Earth Jeslyn Marioline's POV
Ini adalah hari dimana orang-orang akan melihat penampilanku yang berbeda. Aku adalah seseorang yang amat sederhana dalam urusan penampilan, tapi kali ini aku akan menunjukkan sisi lain diriku. Dimana aku akan tampil berbeda dari biasanya.
Aku mengenakan gaun biru panjang dan sedikit mengubah gaya rambutku. Warna rambut biru alamiku mempercantik penampilan dan sedikit sentuhan warna hijau dirambutku dan disertai oleh mahkota maka sempurnalah penampilanku saat ini. Aku tidak banyak menggunakan riasan wajah.
Beberapa orang menatapku kagum, karena penampilanku yang jauh berbeda dari biasanya. Ketika aku dan Balerina berada ditaman tempat pesta. Aku melihat seorang pria dari kejauhan. Pria itu adalah pria yang sama yang menolongku ketika aku terluka dihutan. Hanya bahagia yang kurasakan kini. Pria itu nampak mencari-cari seseorang, ketika ia melihat kearahku ia tersenyum dan berjalan kearahku.
Aku melihatnya menggunakan jubah hitam tanpa penutup kepala. Bibir tipisnya tersenyum padaku.
"Hai Jeslyn!" Sapanya padaku.
"Hai! bagaimana bisa kau disini?" Tanyaku padanya.
"Pesta ini mengundang semua orang. Apa kau belum tahu?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Aku hanya tau kalau pesta ini hanya mengundang semua muridnya saja." Ucapku sambil menggaruk tengkuk. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum padaku.
"Dari kerajaan mana kau?" Tanyaku padanya. Dia tidak menjawab dan seperti kebingungan ingin menjawab apa.
"Apa kau mau berjalan-jalan ditepi sungai bersamaku?" Pertanyaanya ini seperti ingin mengalihkan perhatianku.
"Aku tidak mungkin pergi dari sekolah ini." Jawabku spontan.
"Hari ini murid dibebaskan dari segala peraturan. Apa kau juga tidak tahu hal ini?" Perkataannya membuatku bingung, "Lupakan.. Ayo!" Ajaknya.
***
Author's POV
Sesampainya mereka ditepi sungai, mereka berjalan-jalan mengitari sekitar sungai. Saat itu Barack menggenggam tangan Jeslyn.
Jeslyn hanya tersenyum bahagia. Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba disebuah kursi panjang yang terdapat dipinggir sungai tersebut tepat dibawah sebuah pohon besar. Jeslyn merasa ada yang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dari atas pohon besar itu.
"Barack, aku merasa ada seseorang yang terus memperhatikan kita dari tadi?" Tanya Jeslyn.
"Haha itu mungkin hanya perasaanmu saja bahkan aku tidak merasakan apapun." Ucapnya sambil tertawa.
"Tetapi elemen angin dari dalam diriku berkata lain. Ada seseorang selain kita. Angin melewatinya dan aku bisa merasakan keberadaannya." Ucap Jeslyn.
"Tapi siapa?" Tanya Barack
"Aku juga tidak tahu." Jawabku sambil menggeleng. Seketika suasana menjadi hening mereka sama-sama memikirkan siapa orang itu tetapi mereka tidak melihatnya.
Akhirnya Barack memecahkan suasana hening ini menjadi sedikit cair dengan sedikit percakapan.
"Kau tidak perlu khawatir tuan putri aku akan menjagamu." Ucap Barack.
"Hahaha tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan Putri. Panggil saja namaku itu lebih mengasyikan." Ucap Jeslyn.
"Ternyata kau tidak terlalu kaku." Ucap Barack. Jeslyn menanggapinya dengan senyum manisnya.
***
Earth Jeslyn Marioline's POV
"Baiklah ini sudah cukup sore sebaiknya aku kembali kesekolah." Ucap Jeslyn menginterupsi keheningan.
"Apa kau mau kuantar Tuan Putri?" Tanya Barack.
"Hahaha tidak perlu, Jeslyn. Panggil saja aku Jeslyn. Mengerti?" Ucap Jeslyn.
"Baiklah putri Jeslyn." Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.
***
Balerina's POV
Aku menunggu kedatangan Jeslyn, kemana saja dia? Dia menghilang dari tadi pagi. Apa terjadi sesuatu padanya?
Aku hanya berjalan mondar-mandir sedari tadi karena aku khawatir dengan keadaan Jeslyn. Ketika aku sedang menatap kearah gerbang sekolah, Jeslyn datang dengan masih mengenakan gaun garden party-nya.
"Jeslyn!" Panggilku sedikit berteriak padanya.
"Balerina tunggu!" Ucapnya. Dia sedikit berlari kearahku.
"Hei dari mana saja kau?" Tanyaku.
"Aku baru saja berjalan-jalan disekitar bantaran sungai bersama Barack." Kata Jeslyn sambil tersenyum padaku.
"Jes, maaf bicara tentang ini. Menurutku, Barack bukanlah pria yang baik untukmu." Ucapku hati-hati takut menyinggungnya.
"Tapi kenapa kau berkata begitu? Apa alasanmu?" Kata Jeslyn sambil mengerutkan dahinya tanda tak suka dengan perkataanku.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengannya." Aku mengutarakan pendapatku.
"Kau bisa baca pikiran orang?!" Nada bicara Jeslyn meninggi.
"Tidak Jes ,tapi..." Aku gugup.
"Sudah cukup! Aku tidak menyukai perkataanmu ini." Ucap Jeslyn.
Jeslyn pergi meninggalkanku sendiri ditaman. Tapi perasaanku benar-benar berkata bahwa Barack bukanlah pria yang baik.
Dari cahaya matanya aku bisa mengetahui dia ada niat jahat, bukan hanya untuk Jeslyn tetapi untuk kami semua, bahkan untuk negeri ini.
***
Earth Jeslyn Marioline's POV
Aku benar-benar merasa tersinggung dengan ucapan Balerina tadi. Untuk apa dia mengatakan hal itu padaku? Kalau Barack bukan pria yang baik, tentu saja salah satu elemen dalam diriku merasakannya.
Tapi mau bagaimana lagi Balerina temanku, seharusnya aku menerima semua perkataannya tadi. Aku jadi merasa bersalah padanya.
Tok..tok..tok...
Aku mengetuk pintu kamar Balerina dengan perlahan.
"Siapa?" Tanya Balerina dari dalam.
"Ini aku, Jeslyn. Apa aku boleh masuk?" Tanyaku.
"Oh, tentu saja." Jawabnya dari dalam. Aku segera melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Balerina padaku yang membuatku menjadi merasa bersalah padanya.
"Aku mau minta maaf." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Untuk apa?" Tanya Balerina.
"Untuk perkataanku tadi padamu, seharusnya aku menerima semua perkataanmu tadi." Ucapku.
"Jeslyn, perlu kau tahu. Kau sahabatku, dalam persahabatan tidak ada kata maaf dan terima kasih. Jadi, lupakan saja." Ucap Balerina sambil tersenyum.
"Balerina kau sangat pengertian padaku." Ucapku sambil menunduk.
"Sudah seharusnya." Ucapnya sambil menjentikkan jari.
Ketika kami sedang mengobrol dikamar Balerina seseorang mengetuk pintu kamar Balerina.
"Siapa?" Tanya Balerina.
"Aku Yakira. Boleh aku masuk?" Ucap Yakira dari luar.
Balerina terlihat bingung untuk membiarkannya masuk atau mengusirnya. Aku hanya menganggukan kepala agar Balerina mengizinkan Yakira masuk.
"Baik, masuklah!" Ucap Balerina.
"Hai, jes, Balerina." Sapanya.
"Hai." Balas kami berdua
"Jes, aku baru saja mencarimu dikamarmu, tetapi kau tidak ada. Jadi kuputuskan untuk bertanya pada Balerina, tapi ternyata kau ada disini." Ucap Yakira menjelaskan.
"Ada apa?" Tanyaku padanya.
"Aku ingin minta maaf padamu." Ucap Yakira.
"Terakhir kali kau meminta maaf ternyata kau berusaha mencelakaiku." Ucapku sambil menatapnya.
"Tidak Jes, kali ini aku benar-benar sadar kalau kau itu baik." Ucap Yakira dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi?" Tanyaku sambil menaikan sebelah alisku.
"Tolonglah maafkan aku Jes, dan terima kasih atas bantuanmu, kalau kau tidak menghentikan Barack pada saat itu mungkin aku sudah mati." Yakira menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, aku tahu sebenarnya kau itu baik, tetapi sikapmu yang kurang baik pada orang lain." Ucapku.
"Jadi, apa kau memaafkanku?" Tanya Yakira memastikan.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Ucapku sambil tersenyum. Kami bertiga mengobrol bersama hingga larut malam dan tertidur dikamar Balerina.
***
"Apa? Jam 9 pagi? Kita melewatkan satu kelas!" Teriakku pada kedua sahabatku yang masih tertidur. Sontak mereka semua bangun karena kaget mendengar suaraku.
"Ada apa Jes? ini masih pagi." Tanya Yakira padaku.
"Ini jam 9!" Teriakku.
"Apa?!" Teriak Yakira dan Balerina. Kami bertiga berteriak panik dan langsung lari kekamar masing-masing dan bersiap-siap.
Bagaimana ini kalau Ny.Daiva Analise mengetahui kelakuan kami bertiga, apa sangsinya?
***
Author's POV
Ketika mereka bertiga masuk ke kelas seni, mereka bertiga dipanggil oleh Ny. Daiva Analise.
"Hai para Nona!" Seketika mereka bertiga menengok ke arah Ny. Daiva. Hati mereka bertiga diselimuti rasa khawatir dan takut apabila kelakuan mereka diketahui oleh Ny. Daiva.
"Ada apa Nyonya?" Tanya Jeslyn kepada kepala sekolahnya.
"Apa kalian bertiga berteman?" Tanya wanita itu.
"Tentu saja!" Jawab Balerina dengan cepat.
"Kalian tidak bertengkar lagi?" Ucapnya sedikit kurang yakin.
"Tentu saja tidak." Kata Yakira.
"Baiklah bagus kalau begitu." Ucap Ny. Daiva kemudian melangkah pergi.
"Huft." Ucap mereka bertiga ketika Ny. Daiva pergi.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke kelas seni sambil mengobrol dan bersenda gurau. Mereka tampak sangat akrab apalagi melihat Yakira dan Jeslyn berteman, seperti sebuah sihir yang nyata.