Satu bulan berlalu dari kepergian sang Raja dan sang Ratu, Zoey sudah terlepas dari gips di kakinya dan bisa berjalan normal lagi bahkan berlari. Sebulan ini Zoey tak bertemu dengan Thomas, karena Zara adik perempuan Thomas itu kabur dari rumah sakit, sehingga Thomas dan juga keluarganya masih sibuk mencarinya. Zoey ingin sekali membantu mencari namun kakinya baru normal seminggu ini. Zoey mencoba menghubungi Thomas, bermaksud ingin ikut membantu mencari Zara.
"Thomas, bagaimana dengan zara?"
"Hai Zoey, Zara belum kutemukan, bagaimana kabarmu? Maaf aku belum bisa menemanimu."
"Tak apa Thomas, Zara jauh lebih butuh perhatianmu. Apakah ada yang bisa kubantu?"
"Terima kasih Zoey, tapi sementara ini belum ada. Aku akan mengabarimu saat ada kabar dari Zara."
"Baiklah Thomas, kudoakan Zara cepat ditemukan. Bye..."
"Terima kasih Zoey, bye..."
Sambungan telepon dimatikan dan Zoey mulai merasa kesepian lagi.
Zoey sebulan ini sengaja mengindari Joe, dengan selalu berada di kamarnya. Zoey belum berhasil menemukan dimana letak kamera pengintai yang membuat Joe bisa selalu mengetahui aktifitasnya di kamar. Joe menjadi lebih sering menggoda Zoey dan membuatnya semakin kesal melalui pesan-pesan dan kata-kata jika mereka tak sengaja berpapasan di dalam istana ini, namun sikap Joe selalu tetap dingin dan datar. Zoey tak ingin lagi menjadi korban harapan palsu seperti yang pernah Joe lakukan di masa lalu dulu, meski hatinya masih sering merindukan Joe saat tak ada satupun pesan yang Joe kirimkan.
"Ach aku bosan sekali, aku harus menemukan cara supaya bisa keluar dari sini tanpa diketahui Joe sialan itu!" Ucap Zoey menyusun rencana.
Zoey tersenyum berbinar mendapatkan ide cemerlang di otaknya untuk keluar dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hai Alex, aku bosan di rumah, bisa kau datang menjemputku?"
"Zoey??? Tak biasanya kau meneleponku?! Tentu sayangku, aku akan segera datang menjemputmu. Bersiaplah dan tunggu aku datang sayang."
"Terima kasih Alex."
Zoey melemparkan ponselnya ke tempat tidur dengan memutar biji matanya jengah dengan ucapan Alex.
Alex si playboy yang selalu mengejar Zoey selama ini, terpaksa dia hubungi untuk membawanya keluar tanpa pengawalan Joe. Alex playboy namun dungu otaknya, hanya karena orang tua nya yang kaya saja maka dia banyak diperebutkan wanita.
Zoey telah bersiap di ruang tamu menunggu kedatangan Alex. Joe terus menatap ke arah Zoey dari atas ke bawah dan naik ke atas lagi.
"s**t!!! Haruskah dia memakai pakaian terbuka seperti itu?!" Batin Joe dalam hati dan meneguk salivanya, karena pakaian Zoey sangat menonjolkan gundukan d**a atasnya yang penuh.
Zoey nampak gugup dipandang seperti itu oleh Joe, namun juga sedikit bangga karena masih berhasil membuat Joe terpana pada dirinya.
"Princess, anda akan pergi keluar? Saya akan menyiapkan mobil untuk anda." Ucap Joe pada Zoey.
"Maaf Joe, saya akan dijemput oleh seorang teman, dan berhubung ini adalah sebuah kencan, maka aku tak ingin ada pengawalan. Ini private Joe." Sahut Zoey dan Joe segera merasakan dadanya sangat panas, saat Zoey mengatakan bahwa dia akan kencan secara private. Joe segera memutar otak untuk mencari alasan supaya dapat mengawal Zoey.
"Baiklah Princess, saya akan menghubungi kepala pengawal dan menanyakan apakah kencan Anda memang tak perlu pengawalan." Ucap Joe dan segera menghubungi atasannya. Joe kembali menghadap ke arah Zoey setelah selesai berbicara dengan atasannya.
"Baiklah Princess, anda bisa pergi tanpa pengawalan, selamat bersenang-senang Princess." Ucap Joe dengan wajah datar membiarkan Zoey tersenyum dan merasa menang di awal.
Joe hendak melangkah keluar, namun kemudian berbalik kembali menghadap ke Zoey.
"Princess, maaf sebelumnya, berhubung saya bebas tugas malam ini, bolehkah saya ijin sesaat untuk mengajak Laura berjalan-jalan ke taman?" Tanya Joe sengaja memancing aura cemburu Zoey. Mata Zoey terlihat menajam dan berkilat marah namun segera ditutupinya.
"Laura? Anak perempuan dari Mrs. Ginovia?!" Tanya Zoey tak percaya.
Laura adalah pelayan di istana ini, anak Mrs. Ginovia kepala pelayan istana. Laura adalah gadis yang cantik dan memiliki kulit putih mulus bersih, Zoey kerap kali melihat Laura sengaja mencari kedekatan dengan Joe.
"Benar princess, bolehkah?" Tanya Joe lagi. Zoey mencoba mengembalikan wibawanya dan menutupi rasa cemburunya.
"Ehem, begini Joe, bukan saya tak mengijinkan tapi saya membutuhkan seorang sopir untuk kencan ini, karena saya ingin bisa berbicara bebas dan juga saling menatap dengan bebas saat bersama Alex. Jadi meskipun saya tak butuh pengawalan tapi saya tetap membutuhkanmu untuk menjadi sopir kami. Maaf kau harus membatalkan kencanmu. Ini tugas Joe." Ucap Zoey dan Joe yang kini sedikit tersenyum karena pada akhirnya dialah yang menang terhadap Zoey.
"Baiklah Princess, seperti yang anda inginkan." Sahut Joe lalu melangkah keluar dan tersenyum lebar.
Zoey merasa kesal dan sedikit menghentakkan kakinya. Dirinya ingin bisa lepas dari Joe, tapi juga tak rela jika Joe bersama wanita lain.
"Ah...! Kenapa jadinya seperti ini?! Jika tetap harus bersama Joe, lalu untuk apa aku membutuhkan Alex?!" Rutuk Zoey kesal.
Tak lama Alex muncul dihadapan Zoey dan meraih pinggang Zoey lalu mengecup pipinya.
"Hai sayangku, kau sangat cantik dan sexy malam ini. Kita pergi sekarang?" Sapa Alex. Zoey sangat menyesali idenya mengajak Alex malam ini.
"Alex, tolong jaga sikapmu! Aku hanya ingin makan malam saja sebagai teman, jadi jaga sikapmu tetap sopan terhadapku!" Ucap Zoey ketus lalu berjalan melangkah keluar dan segera diikuti oleh Alex.
Joe sudah menunggu di dekat mobilnya, dan segera membukakan pintu bagi Zoey dan Alex. Alex sempat berhenti sesaat menatap bingung pada Joe dan mobil itu.
"Kita naik mobilku saja Zoey, tak perlu memakai sopir, bukankah berdua lebih menyenangkan?" Ucap Alex. Zoey tetap melangkah masuk ke dalam mobilnya dan mengacuhkan ucapan Alex.
"Maaf Alex, aku yang mengajak jadi aku yang menentukan akan naik mobil apa, tinggalkan kunci mobilmu dan pengawalku yang akan mengantarkan mobilmu pulang ke tempatmu. Jadi kau ikut atau tidak?" Sahut Zoey.
Alex pun terpaksa menurut pada ucapan Zoey lalu memberikan kunci mobilnya pada seorang pengawal Zoey dan menyusul zoey masuk ke dalam mobil. Alex langsung menempel duduk di dekat Zoey.
"Alex..!!" Tegur Zoey dengan tatapan tajam pada Alex menyuruhnya menjauh dari dirinya.
"Baiklah.." jawab Alex dan sedikit bergeser menjauh dari Zoey.
"Siapa namamu? Apakah kau baru? Karena aku tak melihatmu saat terakhir datang kemari." Tanya Alex pada Joe yang menyetir di depannya.
"Saya Joe , Tuan" sahut Joe datar sambil melirik ke spion tengah menatap sesaat ke arah Zoey, tidak perduli pada Alex.
"Joe, tolong kau naikkan pembatasnya, karena aku ingin memiliki privasi bersama Princess ku ini." Perintah Alex pada Joe.
"Maaf Tuan, saya hanya menerima perintah dari Princess Zoey saja." Sahut Joe dan Alex merasa kesal. Zoey membuang napas kesal, dua pria di dekatnya ini selalu membuatnya sulit.
"Tutup saja Joe." Ucap Zoey dan sesaat mendapat tatapan tajam tak percaya dari Joe melalui spion tengah, Zoey melihatnya namun segera memalingkan wajahnya melihat keluar jendela di sampingnya. Joe pun dengan kesal menuruti perintah Zoey.
"Kubilang..JAGA SIKAPMU ALEX!" seru Zoey terdengar membentak Alex, meskipun tertutup namun tidak membuatnya kedap suara, Joe masih mampu mendengar suara Zoey dari balik pembatas itu. Joe segera menurunkan pembatas di antara penumpang dan sopir. Joe melihat posisi Alex yang mengunci tubuh Zoey yang duduk diantara kedua tangan Alex.
"s**t! Damn you!!! Tutup pembatasnya lagi!!" Bentak Alex pada Joe.
"Maaf Princess, anda belum mengatakan tujuan Anda pergi, saya tak tahu harus menuju kemana." Ucap Joe tak mempedulikan Alex. Zoey segera mendorong tubuh Alex kembali duduk di sampingnya.
"Kita pulang Joe! Aku sudah kehilangan selera makanku!" Ucap Zoey dan Joe pun mengangguk kembali tersenyum. Alex mencoba protes dengan pembatalan yang Zoey lakukan barusan.
"Zoey, maafkan aku sayang, aku akan menjaga sikapku, tapi kumohon jangan batalkan rencana makan malam kita, kumohon Zoey." Pinta Alex namun Zoey tak peduli.
Joe segera memutar balik mobilnya dan kembali menuju ke istana. Zoey nampak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Mr. Cornell, tolong bawa kembali mobil Alex ke istana, karena dia akan membawanya pulang bersama dirinya!" Perintah Zoey pada kepala pengawalnya, lalu menutup line telepon itu.
"Demi Tuhan Zoey, tak bisakah kita bicarakan dulu? Aku minta maaf Zoey, maaf aku sudah berlaku tidak sopan padamu, maafkan aku Zoey, tapi itu hanya sebuah ciuman, bukankah biasa orang berciuman?!" Protes Alex masih tak terima dengan Zoey.
"Maaf Alex, untuk wanita lain mungkin hal biasa bahkan menyenangkan bisa berciuman denganmu, tapi tidak denganku! Ciuman mu sangat tidak sopan!" Sahut Zoey dengan tegas.
"Ingat Alex, aku adalah putri Raja, tindakanmu barusan bisa membuatmu mendekam di penjara bawah tanah seumur hidup! Jadi jaga sikapmu dan juga ucapanmu jika bersamaku!" Lanjut Zoey membuat Alex bungkam ketakutan.
"Dasar Playboy dungu!" Batin Zoey dalam hati.
Akhirnya mereka tiba kembali di istana. Joe segera membukakan pintu bagi Zoey.
"Mobilmu sudah tiba Alex, hati-hatilah dijalan!" Ucap Zoey sambil terus melangkah masuk ke dalam istana tanpa menoleh ke arah Alex sesaat pun.
Alex terlihat sangat kesal saat menendang roda mobilnya yang membuatnya meringis kesakitan sendiri dan menutup pintu mobilnya dengan membantingnya sangat keras. Zoey tetap tak peduli dan melangkah masuk ke dalam istana. Joe mengambil ponselnya setelah Alex pergi dari halaman istana.
"Keputusan yang tepat Princess."
(Joe)
"Silahkan jika kau ingin mengajak Laura berjalan ke taman, kau bebas tugas malam ini karena aku ingin kembali berdiam di dalam kamar saja."
(Zoey)
"Tugas saya adalah menjaga anda tetap aman Princess, jadi saya tak akan pernah bebas tugas, sekalipun anda dalam keadaan tertidur."
(Joe)
"Terima kasih Joe, kau telah menyelamatkan aku dari si keledai dungu tadi."
(Zoey)
"Saya hanya melakukan tugas saya Princess, makan lah meski sedikit, sebelum anda tertidur."
(Joe)
Pesan terakhir tak lagi dibalas oleh Zoey, membuat Joe penasaran dan melihat ke aplikasi CCTV di smartphonenya mencari Zoey dan ingin melihat apa yang sedang dilakukannya hingga tak membalas pesan terakhirnya. Zoey terlihat sedang menangis duduk di tepi tempat tidurnya. Joe bingung tapi hanya membiarkannya, Joe ingin memberi ruang bagi Zoey meluapkan segalanya tanpa diketahui oleh siapapun. Zoey mengambil tissue dan menyeka air matanya sendiri.
