Bab 2. Salah Wanita?

1029 Kata
Alea pulang ke kontrakannya dengan perasaan hancur. Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju kamar mandi. Saat melihat bayangannya di cermin, ia merasa jijik melihat bekas-bekas merah di tubuhnya, jejak dari Kendra. "Menjijikkan! Aku benar-benar menjijikkan sekarang!" Ia mulai menggosok tubuhnya dengan kasar, tanpa peduli rasa perih yang timbul. Namun, meski ia menggosok sekuat tenaga, bekas-bekas itu tetap tidak hilang. "Mengapa jejak ini tidak bisa hilang?!" jeritnya putus asa. Tubuhnya akhirnya luruh ke lantai, terisak dalam keputusasaan. *** Sementara itu, di sisi lain kota, Kendra duduk di sebuah bar yang remang-remang. Ia menatap gadis-gadis seksi setengah telanjang yang menari dengan menggoda di atas panggung. Gelas minuman di tangannya bergetar pelan saat ia menikmati pemandangan di depannya. Salah seorang gadis itu mendekat dan meremas area pribadinya, membuat Kendra mendesah pelan. Gadis itu berbisik dengan suara menggoda, "Mau bermain satu ronde, Tuan?" Kendra terkekeh dan mengangguk, lalu mencium gadis itu dengan ganas. Ia memberi isyarat kepada bartender untuk memberikan kunci kamar. Bartender yang sudah hafal dengan kelakuan Kendra, segera melakukannya tanpa bertanya. Setelah mendapatkan kunci, mereka berjalan menuju salah satu kamar di bar tersebut. Di dalam kamar, Kendra mencium gadis malam itu dengan penuh nafsu, sambil melepas pakaian yang menempel di tubuh mereka hingga sama-sama polos. Kendra terkekeh dan berkata, "Main sekarang atau foreplay terlebih dahulu?" Gadis itu mengangguk, "Aku siap menerima Tuan Kendra dan segala gempurannya." Namun, saat mereka akan memulai aksinya, tiba-tiba bayangan wajah Alea melintas di benak Kendra. Kejadian di apartemen tadi membuatnya kehilangan gairah. Ia terdiam, merasa terombang-ambing antara hasrat dan perasaan aneh. "Kenapa berhenti, Tuan?" tanya gadis itu, kebingungan. Kendra hanya menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan Alea dari pikirannya. Tetapi semakin ia berusaha, semakin jelas wajah Alea muncul dalam benaknya. Hatinya berkecamuk, perasaan aneh mulai menghantuinya. "s**t! Apa yang terjadi padaku?!" Ia melirik area pribadinya yang kini sudah tidak tegak seperti sebelumnya. Kendra mendesah kesal dan bangkit, berjalan menuju celananya yang terhambur. Kendra memberikan beberapa lembar uang dolar pada gadis itu. "Pergilah! Biarkan aku sendiri!" Gadis itu menerimanya dengan bingung. "Tuan, ada apa? Apa saya tidak menarik untuk Anda? Apa saya bau atau—" "Tidak ada! Aku hanya mendadak tidak enak badan! Pergi dan panggil Han untukku!" Dengan berat hati, gadis itu berdiri dan mengenakan kembali pakaiannya. Meskipun kecewa, setidaknya ia dapat gaji buta. *** Kendra yang ditinggalkan sendiri di dalam kamar pun terheran. "Kenapa aku jadi tidak b*******h karena membayangkan gadis itu? Apa karena... dia terlalu nikmat?" batin Kendra dengan terkekeh. Tidak ada perasaan bersalah sama sekali baginya setelah melakukan hal yang telah menghancurkan hidup orang lain. "Ah, tentu saja nikmat. Dia masih perawan. Kira-kira kenapa dia jual diri?" Kendra bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin dia butuh uang," sambungnya. Tak lama kemudian, Han, asistennya masuk ke dalam kamar tersebut. "Tuan memanggil saya?" tanya Han. "Hm. Apa Kak Farhan sudah mengirim berkas yang harus ditandatangani itu ke rumah?" tanya Kendra. Han menggeleng. "Tidak ada orang yang datang ke rumah. Saya sudah menanyakan ini pada orang rumahan." Kendra mengembuskan napas pelan. "Dia pasti tidak niat bekerja!" Kendra kemudian terdiam, merebahkan dirinya di atas ranjang. Tiba-tiba, Kendra terkekeh, membuat Han terheran. "Ada apa, Tuan?" tanya Han. Kendra menggelengkan kepalanya. "Apa kau menemukan mucikari baru, Han?" Han mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?" "Kalau kau menemukan mucikari baru, aku mau kau mencarikan aku satu wanita setiap malam dari mucikari itu. Tidak masalah kalau biayanya mahal. Aku tidak akan miskin!" "Tidak. Saya biasanya memesan wanita dari tempat Anda biasa. Ada apa?" tanya Han. "Mereka mengirim barang bagus tadi sore. Ah, dia nikmat sekali!" Han mengernyitkan keningnya mendengar itu. "Wanita panggilan?" Kendra melirik sinis pada sekretarisnya. "Tentu saja wanita panggilan. Memangnya kau pikir apa? Aku akan bermain dengan tukang service AC?!" "Tapi, Tuan—" Han tidak jadi meneruskan kata-katanya ketika mendengar suara ponsel dari atasannya itu berbunyi. Ia sigap mengambilkan ponsel tersebut dan memberikannya pada Kendra. "Tuan Farhan menelpon," kata Han. "Angkat!" Han kemudian menekan tombol hijau lalu menggesernya, untuk mengangkat panggilan. Tak lama kemudian, terdengar suara dari kakak tiri Kendra itu. "Ken, berkas yang diberikan sekretarisku padamu, apa sudah kau tandatangani?" tanya Farhan. Kendra mengernyitkan keningnya. "Berkas apa?! Tidak ada siapapun yang mengirimkan berkas itu ke rumah." Farhan menghembuskan nafas pelan. "Aku kan sudah bilang padamu kalau berkasnya akan diantar ke apartemen! Seharusnya sekretarisku sudah memberikannya padamu tadi saat jam pulang kerja!" Kendra menggelengkan kepalanya. "Tidak ada siapapun yang datang ke apartemen. Tanyakan saja pada sekretarismu itu, apakah dia benar-benar memberikannya padaku atau membawa berkas itu lari untuk dibocorkan kepada perusahaan pesaing." "Alea tidak mungkin melakukan itu. Dia sudah bekerja denganku hampir empat tahun." Kendra menyangkal. "Orang yang sudah bekerja puluhan tahun saja bisa berkhianat, apalagi hanya empat tahun. Tanyakan saja padanya, sebelum aku berangkat ke Singapura." Kendra kemudian mematikan telepon. Dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman. "Ada-ada saja! Orang zaman sekarang mana yang bisa dipercaya?! Aku sudah memberitahunya untuk mengantarkan berkas itu sendiri, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. See! Semuanya sudah terjadi." Han kemudian turut membuka mulutnya. "Apa Anda yakin tidak ada orang yang datang ke apartemen, saat jam pulang kerja?" "Tidak ada! Sekitar jam enam sore, hanya ada wanita panggilan yang kau kirimkan padaku. Hanya dia yang datang ke rumah," ujar Kendra dengan tenang. "Wanita yang saya kirimkan?" "Iya! Apa kau sudah lupa?! Kau mengirimkan gadis perawan padaku, yang tadi aku katakan sangat nikmat. Ah, dia benar-benar sangat menggoda. Dia pandai bermain peran dan berpura-pura seperti tidak ingin disentuh. Itu semakin membuatku b*******h padanya," kekeh Kendra. "Tuan, tapi wanita yang saya kirimkan kepada Anda mengirim pesan jika dia terjebak dalam demo mahasiswa. Dia tidak bisa datang dan mengembalikan uang yang sudah saya kirimkan." "Oh, ya? Mungkin dia mengirim gadis lain!" Kendra menjawab dengan sangat acuh. "Bermain peran apa yang anda maksud?" Han yang merasa curiga pun bertanya dengan menatap pada bosnya itu serius. "Dia bilang, dia datang Untuk mengantarkan berkas dan dia berpura-pura sebagai seorang sekretaris. Lucu sekali bukan? Dia menyamar sebagai sekretaris di saat Kak Farhan mengirimkan sekretarisnya." "Tuan, Anda—" "Bayangkan saja jika mereka sampai tertukar. Aku menggagahi sekretaris Kak Farhan dan... tunggu! Apa wanita panggilan itu benar-benar tidak datang?" Kendra bertanya dengan mata yang melotot, sesaat setelah kesadarannya terkumpul. "Benar. Kemungkinan, wanita itu, wanita yang bersama Anda adalah—" "Sekretarisnya Kak Farhan?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN