Kendra keluar dari rumah Anggun dengan perasaan marah dan bingung. Tangannya mengepal di kemudi, matanya menatap lurus ke jalan dengan napas tersengal. “Sial, sial, sial! Apa-apaan ini!” Kendra mengumpat keras, memukul setir dengan marah. Ia merasa seperti ditusuk dari segala arah. Di saat hubungannya dengan Alea mulai membaik, kenapa masa lalu harus datang dan menghancurkan semuanya? Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Kendra, kau bodoh! Kenapa tidak menyadari ini sejak dulu?” Bayangan wajah Kenny dengan matanya yang begitu mirip dengannya terus terlintas. “Tidak, itu tidak mungkin anakku!” Kendra berkata keras dalam hati, mencoba menolak kenyataan. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu kemungkinan itu besar. Mata anak itu, hidungnya, bahkan senyumnya, semuanya mengingatkan

