"Dana untuk Catering sejumlah empat puluh juta Nak"
"Sekarang yang sudah ada berapa, Ma?"
"Di Jose tinggal lima juta"
"Ya ampunn mahal sekali, bisakah di situ saja, jangan di rumahnya Yeti. Cateringnya mahal sekali "
"Orang sudah mempersiapkan segala sesuatunya di sana Nak, Catering juga sudah di DP tinggal pelunasannya Nak"
"'Kan Tamar sudah kitim sepuluh juta baru-baru ini, ini uang dulu yang tetkumpul lima puluh juta, kok masih kurang empat puluh juta. Ambil dari mana? Mada terus menerus mempersoalkan kekurangan yang masih ada. Aku kasiihan melihat Jose yang kelihatatan lesu duduk dekatku mendengar perkataan Mada yang ku louspeaker. Kemudian Jose memberi kode untuk menghentikan pembicaraan. Kini tinggal kami tiga orang saling pandang apa yang kami harus perbuat untuk mendapatkan dana empat puluh juta rupiah. Aku memberi tahu Dio untuk mencoba satu ATM ku yang kugunakan waktu masih sehat menyimpan dana kuliah anak-anakku sedikit demi sedikit bila ada berkat selaim gaji.
Aku menghubungi Berdi berapa yang disanggupi menolong Jose, dia sanggup sepuluh juta, dia akan kirim sebentar langsung ke ATM Jose. Tinggal tiga puluh juta kurangnya, Dio pegi ATM ku masih ada lima juta, tinggal dua puluh lina juta, uang yang ada di kantong Jose tidak dimasukkan dalam hitungan karena banyak hal-hal tidak terduga. Madatidak lagi telpon habis dia ungkap-ungkap uang yang sudah digunakan Jose, apalagi ketika aku sudah jengkel dengar penjelasannya.
Tinggal empat hari tanggal pernikahan Jose, Tamar sudah menyumbang. Berdi sudah. Aku kasihan hanya lima juta. Dari saudara-saudaraku tidak ada. Dari saudaranya Wawan tidak ada. Mada sering mengirim sticker lucu-lucu tapi aku malas membalalasnya. Mada dulu bersdia menyewa hotel bintang lima di kotaku, kini membayar Catering ribetnya minta ampun. Persediaan Catering ditangani oleh seorang ibu yang memang sudah terkenal menyuguhkan makanan yang halal, maklum tetangga Yeti banyak yang muslim jadi jamuan kasih harus ditangani orang yang berkompeten.Setelah aku diberi makan Dio ada chat masuk hapeku. Dari Mada.
Mada
Saya kirim uang di ATM mama tiga puluh juta ya. Nanti Dio transper saja je rekening Jose.
'Terima kasih Tuhan' ucapki berulang kali. Aku membalas chat Mada dengan terima kasih yang tulus.
Mama
Terima kasih Nak ya. Tuhan memberkatimu berlimpah-limpah.
Mada
Iya Ma, jaga kesehatan ya. Uhmm
Jose datang di kamarku setelah pulang beetemu dengan tante dan omnya Wajahnya lesu tak bercahaya. Kegalauan terukir jelas di sana. Tak ada lagi tempat berbagi masalah kini. Wawan telah pergi dan mungkin pulang kembali. Aku meringankan bebannya dengan senyum termanis yang mampu kuciptakan saat ini.
"Ada info Ma?"
"Ya, ada lah"
"Gembira, biasa-biasa atau sedih Ma?"
"Huruf pertamanya 'g' dan huruf terakhirnya 'a' apakah itu?"
"Yang jelas,Ma"
"Begini Nak, Mada WA tadi dia kirim tiga puluh juta di nomor rekening Mama, Dio sudah pergi ke ATM untuk pindahkan rekeningmu"
"Ini sudah ada SMS Bankingnya Ma. Puji Tuhan semua indah pada waktunya, tidak ada lagi rasa was-was, Ma"Jose tertawa sumringah sambil memeluk bahuku yang tengah berbaring.
"Iya Nak, jadi kamu bisa berangkat besok kalau Tuhan berkenan. Dio nanti berangkat dengan om Lius, tante Ana dan keluarga yang lainnya, besok mungkin Jisan sudah tiba, Agnes mungkin berhalangan hadir katanya masih ada ujian semesternya."
"Okelah, nanti juga tante Lisa datang temani Mama baru Dio bisa menyusul".
Pergumulan yang kugeluti dengan anak-anakku selalu terpecah pada saat yang Tuhan kehendaki. Tidak terlalu cepat dan tidaj terlalu lambat.Tuhan memakai saudara-saudara Jose menolong dia pada saat terpuruk seperti ini, keluarga lain hsnya menonton walaupun banyak yang bisa membantu tapi karena mereka melihat Jose hanya tinggal merawatku sampai memandang Jose sebelah mata. Terima kasih anak-anakku atas pengorbananmu kepada Jose.
Jose adalah tamatan salah satu Sekolah Pelayaran terfavorit di ibu kota propinsi Setelah tamat Jose berangkat ke ibu kota untuk mencari pekerjaan dan tinggal di sebuah mess bersama teman-teman seuniversitas.Jose belum sempat mendapat panggilan untuk naik di salah satu kapal, dia sudah mengetahui keadaanku sakit yaitu stroke. Karena kakak dan adiknya pada sibuk kerja dan kuliah, Jose mengalah dan pulang tinggal merawatku. Dio juga rela pindah universitas ke kotaku untuk bisa merawatku. Ketika tahun pertama sakit dan masih resmi menikah dengan Andre, Andre selalu suka nembawaku ke kampungku yang terkenal dingin. Hampir tiap bulan aku masuk rumah sakit karena selalu saja anggota tubuhku bermasalah, seperti kaku sebagian tubuh, tidak bisa buang air besar sampai batuk darah. Mada mencarikan rumah seorang dokter yang tinggalnya di kota lain dan mengontraknya. Aku tidak diijinkan anakku pulang ke kampungku walaupun di sana ada kakakku yang bisa merawatku, tapi strokeku tidak cocok di daerah dingin maka berkorbanlah Jose merawatku. Pengorbanan anak laki-laki merawat ibunya yang stroke.
Ketika Jose dulu mengikuti program Praktek Laut dan saat itu sudah mendapat uang saku maka dia selalu mengirimkannya kepada Mada yang saat itu mengikuti program Koas. Begitu juga Tamar yang saat itu butuh uang banyak untuk penelitian di fakultasnya yaitu Fakultas Pertambangan. Kini Jose seolah-olah tidak mempunyai pegangan hidup, merasa hanya menjadi kepada saudara-saudaranya. Aku selalu memberikan sunrikan semangat bahwa dia masih punya masa depan yang cerah. Laut yang dulu akrab dengannya akan tetap sama ramahnya kapanpun Jose berlabuh mencari rejekj untuk keluarga kecilnya.
***
Pagi ini Jisan telah tiba. Dia tidak bersama Agnes. Besok sudah hari-H pernikahan Jose. Kakakku juga telah tiba untuk menemaniku selama Dio pergi. Rekan,-rekanku dari sekolah datang datang satu mobil. Aku terhsru melihat mereka, aku sangat rindu bergabung, tertawa bersama, bercanda bersama, pergi bersama tapi sekarang? aku hanya bisa duduk menikmati sekelilingku dengan netraku, mereka sudah duduk di ruang keluarga, beberapa ibu masuk di kamarku duduk di tepi springbed ku. Aku tiba-tiba ingin menangis, air bening tak bisa kutahan akhirnya jatuh mengucur di pipiku yang sudah lama tak tersentuh alat pemanis wajah. Rasa senang melihat teman- temanku sehat dan bugar bercampur rasa sedih melihat diriku yang tak mampu lagi berdiri bahkan pada saat anakku membutuhkanku berdiri di sampingnya. Takdir yang harus kujalani tanpa menyalahkan siapapun.
Nikah Kudus dan Resepsi Pernikahan Jose berlangsung dengan baik, Jisan yang siap sedia mengabadikan setiap momen selalu mengirimkan foto tersebut ke WA group anak-anakku. Aku yang tak bisa menghadiri masa bersejarah bagi anakku sedikit terhibur dengan adanya foto dan video yang dikirim Jisan.
Ada kegiatan di sekolah jadi tidak ada guru yang pergi. Hadiah berupa amplop telah ku berikan ke Jisan untuk diberikan kepada Jose. Aku berpesan agar nama-nama yang memberi amplop supaya dicatat sebagai dokumentasiku.