Alea terpaku mendengar ucapan terakhir dari Dika. Suasana di antara mereka mendadak menjadi canggung. Dika pun terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana. “Aku bercanda, kok,” katanya dengan senyum. “Tapi, ya, serius juga sih… Kamu masih tetap Alea yang sama dengan yang aku kenal dulu.” Alea menundukkan pandangannya sebentar, berusaha mengalihkan rasa canggung. Namun, sebelum ia sempat membalas, Dika sudah menambahkan, “Oke, aku harus pergi. Semoga harimu menyenangkan ya, Alea.” Dika melambai dan segera menutup jendela mobil, kemudian pergi meninggalkan Alea yang masih terpaku di tempat, merasa teringat kembali pada kenangan masa lalu. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir perasaan yang tiba-tiba muncul. Namun, lamunannya segera buyar saat terdengar teriakan dari belakang. “Alea

