Kendra duduk di dalam ruangannya, menunggu dengan cemas asistennya yang akan datang membawa laporan medis. Pikirannya kacau, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Begitu Han masuk, Kendra langsung berdiri dan menyambar amplop putih dari tangan Han. Tingkah laku Kendra yang terburu-buru membuat Han terkejut dan melongok.
Kendra membuka amplop kertas itu dengan tergesa-gesa, matanya menyusuri isi laporan kesehatan tersebut.
Namun, semakin ia membaca, semakin mata Kendra terbelalak. Ia menggelengkan kepala dan bergumam, "Tidak mungkin. Aku tidak percaya ini terjadi."
Menatap tajam pada Han, Kendra bertanya dengan suara gemetar, "Apa ini benar-benar laporan medisku?"
Han mengangguk pelan, "Iya, Tuan. Itu laporan dari dokter yang Anda temui kemarin."
Dengan marah, Kendra melemparkan kertas itu ke lantai dan menatap Han dengan mata melotot. "Apa yang sebenarnya terjadi, Han? Semuanya baik-baik saja di laporan itu, tapi kenapa aku tidak bisa...."
Han terkejut mendengar pengakuan bosnya. "Saya... saya tidak tahu, Tuan."
Kendra menatap Han dan berkata, "Dokter mungkin salah diagnosa!"
Wajah Kendra benar-benar tak percaya dengan hasil yang didapatkan. "Cari dokter lain, yang lebih profesional dan ahli dalam bidang ini!"
Han mengangguk, tapi dengan suara pelan ia menjawab, "Ini sudah dokter keempat yang kita temui dalam dua bulan terakhir, Tuan."
Kendra berteriak lebih keras, "Tetap cari dokter paling baik! Berapapun biayanya, aku tidak peduli."
Entah apa yang terjadi pada Kendra, dia benar-benar frustasi pada kondisinya. Penyakit aneh yang menyerang selama beberapa waktu terakhir, membuatnya tidak fokus pada pekerjaan.
Di tengah perdebatan mereka, sekretaris Kendra, Mutia, memasuki ruangan dengan parfum yang harum semerbak.
Namun, Kendra langsung merasa mual dan tanpa sadar memuntahkan isi perutnya ke tempat sampah di dekat meja. Dengan wajah pucat dan marah, Kendra menatap Mutia tajam.
"Mutia?! Apa kau lupa pada pesanku?" tanya Kendra dengan suara rendah, menahan mual.
Mutia menggelengkan kepalanya. "Apa, Tuan?"
"Aku sudah memperingatkanmu untuk mengganti parfum, Mutia!" teriak Kendra, menatap marah pada sekretarisnya itu.
Mutia menunduk ketakutan, "Saya sudah berganti parfum, Tuan."
"Lalu kenapa, parfummu membuatku hampir mati, hah?!" teriak Kendra lagi.
"Saya benar-benar tidak tahu kenapa Anda masih mual. Ini parfum yang kemarin Anda berikan. Sungguh!"
Kendra merasa frustrasi, "Kenapa saya masih mual mencium parfummu? Itu aroma parfum favoritku dari wanita-wanita yang biasa aku sewa."
Mutia menggelengkan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa. Han, yang melihat situasi itu, memijat pelipisnya melihat tingkah Kendra itu.
Satu bulan terakhir, tingkah laku Kendra memang menjadi semakin aneh dan menyebalkan. Kendra menjadi sangat pemilih, mulai dari makanan, aroma, bahkan benda-benda favoritnya.
Terkadang, Kendra akan marah karena hal sepele, tertawa bahkan menangis. Hal-hal kecil membuat perubahan mood bosnya itu menukik.
Merasa semakin mual, Kendra berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan sarapannya pagi itu. Han bergegas menyusul, memijat tengkuk bosnya yang masih terlihat pucat. "Mungkin Anda benar, Tuan. Kita harus mencari dokter terbaik."
"Hm!"
"Saya akan meminta saran pada Tuan Farhan atau Nyonya Kasandra untuk dokternya," ujar Han lagi.
Kendra menatap Han dengan wajah yang semakin pucat. "Apakah mungkin, aku terkena guna-guna?" tanyanya, suaranya penuh keraguan dan ketakutan.
"Apa?" tanya Han bingung.
"Ya, guna-guna. Mungkin aku disantet rekan kerja atau siapa. Bisa jadi 'kan?"
Han mengernyitkan kening, "Tuan, Anda bukanlah orang yang percaya pada hal-hal magis. Kenapa sekarang berpikir seperti itu?"
Kendra berteriak, "Karena aku selalu mual dan muntah setiap pagi, padahal aku tidak sakit!"
Han menganggukkan kepala, tampak bingung, tapi kemudian berbisik, "Tuan, tingkah Anda seperti wanita hamil..."
Kendra terdiam, kata-kata Han bergema di kepalanya. "Wanita hamil?" gumamnya, tidak percaya. "Apa maksudmu?"
Han menarik napas dalam-dalam, mencoba menjelaskan, "Ya, mual dan muntah di pagi hari adalah gejala yang biasa dialami oleh wanita hamil. Tapi ini tidak masuk akal. Anda jelas tidak bisa hamil."
Kendra tertawa sinis, "Tentu saja tidak masuk akal. Tapi kenapa semua ini terjadi padaku?"
Han menatap bosnya dengan prihatin, "Kita harus mencari tahu penyebabnya, Tuan. Mungkin ada sesuatu yang kita lewatkan."
Kendra mengangguk perlahan, "Baiklah. Cari dokter yang paling ahli. Aku tidak peduli berapa pun biayanya. Aku harus tahu apa yang terjadi padaku."
Han mengangguk dan segera keluar untuk mengatur janji dengan dokter lain. Sementara itu, Kendra duduk kembali di kursinya, pikirannya masih berkecamuk dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Ia merasa hidupnya berubah menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Saat duduk diam, Kendra teringat pada wajah manis Alea. Wajah yang baginya sangat menarik. Tanpa sadar, Kendra tersenyum membayangkan Alea ada di depannya dan mengelusnya dengan lembut.
Namun, Kendra segera menggelengkan kepalanya setelah menyadari suatu hal yang terasa sangat konyol.
"Gadis sialan itu! Kenapa dia selalu memenuhi pikiranku?! Apa dia tidak punya kerjaan lain?" gerutu Kendra.
Kendra kemudian mengingat-ingat sesuatu yang mungkin saja terjadi padanya tanpa disadari hingga menimbulkan penyakit aneh ini.
"Awalnya aku baik-baik saja sampai malam itu. Malam di mana Kak Farhan mengirim sekretarisnya ke rumah. Bersamanya, aku masih bisa ereksi, bukan?" batin Kendra.
"Benar. Aku baik-baik saja saat itu, tapi setelahnya?! Di bar itu, aku mulai tidak bisa melakukannya. Apa mungkin, ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam minumanku?" batin Kendra lagi, sembari mereka ulang adegan demi adegan yang mungkin saja terlewatkan.
"Jika memang ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam minumanku dan membuatku terserang penyakit aneh ini, seharusnya dokter sudah mengetahui itu. Bukankah setiap periksa, kondisiku selalu baik-baik saja? Lalu, Apa yang sebenarnya terjadi?"
Kendra mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Tidak mengerti apa yang sekarang ini sedang dialami. Semuanya terlalu memusingkan dengan tidak adanya petunjuk.
"Apa mungkin, aku terkena karma karena memperkosa Alea?!"
Kendra mendadak merasa terenyuh, membayangkan tangisan Alea malam itu. Tanpa sadar, dirinya terisak dengan rasa sesal di dalam d**a.
"Kenapa aku kejam sekali? Seharusnya aku bertanya dulu padanya 'kan?"
Kendra terisak-isak dengan kesedihan yang mendalam. Namun, saat dirinya tersadar, ia memukul pipinya sendiri dan berkata, "Aku sudah membayarnya dengan harga yang fantastis. Seharusnya, itu lebih dari kerugiannya. Kenapa harus merasa bersalah?"
Kendra dan keegoisannya adalah masalah kompleks. Sejenak, ia terdiam sembari memutar kursi dengan mata yang terpejam, menahan mual.
"Aku seperti wanita hamil?" batin Kendra yang terngiang ucapan Han.
"Aku laki-laki, tidak mungkin hamil," senggrah Kendra sendiri. "Akan jadi hal konyol kalau aku hamil. Haha, aku lahir sebagai laki-laki, bukan transgender!"
Namun, detik selanjutnya Kendra terdiam. Ia membuka matanya cepat saat menyadari sesuatu. "Bagaimana kalau aku menghamili orang lain?"