"Mengapa kau seolah ingin menghadirkan lagi saat-saat indah kita dulu Joe? Perhatianmu selalu menjagaku dengan baik, membuatku terlena karena sangat nyaman berada di dekatmu. Kenapa kau lakukan ini padaku Joe?" Ucap Zoey lirih dalam tangisnya.
Malam itu Zoey terus berada di kamarnya dan tidak makan hingga pagi. Joe tetap mengawasi melalui CCTV di samrtphone nya. Hatinya ingin sekali merengkuh wanitanya ke dalam pelukannya, Joe tak pernah tahan melihat Zoey menangis. Malam itu Joe pun juga melewatkan makan malamnya yang telah disediakan Laura khusus untuknya. Hati dan pikirannya tak mampu menghadirkan rasa lapar di saat wanitanya juga tak mampu makan. Zoey akhirnya terlelap tidur dalam lelah tangisnya, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu. Joe akhirnya menutup aplikasi CCTV di smartphone nya.
"Tidurlah Princess ku, beristirahatlah dengan nyaman. Esok pagi harimu akan lebih baik lagi." Ucap Joe berbisik lirih sendirian.
****
Pagi ini Joe menatap ke arah smartphonenya, princess nya sedang tertidur lelap masih mengenakan pakaian nya semalam.
"Mimpi indah princess." Sapa Joe dalam hati sambil tersenyum, lalu bersiap untuk berjaga sepanjang hari ini.
Zoey seolah mendengar sapaan Joe, karena Zoey langsung menggeliatkan tubuhnya dan tersenyum dalam mata yang terpejam, tangannya terulur ke samping dan menepuk-nepuk sis tempat tidur satunya seolah mencari sesuatu, dan Zoey pun merasa kecewa karena sisi tempat tidur disebelahnya kosong. Zoey merasa mendengar suara Joe sangat dekat dengan dirinya. Namun ternyata itu hanya mimpi saja di pikiran Zoey. Zoey akhirnya membuang napas kecewa dan segera bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidurnya.
Knock...knock....knock...
Pintu kamar Zoey diketuk dari luar.
"Ada apa?" Seru Zoey dari dalam kamar tanpa membuka pintunya.
"Princess, sang Mulia Raja tadi menelepon dan berpesan meminta Princess untuk menggantikan dirinya menghadiri pertemuan dengan Raja dari negara Quentino yang datang bersama istri dan putranya siang nanti." Sahut Mr. Cornell si kepala pengawal dari balik pintu kamar di sisi luar.
"Baiklah Mr. Cornell, aku segera bersiap, mohon anda siapkan pengawalan untukku. Terima kasih." Ucap Zoey dari dalam kamar.
"Perintah siap dilaksanakan Princess." Sahut Mr. Cornell dan setelahnya segera berbunyi langkah sepatunya meniggalkan pintu kamar Zoey.
Zoey segera mengambil smartphone nya dan searching mengenai kerajaan Quentino. Muncullah gambar foto pasangan serasi King & Queen Albert Quentin, juga putra mahkota mereka, Prince Leonell Quentin, yang biasa dipanggil Leon. Zoey segera mencari data diri dari sosok Leon, usia 33 tahun, tinggi, tampan, tubuh yang kokoh ideal, senyum yang menawan, dan memiliki kelemahan sama seperti Zoey, tidak mampu membuka hati untuk berhubungan dengan wanita manapun, dengan kata lain selalu gagal dalam percintaan.
"Wow!!! Kelemahannya sama denganku, selalu gagal dalam percintaan. Ok Prince, mari kita cari tahu apa maksud orang tua kita mempertemukan kita." Ucap Zoey tersenyum sinis seolah bisa menangkap maksud dari pertemuan ini sebenarnya.
Zoey segera mandi dan bersiap diri untuk pertemuan itu. Zoey seketika mendapatkan ide untuk kembali berulah pada Joe menggunakan prince Leon yang menawan itu, muncul seringai di wajah Zoey saat ide itu muncul.
"Hahaha Joe, mari kita lihat, apakah Laura atau Leon yang akan menang?" Ucap Zoey tertawa di cermin. Zoey sungguh ingin mengetahui seberapa panas reaksi Joe kali ini.