Sihir Tak Terduga

1371 Kata
Earth Jeslyn Marioline’s POV Bulan telah menunjukan kecantikannya, saatnya kami harus segera kembali ke kamar dan beristirahat. "Hai princess!!" Suaranya terdengar sangat menakutkan, suara itu terdengar dari balik jendelaku yang langsung menghadap ke taman belakang. "Siapa kau?!" Tanyaku. Aku sangat panik mendengar suara itu. "Aku adalah seorang penyihir yang akan menghancurkanmu secara perlahan-lahan, hidupmu akan hancur tanpa kau menyadari apa yang sebenarnya terjadi." Jelasnya. "Hei! Berani sekali kau mengancamku!" Bentakku marah karena Ia mengancamku. Tiba-tiba, dengan seketika bayangan itu menghilang, aku berjalan kearah jendela itu. Aku semakin mendekati jendela kamarku itu perlahan-lahan, aku memberanikan diri untuk membukanya. Dan seketika ada seseorang yang mencekikku dan... Bruukkk!!! Aku jatuh dari tempat tidurku dan langsung terbangun dari tidurku, ternyata tadi itu hanyalah mimpi, tetapi terasa begitu nyata. "Mengapa mimpiku sangat buruk malam ini?" Tanya diriku sendiri sambil menghela nafas panjang. Kemudian aku kembali tidur dan berharap mimpi itu tidak akan menghampiriku lagi. *** "Pagi Jes!" Teriak seseorang dari kejauhan. "Pagi!" Sapaku pada seseorang yang sedang berjalan kearahku. Wajahnya belum terlihat karena posisinya masih sedikit jauh dariku. "Kau mau kemana akhir pekan?" Tanya orang itu yang ternyata adalah Yakira. "Entahlah aku juga belum tahu, bagaimana dengan-mu?" Tanyaku. "Aku akan mengunjungi ayah ibuku dirumah akhir pekan ini. Apa kau tidak mengunjungi ayah ibumu dirumah?" Tanya Yakira. "Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, aku sangat tidak menyukai ibu tiriku." Ucapku lemah. "Tapi, kau tidak boleh bersikap kasar padanya, apalagi kalau ibu tirimu itu sangat menyayangimu." Ucap Yakira menasehatiku. "Aku bahkan tidak tahu apakah ia menyayangiku atau tidak." Ucapku sambil menggedikkan bahu. Yakira hanya terdiam mendengar perkataanku. Sepertinya dia mulai mengerti apa yang kurasakan saat aku berada didekat ibu tiriku. Kami berdua jalan-jalan ditaman dan kami melihat seseorang menghampiri kami. Apa? Itu Barack! Tapi untuk apa ia kesini? "Jes, mau apa pria itu datang kemari?" Tanya Yakira. "Entahlah, akupun tak tahu." Ucapku sambil menggeleng. "Hai Nona-Nona!" Sapanya kepada kami berdua. "Hai!" Balasku dan Yakira. "Apa kalian sudah berteman?" Tanya Barack dengan senyumannya. "Tentu saja." Jawabku. Tiba-tiba Barack menarik tanganku dan membawaku sedikit menjauh dari Yakira. "Apa maksudmu?" Tanya Barack "Ada apa?" Aku bingung dengan pertanyaannya barusan. "Kau berteman dengan Yakira?" Ulangnya bertanya. "Tentu saja, sekarang ia sudah berubah." Jelasku padanya. "Apa kau percaya padanya?" Tanya Barack sambil menatapku intens. "Tentu saja, dia temanku sekarang!" Ucapku dengan kening berkerut. "Lebih baik kau menjauhinya." Ucapnya sambil memalingkan wajah. "Ada apa denganmu? Dia itu temanku! kalau aku menjauhi Yakira, maka aku juga akan menjauhimu." Ucapku sinis padanya. Dia tidak berkata-kata hanya saja sepertinya kesal mendengar perkataanku tadi. "Apa kau mau pergi denganku akhir pekan?" Ajak Barack. "Tentu saja, tapi kemana?" Tanyaku. "Tentu saja kebantaran sungai tempat kita sering bertemu." Ucapnya sambil tersenyum. "Oh baiklah." Aku menyetujuinya. "Baiklah, sekarang aku harus kembali ke istana." Ucapnya. "Tentu." Jawabku dan dia melambaikan tangan padaku dan aku juga hanya tersenyum dan melambaikan tangan. *** Pagi yang indah menyambutku, senyum diwajahku merekah ketika aku ingat bahwa aku akan pergi bersama Barack hari ini. Langsung saja aku bersiap-siap dan merias wajah serta rambutku dengan sederhana. Ketika aku sudah siap, aku langsung saja keluar dari kamar dan bertemu dengan Yakira dan Balerina. "Hai Jeslyn!" Sapa mereka berdua. "Hai!" Sapaku. "Mau kemana kau?" Tanya Balerina. "Aku akan pergi ke bantaran sungai bersama Barack." Jawabku. "Apa?" Tanya Yakira dengan spontan. "Tentu saja, memangnya ada apa?" Tanyaku. "Jeslyn, aku bisa melihat bahwa Barack bukanlah pria yang baik untukmu." Yakira berusaha menasihatiku. "Apa maksudmu? Sikapmu sama seperti Balerina! Apa kau juga membencinya?" Tanyaku mulai kesal. "Aku tidak membencinya Jes, aku hanya melihat latar belakang Barack saja." Jawab Yakira "Entahlah tapi aku percaya padanya." Ucapku santai tanpa memedulikan Yakira dan Balerina. Balerina hanya menatapku tajam, sepertinya ia membela Yakira untuk masalah ini. Tanpa basa-basi lagi aku meninggalkan mereka berdua dan pergi ke bantaran sungai. Sesampainya aku disana, aku melihat Barack yang sudah duduk menungguku di bangku bawah pohon besar didekat sungai. "Hai!" Sapaku kepadanya sambil menghampirinya. "Hai Princess akhirnya kau sampai." Ucapnya dengan seringai diwajahnya. Aku hanya tersenyum menatapnya. Ketika Barack memanggilku dengan sebutan Princess aku teringat oleh mimpi burukku. Apa Barack ada hubungannya dengan mimpiku? Tanyaku dalam hati. Melihatku yang sedang melamun, Barack bertanya denganku. "Ada apa?" Tanya Barack. "Eh tidak!" Jawabku sedikit kaget. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Barack yang terlihat penasaran. "Tidak ada." Balasku singkat. Aku hanya memikirkan tentang mimpiku itu, aku tidak akan mengatakannya pada Barack. Aku takut dia tersinggung kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula aku mempercayainya, aku yakin ini hanya kebetulan. Cukup lama kami mengobrol, ketika kami mengobrol, Barack berusaha meletakkan lengannya melingkar di bahuku. Tetapi aku tidak sadar apa yang terjadi ketika ia meletakkan tangannya melingkari bahuku, aku merasa ada sesuatu yang panas. "Hentikan!" Teriak seorang wanita dari atas pohon. "Siapa kau?" Tanyaku. "Apa kau tidak menyadari bahwa pria itu berusaha mencelakaimu." Wanita itu tidak menjawab pertanyaanku barusan. "Apa maksudmu?" Tanyaku, dan sempat aku melihat Barack, dia hanya memandang kearah sungai seolah tidak perduli. "Dia mengeluarkan sihirnya, ia akan membakarmu!" Ucap wanita itu dengan wajah tegangnya. "Tidak mungkin! Dia tidak mungkin akan melakukan hal itu padaku!" Pembelaanku terhadap Barack ini membuat wanita itu marah padaku. "Kau tidak melihatnya! Tapi aku yang melihatnya dari atas sini." Ucap wanita itu sambil menunjuk rumah pohonnya. "Apa kau selalu memperhatikan kami dari atas?" Tanyaku. "Tentu saja! Kalian berada dibawah rumahku." Jelas wanita itu. "Siapa namamu?" Tanyaku penasaran. "Leave Evelyn Westie yang berarti daun dan burung dari barat." Ucapnya. "Apa elemenmu?" Tanyaku. "Haha, kau wanita penilai yang buruk. Tentu saja elemenku ini alam." Ucanya sambil tertawa. "Maksudmu?" Tanyaku tidak mengerti. "Ya, semua alam artinya tanaman, hewan, dan cahaya itulah komponen elemenku. Oh dan siapa namamu?" Tanya Evelyn. Aku mengangguk menanggapinya. “Aku Earth Jeslyn Marioline yang berarti wanita yang diberkahi dengan kekayaan dan kecantikan bintang lautan.” Ucapku. Ketika aku dan Evelyn sedang berbincang, suatu sihir yang tak terduga muncul dari belakangku, dan sihir itu nyaris mengenai Evelyn. "Minggir Jeslyn, pria itu berniat melukaimu tetapi nyaris, sihir itu meleset dan malah hampir mengenai tubuhku." Ucap Evelyn. "Apa?! Barack kau akan mencelakaiku?" Tanyaku marah pada Barack. "Hahaha iya! Aku sudah bosan dengan dramaku selama ini! Aku akan mengakhirinya." Warna bola matanya berubah menjadi merah darah. "Apa maksudmu Barack?!" Aku marah dan berniat meminta penjelasan. "Ya! Aku Barack Chatura Berney aku dikirim oleh raja Aresh untuk menghabisimu!" Ucapnya dengan seringai tajam disudut bibirnya. "Hentikan Barack! Aku tidak mau melukaimu, elemenku akan tidak terkendali ketika aku marah!" Ucapku. "Aku bisa menyerap kekuatan elemenmu bodoh!" Balasnya. Kemudian aku mulai merasakan gejolak amarah didalam tubuhku dan mulai merasa bahwa akan ada suatu kehancuran besar. *** Leave Evelyn Westie's POV Aku melihat bola mata Jeslyn yang terus berubah warna, luar biasa baru kali ini aku melihat elemen sedahsyat itu! Jeslyn mulai mengeluarkan semua elemen dalam dirinya. Api,air,udara,tanah,dan cahaya terus menyerang pria itu bahkan ia membuat akar pohon melilit ke tubuh pria itu. Tapi sepertinya semua elemen yang ia keluarkan tidak berefek pada pria itu, sepertinya ia benar-benar menghisap semua elemen Jeslyn. Aku tidak bisa berdiam diri aku harus membantunya. Aku memanggil semua burung yang ada dihutan ini dan mulai mengeluarkan perintah agar para burung mencakar pria itu. Seketika wajah pria itu menjadi penuh luka. Aku mulai mengeluarkan kekuatanku untuk membangkitkan pohon-pohon disekitar agar bisa menghalangi serangan pria itu. Pohon-pohon yang terus bergerak maju mendorong tubuh pria itu hingga tubuhnya terpental jauh. Pria itu melihat kondisi Jeslyn yang sudah lemah tak berdaya karena elemennya yang sudah terserap olehnya. Kemudian pria itu mengeluarkan kekuatan halilintarnya dan membentuk sebuah trisula petir dan melemparkannya ke arah Jeslyn. Pria itu berhasil melukai Jeslyn, wanita lemah itu terpental hingga tercebur kedalam sungai yang ada dibelakangnya. Aku terus menyerang pria itu hingga luka ditubuhnya benar-benar parah. Dia tidak bisa menghisap energiku karena bukan elemen yang kugunakan untuk menyerangnya. Tetapi aku menggunakan kemampuanku untuk berkomunikasi dengan para tumbuhan dan hewan. Jeslyn tak kunjung muncul kepermukaan, aku berusaha berkomunikasi dengan hewan air. Akhirnya aku merasakan ada seekor hewan air yang cukup besar menjawab panggilanku. Hewan itu membawa tubuh Jeslyn yang sudah tak sadarkan diri kepermukaan, aku langsung menariknya dan membantu Jeslyn. Ketika aku berusaha untuk menghabisi pria tadi, ternyata pria itu sudah berhasil melarikan diri. Tentu saja aku tidak mengejarnya dan lebih memilih untuk mengobati luka-luka ditubuh Jeslyn. Lukanya cukup parah. Aku membawanya kerumah pohonku dan mengobatinya dengan menggunakan daun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN