BAB 14 Mengapa Terlalu Cepat

1042 Kata
Nikah Kudus dan Resepsi Pernikahan Jose berlangsung dengan baik, Jisan yang siap sedia mengabadikan setiap momen selalu mengirimkan foto tersebut ke WA group anak-anakku. Aku yang tak bisa menghadiri masa bersejarah bagi anakku sedikit terhibur dengan adanya foto dan video yang dikirim Jisan. Ada kegiatan di sekolah jadi tidak ada guru yang pergi. Hadiah berupa amplop telah ku berikan ke Jisan untuk diberikan kepada Jose. Aku berpesan agar nama-nama yang memberi amplop supaya dicatat sebagai dokumentasiku. Ketika saat pernikahan Jose, Andre melalui ibu Anti mengirim lagi pesan padaku. Andre Pagi Rin, saya juga tidak menghadiri Pernikahan Yeti dan Jose karena saya tahu kamu tidak bisa hadir. Seandainys kamu sehat pastilah saya yang akan duduk di sampingmu. Cepat sehat Rin, anak-anakmu membutuhkan kehadiranmu. Aku membaca pesan Andre, merenung akan keadaanku kini. Aku tidak membalas pesannya malah terdiam. Bibit yang diberikan Tuhan padaku sebanyak tujuh butir. Telah kutabur pada tanah yang kuanggap baik walaupun tanah tempat menaburku ada yang jauh hampir tak bisa kucapai. Tapi Tuhan sebagai Pemilik bibit senantiasa menopangku sehingga bibit itu tumbuh dan pelan menghasilkan buah. Satu helatan untuk anakku selesai sebagai mana yang kuharapkan sebagai seorang ibu. Jose untuk sementara waktu tinggal bersama mertuanya. Yang merawatku adalah Dio seorang diri. Dio merupakan anak yang mempunyai banyak teman. Ketika dia masih kuliah di ibu kota propinsi kadang tengah malam aku terjaga dan membayangkan anakku Dio saat itu. Aku tak menelponnya taoi langsung tunduk berdoa minta Tuhan melindungi dia. Kini Dio merawatku seorang diri tanpa lelah mencuci, memberi makan, mengganti popok sambil diam melakukan tugasnya. Dio dulunya bukan cowok rumahan namun setelah aku sakit dan menyaksikan turun naiknya keadaan kesehatanku membuat Dio melihatku sebagai ibu yang harus dijaga. Dirawat. Bahkan dikasihani. Aku dulu sering mendengar orang tua-tua bahwa lebih bagus memiliki anak perempuan agar bisa merawat kita kalau sudah tua. Ternyata pernyataan itu mungkin sangat betul bagi sebagian orang tapi bagiku laki-laki atau perempuan sama saja. Mereka sama-,sama mempunyai kasih sayang pada orang tuanya. Aku tetap berdoa kiranya Tuhan memudahkan rejeki bagi anak-anakku yang begitu peduli saat aku tak berdaya. Sangat miris membayangkan seorang guru tua yang sakit di usia tuanya tak mampu lagi mengais rejeki untuk membeli kebutuhannya. Kini sangat kuyakini bahwa tak semua orang mendapatkan gaji karena bekerja tapi semua orang memperoleh rejeki karena langsung Tuhan yang atur. *** Jose masih di rumah mertuanya. Tamar WA sambil mengakhiri pesannya dengan emotikon tertawa bahwa dia juga akan melamar ceweknya. Aku menangga pi saja dengan mengganggunya. Jose belum cukup satu bulan menikah. Tamar mau lagi? Weleh weleh. Belum habis perasaan rasa 'sibuk-sibuk' kini mau mulai lagi? Bulan ini bersamaan Dio, Jisan, dan Agnes membayar uang kuliah. Bulan depan juga bayar kontrakan rumah yang kutempati. Mau nikah lagi?.Aduhh dapat uang dari mana? Aku hanya berharap Tamar main-main. Tamar chat dia sudah cuti dan bersama Jisan dan Agnes, besok malam dia akan terus ke sini. Betul pagi pukul lima pagi Dio menjemputnya di terminal. Ketiba tiba Tamar langsung masuk kamarku jabat tangan dengan senyum yang selalu menghias bibirnya. Aku perhatikan puji Tuhan badannya sehat dengan rambut dicukur rapih dan kumisnya juga tercukur rapih. Dia masuk di kamar yang biasa ditempati Jose. Dio seperti biasa