BAB 11 Menanti Kabar Darinya

1003 Kata
Setelah Yeti pergj ke orang tuanya, maka aku, Jose, dan Dio menunggu dengan harap-harap cemas apa yang dikatakan orang tua Yeti tentang keadaan Jose yang belum mempunyai penghasilan tetap. Aku memberi tahu Yeti untuk bicara sejujurnya bahwa calon suaminya belum sempat mencari pekerjaan karena merawat ibunya. Malam ini Jose mendapat wa dari Yeti bahws semalam orang tuanya hanya diam tak ada komentar apapun tentang kehamilannya, sekarang kedua orang tuanya memarahi dia, dan ujung-ujungnya ibunya cuma marah dan meninggalkan Yeti dengan bapaknya. "Apa boleh buat, sudah terjadi seperti ini, kasih tahu pacarmu supaya bicara dengan saya sekarang," kata bapaknya Yeti. Dengan perasaan gugup Jose menerima telpon dari baoaknya Yeti memakai hape Yeti. "Selamat malam om, saya Jose pacarnya Yeti" "Kamu 'kan sudah tahu bagaimana keadaan Yeti sekarang, kamu harus bertanggung jawab" "Iya om, kapan saya bisa ke situ?" "Kalau bisa besok, kami tunggu" "Baik om, selamat malam". Selesai Jose bicara dengan bapaknya Yeti, aku, Jose, Dio berunding di kamarku. "Kalau begitu telepon keluarga dari bapakmu dan dari mama, siapa-siapa yang punya waktu menemani kamu besok. Kasih tahu om Lius yang ada mobilnya supaya disewa membawa kalian. Om Lius juga pintar bahasa-bahasa daerah untuk acara seperti ini , kasih tahu tanta Ana untuk memasakkan bekal untuk kalian bawa, belikan saja beras dan ikan dengan telur Nak" "Siap Ma," Jose menghubungi om dan tantenya dari aku dan bapaknya. Tante Ana juga siap untuk memasak bekal. Besoknya pagi-pagi sekali Jose belanja bahan untuk bekal dan langsung mengantarnya ke rumah tante Ana. Keluarga yang bersiap pergi ada delapan orang, sembilan dengan Jose. Tante Ana punya mobil jadi dua mobil yang akan pergi. Disepakati berangkat jam sebelas siang. Tetapi pukul sembilan pagi bapaknya Yeti telpon Jose untuk jangan dulu ke sana hari ini, karena keluarga Yeti yang lain belum diberitahu. Jose agak jengkel juga pembatalan tiba-tiba apalagi bekal sudah masak. "Maaf tante, kita tidak jadi berangkat siang ini," Jose menelpon tante Ana "Ini makanan sudah siap, ha kemapa belum apa-apa sudah seperti ini," tante Ana menjawab telepon Jose dengan marah dan dengan nada suara yang tinggi. "Begini Nak, itu nasi dan lauk biar bagi-bagi saja. Tidak enak kalau tuan rumah belum siap menerima kita, kita yang paksa. Telpon kembali siapa-siapa yang bersiap pergj batal hari ini." Ada rasa galau di hatiku saat ini. Kediaman Yeti yang termasuk jauh harus butuh persiapan kalau pergi ke sana. Aku juga sewaktu masih sehat belum pernah menginjak tempat itu. Ini, masalah pelik yang butuh kehadiran keluarga menanganinya malah tarik undur waktunya yang imbasnya jatuh ke Jose dan Yeti. Ya sudahlah. Aku memberitahu Jose untuk menanyakan waktu yang tepat kepada Yeti kapan ke sana. Karena Jose kesal dengan keadaan hari ini, mereka bertengkar melalui wa, yang terakhir dijawab Yeti "Ya sudah, tidak usah datang". Jose memperlihatkan hapenya apa chattingan mereka, aku cuma menasehatkan tenang menjawab Yeti, semua akan baik-baik saja. Sekitar jam dua siang bapak Yeti telpon besok sudah bisa berkunjung dan hanya perkunjungan keluarga belum melamar. Besok setelah ada pertemuan kedua belah pihaj baru ditetapkan kapan waktu melamar. "Ikuti saja Nak, beritahu keluarga untuk siap pergi besok" "Iya Ma, semoga tidak ada delay lagi nanti. Aku berpikir mengenai biaya yang akan digunakan pergi pulang berapa kali Aku dengan kursi roda menemui keluarga yang telah siap berangkat, hanya empat orang, lina dengan Jose. Tante Ana dan suaminya sudah tidak punya waktu dan beberapa keluarga lain. Enam orang keluarga tersebut memakai baju adat walaupun ini hanya kunjungan biasa. Aku memberi tahu Jose untuk memakai saja baju batik yang dia beli untuk acara lamaran.Om Weli memimpin doa baru mereka berangkat. Di rumah aku terus memanjatkan doa semoga urusan Jose Tuhan turut bekerja agar semuanya mendatangkan kebaikan unruk semua. Badanku tinggal di rumah tapi rohku menemani anakku yang sementara berjuang menjadi laki-laki yang bertanggungjawab. Akupun sibuk memberi tahu Mada, Tamar, dan Berdi untuk biaya pernikahan Jose apalagi Yeti merupakan keluarga terpandang di desanya. Ahh!.Cincin kawin juga belum di beli Jose yang harus disiapkan pada saat lamaran. Uang lima puluh juta sudah mulai berkurang mulai pada saat rencana pertama pergi membeli bekal, kini membayar mobil dan memberikan kepada Yeti untuk pembeli makan hari ini karena Yeti katakan tidak usah bawa bekal. Aku tetap berdoa semoga anak-anakkh dimudahkan. Pada saat makan siang Jose mengirim foto siapa-siapa yang hadir. Agak banyak orang sih walaupun dari pihak Jose hanya enam orang dan laki-laki semua. Ads empat lembar foto yang dikirim Jose dan foto yang membuat jantungku berdenyut cepat adalah ada Andre duduk manis dengan beberapa orang laki-laki paruh baya dari pihak keluarga Yeti. 'Astaga betapa sempitnya dunia ini, mengapa ada Andre di acara yang penting bagi anakku? bagaimana kalau Andre bertemu dengan keluarga almarhum Wawan atau bapak kandung Jose?' Aku menjadi lemas melihat foto Andre yang telah berpisah dariku muncul tiba-tiba di acara temu keluarga Jose dan Yeti. Aku tak mengomentari foto yang dikirim Jose. Biarlah Jose cerita nanti kalau pulang bagaimana hubungan darah antara Andre dan Yeti. Apapun masalah aku dan Andre dalam kebersamaan kami yang akhirnya putus tanpa meninggalkan bekas seperti adanya keturunan yang mengikat ikatan kami itupun sudah tak ada karena saat nikah umurku sudah empat puluh lima tahun. Aku sudah mengubur kebersamaanku dengan Andre yang cuma tidak sampai lustrum tapi kini dia hadir sebagai keluargs calon besanku. Yeti yang telah mengandung anak Jose akan membuat Jose sering bertemu dengan Andre pads saat ada acara keluarga. Sekitar jam sebelas malam Jose dan omnya sudah tiba di rumah, karena cuaca dingin Dio membuatkan kopi untuk mereka, aku menemui mereka dan berterima kasih telah berkenan mengantar Jose. Dari aura mereka aku bisa melihat acara temu keluarga berjalan lancar. Habis minum kopi mereka pamit jadi tinggal kami bertiga. Jose dan Dio duduk di sisi tempat tidurku, aku rebahan saja. Jose mulai menceritakan pertemuan keluaga di rumah Yeti. Anak yatim melangkah menggapai cita, melangkahkan kaki menjemput rembulan. Tak ada ayah memberi kekuatan bertemu mantunya. Tak ada ibu mengelap keringat yang jatuh sendiri karena bertemu dengan orang-orang yang menantikan hadirnya Jose Sang laki-laki perawat ibunya tanpa jijik, tanpa lelah. Kini harus mencoba mandiri bersama tulang rusuknya yang harus dilindungi bersama Sang penerus keturunannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN