Sarah membuka pintu rumahnya dengan tubuh masih terasa lemas. Aroma harum buah-buahan segar langsung menyambutnya, bercampur dengan aroma kue yang baru dipanggang. Dia mengerutkan kening, berjalan pelan menuju ruang makan.
Pemandangan yang ada membuatnya tertegun. Meja makan besar yang biasanya bersih dan minimalis kini dipenuhi oleh keranjang-keranjang anyaman berisi buah impor, anggur, beri-berian, manggis, semangka kuning. Di sampingnya, tumpukan kotak berisi suplemen vitamin merek premium, serta beberapa paket makanan sehat dari katering khusus.
"Papa?" seru Sarah, melihat sosok Alvin, ayahnya, yang sedang mengatur sekotak kurma di tengah meja dibantu Mbak Sari, asisten rumah tangga.
"Sarah! Sudah pulang?" Alvin menoleh, wajahnya cerah. "Lihat ini, rumah jadi seperti toko buah! Agam baru saja mengirimkan semua ini."
"Agam?" tanya Sarah, suaranya datar.
"Iya, dong. Siapa lagi?" Alvin mengangguk sambil memeriksa kualitas apel dalam satu keranjang. "Sepertinya ini kiriman rutin yang ke … empat, ya, Mbak Sari?"
"Yang kelima, Pak," sahut Mbak Sari sambil tersenyum. "Selalu tepat setiap dua minggu sekali. Isinya selalu berganti, tapi selalu yang segar dan mahal."
Sarah mendekat, menyentuh kulit keranjang anyaman yang halus. Perhatian yang begitu teliti. Diam-diam. Tanpa pernah sekalipun dia diberi tahu. "Dia tidak pernah bilang," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Ya wajar kamu tidak tahu, kalian suami istri tapi macam orang asing," ujar Alvin, sekarang memperhatikan wajah pucat putrinya. "Kamu kenapa, Nak? Wajahmu pucat sekali."
"Kelelahan, Pa. Presentasi tadi … cukup menguras tenaga," jawab Sarah menghindar. Dia tidak sanggup bercerita soal pingsan, soal Agam, atau bisik-bisik yang mungkin sudah mulai berkecamuk. "Aku istirahat dulu di kamar."
"Tunggu, kamu sudah makan? Mbak Sari, panaskan saja sup ayam dan buatkan teh hangat untuk Sarah," pinta Alvin.
"Tidak usah repot-repot, Mbak. Aku tidak lapar," tolak Sarah lemah. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya justru berputar kencang, seperti roda gila yang tak bisa dihentikan.
"Minum vitaminnya, dong. Kan ada kiriman suami kamu ini," sahut Alvin sambil mengulurkan satu botol vitamin C. "Dia perhatian sekali. Meski sibuk, selalu ingat."
Kalimat itu meluncur seperti pisau tumpul. Perhatian. Ya, Agam selalu perhatian. Dalam diam. Tanpa bunga, tanpa kata-kata manis. Hanya buah-buahan, vitamin, dan … penyelamatan di saat krisis yang justru memperburuk segalanya.
"Terima kasih, Pa," bisik Sarah sebelum berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup, dunia luar yang penuh warna buah-buahan itu hilang, digantikan oleh kesunyian dan kekacauan dalam pikirannya. Sarah membaringkan dirinya di atas tempat tidur, menatap langit-langit.
Kiriman rutin. Setiap dua minggu. Sebuah ritual diam-diam. Untuk apa? Sebagai bentuk tanggung jawab? Rasa bersalah? Atau … perhatian yang tidak pernah bisa sepenuhnya diputus?
Tapi kemudian, bayangan wajah-wajah penuh tanya di lobi ABJaya menghantui. Bisik-bisik yang dilihat Julian. Ekspresi panik Agam yang tidak terbendung. "Itu ekspresi seorang pria yang melihat orang terpenting dalam hidupnya jatuh."
Dadanya sesak. Di satu sisi, ada upaya Agam melindungi, merawat, bahkan memastikan kesehatannya dari jauh. Di sisi lain, ada satu tindakannya yang memicu badai yang justru bisa menghancurkan segala yang telah Sarah perjuangkan.
"Jika … jika kita menang, kemenangan itu akan selalu dinodai." Ucapannya sendiri pada Julian bergema di kepalanya.
Tapi Julian juga benar. "Kita layak menang. Jangan karena masalah pribadi, kau mengesampingkan kepentingan perusahaan kita!"
Dia memikirkan tim kecilnya di Cahaya Kreatif. Julian yang setia. Tiga staf muda yang antusias. Mereka sudah berbulan-bulan kerja lembur, penuh passion. Kemenangan ini bukan hanya untuknya, tapi untuk mereka semua. Ini bisa menjadi lompatan besar. Proyek utama ABJaya adalah tiket menuju level yang berbeda.
"Tapi dengan harga apa? Bisik suara hatinya. Dengan menjadi bahan gunjingan? Dengan dianggap hanya mengandalkan jatah istri direktur? Apakah aku sanggup memikul stigma itu setiap hari? Apakah karyawanku sanggup?"
Dan Agam … apa yang akan dilakukannya? Apakah dia akan memaksakan kemenangan untuknya, karena rasa bersalah atau karena memang mereka yang terbaik? Ataukah dia akan mundur, memilih agency lain untuk menghindari prasangka?
Sarah menutup matanya, mencoba membayangkan berbagai skenario.
Misalnya, Cahaya Kreatif menang. Gosip merebak. Reputasi agency tercoreng sebelum benar-benar mulai. Setiap keberhasilan akan dianggap karena koneksi. Setiap kegagalan akan jadi bahan tertawaan. "Istri direktur kok cuma segini." Apakah dia kuat menghadapinya?
Atau Cahaya Kreatif kalah. Mereka kehilangan peluang emas. Timnya kecewa. Tapi integritasnya utuh. Mereka bisa mencoba lagi di proyek lain, dengan reputasi bersih. Tapi, apakah kegagalan ini justru akan dianggap sebagai bukti bahwa selama ini Agam tidak membantu? Atau malah dianggap pura-pura netral?
Terdengar ketukan pelan di pintu. "Non Sarah, ini teh hangat dan supnya," suara Mbak Sari.
"Taruh di luar saja, Mbak. Terima kasih," jawab Sarah tanpa membuka pintu.
Dia mendengar langkah Mbak Sari menjauh. Kamarnya kembali sunyi.
Pikirannya beralih lagi ke tumpukan buah di meja makan. Ke perhatian Agam yang tersembunyi. Apakah semua ini perhatian diam-diam, kepanikan tadi berarti dia masih … peduli? Atau ini hanya tentang kewajiban seorang suami pada istrinya, meski di ujung tanduk?
Dan jika dia masih peduli, apakah Sarah siap menerima bentuk peduli yang seperti ini? Yang justru mempersulit posisinya di dunia profesional?
"Ah, Mas Agam …," desisnya dalam hati, penuh kebimbangan. "Apa yang harus kulakukan? Menerima kemenangan yang bisa jadi racun? Atau menolaknya dan mengkhianati kerja keras timku?"
***
Keesokan harinya, kantor Cahaya Kreatif diisi oleh ketegangan yang berbeda. Setelah drama kemarin, ada kekhawatiran samar yang menggantung, meski Julian berusaha menciptakan suasana kerja normal. Sarah duduk di meja kerjanya, mencoba fokus pada pekerjaan lain, tetapi pikirannya terus melayang ke telepon di sampingnya, menanti keputusan yang akan menentukan segalanya.
Tiba-tiba, ponsel Julian berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat, wajahnya serius. "Halo? Ya, ini Julian dari Cahaya Kreatif."
Sarah menahan napas. Jari-jemarinya berhenti mengetik.
"Baik … saya mengerti … terima kasih banyak atas kabarnya," ucap Julian, suaranya perlahan berubah, semakin cerah. "Kami sangat menghargai kesempatan ini. Dokumen konfirmasi? Baik, kami tunggu."
Julian menutup telepon. Untuk beberapa detik, ia hanya memandang Sarah, matanya membesar, seolah tidak percaya. Lalu, senyum lebar merekah di wajahnya.
"Kita menang," ucapnya, suaranya terdengar serak karena emosi. "ABJaya memilih kita untuk proyek utama hotel dan resort mereka!"
"YEAAAAAH!" teriak Rendi, salah satu staf desain, langsung melompat dari kursinya. Disusul oleh Maya dan Andi yang bersorak gembira, saling bertepuk tangan. Suasana kantor yang tenang tiba-tiba meledak oleh sukacita.
"Mantap! Akhirnya!"
"Kerja keras kita terbayarkan!"
"Proyek terbesar kita nih, guys!"
Julian menghampiri Sarah, ingin memeluknya. "Kita berhasil, Sarah! Kita—" Ia berhenti. Senyum di wajahnya pudar ketika ia melihat ekspresi Sarah.
Sarah tidak bergerak. Dia masih duduk di kursinya, wajahnya pucat, tanpa sedikitpun cahaya kemenangan di matanya. Tangannya menggenggam pulpen dengan kencang, sampai buku-bukunya pucat. Sorak-sorai timnya terasa seperti suara dari balik dinding kaca, ia bisa mendengarnya, tetapi tidak bisa merasakan kegembiraannya.
"Sarah?" panggil Julian, suaranya berubah menjadi khawatir.
"Apakah …," suara Sarah akhirnya keluar, pelan dan datar. "Apakah mereka menyebutkan alasan? Atau hanya sekadar konfirmasi kemenangan?"
"Yang penting kita menang, Sarah!" sela Rendi dengan riang. "Nanti juga ada brief meeting dan dokumen resmi. Ini saatnya kita rayakan!"
Sarah menatap Julian, membutuhkan jawaban yang hanya Julian yang mungkin mengerti.
Julian menghela napas. "Tidak. Hanya konfirmasi standar. Mereka mengatakan konsep dan proposal kita yang paling kuat dan sesuai dengan visi mereka."
Kalimat itu seharusnya melegakan. Tapi di telinga Sarah, itu terdengar seperti narasi yang sudah disiapkan. Visi mereka. Visi Agam. Apakah ini visinya untuk proyek, atau visinya untuk … memperbaiki pernikahan mereka?
"Sarah, kamu baik-baik saja?" tanya Maya, sekarang menyadari ketidakcocokan suasana.
Dengan gerakan yang tampak kaku, Sarah berdiri. "Aku … aku butuh udara. Julian, kamu yang handle dulu ya. Aku ada urusan."
Tanpa menunggu tanggapan, ia mengambil tas dan blazernya, lalu berjalan keluar dari kantor. Ia meninggalkan sorak-sorai yang perlahan-lahan mereda menjadi keheningan yang bingung di belakangnya.
Di dalam mobil, kesunyian terasa. Sorak-sorai tadi masih berdengung di telinganya, tetapi yang lebih keras adalah bisikan-bisikan penuh keraguan di kepalanya.
Murnikah ini?
Apakah Agam yang memutuskan?
Apakah Sofi dan yang lain sudah protes?
Atau … ini memang benar-benar kemenangan sejati?
Sungguh, bagi Sarah saat ini, kemenangan yang selama ini ia impikan terasa seperti batu berat di d**a. Dia tidak bisa merayakannya. Tidak sebelum ia tahu kebenarannya. Tidak sebelum ia mendengarnya langsung dari sumbernya.
Sarah mengeluarkan ponselnya dan memutuskan untuk mengirim pesan pada Agam.
[Kita perlu bicara. Bisa bertemu? Cafe di Plaza Senayan, yang biasa, jam 4 sore!]