menyapu, melipat selimutku, dan menyiapkan sarapanku,'ahh kapan aku bisa mandiri Tuhan, tidak merepotkan anakku seperti ini?' batinku sambil menyuap nasi merah dengan sayur daun pepaya yang dimasak di bambu dibumbui bawang merah, sereh dan bawsng putih. Awal mulanya sayur tersebut adalah Jose dan Dio membeli lauk daging dibakar di bambu bersama daging, mereka makan dagingnya tapi sayur pepayanya tidak dimakan. Daun pepaya dimasak utuh satu porsi satu lembar daun pepaya. Aku minta untuk makan, pahit-pahit enak, habis makan tes tensi dan gula darah aman. Jadilah menuku supaya Dio tidak ribet memasak sayur. Alat pengukur tensi dan gula darah disediakan oleh Mada. Sekitar pukul sembilan Tamar menemuiku. Dia sudah rapih tas selempang sudah berada di badannya. "Mau keluar Nak?" "Iya Ma, mau ke rumahnya Arni" "Siapa itu Arni?"tanyaku sambil menatapnya penuh penasaran. "Itu Ma, pacar saya,"jawab Tamar senyum dan menunduk. "Itu pacarmu orang apa, sekolah di mana, sudah berapa lama pacaran?" tanyaku bertubi-tubi. "Orang tuanya Arni orang di sini Ma, teman kuliah dan sudah kerja. Tapi pernah sakit tipes jadi istirahat sekarang." "Oke Nak, sudah sarapan?" "Iya Ma. Saya jalan dulu," "Ya, baik-baik di jalan" Aku memikirkan apa yang dikatakan Tamar.' Arni , teman kuliahnya. Tinggal di sini, tapi aku belum pernah ketemu,' aku sekedar ingin tahu namanya dan orang apa tanpa berusaha mencari keterangan lebih lengkap. Ya! anak muda. Sore sekitar pukul empat Jose dan Yeti tiba. Perut Yeti sudah mulai membesar. Tamar sudah pulang juga kemudian pindah ke kamar Dio.'Seandainya aku bisa jalan aku akan sudah duduk manis di ruang keluarga mendengar cerita Jose dan Yeti yang sudah membentuk keluarga kecilnya, mendengar cerita Tamar dan Dio tentang apapun,' aku hanya mampu berandai-andai melihat segala sesuatu yang tertangkap netraku. Kaki tak mampu lagi melaksanakan tugasnya walaupun aku bukanlah pemain sepak bola yang dibayar karena kepintaran kakinya menggiring bola. Ternyata keterbatasan kakiku juga telah menutup berkat yang diberikan pemerintah yakni penghentian Tunjangan Sertifikasi. Hadew. Tamar masuk ke kamarku setelah makan malam dengan wajah agak serius. Saya sudah bertemu orang tuanya Arni Ma. Mereka minta lusa keluarga kita ke sana. Kalau tidak ada halangan tanggal tiga puluh bulan ini pemberkatan nikah Ma" "Secepat itu? untuk apa lagi pertemuan keluarga kalau kalian sudah menentukan tanggalnya?" "Iya Ma, kakaknya Arni akan pulang ke tempat kerjanya tanggal tiga pulu satu ." Aku memandang Tamar dan Jose yang sudah bergabung secara bergantian. "Arni baik-baik saja 'kan? aduh Mar bisakah waktunya diundur, enam bulankah atau kapanlah. Adikmu butuh sekali uang bulan.ini." "Tabungan saya kayaknya sudah cukup, jadi saya tidak membebani siapapun." Ya sudah. Aku diam saja sampai Jose dan Tamar keluar dari kamarku. Aku memang pernah memberi tahu Tamar untuk menyisihkan gajinys berapa-berapa saja untuk masa depannya. Kini dia merasa sudah mampu untuk menghidupi seorang perempuan yang akan menjadi pendampingnya. Ahh aku tak menyalahkan Tamar atau tidak merestuinya sekalipun aku belum pernah bertemu dengan Arni yang sudah dianggap Tamar tulang rusuknya yang hilang dia sudah temukan, cuma semata-mata timingnya yang tidak tepat. . Aku menghubungi semua saudaranya memberi tahu tentang rencana Tamar. Jisan dan Agnes sama sekali tidak berkomentar cuma tanda sudah dibaca. Berdi cuma membalas bertanya kapan waktunya.Cuma Mada yang membalas dengan komentar agak panjang. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN