggunakan kewenangannya sebagai princess untuk menahan Joe supaya tidak menemui Laura, namun Zoey tak mampu melakukannya karena dirinya selalu dilatih untuk tidak egois terhadap rakyatnya. Zoey meraih tangan Joe, berharap Joe akan tinggal karena keinginan Joe sendiri, namun segera dilepaskan lagi oleh Zoey. Selama mereka berhubungan dulu, Zoey selalu menjadi dirinya sendiri, sehingga Joe sangat mengenal baik karakter Zoey, mengetahui perubahan sedikitpun dari Zoey, sehingga dia bisa menebak segala yang ada dipikiran Zoey, tanpa dia mengatakan pada Joe.   "Trust me." Ucap Joe lalu mengecup kening Zoey lembut, menatapnya sesaat lalu segera turun ke lantai dasar untuk menemui Laura.  Zoey masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang tak karuan, cemburu namun ingin percaya pada Joe. ****   Sementara di dapur Laura sudah menunggu Joe. "Ada apa Laura? Pasti hal yang sangat penting hingga kau berani menghadap ke Princess." Tanya Joe pada Laura. "Aku sudah membuatkan sop tomat untuk mu Joe. Kau dari semalam tidak makan, aku takut kau sakit Joe." Sahut Laura sambil menyodorkan semangkuk sop tomat ke hadapan Joe. Joe menatap Laura dengan penuh tanya. "Ada apa sebenarnya Laura?"tanya Joe. Laura bukan langsung menjawab justru menangis tersedu. "Aku cemburu Joe, aku tak ingin kau begitu dekat dengan Princess." Ucap Laura diiringi isak tangis. "Laura, kau??? Tapi mengapa? Aku sudah terlalu tua untukmu Laura, aku lebih pantas menjadi pamanmu daripada kekasihmu Laura" sahut Joe mencoba menenangkan Laura. "Tapi aku mencintaimu Joe, aku sangat mencintaimu dan ingin memilikimu hanya untukku Joe." Ucap Laura lagi. "Laura???" Joe tak sanggup lagi bicara apapun, Joe bingung bagaimana menghadapi gadis mungil di hadapannya ini. Tidak semua orang tahu tentang masa lalunya dengan Zoey.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN